
“Akh!” pekik Zahra tepat saat ia menginjakkan kakinya keluar dari kamar mandi, tubuhnya ditarik oleh seseorang yang sudah menunggu kemunculannya di samping pintu kamar mandi.
“A-apa yang kamu lakukan?” Zahra merasa panik karena ia hanya memakai handuk yang melilitkan tubuhnya sampai sebatas paha saja.
“Kenapa kamu lama sekali di dalam kamar mandi?” kesal Zain yang telah menunggu istrinya itu hampir satu jam lamanya.
“Maaf,” cicit Zahra, ia berendam air hangat untuk merelakskan tubuhnya yang terasa pegal. Karena setelah bangun tidur Zahra belum sempat membersihkan tubuhnya, ia hanya mencuci wajahnya dan langsung turun untuk sarapan karena perutnya keroncongan belum terisi apa pun sejak sore kemarin, padahal bi Nur sudah mengantarkan makanan miliknya ke dalam kamar.
Zahra menurut saja ketika suaminya menuntunnya menuju walk in closet. Zain menyuruh Zahra duduk di sofa lalu ia memillah pakaian untuk istrinya, sedangkan Zahra duduk dengan gelisah merasa tidak nyaman dengan pandangan sang suami yang terus menatap ke arahnya.
Zain menghampiri Zahra dengan sebuah gaun di tangannya. “Kamu kenapa malu, Honey? Semalam aku bahkan sudah melihat semuanya,” ucap Zain menggoda istrinya membuat pipi Zahra semakin memerah.
“Tubuhku terdapat banyak lukanya, apa kamu tidak jijik padaku?” tanya Zahra lirih dengan mata berkaca-kaca lalu ia menundukkan kepalanya tidak sanggup menatap manik tajam suaminya.
Zain mengangkat sebelah alisnya, lalu meletakkan pakaian ganti Zahra di sofa samping tempat istrinya duduk. Zain mengulurkan tangannya mengangkat dagu istrinya agar menatap ke arahnya.
“Zahra! Dengarkan aku ... dimata aku, kamu adalah wanita tercantik yang pernah aku kenal. Kamu sempurna untukku, aku tidak pernah memandang fisik seseorang, yang terpenting bagiku adalah ketulusanmu menerimaku dan mau menemaniku apa pun keadaanku nantinya.”
“Jangan pernah menyalahkan dirimu atas apa yang sudah terjadi di masa lampau, kita mulai awal baru bersama. Berjanjilah padaku untuk tidak meninggalkan aku jika kedepannya kamu bertemu dengan pria yang lebih baik dariku. Jangan pernah mencoba untuk menghianatiku, mengerti!” Zain mencoba menenangkan Zahra namun juga terselip ancaman yang ia lontarkan untuk istrinya itu.
“Ehm, aku berjanji. Tapi kamu juga harus berjanji hal yang sama kepadaku!”
“Apa?”
“Ya itu, kamu harus setia kepadaku, tidak ada wanita lain dalam hidup kamu ke depannya.”
__ADS_1
“Hmmm ... kalau masalah itu sih, aku tidak bisa berjanji, Honey!” ucap Zain dan berhasil membuat Zahra mencebikkan bibirnya lalu mengambil dress pilihan suaminya dan kembali berjalan ke arah kamar mandi dengan mengentak-entakkan kakinya.
Brak!
Zahra menutup pintu kamar mandi dengan cukup keras, membuat Zain tersenyum melihat tingkah istrinya yang ia anggap sangat lucu.
“Seorang wanita yang selamanya akan ada dalam hidupku selain kamu adalah Mommy, Honey!” teriak Zain yang masih bisa di dengar oleh Zahra dari dalam kamar mandi.
Zain keluar dari walk in closet dan meraih cangkir kopi yang sudah dingin karena terlalu lama menunggu istrinya. Tadi ia sempat meminta kepada bi Nur untuk dibuatkan kopi, ternyata kopi yang ia minum ketika meeting tadi pagi masih belum cukup untuknya.
Malam harinya, setelah mengkonfirmasi penerbangan dari Bandara CGK menuju Bandara HKG, petugas memberikan jadwal penerbangan pukul 00.30 dikarenakan negara tujuan masih membatasi jadwal penerbangan internasional yang beberapa waktu lalu sempat vacum dikarenakan pandemi Covid-19 yang sempat menghantui seluruh penjuru dunia dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.
