Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 119. Merajuk


__ADS_3

Seminggu kemudian Zahra merasa sangat jenuh hanya berdiam diri di dalam rumah, ia ingin segera bisa beraktivitas kembali menjalankan rutinitasnya sebagai seorang mahasiswa.


Namun, Zahra harus menahannya karena Zain tidak memberikan izin untuknya meninggalkan rumah kecuali pergi bersamanya.


“Sayang, setidaknya biarkan aku mengunjungi Yang Zi dan melihat baby Rayyanza! Apa kamu tega membiarkan aku terkurung ditengah-tengah hutan seperti ini?”


Zahra merajuk dan memohon sepanjang hari kepada suaminya itu, namun Zain masih kekeh menolak keinginan istrinya itu.


“Zain! Hampir dua minggu kamu mengurungku di rumah ini, aku bukan kucing peliharaan kamu, tahu!”


Zahra bersungut karena tidak berhasil membujuk suaminya, ia berjalan dengan mengentak-entakkan kakinya keluar meninggalkan Zain  yang sibuk dengan laptop di depannya.


Brak!


Zahra membanting keras pintu ruang kerja suaminya tanpa memedulikan Zain yang terkejut karenanya.


“Honey, jangan merajuk seperti itu!” teriak Zain yang entak terdengar oleh Zahra atau tidak.


Hingga sore hari, Zahra benar-benar merajuk dan mogok bicara kepada suaminya.


“Honey, cepat pergi mandi! Kenapa kamu diam saja sejak tadi?” tanya Zain mendekati istrinya yang tengah menonton film di ruang keluarga.


Zahra menggeser duduknya ketika Zain duduk tepat di sampingnya, begitu pun Zain yang ikut menggeser duduknya dan terus memepet istrinya hingga membuat Zahra semakin kesal.


Zahra berdiri memilih untuk pergi meninggalkan suaminya itu, namun dengan cepat dicegah oleh Zain yang menarik tangannya hingga tubuh Zahra terjatuh ke dalam pangkuannya dan dengan cepat Zain menguncinya dengan kedua tangannya.


“Mau kemana, hmm?” tanya Zain.


Zahra memalingkan wajahnya ketika suaminya menatap tajam ke arahnya, bukan tatapan kemarahan melainkan tatapan menggoda.


“Honey,” bisik Zain tepat ditelinga Zahra.


“Fuuuh.” Zain meniup pelan telinga istrinya membuat Zahra meronta ingin lepas dari kuncian tangan suaminya.


“Apa kamu masih marah, hmm?” tanya Zain namun sama sekali tak mendapat respons dari istrinya.


“Akh!” pekik Zahra ketika merasakan tubuhnya tiba-tiba saja melayang. Ia lalu mengalungkan lengannya di leher suaminya agar tidak terjatuh.

__ADS_1


Zain menggendong istrinya ke arah lift untuk membawanya ke kamar mereka di lantai tiga.


“Ck! Pamer terus!” gerutu Yitian ketika berpapasan dengan Zain dan Zahra.


Selama satu minggu tinggal di mansion utama, Yitian selalu disuguhkan dengan pemandangan yang membuat matanya merasa jengah setiap kali melihatnya.


“Tutup mata kamu kalau tidak mau melihatnya!” ejek Zain yang selalu umbar kemesraan setip ada kesempatan di depan sepupunya itu.


“Aku juga bisa bermesraan seperti kalian!” kesal Yitian.


“Oh ya? Sama siapa?” tanya Zain masih dengan nada mengejeknya.


“Siapa saja bisa, tinggal aku cari wanita lalu aku beri sedikit uang pasti-”


Plak!


“Akh! Sakit!” pekik Yitian yang mendapat pukulan dari Ny. Amara yang sedari tadi berdiri di belakangnya.


“Hebat ya! Apa ibu kamu tahu kelakuan kamu seperti ini, hah?” tanya Ny. Amara lalu menarik telinga keponakannya itu.


