Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 41. Rencana Ny. Amara


__ADS_3

“Dasar anak nakal! Main menyosor saja, gak malu apa dilihat ayah mertuamu?” geram Ny. Amara.


Zain yang melihat ibunya tidak jadi marah dan kembali menatap ke arah istrinya untuk kembali menggoda Zahra.


“Geser sana! Makan dulu, kamu belum makan kan?” tanya Ny. Amara sedikit merasa kesal karena sering kali memergoki putranya mencuri ciuman dari menantunya bahkan mengabaikan  kondisi di sekitarnya.


Dengan terpaksa Zain berpindah posisi dan memakan makanan yang sudah di pesan oleh ibunya sebelumnya.  Tentu saja setelah mendapatkan ancaman dari ibunya.


“Aku kangen sama Mommy,” ucap Zahra langsung memeluk tubuh ibu mertuanya yang duduk di sebelah Zahra menggantikan posisi Zain.


“Mommy juga kangen, Sayang.” Ny. Amara membalas pelukan menantunya. “Zain tidak macam-macam sama kamu kan?” lanjutnya sambil melirik ke arah sang putra.


Zain berdecak kesal karena ibunya lagi-lagi menudingnya berbuat yang tidak-tidak. Namun dia menghiraukannya karena sedang fokus dengan makanannya, prinsip Zain selalu sama, dilarang bersuara ketika sedang makan.


“Mommy sudah makan?” tanya Zahra setelah melepaskan pelukan mereka.


“Sudah tadi di ruangan Dr. Agam.”


“Mommy ada urusan apa dengan Dr. Agam?” tanya Zain curiga dan melupakan peraturan yang ia buat sendiri.


“Kepo kamu!” jawab Ny. Amara sengaja ingin membuat putranya itu merasa kesal dengannya.


“Ck! Awas jangan macam-macam! Dia ayahnya Barra.”


“Siapa yang bilang kalau dia ayah kamu. Kamu kira mommy wanita apaan hah?” kesal Ny. Amara.


Melihat ibunya yang merajuk, Zain menyudahi makannya yang baru beberapa suap ia masukkan ke dalam mulutnya.


“Maaf, Mom.”


“Sudahlah, dia hanya masa lalu bagi mommy.”


Zain merasa bersalah karena membuat ibunya sedih. Ia sedikit mengerti bahwa Dr. Agam dan ibunya dulu pernah menjadi sepasang kekasih, namun itu dulu sekali. Mereka berpisah karena ibunya sudah dijodohkan dengan putra rekan bisnis kakeknya, yaitu ayahnya.


“Bagaimana kabar bunda Sofia?” tanya Zain mengalihkan pembicaraan.


“Sehat, adik-adikmu juga sehat.”


“Adik-adik?” beo Zahra merasa kebingungan, yang ia tahu adik Zain satu-satunya sudah meninggal sebelum dilahirkan.


“Adik-adik Zain di rumah mommy, Sayang.”


Zahra semakin mengerutkan alisnya, ia belum mengerti dengan apa yang disampaikan oleh ibu mertuanya.


“Panti asuhan, Zahra. Rumah kedua mommy, Ziya’s house. Mommy tidak suka jika ada orang menyebutnya dengan panti asuhan, padahal memang panti asuhan,” jelas Zain panjang lebar membuat Ny. Amara terbengong untuk ke sekian kalinya.


‘Entah racun apa yang menantuku berikan kepada pria dingin itu sehingga mulutnya bisa mengucapkan lebih dari 5 kata dalam sekali bicara,’ batin Ny. Amara, matanya tidak lepas dari wajah putra dinginnya yang perlahan mulai mencair.


“Di mana letak Ziya’s house? Saya ingin berkunjung ke sana,” ucap Zahra dengan mata berbinar.


“Nanti jika kamu sudah sembuh kita ke sana bersama-sama ya, kamu harus berjanji untuk segera sembuh, Sayang.” Ny. Amara mengusap pipi kanan menantunya dengan penuh sayang.


“Iya Mom.”


“Kenapa mommy datang ke rumah papa Zahra?” tanya Zain membuat semua pasang mata menoleh ke arahnya.


