Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 61. Nama Pemberian Kakek


__ADS_3

“Apa sudah boleh melepaskan masker ini?” tanya Zain yang merasa pengap harus memakai masker dengan cuaca Hong Kong yang cukup terik, hari ini suhu di negara tersebut mencapai 39° C, rekor terpanas selama beberapa tahun terakhir.


“Silakan Tuan, tapi tolong nanti ketika berada di luar ruangan atau pun di tempat umum Anda harus memakainya kembali,” ucap pria yang fasih berbahasa Indonesia itu dan tetap fokus dengan mobil hitam Toyota Alphard 3.5 Q A/T yang sedang dikemudikannya.


“Kenapa?” tanya Zahra ingin tahu.


“Karena itu aturannya, Mrs. Meskipun  pandemi sudah mulai menurun, namun pemerintah masih menerapkan peraturan untuk memakai masker di tempat umum dan membatasi jumlah orang berkerumun, dan akan ada denda bagi siapa saja yang melanggarnya,” jawab pria tersebut.


“Oh,” jawab Zahra lirih, ia duduk bersebelahan dengan suaminya di kursi tengah, sedangkan Barra duduk di kursi belakang bersama Hani.


Beberapa saat hanya ada keheningan di dalam mobil tersebut, Zain melirik ke arah istrinya yang sibuk dengan ponsel baru pemberiannya


“Apa yang kamu lihat, Honey? Kenapa kamu begitu fokus dengan ponsel itu dan mengabaikan suamimu ini?”


“Emh, aku sedang memposting sesuatu di akun Instagramku,”


Zain melirik layar ponsel istrinya, ia mendapati potret dirinya tengah terlelap dengan caption ‘My Dear Guardian, Zain Malik 🤗’



“Kamu mencuri gambarku?” tanya Zain dengan tatapan tajamnya.


“Maaf, aku tidak memiliki foto kamu dan tidak menemukan satu pun foto kamu di sosial media,” jawab Zahra lirih, ia tahu bahwa suaminya anti kamera. Wajahnya tidak pernah sekalipun terekspos di media mana pun.


“Jangan pernah mengunggahnya di internet, aku tidak suka itu!”


“Kenapa? Bukannya kamu orang terkenal? Tapi sangat susah mendapatkan foto tentang dirimu,” ucap Zahra menatap ke arah suaminya.


“Akan ada hati tang terluka jika melihat wajah tampanku tersebar di mana-mana,” ucap Zain dan mengedipkan sebelah matanya.


“Hah! Pede sekali, memang hati siapa yang akan terluka hanya dengan melihat wajah kamu?”


“Kamu!” jawab Zain cepat, membuat Zahra menautkan alisnya bingung.


“Aku tahu wajahku tampan, jadi biasa saja saat menatapku, Honey.” Zain menggoda istrinya yang dirasa sudah mulai berani banyak tanya kepadanya.


“Ih, mana ada kamu tampan!” Zahra memalingkan wajahnya dari pandangan suaminya.


“Biarkan kamu saja yang dapat menikmati ketampananku ini, Honey. Nanti jika fotoku tersebar luas pasti hati kamu akan terluka.”

__ADS_1


“Ih, pede sekali Anda,” elak Zahra.


“Hidup harus percaya diri, hapus postingan itu sebelum kamu menyesalinya nanti karena akan ada banyak wanita yang nantinya menyimpan foto itu dan memajangnya di dinding kamar mereka.”


‘Anda hanya ingin menjaga perasan Ny. Amara tuan, Anda tidak ingin melihat beliau sedih jika seandainya melihat foto Anda yang tersebar di mana pun,’ batin Barra yang sedari tadi menyimak pembicaraan kedua orang tersebut.


Zahra yang merasa kesal segera menghapus postingan tersebut, namun terhenti ketika matanya menangkap satu komentar yang mengusiknya.


“Sayang, ada yang mengatakan nama dan wajah kamu tidak cocok. Katanya namanya Arab kok wajahnya ke Koreaan,” ucap Zahra setelah membaca salah satu komen di layar ponselnya.


“Abaikan saja, tidak penting.” Zain mengambil ponsel di tangan sang istri dan menghapus postingan tersebut lalu menyimpannya ke dalam saku jas yang ia pakai.


“Ih, kenapa ponselnya diambil?” kesal Zahra.


“Aku tidak suka diabaikan, Zahra! Tidurlah, apa kamu tidak merasa jet lag setelah perjalanan jauh? Lihatlah Hani, dia begitu nyenyak tidur di bahu Barra,” ucap Zain berharap bahwa istrinya akan tidur menyender dibahunya.


“Aku tidak mengantuk, Sayang.”


“Ck!” Zain berdecak kesal karena istrinya itu tidak peka dengan kemauannya.


“Bukannya Hani sangat manis, Barra?  Kamu tidak berencana untuk menikah dengannya?” tanya Zahra dengan polosnya.


Barra melirik ke arah spion depan dan mendapati wajah dingin tuannya sedang menatap tajam ke arahnya melalui pantulan kaca spion di depan.


