
Akhir pekan ini Zain harus melakukan perjalanan bisnis ke luar kota dan harus mengajak serta Barra yang lebih tahu tentang proyek yang akan mereka tangani kali ini.
Zain terpaksa meninggalkan istrinya untuk menemani Yang Zi yang dititipkan di mansion utama karena tidak mungkin adiknya ikut perjalanan jauh di kehamilannya yang sudah mendekati HPL-nya.
Kebetulan Dr. Agam dan istrinya sedang melakukan perjalanan ke luar negeri untuk penelitian medis. Dan tidak mungkin Yang Zi tinggal di rumah mertuanya hanya dengan beberapa pelayan rumah saja.
“Selesai makan ikut mommy belanja,” ucap Ny. Amara setelah menyelesaikan makan siangnya.
“Ehm, aku saja atau- ”
“Kalian berdua,” jawab Ny. Amara sebelum Zahra menyelesaikan pertanyaannya.
“Baik, kita akan bersiap sekarang juga, Mom.” Zahra dengan semangat menyudahi makannya dan mengajak Yang Zi untuk bersiap.
...*****...
Ny. Amara mengajak menantu dan putri dari wanita suaminya berbelanja di Mall terbesar di kota tersebut. Ny. Amara begitu antusias ketika berada di toko yang menjual berbagai macam perlengkapan bayi.
“Baju ini terlihat bagus, ambil ini!” perintah Ny. Amara kepada beberapa pelayan toko yang melayani mereka.
“Mom, sudah banyak sekali pakaian yang Mommy ambil. Lihatlah, sudah ada dua keranjang penuh dan semuanya pakaian pilihan Mommy.” Zahra menunjuk tumpukan baju bayi yang berada di tangan masing-masing pelayan.
“Kenapa? Apa ada yang salah? Semuanya bagus-bagus, mommy ingin membeli semuanya,” jawab Ny. Amara santai.
“Tapi, Mom-”
“Jika dia tidak mau menerimanya, simpan saja untuk cucu mommy nanti.”
Dia yang dimaksud oleh Ny. Amara adalah Yang Zi, sebenarnya Ny. Amara sangat menyayangi bayi dalam kandungan putri tirinya itu. Meskipun secara biologis bayi tersebut bukanlah cucu kandungnya.
Sedangkan Yang Zi yang mendengar perdebatan dua orang di depannya hanya menyimak dan tersenyum, ia begitu merasa bahagia karena ibu tirinya masih memperhatikannya meskipun ucapan dan caranya yang terlihat sedikit kasar.
“Tapi pakaian ini hanya akan dipakai beberap bulan saja, Mom. Setelahnya pasti tidak akan muat lagi, sebaiknya pilih pakaian untuk anak usia 8-12 bulan.” Zahra memberi saran kepada ibu mertuanya, karena ia tahu pasti Yang Zi dan Barra pasti sudah menyiapkan pakaian bayi.
Ny. Amara membenarkan perkataan menantunya dan kembali memilih berbagai macam pakaian dan aksesoris seperti sepatu, topi dan mainan untuk calon cucunya.
Zahra menyuruh Tania untuk mengantar dan menemani Yang Zi duduk di sofa yang tersedia di toko tersebut sedangkan dirinya masih menemani ibu mertuanya berkeliling.
__ADS_1
30 menit berlalu, Ny. Amara telah menyelesaikan belanjaannya dan membayar semua belanjaannya di kasir.
“Sayang sekali semua ini perlengkapan baby boy, padahal banyak gaun bayi yang cantik dan imut yang ingin mommy beli,” gerutu Ny. Amara memandangi lima kantong besar belanjaannya.
“Mom,” panggil Zahra ketika melihat ibu mertuanya murung.
“Nanti kamu berikan mommy cucu perempuan ya, Sayang.” Ny. Amara tersenyum menatap penuh harap kepada Zahra.
“Hmm, doakan Zahra ya, Mom. Semoga Zahra cepat diberi kepercayaan untuk miliki bayi,” ucap Zahra dengan senyum mengembang tulis di wajahnya.
“Mommy selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu dan Zain, Sayang.” Ny. Amara mengusap pipi Zahra dengan kedua tangannya.