Tuan Harun terlihat terkejut, terlihat wajahnya yang ingin mengatakan sesuatu namun urung karena merasa enggan.


“Emh, itu. Mommy ada sedikit urusan dengan Tasya,” jawab Ny. Amara ragu.

__ADS_1


Zain menatap lekat ke arah ibunya seakan mengintimidasi sang ibu untuk berkata jujur kepadanya.


“Emh, mommy hanya mampir saja Zain,” elak Ny. Amara merasa terancam.


Ny. Amara masuk ke dalam rumah tuan Harun bersama bi Nur dan Hani yang mengekor di belakangnya.


“Silakan duduk Ny. Amara, maaf rumah agak sedikit berantakan,” ucap Tasya lalu mendudukkan tubuhnya di depan Ny. Amara.


Ny. Amara menyapukan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, rumah itu terlihat sedikit berantakan seperti tidak pernah dibersihkan.


Sedangkan bi Nur dan Hani tidak berani untuk duduk dan memilih tetap berdiri di sebelah sofa, tentu saja ada niat tersembunyi darinya.


“Tumben Nyonya mampir ke rumah saya, ada apa gerangan?” tanya Tasya dengan wajah yang dibuat seramah mungkin.


“Hanya ingin mampir saja.”


Selanjutnya mereka saling bercerita dan membahas beberapa hal, tak berselang lama terlihat Anindya turun dari tangga dengan penampilan rapinya.


“Selamat siang Ny. Amara,” sapa Anindya dengan senyum yang ia buat semanis mungkin.


“Hmm,” judes Ny. Amara.


Tanpa diminta Anindya ikut bergabung bersama mereka.


“Oh ya, ada perlu apa Nyonya datang ke rumah kami? Apa Nyonya sudah berubah pikiran untuk menggantikan Zahwa dengan saya?” tanya Anindya penuh percaya diri.


“Atas dasar apa kamu begitu yakinnya bahwa kedatanganku untuk hal tersebut?”


“Yah, saya tahu Nyonya begitu menginginkan seorang cucu. Dan saya yakin gadis gila itu tidak bisa memberikannya untuk Anda, saya bersedia untuk menggantikannya.”


“Siapa yang kamu sebut gila?” tanya Ny. Amara dengan suara dinginnya tanda ia sedang murka. Ny. Amara sangat tidak suka jika ada seseorang yang menghina keluarganya.


Ny. Amara mengepalkan kedua tangannya yang berada di atas pangkuannya. Sebisa mungkin ia menahan emosi agar tidak merusak rencananya.


“Kenapa sekarang kamu menginginkan menjadi istri putraku? Dulu kamu pergi ke mana di malam pernikahan Zain?”


“Maaf Nyonya, dulu saya khilaf dan sungguh, sekarang saya sudah menyesal, Nyonya. Maafkan saya,’ ucap Anindya.


“Katakan dengan jujur!” tegas Ny. Amara.


“Ya karena kasihan Zain jika memiliki istri gila seperti Zahwa, mendingan sama saya saja Nyonya. Yang jelas asal usulnya tidak seperti dia yang ibunya seorang j*lang.”


“Benarkah?” tanya Ny. Amara pura-pura tidak tahu.


“Iya Nyonya, jika Anda tidak percaya, tanyakan saja sama mama. Aku benar kan, Ma?” tanya Anindya antusias, mengira bahwa Ny. Amara mulai termakan hasutannya.


“Benar apa yang dikatakan putri saya Nindy, Nyonya.” Tasya mengeluarkan suaranya.


“Aku dengar putrimu lahir prematur di rumah sakit Sejahtera di kota kelahiranmu, benar?”


“ Iya Nyonya, saya memang memilih melahirkan Anindya di rumah sakit dekat rumah orang tua saya, karena saya berpikir ada orang tua saya yang membantu saya di saat melahirkan Anindya.”


“Oh ya, apa kamu pernah mendengar pepatah yang mengatakan ‘tidak ada maling yang mengaku’ atau maling teriak maling?” tanya Ny. Amara kepada Tasya dengan nada mengejek.


“Apa maksud Anda, Nyonya?” tanya Tasya gusar karena mulai terusik dengan pertanyaan dari Ny. Amara.


