Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 79. Disneyland


__ADS_3

“Zain! Jangan seperti ini, malu dilihat orang!” kesal Zahra karena suaminya itu selalu melingkarkan tangannya di pinggang Zahra dan menarik tubuhnya agar saling menempel.


“Kenapa malu? Kita tidak melakukan suatu hal yang memalukan,” ucap Zain membuat Zahra semakin kesal kepadanya.


“Tapi ini tempat umum Zain, aku tidak terbiasa seperti ini,” elak Zahra mencoba melepaskan tangan suaminya dari pinggangnya.


“Honey, kita sudah menikah, kamu istriku aku suami kamu, jadi sah-sah saja jika kita seperti ini, tidak akan ada orang yang melarangnya,” elak Zain tanpa merasa bersalah, ia bahkan semakin menarik tubuh istrinya.


“Tapi-”


“Ssttt, kamu lihat itu,” sela Zain memotong ucapan istrinya sambil menunjuk ke arah eskalator di depan mereka.


Zahra yang melihat pemandangan di depannya refleks menutup matanya dan menyembunyikan wajahnya di dalam dada bidang suaminya.


“Kenapa? Kamu malu?” ejek Zain sambil terkekeh.


“Kamu lihat kan, mereka saja tidak malu berciuman di tempat umum. Itu hal yang biasa di sini, Honey, tidak akan ada yang memedulikan perbuatan mereka. Aku hanya berjalan sambil memelukmu, tidak lebih.”


“Tapi itu sangat memalukan, Zain,” lirih Zahra yang masih dapat didengar oleh suaminya.


“Sudahlah, mereka yang melakukan kenapa kamu yang malu?” goda Zain. “Kamu mau kita melakukannya di sini?” lanjutnya semakin bersemangat menggoda sang istri.


“Zain!” seru Zahra sambil memukul pelan tubuh suaminya.

__ADS_1


“Hahaha, sudahlah, ayo kita lanjutkan jalannya.” Zain merasa puas melihat wajah istrinya yang berubah memerah karena malu.


“Seandainya kita bisa tinggal di sini ... betapa bahagianya aku, Honey.”


“Kenapa?” tanya Zahra bingung.


“Karena aku bisa memeluk dan menciummu dimana pun kita berada tanpa harus memedulikan pandangan orang-orang di sekitar,” bisik Zain tepat ditelinga Zahra lalu berlari meninggalkan istrinya yang berdiri mematung karena perkataannya.


Setelah merasa lelah dengan aksi kejar-kejaran, Zain mengajak Zahra untuk membeli makanan di sebuah restoran di dekat sana. Sesuai janjinya waktu itu, Zain membawa Zahra melakukan penerbangan ke Shanghai untuk mengajak istrinya tersebut jalan-jalan mengunjungi Disneyland untuk bersenang-senang seharian sebelum fokus menjalankan pengobatannya.


Zain merasa bahagia melihat keceriaan di wajah istrinya, ia pun juga menuruti semua keinginan sang istri untuk mencoba berbagai wahana di sana. Bahkan Zain tak merasa malu ikut serta naik carousel atau biasa disebut komedi putar, ia juga mencicipi berbagai makanan yang dibeli oleh Zahra termasuk permen kapas.




“Apa kamu bahagia seharian bersamaku, Honey?” tanya Zain.


“Terima kasih Sayang, aku belum pernah sebahagia ini sebelumnya,” balas Zahra dengan penuh senyum tulus yang mengembang di wajahnya.


“Ke depannya aku berjanji akan selalu membuat kamu bahagia, Zahra. Maaf sewaktu di Hong Kong aku belum sempat mengajak kamu pergi ke Disneyland ataupun Ocean Park, waktu di Indonesia pun kita belum sempat bersenang-senang,” ucap Zain dengan penuh penyesalan.