Dari kejauhan Yang Zi meneteskan air matanya melihat interaksi antara ibu tirinya dan kakak iparnya, betapa ia sangat menginginkan hal tersebut.
‘Nasib kita sama, kakak ipar. Kita ditinggalkan oleh ibu kita semenjak masih bayi bahkan wajahnya pun tak pernah akun ingat lagi. Dan beruntungnya kita mendapatkan ibu mertua yang begitu baik dan tulus seperti mommy Amara dan mama Xiao Wang. Tapi setidaknya kakak ipar masih memiliki ayah yang sangat menyangyangi kakak ipar.’
Ny. Amara menyuruh beberapa bodyguard untuk menyimpan barang belanjaan mereka ke dalam mobil. Dan masih ada beberapa bodyguard bayangan yang selalu mengawasi Zahra kemana pun ia pergi dari kejauhan agar tidak terlalu mencolok dilihat orang-orang.
“Kita cari food court dulu, kalian pasti lelah dan lapar kan?” tanya Ny. Amara dan langsung disetujui oleh Zahra dan Yang Zi.
Bruk!
Tiba-tiba seseorang menabrak bahu Zahra sehingga ia sedikit oleng ke belakang. Untung saja Zahra tidak sampai terjatuh hanya tasnya saja yang terlepas dari tangannya.
“Ma-maaf Kak, maaf aku tidak sengaja,” ucap seorang wanita dengan wajah ketakutan setelah menabrak Zahra.
“Ehm, iya tidak apa-apa. Kamu tidak kenapa-kenapa, kan?” tanya Zahra khawatir.
“Ti-tidak, Kak. Sekali lagi aku minta maaf karena terburu-buru dan tidak memperhatikan sekitar.”
“Baiklah, lain kali kalau jalan lebih hati-hati ya!”
Zahra kembali melanjutkan jalannya setelah wanita itu berlalu dari hadapannya, toh hanya masalah kecil dan wanita itu sudah meminta maaf kepadanya.
“Mom, aku ke kamar mandi dulu ya,” izin Zahra setelah mereka menemukan meja kosong di salah satu food court pilihan mereka.
“Pergilah, biar mommy yang akan memilihkan menu untuk kamu.”
__ADS_1
Setelah mendapat izin dari ibu mertuanya Zahra bergegas mencari kamar mandi dan tentu saja ada Tania yang selalu mengekor di belanganya.
“Kamu tidak sekalian ingin ke toilet, Nia?” tanya Zahra yang melihat Tania hanya menunggunya di dalam toilet wanita tanpa masuk ke dalam biliknya.
“Tidak, Zahra. Aku akan menunggumu di sini.”
Tak lama kemudian Zahra keluar dari dalam bilik kamar mandi, dan berjalan ke arah wastafel lalu merapikan penampilannya dari pantulan kaca di depannya.
“Kamu benaran tidak mau ke toilet, Nia? Mumpung sekalian masih disini aku akan menunggu kamu,” ucap Zahra tangannya sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya.
“Tidak, aku belum merasa ingin setor, hehe.”
“Hmm, ya sudah kalu begitu. Ayo kita kelu-”
Deg.
Zahra meraih sesuatu yang terasa asing dari dalam tasnya.
“Apa ini?” tanya Zahra lirih sambil mengeluarkan beberapa lembar kertas yang ia yakin bukan miliknya.
Bagaikan disambar petir di siang bolong, Zahra merasa jantungnya berdetak semakin kencang, bahkan matanya membola saat melihat sosok yang tercetak dalam foto-foto ditangannya.
“A-apa ini?” tanya Zahra dengan suara tercekat.
Tania yang melihat perubahan raut wajah majikannya segera mendekat dan meraih kertas di tangan Zahra.
Begitu pun dengan Tania, ia sama terkejutnya dengan Zahra. Namun segera ia menguasai dirinya.
“Zahra,” panggil Tania mencoba menyadarkan majikannya yang terlihat syok.
“Eh, emh- itu.” Zahra terlihat seperti orang bingung.
“Emh aku pergi dulu!” seru Zahra dan berlalu meninggalkan Tania yang masih memegang lembaran foto tersebut.
“Zahra, tunggu!” panggil Tania bergegas menyusul Zahra yang berlari meninggalkannya.
“Zahra!” teriak Tania dengan melebarkan kedua matanya.
__ADS_1