‘Bodoh! Apa yang kamu bicarakan, Barra!’ batin Barra menyalahkan kecerobohannya sendiri.


Zahra yang merasa suasana menjadi semakin panas mencoba mengalihkan perhatian suaminya.


“Sayang ...  memangnya arti nama kamu apa sih?” tanya Zahra namun diabaikan oleh suaminya.


“Sayang!” seru Zahra mencoba memutus tatapan tajam suaminya kepada asistennya.


“Hmm.”


“Arti dari nama kamu apa? Aku ingin tahu,” ucap Zahra sembari menggoyang-goyangkan lengan suaminya.


“Ck!” Zain berdecak kesal karena ucapan asistennya yang tanpa sengaja telak menyindirnya.


“Zain Malik Ibrahim, kakek dulu memberikan nama itu dengan banyak doa dan harapan untuk kehidupan cucunya yang beliau sematkan dalam nama tersebut. Kakek memiliki harapan agar cucunya tumbuh menjadi seorang penguasa yang baik dan bijaksana, penguasa yang akan mewarisi semua bisnis yang sudah susah payah beliau rintis dari awal.” Zain menjeda ucapannya dan menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi.

__ADS_1


“Dengar!”


Zahra merapatkan tubuhnya ke arah suaminya, sedangkan Barra juga memasang telinganya agar bisa mendengar suara berlian tuan mudanya itu. Suatu kesempatan emas bisa mendengarkan cerita langsung dari mulut tuan muda dingin tersebut.


‘Terima kasih nona, Anda sudah menyelamatkan saya,’ batin Barra merasa sedikit lebih lega, setidaknya untuk sementara tuannya tidak akan membantainya atas ucapan yang keluar dari mulutnya.


“Nama pemberian kakek bukan mengacu ke arah nama kearaban, namun kakek memberikan nama keislamian kepada keturunannya. Seperti nama mommy, Amara ... kakek berharap putri tunggalnya memiliki kecantikan abadi dalam hatinya yang tak akan pernah pudar selama hidupnya.”


“Nama daddy juga kakek yang memberikannya, Malik Ibrahim ... semasa muda, daddy sudah tinggal di Indonesia dan belajar bisnis bersama kakek, kakek memberinya nama Malik berharap agar daddy bisa menjadi penguasa dalam kerajaan bisnis orang tuanya di China. Sedangkan nama Ibrahim, kakek memberikan namanya kepada daddy karena beliau sudah menganggap daddy sebagai putranya sendiri. Hingga suatu hari, kakek yang sudah lama bersahabat dengan ayah daddy menjodohkan mommy dan daddy dengan harapan bisa mempersatukan persaudaraan di antara mereka dan bisa mengembangkan usaha keduanya.”


“Dan ingat ini, Honey! Belum tentu orang Arab memiliki nama keislamian, dan sebaliknya belum tentu orang barat, China, Korea, dan lainnya tidak memberikan nama keislamian untuk keturunan mereka. Hanya dengan memberikan nama yang baik, mereka mengharapkan banyak kebaikan dan keberkahan kepada anak tersebut melalui nama yang melekat pada diri anak tersebut yang akan terus ia bawa seumur hidupnya.” Zain memejamkan matanya, terlintas bayangan kebersamaannya bersama sang kakek saat dirinya masih kecil dulu.


“Kamu lihat dua orang di depan?” tanya Zain masih dengan memejamkan matanya.


“Hmm.”


“Menurutmu apakah di antara kedua orang itu ada yang beragama muslim?” tanya Zain kepada istrinya.


Zahra menatap kedua pria yang duduk di depannya lewat pantulan kaca spion di depan. Pria di balik kemudi dengan wajah China dan pria di sampingnya dengan wajah ke timur-tengahannya.


“Emh, mungkin dia seorang muslim,” jawab Zahra menunjuk ke arah pria berwajah timur tengah tersebut.


“Yakin dengan jawabanmu, Honey?” tanya Zain membuat Zahra sedikit ragu dengan pilihannya.


“Coba kamu tanyakan padanya, dia bisa berbahasa inggris.”


“Are you a Muslim? Mr. ...,”


“Alex, Mrs. Zahra. I'm a Christian,” jawab pria tersebut yang merasa dirinyalah pertanyaan itu ditujukan.


“Oh ... kalau Anda, em-”


“Perkenalkan nama saya Ma Tianyu, Nona. Saya berasal dari suku Hui dan seorang muslim.” Pria dibalik kemudi tersebut menjawab pertanyaan Zahra dengan senyum manis merekah di bibirnya.


“Apa pun yang kita lihat, boleh jadi tidak seperti yang kita lihat, Zahra. Maka jangan menilai sesuatu hanya dari cangkang luarnya saja,” jawab Zain lalu mendekatkan wajahnya ke arah istrinya.


“Kamu bertanya kenapa wajahku tidak selaras dengan namaku bukan?”


Zahra menganggukkan kepalanya pelan, jantungnya kembali berdebar ketika wajahnya begitu dekat dengan wajah sang suami.

__ADS_1


“Kenapa wajah kamu semerah itu, Honey?”


__ADS_2