
Suasana di ruang tamu ndalem (rumah utama kyai suatu pondok pesantren) Ponpes Athaillah sangat menegangkan, semua orang saling membisu merasa canggung hanya sekedar untuk memulai percakapan.
Paling parah adalah tuan Harun, sejak menginjakkan kakinya di gerbang pesantren, tuan Harun semakin merasa waswas dan tidak tenang. Sesuatu yang begitu rumit untuk diungkapkan berkecamuk di dalam hati dan pikirannya.
Di sofa yang terletak di sudut ruangan, duduk bersampingan tuan Harun dan Dr. Agam, di sofa lainnya telah duduk Ustaz Hamdan selaku pemilik serta pemimpin pesantren tersebut.
Di sudut ruang lainnya, Ny. Amara, Ny. Agam, Zahra, Zain, Yang Zi dan Barra duduk berdekatan dengan beralaskan karpet bulu halus yang membentang di lantai ruangan tersebut. Zain duduk di antara Zahra dan Yang Zi, entah hormon apa lagi yang mempengaruhi wanita hamil tersebut, ia selalu ingin berada di samping kakaknya, namun kadang juga merasa kesal jika berdekatan dengan sang kakak.
Sedangkan tak jauh dari tempat mereka duduk, terlihat seorang wanita paruh baya dengan pakaian syar’inya yang diketahui sebagai istri dari ustaz Hamdan. Di sebelahnya duduk seorang pemuda dengan setelan baju koko dan sarung lengkap dengan peci hitam di kepalanya terlihat begitu gagah dan tampan dengan pakaian khas ala santri tersebut.
Pemuda tersebut adalah Zahran, Zahran Athaillah. Ia merasa bingung dengan keadaan di sekitarnya, tadi seorang abdi ndalem (santri yang mengabdikan dirinya untuk membatu urusan di ndalem) memanggilnya ketika ia sedang mengajar materi di kelas. Sejak masuk ke ruangan tersebut matanya terus menatap ke arah Zahra dan tuan Harun secara bergantian dan bertanya-tanya dalam hati siapa tamu tersebut.
Zahra yang wajahnya mirip dengan sepupunya yang bernama Anisa, ia juga merasa bahwa wajah pria paruh baya tersebut sedikit ada kemiripan dengannya. Apalagi tuan Harun sedari tadi menatap ke arah Zahran membuat pemuda tersebut sedikit merasa tidak nyaman dengan tatapan penuh kerinduan pria paruh baya itu.
“Khhem! Apa kabar Harun? Sudah lama kamu tidak berkunjung ke tempat ini,” ucap ustaz Hamdan memecah keheningan.
“Emh, alhamdulillah baik Mas. Maaf saya tidak pernah berkunjung,” jawab tuan Harun masih dengan nada canggungnya, sudah sangat lama beliau tidak bertemu dengan kakak iparnya tersebut, terakhir kali mereka bertemu ketika di rumah sakit saat istrinya meninggal.
“Bersikap seperti biasa saja, Harun. Jangan sungkan seperti itu, ini juga rumah kamu. Dan ada kabar apa sehingga kamu berkunjung bersama rombongan kamu ini?” tanya ustaz Hamdan karena beliau tidak mengenal seorang pun dari tamunya itu kecuali tuan Harun, namun fokusnya terganggu dengan sosok wanita muda yang wajah serta parasnya begitu mirip dengan mendiang adiknya sewaktu masih muda. Hanya saja perbedaannya adiknya dulu selalu memakai pakaian syar’i sedangkan wanita di depannya kini meskipun memakai pakaian tertutup tetapi masih terasa terbuka baginya, Zahra hanya memakai kerudung panjang yang menutupi sebagian kepala dan rambutnya.
__ADS_1
“Maaf sebelumnya Mas, maaf atas kesalahan-kesalahanku terdahulu. Mungkin dengan ucapan maaf saja tidak bisa menutup kesalahan dan dosa-dosaku,” ucap tuan Harun penuh penyesalan.
“Seandainya dulu-”
“Yang lalu biarlah berlalu Harun, semau yang terjadi sudah diatur dan ditetapkan oleh-Nya. Ambillah hikmah dari kesalahan dimasa lalu, jadikan pengalaman sebagai guru terbaik untuk kita. Kami semua termasuk mendiang Abah juga sudah memaafkanmu, kami ikhlas dengan kejadian yang menimpa keluargamu,” ucap ustaz Hamdan memotong perkataan adik iparnya.