“Sayang, aku tidak membutuhkan semuanya. Asalkan berada di sampingmu dan bisa menemanimu, itu sudah cukup bagiku, aku tidak menginginkan hal lainnya,” balas Zahra dengan penuh keyakinan, ia memang tidak menginginkan kemewahan, selama bisa mencintai dan dicintai dengan sepenuh hati sudah cukup baginya.

__ADS_1


“Terima kasih, Honey. Maaf karena pertemuan pertama kita tidak begitu baik, mungkin jika aku bisa memutar balik waktu ... aku ingin mengulangi semuanya dari awal, aku akan langsung mencintai dan menyayangimu tanpa harus melukai perasaanmu.”


“Seharusnya aku yang berterima kasih kepadamu, Sayang. Terima kasih atas semuanya, kamu telah memberikan begitu banyak warna dalam hidupku, kamu telah menerimaku dengan segala macam kekuranganku. Kamu telah mengajarkanku tentang apa itu cinta dalam hidupku, kamu juga memberikan seorang ibu yang begitu penuh kasih sayang ... beliau menerimaku dan menyayangiku seperti putrinya sendiri, hal yang selama hidupku belum pernah aku rasakan sebelumnya. Semuanya aku dapatkan setelah bertemu denganmu, berkat kamu juga aku mendapatkan kembali kasih sayang dari seorang ayah yang telah lama menghilang dariku, Aku-” Zahra tidak sanggup melanjutkan perkataannya, ia tak mampu membendung air mata yang mengalir begitu saja membasahi pipinya.


Zahra merasa begitu terharu dan bersyukur karena menemukan sosok suami yang seperti Zain, meskipun awal pernikahan mereka berjalan dengan tidak baik namun semuanya sudah berlalu tergantikan dengan sebuah kebahagiaan yang ia dapatkan.


Zain yang mendengar istrinya sesegukan karena menangis dengan cepat menarik tubuh mungil sang istri ke dalam pelukannya. Zain memeluk erat tubuh Zahra membiarkan wanitanya menangis untuk menyalurkan segala isi hatinya.


“Aku juga ingin mengucapkan terima kasih kepadamu Zahra, terima kasih telah menerimaku dengan segala keburukanku. Terima kasih telah bersabar menghadapi sifat-sifat burukku, terima kasih telah bertahan disisiku. Aku berharap selamanya kamu akan selalu berdiri di sampingku, apa pun yang akan terjadi ke depannya, aku ingin kamu selalu menemaniku selama sisa usiaku ini,” ucap Zain dengan mata yang berkaca-kaca.


Cup.


Zain mendaratkan sebuah kecupan singkat di kening sang istri lalu ia menempelkan dagunya di atas kepala Zahra dan memejamkan matanya menikmati semilir angin malam yang berembus menerpa kulit wajahnya, menghantarkan kehangatan yang menjalar ke dalam hatinya.


“Aku mencintaimu, Zahwa Zahratunnisa. Selamanya hanya akan mencintaimu seorang, meskipun suatu saat kamu tak lagi mencintaiku, namun berjanjilah kamu akan selalu bersamaku, selamanya!” bisik Zain namun terdengar seperti perintah yang ia ucapkan untuk Zahra.


“Zain,” panggil Zahra semakin terisak dalam pelukan suaminya.


“Apa? Hah? Itu perintah untukmu, jadi jangan mencoba untuk melanggarnya, mengerti!” ucap Zain sembari melepaskan pelukan mereka.


“Sudah malam, ayo pulang ke hotel. Besok kita harus kembali ke Beijing dan aku akan mengajak kamu mengunjungi Great Wall of China yang selama ini ingin kamu kunjungi, kita akan berangkat dari rumah yeye (kakek) karena perjalanannya akan lebih dekat dari sana dengan mengendarai mobil pribadi. Lusa baru kita akan fokus dengan pengobatan kamu dan secepatnya kita akan mengajak Yang Zi pulang ke Indonesia untuk mengurus pernikahannya dengan Barra.”


__ADS_1


__ADS_2