“Siapa tadi yang kamu sebut j*lang Nindy? Apakah ibunya Zahra?” Ny. Amara beralih menatap ke arah Anindya.


“Benar Nyonya.”

__ADS_1


“Ck! Dasar bodoh! Mana ada j*lang akan mengaku bahwa dirinyalah yang lebih pantas disebut sebagai seorang j*lang.”


Deg.


Tubuh Tasya seketika membeku di tempat, wajahnya mulai terlihat pucat. Sedangkan Anindya masih mencerna ucapan yang keluar dari mulut Ny. Amara.


“Apa kamu akan selamanya menutupi keburukanmu dengan melimpahkannya kepada orang lain? Dan apakah kamu yakin jika putrimu ini adalah anak kandung Harun, Tasya?”


“Apa maksud Anda, Nyonya?” tanya Anindya dengan suara lantang.


“Tanyakan saja kepada ibu kamu yang sok suci itu.”


Ny. Amara bangkit dari duduknya dan hendak meninggalkan rumah tersebut, namun terhalang oleh Anindya yang mengejarnya.


“Jangan menghalangiku! Aku sudah tidak ada urusan di rumah ini.”


 “Apa maksud ucapan Anda yang meragukan bahwa saya bukan anak kandung papa Harun?”


“Tanyakan saja pada j*lang itu,” ucap Ny. Amara sambil menunjuk ke arah Tasya.


Anindya mengangkat tangannya ingin memukul Ny. Amara, namun gerakannya kalah cepat dengan tangan bi Nur yang menghalangi.


“Lepaskan tangan kotormu itu, dasar pembantu bodoh!”


Plak!


Ny. Amara melayangkan tangannya tepat mengenai pipi kanan Anindya, meninggalkan bekas kemerahan di pipi gadis arogan itu.


“Beraninya kamu menghina bi Nur!”


Anindya yang tidak terima mendapatkan tamparan dari Ny. Amara membalas dengan menjambak rambut Ny. Amara.


Tasya yang melihat hal itu segera menarik putrinya agar menjauh namun terhenti ketika mendengar perkataan yang keluar dari mulut Ny. Amara.


“Kenapa kamu tidak terima dengan ucapanku, ibumu memang seorang j*lang yang menjebak bosnya demi menutupi aibnya yang hamil di luar nikah dan menjadi pelakor dalam hubungan orang lain, bahkan ibumu yang seharusnya disebut sebagai pembunuh. Karena dialah yang telah membunuh ibunya Zahra!”


Tasya merasakan kakinya lemas seperti tulang-tulangnya hilang dari tempatnya, ia merosot terduduk di lantai dengan tubuh yang sedikit bergetar.


“Jangan bohong Anda!”


“Aku bukan ibumu! Tidak ada untungnya bagiku membohongimu. Bahkan kamu terlahir normal, tidak dalam keadaan prematur.”


Ny. Amara dan Anindya masih saling tarik-menarik rambut mereka, bi Nur kewalahan memisahkan mereka, bahkan Hani pun membantu untuk memisahkan. Hingga terdengar suara seseorang yang menghentikan keributan tersebut.


“Apa yang kamu lakukan dasar j*lang!”  teriak Zain dengan rahang mengeras dan wajah memerah yang masih berdiri di ambang pintu.


“Lalu apa yang Mommy lakukan di ruangan Dr. Agam?” tanya Barra setelah rekaman di dalam ponsel Ny. Amara selesai diputar.


Ny. Amara sengaja mengajak Hani agar ada yang dimintanya untuk diam-diam untuk memvideokan aksinya, jika hanya bersama bi Nur, ia tidak bisa menggunakan ponsel model sekarang.


“Menyuruhnya untuk melakukan tes DNA, mommy mendapatkan rambut Anindya,” ucap Ny. Ara dengan bangga. “Kamu segera ke ruangan Dr. Agam, Harun!”


“Baik Nyonya.”


“Dan berpura-puralah kamu tidak tahu dengan kejadian di rumahmu sampai semuanya terbukti!”


*****


Terima kasih sudah mampir, jangan lupa like, comment dan vote ya ... 🤗☺️

__ADS_1


__ADS_2