
Malam harinya, pesta pernikahan Barra dan Yang Zi kembali berlanjut dengan lancar di dalam ballroom luas yang sudah dihias sedemikian rupa, tak kalah dengan suasana pesta pernikahan Zain dan Zahra dulu. Mereka berdua terlihat sangat bahagia saat menyapa tamu undangan seakan tidak terjadi insiden di pesta siang tadi.
Berbeda dengan Zain yang sedari tadi hanya memasang wajah dingin tanpa senyum di wajahnya, apalagi alasannya jika bukan karena absennya sang istri yang tidak menemaninya disisinya.
Meskipun Zahra memohon untuk menghadiri pesta tersebut, namun Zain tetap melarangnya keluar dari dalam kamar mereka. Ditambah Ny. Amara mendukung keputusan yang diambil putranya itu, beliau memilih untuk tidak menghadiri pesta tersebut dan beralasan ingin menjaga dan menemani menantu kesayangannya tersebut. Sebenarnya Zain tahu bahwa ibunya hanya beralasan dan tidak ingin bertemu dengan kerabat dari China, apalagi dengan kehadiran keluarga dari mendiang ibunya Yang Zi.
“Di mana istri kamu Yang a?” tanya kakek Zain yang tidak melihat kehadiran cucu menantunya itu, padalah beliau ingin memamerkan kecantikan cucu menantunya kepada seluruh keluarga besarnya yang tidak hanya hadir dari China saja, melainkan dari berbagai negara seperti Canada, Inggris dan negara lainnya.
“Zahra merasa tidak enak badan, Yeye (kakek). Jadi saya menyuruhnya untuk beristirahat di kamar bersama mommy yang menemaninya,” jawab Zain sopan.
“Padahal kami semua ingin melihat kecantikan istri kamu yang sedari kemarin selalu dipuji oleh yeye,” timpal paman Zain, banyak di antara mereka merasa penasaran dan belum pernah melihat wajah Zahra.
“Mungkin lain waktu akan saya ajak dia mengunjungi kalian semua,” bujuk Zain berharap dapat mengobati kekecewaan yang dirasakan keluarga besarnya.
“Mommy kamu dimana, Yang a?” tanya seorang wanita paruh baya yang baru saja bergabung dengan rombongan Zain dan kakeknya.
“Mommy menemani istriku di kamar,” jawab Zain dingin.
“Alasan!” sinis wanita tersebut lalu.
“Aku peringatkan Anda jangan mengacau diacara ini!” ucap Zain menatap tajam ke arah wanita tersebut.
“Palingan mommy kamu tidak berani menghadapi kami! Ck, dasar pengecut!” sindirnya lirih namun terdengar jelas di telinga Zain dan beberapa orang yang berada di dekatnya.
__ADS_1
“Jaga mulutmu!” gertak Zain membuat semua orang yang berkerumun menjadi tegang, takut jika Zain tidak sanggup menahan emosinya banyak tamu undangan dari berbagai negara di tempat itu.
Yang Zi yang melihat ketegangan yang terjadi di sekitar keluarga besarnya segera menarik lengan wanita tersebut.
“Bibi! Jangan membuat masalah dipesta pernikahanku, aku mohon,” bisik Yang Zi di telinga bibinya, adik dari mendiang ibunya.
“Apa? Siapa yang membuat masalah? Bibi hanya menyuarakan apa yang ada dibena bibi saja, apa itu salah?” tanya bibi Yang Zi merasa dirinya tidak membuat kesalahan.
“Bibi, ayo ikut aku saja ke sana!” ajak Yang Zi menarik paksa bibinya agar ikut bersamanya.
“Maaf, silakan lanjutkan perbincangan kalian,” ucap Yang Zi canggung karena dirinya tidak begitu akrab dengan keluarga besar dari ayahnya, apalagi yang mereka yang tidak menetap di China.
“Abaikan saja wanita itu, Yang a. Wanita itu selalu mencari gara-gara dengan mommy kamu, mungkin dia belum bisa menerima kematian kakaknya,” ucap paman Zain mencoba menenangkan Zain.
Sedangkan Yang Zi menyeret bibinya menjauh dari kerumunan. “Apa yang Bibi lakukan? Aku sudah bilang agar bibi jangan membuat masalah dengan koko Yang Yang! Apa Bibi sudah bosan hidup?”
“Kenapa kamu marah kepada bibi? Bibi tidak mencari masalah dengan kokomu itu, tapi dengan Amara!” jawab Bibi Yang Zi tidak terima bahwa keponakannya itu menyeretnya begitu saja hanya karena membela ibu tirinya yang tak pernah menganggap keberadaannya.
