Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 59. Tidak Sesuai dengan Rencana


__ADS_3

“Bi Nur, nanti antarkan makanan ke kamarku dan jangan ada yang membangunkan istriku!” perintah Zain setelah menyelesaikan sarapannya.


Kali ini Ny. Amara tidak berkomentar saat tidak mendapati keberadaan menantunya di meja makan. ia malah senyum-senyum sendiri sambil menikmati menu sarapannya.


“Besok kita jadi pergi ke Semarang, Zain?” tanya Ny. Amara setelah selesai dengan sarapannya.


“Iya, Mom. Zahra sudah tidak sabar ingin bertemu dengan keluarga ummanya.”


“Kita berangkat pagi-pagi saja ya, dan menginap beberapa hari di sana.”


“Mommy siapkan saja apa yang akan kita bawa, biarkan Barra yang mengatur sisanya.”


Pagi ini, Zain berangkat ke perusahaan dengan wajah yang terlihat lebih cerah dari biasanya. Ia pergi tanpa menunggu sang istri terbangun, jika bukan karena ada pertemuan penting ia tidak rela untuk meninggalkan istrinya begitu saja.


Zain sengaja tak membangunkan Zahra karena ia tahu bahwa wanitanya itu pasti kelelahan karena semalaman ia tak membiarkan istrinya untuk terlelap sedetik pun. Mereka baru terlelap saat jam menunjukkan pukul 04.00 dini hari.


Bagaimanapun Zain adalah pria normal yang sudah lama tidak menyalurkan gairahnya kepada wanita mana pun, apalagi setelah kejadian malam itu. Malam ketika untuk pertama kalinya ia tidur bersama Zahra, tidur dalam artian melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami-istri, ada perasaan aneh yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya dari wanita mana pun bahkan dengan Clarisa mantan istrinya dulu.


“Ada berita apa dari wanita itu?” tanya Zain yang duduk di kursi samping kemudi, matanya tetap fokus menatap layar ponselnya yang menampilkan siluet sosok istrinya yang masih terlelap dalam tidurnya.


“Tidak ada yang mencurigakan darinya, Tuan. Nona Clarisa hanya beberapa kali terlihat keluar dari apartemennya untuk pemeriksaan berkala pasca aksi nekatnya menggugurkan janin dalam perutnya,” jelas Barra yang fokus dengan kemudinya.


“Terus awasi wanita itu, jangan sampai dia menyakiti istriku!” ucap Zain tegas.


“Baik Tuan, kami selalu mengawasi setiap gerak-geriknya, semua akses telepon dan sosial media milik wanita itu juga tidak terlihat adanya sesuatu yang mencurigakan.”


“Hmm.” Zain hanya menjawab dengan deheman saja, hal yang biasa Barra dapatkan sejak dulu namun saat ini deheman tuannya terdengar aneh di telinga Barra karena sudah lama ia tak mendengarnya sejak kehadiran Zahra yang mampu mencairkan bongkahan es dalam diri tuan muda tersebut sehingga lebih banyak kata yang keluar dari mulut berlian milik Zain.


“Siapkan kopi untukku di meja rapat!”


“Maaf, Tuan?” tanya Barra memastikan pendengarannya tidak salah, ia tahu bahwa tuan mudanya itu tidak suka minum kopi, tapi kenapa pagi ini tuan mudanya meminta untuk disiapkan kopi untuknya?


“Apa kamu tuli?”


“Eh, tidak Tuan. Hanya saja ... sejak kapan Anda minum kopi, Tuan?” tanya Barra penasaran.


Zain mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel dan menatap tajam ke arah asistennya yang ia rasa akhir-akhir ini Barra terlalu banyak bertanya jika diperintahkan sesuatu olehnya.


“Apa kamu masih ingin bekerja untukku? Jika sudah bosan aku bisa menyuruh Ali untuk menggantikan posisimu itu!” ancam Zain seketika membuat Barra terdiam dan segera menghubungi sekretaris perusahaan untuk menyiapkan apa yang diminta oleh tuan mudanya.

__ADS_1


... *****...


Zain duduk tenang di kursi kebesarannya yang berada di ruang meeting, ia menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi. Pandangan matanya menatap lurus ke depan menatap seseorang yang sedang berdiri di depannya sambil mempresentasikan hasil kinerja mereka. Namun pikirannya tidak berada di tempat itu, fokusnya hilang, ia teringat kejadian semalan yang masih saja menari-dari di dalam kepalanya. Sesekali Zain menatap layar ponselnya yang menampilkan gambar yang sama dengan sebelumnya.


“Bagaimana menurut Anda, Tuan?” tanya pria itu usai menyelesaikan presentasinya.


Semua orang saling melempar pandang antara heran dan takut ingin menegur pemilik perusahaan tempat mereka bekerja, baru kali ini mereka melihat pimpinan mereka tidak fokus saat meeting sedang berlangsung.


“Tuan,” bisik Barra tepat di telinga tuan mudanya itu namun tetap tidak ada reaksi apa pun yang ditunjukkan oleh tuannya.


“Tuan!” seru Barra namun masih dengan berbisik.


Zain tersadar dari lamunannya dan menatap sekeliling dan mendapati semua mata tertuju ke arahnya, tanpa merasa bersalah ia justru bertanya dengan nada mengintimidasi. “Apa?”