“Ah! Ampun, Mom! Aku hanya bercanda saja.”


“Mom, ampun! Semua gara-gara piuko! Dia yang memulainya!” tuduh Yitian kepada Zain yang tersenyum mengejek melihat wajah Yitian yang memerah menahan sakit.


“Apa? Aku tidak melakukan apa pun terhadapnya,” elak Zain ketika mendapati ibunya menatap tajam ke arahnya.


“Piuko selalu pamer kemesraan di depanku, Mom!” adu Yitian mencari pembelaan.


“Ck! Bisanya hanya mengadu, cepat menikah sana agar ada yang mengawasi kamu!” balas Zain lalu melanjutkan langkahnya kembali.


Sedangkan Yitian ditarik oleh Ny. Amara menuju ruang keluarga dan mendudukkannya tepat di sampingnya.


“Ada apa, Mom?” tanya Yitian waspada, ia merasa akan ada hal buruk yang sudah menantikannya.


“Mommy ada beberapa foto gadis cantik, kamu lihat-lihat dulu ya! Nanti mommy akan mengatur jadwal pertemuan kalian!”


Ny. Amara antusias mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan beberapa foto wanita muda putri dari teman-temannya.

__ADS_1


Yitian yang sudah tak bisa melarikan diri lagi hanya mampu berpura-pura melihat gambar-gambar itu tanpa semangat dari pada harus kena marah bibinya itu.


2 jam kemudian Zahra dan Zain turun ke dari kamar mereka dengan penampilan yang cukup rapi.


“Kalian mau pergi kemana?” tanya Ny. Amara melihat keduanya dengan teliti.


“Kami tidak akan makan malam di rumah, Mom. Jadi jangan menunggu kami,” jawab Zain.


“Hmm, ya sudah cepat pergi sana!” usir Ny. Amara.


“Terima kasih, Mom. Mommy mau kita bawakan apa nanti?” tanya Zahra dengan wajah berbinar tak seperti tadi yang hanya ditekuknya.


“Tidak perlu, cepat kalian pergi nanti keburu malam.”


Zain menggandeng tangan istrinya dan membawanya pergi setelah berpamitan dengan ibunya.


Tadi Zahra mengancam akan mogok bicara dengan Zain sampai ia membawa Zahra pergi keluar dari hutan ini entah kemana pun tujuannya Zahra akan menyetujuinya.


Dan terpaksa Zain menjanjikan untuk mengajak Zahra makan malam di luar agar tidak diabaikan lagi oleh istrinya.


Sambil menunggu waktu makan malam, Zain mengajak Zahra untuk berbelanja membeli berbagai barang branded untuk diberikan kepada Tania sebagai hadiah pelengkap hantaran lamaran Ali dan Tania.


“Apa kamu tidak mau membeli sesuatu, Honey?” tanya Zain karena ia tidak melihat istrinya itu memilih satu pun barang untuk dirinya sendiri.


“Tidak, aku tidak memerlukan apa pun. Aku masih memiliki semuanya, Sayang.”


“Ya sudah, katakan saja jika kamu menginginkan sesuatu, Honey.”


“Aku akan mengatakannya, Sayang. Dan jangan salahkan aku jika aku akan menguras semua harta kamu!”


“Lakukan saja!” tantang Zain lali ia mengacak rambut Zahra.


“Baiklah, kamu sendiri yang mengizinkannya ya!”


“Hmm, tapi kami harus menggantinya dengan tubuhmu ini!” ucap Zain lalu memeluk kencang tubuh istrinya sambil menghujani kecupan ringan di wajah Zahra.


“Sayang, apa yang kamu lakukan?” Zahra mencoba mengelak namun tak berhasil, ia merasa malu karena mereka berada di tempat umum.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatap tajam ke arah mereka berdua.


“Ck! Dasar murahan, wajahnya saja terlihat polos tapi kelakuannya sangat menjijikkan!”


__ADS_2