Seperti rencana sebelumnya, hanya ada Zain, Zahra, Barra dan Hani yang akan pergi ke negara tersebut. Zahra dan Hani terpesona melihat bangkai besi yang berdiri kokoh di hadapan mereka, baru kali ini mereka berdua melihat benda raksasa tersebut tepat di depan mata mereka, bahkan ini juga pengalam pertama mereka untuk naik pesawat terbang.
“Kamu suka, Honey?” tanya Zain yang berdiri di samping istrinya sambil merangkul pinggang ramping Zahra.
“Hmm.” Zahra menganggukkan kepalanya.
“Kamu dapat meminjam pesawat dari siapa, Sayang?” tanya Zahra ingin tahu, ia tahu bahwa pesawat tersebut merupakan pesawat pribadi milik seseorang karena menilik dari bodinya yang lebih kecil dari pesawat lain di sekitar mereka.
“Pesawat ini milik kita, Zahra!” jawab Zain dengan tenangnya.
“Jangan bercanda! Mana mungkin pesawat in-” Zahra menghentikan ocehannya ketika matanya mendapati logo perusahaan suaminya tertulis indah di bangkai pesawat tersebut. Tadi ia tidak begitu memperhatikan logo tersebut.
__ADS_1
“Sudah percaya?”
Zahra hanya mampu menganggukkan kepalanya pelan, ia tidak menyangka jika suaminya itu merupakan seorang crazy rich man. Hal apa lagi yang belum ia ketahuai? Bahkan Zahra belum tahu jika suaminya juga memiliki helikopter yang kemarin sempat mendarat di belakang mansion saat digunakan oleh suaminya karena tidak sabar ingin segera berjumpa dengannya.
“Silakan masuk, Tuan, Nona, semuanya sudah siap,” ucap seorang pria berseragam pilot dengan logo ZM Air di dada kanan atasnya.
Zain menuntun istrinya menaiki satu persatu anak tangga menuju ke dalam pesawat. Lagi-lagi Zahra dan Hani terkagum melihat indahnya dekorasi di dalam pesawat tersebut.
“Tidurlah, Honey! Kamu pasti merasa tenggang karena ini merupakan penerbangan pertama kamu.”
5 jam kemudian, pesawat tersebut mendarat dengan selamat di Bandara International Hong Kong pada pukul 06.30 HKT atau pukul 05.30 WIB karena perbedaan waktu antara Jakarta dan Hong Kong hanya berselisih 1 jam.
Zain menggendong istrinya yang masih terlelap ke luar pesawat, ia mengabaikan banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka namun hanya sekilas dan mereka kembali sibuk dengan kesibukan masing-masing.
“Mr. Yang Yang! Mr. Xiao Zhan!” panggil seseorang dari kejauhan membuat Zain dan Barra menghentikan langkah mereka.
Zhang Yang Yang adalah nama China dari Zain, dan Xiao Zhan juga nama China dari Barra. Orang China biasanya akan memiliki 2 nama dalam identitas mereka, yang pertama adalah nama China dan biasanaya satunya lagi adalah nama Inggris. Berhubung mereka berdua keturunan China-Indo, maka mereka memiliki nama China dan nama Indonesia.
“Good Morning, Mr. Yang Yang and Mr. Xiao Zhan. Welcome to our country,” sapa pria tersebut setelah berdiri di depan Zain dan rombongan.
“Mari kami antar ke Hotel, Tuan. Tuan muda Yitian sudah menanti kedatangan kalian,” ucap pria satunya yang fasih dengan berbahasa Indonesia.
“Di mana bos br*ngsek kalian! Kenapa tidak menjemput kedatangan kami?” kesal Zain merasa kedatangannya tidak disambut dengan baik oleh orang yang sudah mengundangnya.
“Maaf, Tuan Yang Yang. Tuan muda Yitian sedang ada halangan, dan beliau akan menunggu kedatangan Anda di hotel.” Pria tersebut menjelaskan dengan jantung yang berdebar-debar.
__ADS_1
‘Ternyata gosip itu benar adanya, tuan muda Yang Yang lebih mengerikan dari pada tuan muda Yitian saat bertatap muka langsung dengan beliau.’