“Kami sudah menyelesaikan presentasi kami, Tuan. Bagaimana tanggapan Anda? Apa perlu kami mengulangi presentasi kami sekali lagi?” tanya pria tersebut.


“Barra!” alih-alih memberikan jawaban, Zain justru memanggil nama asistennya tersebut dan kembali fokus menatap layar ponselnya.


“Baik Tuan,” jawab Barra yang mengerti maksud dari tuan mudanya itu.


‘Nona tidak akan kabur ke mana-mana tuan! Bahkan Anda mengabaikan meeting kali ini hanya untuk menatap gambar nona yang tertidur pulas,’ lanjut Barra dalam hati.


“I-iya Tuan, maaf.” Barra mengikuti perintah tuannya, ia mengambil alih meeting kali ini.


Namun di pertengahan meeting, Zain mendapatkan telepon dan ia berjalan menjauh dari kursinya. Terlihat Zain seperti bersitegang dengan lawan bicaranya di seberang telepon, tak berselang lama, ia berjalan ke arah pintu keluar dan meninggalkan rapat begitu saja dengan wajah yang terlihat cemas dan tegang.


Barra yang melihat itu langsung menghentikan pertemuan tersebut dan bergegas menyusul tuan mudanya.


“Meeting cukup sampai di sini, kalian boleh kembali ke tempat masing-masing!” ucap Barra tegas sebelum meninggalkan tempat meeting tersebut.


“Tuan, apa terjadi sesuatu?” tanya Barra setelah berhasil mengejar tuan mudanya yang berdiri di depan lift yang masih tertutup.


“Siapkan penerbangan ke Hong Kong hari ini juga!”


Barra terkejut mendengar perintah tuannya, namun ia juga tidak berani bertanya melihat tuannya memasang wajah dinginnya dengan sorot mata yang menyala.


“Akan saya laksanakan, Tuan. Lalu rencana perjalanan Anda ke Semarang?”


“Atur lain waktu saja, cancel semua jadwalku untuk beberapa waktu, mungkin bisa satu bulan atau bahkan lebih.”

__ADS_1


...*****...


Waktu menunjukkan pukul 11.00 saat Zain tiba di masion utama, kedatangannya membuat Ny. Amara terheran karena baru beberapa jam lalu putranya meninggalkan rumah.


“Kenapa kamu sudah pulang, Zain? Kangen sama istrimu? Dia tidak akan kabur, Zain. Semua aman bersama mommy,” ucap Ny. Amara.


“Zahra mana, Mom?” tanya Zain karena tidak melihat keberadaan istrinya di ruang makan, padahal tadi ia masih melihat sosok istrinya sedang makan dari kamera CCTV yang tersambung ke ponselnya.


“Ada apa kamu pulang jam segini? Mentang-mentang jadi bos seenaknya saja mengatur jam kerja!” sindir Ny. Amara dan mengabaikan pertanyaan putranya.


“Aku akan pergi ke Hong Kong, Mom. Mommy ikut ya ...,” ucap Zain berhasil membuat wajah Ny. Amara memucat.


“Urgent Mom. Please, Mommy ikut ya, nanti siapa yang akan menemani istriku, Mom!” rayu Zain kepada ibunya.


“Aku tidak akan menginjakkan kakiku di tempat itu lagi, Zain!”


“Mom ...,” bujuk Zain berharap ibunya akan luluh.


“Ajak saja Hani! Jangan pernah membicarakan tempat itu di hadapan mommy.”


“Mom, bukannya waktu itu mommy menanyakan tentang keberadaannya?”


“Mommy hanya bertanya tentang keberadaannya, Zain! Bukan untuk berjumpa dengannya! Mommy tahu selama ini kamu berhubungan dengannya, bahkan membiayai semua kebutuhan hidupnya, mommy diam saja dan membiarkan kamu melakukan sesukamu! Tapi mommy tidak ingin melihat wajahnya! Dia bukan tanggung jawab kamu, Zain!” pekik Ny. Amara dan berlalu menuju kamarnya.


Zain melihat kepergian ibunya, ia semakin merasa tak berdaya dihadapkan dengan wanita-wanita kesayangannya. Di satu sisi ia tidak ingin melukai hati ibunya dengan mengingatkan tentang masa lalu orang tuanya, namun disisi lain ia tidak tega membiarkan putri dari ayahnya hidup menderita, bahkan gadis itu belum pernah sekalipun merasakan kasih sayang dari orang tuanya, bahkan melihat wajah kedua orang tuanya pun hanya lewat foto usang peninggalan mereka dulu.


“Sampaikan kepada tuan Harun untuk menunda kunjungan kita ke Semarang. Dan suruh Hani bersiap untuk pergi bersama kita, Barra.”


“Baik Tuan.” Barra menatap punggung tuannya yang berjalan menjauhinya menuju lift.


‘Tuan, saya berjanji akan selalu menemani dan mendukung apa pun keputusan Anda,’ janji Barra dalam hati.


*****



Tuan Zain galau karena pembacanya kurang mendukung kisahnya dengan sang istri 🥲


"Ayo oii.. like, komen, vote kisah aku dong!!!" omel Zain dengan kesal.

__ADS_1


__ADS_2