“Terima kasih, Mas. Maksud kedatangan saya ke sini selain ingin bersilaturahmi, ada suatu kebenaran yang harus saya sampaikan kepada Mas dan keluarga besar abah.” Tuan Harun menjeda ucapannya, ia menghirup udara untuk menyegarkan rongga dadanya yang terasa sedikit sesak.
“Perkenalkan, mereka semua adalah keluarga besan saya.” Tuan Harun memperkenalkan semua orang yang datang bersamanya satu-persatu.
“Dan yang terakhir, wanita muda itu.” Tuan Harun menunjuk ke arah Zahra duduk diikuti oleh semua orang yang menatap ke arah Zahra.
“Apakah dia- apakah apa yang terpikirkan olehku tentangnya benar?” tanya ustaz Hamdan penuh harap.
“Benar. Dia keponakan Mas, dia putri Zahira yang berhasil ditolong oleh dokter waktu itu. Maaf karena selama ini saya menyembunyikan keberadaannya.”
“Masya Allah! Allahu Akbar!” ucap ustaz Hamdan dan istrinya secara bersamaan, istri ustaz Hamdan langsung mendekat ke arah Zahra lalu memeluknya erat dan menghujani Zahra dengan ciuman di wajahnya.
“Masya Allah, kamu cantik sekali Nak ... sangat mirip seperti ibumu, siapa namamu?” tanya istri ustaz Hamdan dengan berlinang air mata.
__ADS_1
“Zahra, Bu. Zahwa Zahratunnisa,” jawab Zahra dengan perasaan haru.
“Masya Allah, nama yang begitu indah seperti orangnya. Panggil saja umi, semua orang di sini memanggil umi, sama seperti kakak kamu, dia juga memanggil umi dan memanggil ustaz Hamdan Abi,” ucap umi tanpa menyadari bahwa ucapannya membuat seseorang merasa terkejut.
“A-apa maksud Umi?” tanya Zahran dengan suara yang bergetar.
“Nak, Zahran ... dengarkan penjelasan abi, sebenarnya kami bukanlah orang tua kandung kamu. Harun, beliau adalah ayah kandung kamu.” Ustaz Hamdan mencoba menjelaskan kepada Zahran yang selama ini tidak pernah mengetahui bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari ustaz Hamdan dan istrinya.
“Tidak mungkin! Kalian pasti berbohong, Abi pasti bercanda, kan?” tanya Zahran tidak percaya, namun ia semakin kecewa karena ustaz Hamdan yang selama ini ia anggap sebagai ayah kandungnya justru menggelengkan kepala sebagai jawaban bahwa belai tidak berbohong.
“Umi! Kalian berbohong, kan? Katakan yang sebenarnya! Katakan bahwa saya putra Umi!” seru Zahran dengan mata berkaca-kaca, ia begitu terpukul dengan fakta yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
“Zahran, Nak ... dengarkan umi. Selamanya kamu akan menjadi putra abi dan umi, namun kamu harus menerima kenyataan ini bahwa kami bukanlah orang tua kandung kamu. Kamu tahukan makam adik abi yang berada di samping abah dan umah, kakek, nenek kamu? Zahira Athaillah, beliau adalah ibu kandung kamu,” ucap umi tanpa sanggup menghentikan air mata uang semakin deras membasahi jilbanya.
“Tidak mungkin! Ini semua pasti hanya kebohongan, aku tidak mempercayainya! Ini tidak lucu!” racau Zahran lalu bangkit dan meninggalkan semua orang yang terpaku melihat kepergiannya.
“Zahran!” panggil tuan Harun terlihat kekecewaan di wajah keriputnya.
“Jangan khawatirkan dia, bocah itu tidak akan marah terlalu lama. Biarkan dia menenangkan diri sebentar, dia pasti terguncang karena mendengar semua ini secara tiba-tiba,” ucap ustaz Hamdan mencoba menenangkan adik iparnya tersebut, namun di dalam hatinya, beliau juga merasa cemas dan khawatir akan keadaan Zahran yang selama ini sudah ia anggap sebagai putranya sendiri.
__ADS_1