“A-apa kamu tidak mempercayai bibimu ini? Apa yang mereka katakan kepadamu? Pasti Amara membohongimu dan menjelek-jelekkan bibi dan mama kamu!”
“Cukup, Bibi! Sudah cukup Bibi selama ini menceritakan kebohongan kepadaku, aku sudah dewasa Bi, aku bisa membedakan mana yang salah dan benar. Di sini bukan mommy Amara yang bersalah, tapi Daddy dan mami yang bersalah karena menghianati mommy Amara.” Zang Yi memutar tubuhnya dan berlalu meninggalkan bibinya yang tercengang dengan sikapnya yang selama ini selalu menurut kepada bibinya.
“Oh ya, mommy Amara tidak mengatakan apa pun kepadaku. Bahkan, selama mengenalnya aku merasa mommy Amara tidak sejahat seperti apa yang selama ini bibi ceritakan kepadaku, jadi jangan pernah lagi mengusiknya,” peringat Yang Zi sebelum benar-benar menghilang dari jangkauan pandangan bibinya.
Yang Zi berjalan ke arah toilet, ia ingin meredamkan gejolak di hatinya. Yang Zi merasa bersalah karena telah bersikap kasar kepada keluarga satu-satunya yang masih tersisa dari pihak ibunya, namun di sisi lain ia tidak bisa mengabaikan kebenaran yang sudah ia ketahui.
“Ah, segarnya.” Yang Zi menghela napas lega setelah membasuh wajahnya dengan air dingin, ia tidak peduli dengan make up di wajahnya.
__ADS_1
“Maaf, Bi. Aku tidak bermaksud untuk bersikap demikian kepada bibi,” lirih Yang Zi sembari menatap pantulan wajahnya di dalam cermin.
Setelah merasa lebih baik, Yang Zi meraih tisu dan mengelap kering wajahnya yang basah. Dengan sedikit alat mak up yang ia bawa dalam tas kecilnya, Yang Zi kembali memoles tipis wajahnya dengan bedak dan lipstik seadanya.
“Sempurna!” seru Yang Zi yang berhasil mengembalikan penampilannya meskipun tidak serapi semula.
Yang Zi keluar dari toilet setelah memastikan bahwa penampilannya sudah terlihat rapi, ia berjalan melewati koridor hotel yang terlihat sepi tanpa adanya orang beraktivitas di sekitarnya. Mungkin semua orang sibuk dengan pesta di ballroom hotel tersebut sehingga tidak seorang pun mengingat tentang ruangan kecil yang sering terabaikan dan hanya dicari hanya saat dibutuhkan saja.
“Angel!”
Deg.
Yang Zi melebarkan langkahnya ketika mendengar seseorang memanggil nama yang selalu ingin ia hilangkan di muka bumi ini, ia berharap bukan dirinya yang dipanggil orang tersebut. Semoga ada wanita yang benar-benar bernama Angel yang dimaksud oleh orang yang menyerukan nama tersebut.
“Angel, tunggu! Kamu benar Angel, kan? Aku tidak mungkin salah mengenalimu!” seru orang tersebut dan ikut berlari mengejar Yang Zi yang semakin kencang berlari.
“Angel!” panggilnya ulang, kali ini terdengar semakin dekat dan semakin jelas di telinga Yang Zi membuat jantungnya berdetak semakin kencang tak beraturan.
“Tidak mungkin b*jingan itu ada di sini!” gerutu Yang Zi masih terus berlari.
“Angel, kamu mau lari ke mana, hah? Kali ini aku tidak akan melepaskanmu!”
Grep!
“Lepaskan dasar hidung belang! Bajing*n!” teriak Yang Zi dan mencoba melepaskan cengkeraman pria tersebut di kedua lengannya.
“Aku tidak akan melepaskanmu, Baby! Susah payah aku mencari keberadaanmu dan sekarang tiba-tiba kamu muncul tepat di depan mataku, tidak mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan berharga ini.” Mr. M menyeret tubuh Yang Zi meskipun Yang Zi terus memberontak untuk dilepaskan.
__ADS_1
“Lepaskan aku b*jingan! Cuih! Aku tidak sudi disentuh oleh b*jingan sepertimu!”
“Diam!” bentak Mr. M namun tak membuat Yang Zi merasa takut. “Sudah lama aku tidak merasakan sentuhanmu, Baby. Ikutlah denganku, kita rayakan pertemuan kita ini sambil mengenang malam-malam indah bersama kita dulu,” ucap Mr. M dengan senyum menyeringai di wajahnya.