
Keesokan paginya Zahra terbangun dengan mata sembab dan kantung mata yang menghitam karena kurang tidur, ia semalaman harus terjaga karena suaminya tak hentinya mengigau dalam tidurnya.
Entah apa yang dimimpikan oleh Zain dalam tidurnya, bahkan suhu tubuhnya mencapai 39.2° C dengan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya.
Zahra hanya bisa menjaga suaminya seorang diri, ia tidak ingin membuat semua orang panik dan kondisi ibu mertuanya juga sedang tidak baik juga tidak memungkinkan untuk merepotkan beliau.
“37.2° C ... syukurlah sudah turun panasnya,” ucap Zahra setelah selesai memeriksa suhu tubuh suaminya yang masih tertidur, Zain baru tertidur pulas setelah azan subuh berkumandang.
Merasa sudah mendingan, Zahra mengambil handuk kompres yang ia taruh di kening suaminya dan menaruhnya kembali ke dalam baskom stainless yang ia taruh di atas nakas.
Zahra membenarkan selimut yang menutupi tubuh suaminya, dengan wajah lelahnya ia pandangi wajah pucat suaminya yang tertidur dengan wajah yang terlihat begitu damai seakan tanpa ada suatu beban apa pun yang dimilikinya.
“Tidurlah yang nyenyak, Sayang,” bisik Zahra sembari jemari kecilnya sibuk mengabsen wajah sang suami yang terdapat beberapa goresan merah sisa tragedi semalam.
‘Aku tidak menyangka, pria angkuh dan dingin sepertimu bisa juga tumbang terbaring tak berdaya,’ batin Zahra merasa iba dengan kondisi suaminya.
Ketika sedang membereskan mangkuk stainless tempat air kompresan, Zahra melihat benda pipih milik suaminya yang tergeletak di dekatnya. Ia mengulurkan tangannya dengan ragu-ragu ingin meraih ponsel tersebut dan memastikan sesuatu yang beberapa hari ini selalu mengusik ketenangannya.
Ternyata Zain tidak memasang password pada ponselnya sehingga tidak membuat Zahra kesulitan, Zahra tersenyum melihat wallpaper yang suaminya gunakan dalam layar ponselnya, foto pernikahan mereka yang diambil di China waktu itu.
“Pantaskah aku menaruh curiga kepadamu?” tanya Zahra lirih kepada suaminya yang ia tahu tak akan mendengarkan pertanyaan yang di lontarkannya.
“Aku tidak ingin berprasangka kepadamu, tapi aku juga takut sesuatu yang tidak aku inginkan akan merusak semuanya,” lanjutnya.
Zahra kembali fokus dengan ponsel di tangannya, namun belum sempat ia memeriksa ponsel suminya terdengar seseorang mengetuk pintu kamarannya.
“Siapa?” tanya Zahra dengan meninggikan suaranya agar orang dibalik pintu kamarnya bisa mendengar suaranya.
“Saya bi Nur, Nona,” jawab bi Nur dari balik pintu yang tertutup, pasti bi Nur juga berteriak untuk menjawabnya.
“Baik tunggu sebentar, Bi.”
Zahra meletakan kembali ponsel suaminya ke tempat semula lalu berjalan ke arah pintu mengurungkan niatnya untuk mengecek ponsel suaminya.
__ADS_1
“Nona, bubur yang Anda minta sudah siap,” ucap bi Nur setelah Zahra membuka pintu kamarnya.
Zahra mengambil alih nampan berisi dua porsi bubur yang dimintanya tadi pagi dari tangan bi Nur. “Terima kasih, Bi.”
“Sama-sama, Nona.”
“Apa mommy sudah sarapan?” tanya Zahra yang masih menghawatirkan keadaan ibu mertuanya.
“Nyonya masih belum keluar dari kamarnya, Nona. Tapi, tadi saya sudah mengantarkan sarapan ke kamar Ny. Amara,” jawab bi Nur dengan wajah teduhnya, sesekali ia mencuri pandang ke dalam kamar Zahra.
“Bibi tidak memberitahukan keadaan Zain kepada mommy, kan?” tanya Zahra khawatir.
“Tidak, Nona.”
“Syukurlah,” ucap Zahra lega. “Bibi tolong jaga mommy ya!” lanjut Zahra karena ia tidak bisa menemani ibu mertuanya.
“Baik Nona.”
“Ehm ... itu Nona,” ucap bi Nur ragu.
Zahra terdiam beberapa saat menunggu bi Nur yang terlihat enggan menyelesaikan kalimatnya.
“Bagaimana kondisi tuan Zain, Nona?” tanya bi Nur cepat.
“Sudah lebih baik, Bi. Bibi jangan khawatir, aku pasti akan merawat Zain dengan baik,” ucap Zahra menenagkan, ia tahu bahwa bi Nur sangat mencemaskan kondisi suaminya. Bi Nur sudah merawat suaminya sejak kecil, tentunya bi Nur sangat menyangyangi Zain seperti putranya sendiri.
“Alhamdulillah,” bi Nur mengucap kalimat tahmid sebagai rasa syukurnya.
Zahra tersenyum melihat kecemasan di wajah bi Nur yang sudah berumur perlahan menghilang.
“Apa Ali sudah datang, Bi?” tanya Zahra yang teringat akan orang suaminya itu.
“Sudah sejak 30 menit lalu, Nona.”
__ADS_1
“Kenapa tidak memberitahuku? Kasihan dia menunggu lama, Bibi tolong sampaikan kepadanya bahwa Zain tidak bisa ke kantor dan dia harus mengurus maslah pekerjaan selama Zain tidak ada. Jika ada keadaan mendesak hubungi saja Barra.”
Zahra kembali masuk ke dalam kamar dan ia melihat suaminya sudah bangun dan duduk di atas ranjang dengan bersandar pada kepala ranjang, dengan sorot mata yang menatap lurus ke arah Zahra.
“Kamu sudah bangun, Sayang. Sarapan bubur dulu ya,” ucap Zahra lalu meletakkan nampan tersebut di atas meja karena baskom di atas nakas belum sempat ia bereskan.
Zain terdiam tidak merespon perkataan istrinya, matanya fokus menatap pergerakan sang istri yang tengah membereskan baskom dan kembali membawa nampan ke arah tempat tidur.
“Apa ada yang kamu inginkan?” tanya Zahra karena merasa risi terus ditatap oleh suaminya.
“Kemarilah!” perintah Zain tanpa mengubah posisi duduknya, tangnya sibuk menepuk pinggiran kasur tepat di sampingnya mengisyaratkan agar Zahra duduk di sana.
Dengan patuh Zahra pun duduk di samping Zain dengan saling berhadapan. Zain semakin menatap lekat wajah istrinya membuat Zahra semakin salah tingkah, apalagi Zain mengamit dagu Zahra agar menatap ke arahnya.
“Kenapa mata kamu bengkak seperti ini, Honey?” tanya Zain menyelidik, ia tidak menyadari mata istrinya menjadi seperti itu karena menjaganya semalaman.
“Eh, itu ... mungkin karena kelelahan dan kurang tidur saja,” jawab Zahra dan memalingkan wajahnya, meskipun sudah cukup lama hidup bersama suaminya, tetap saja Zahra merasa salah tingkah jika harus lama-lama menatap mat suaminya.
“Ayo cepat dimakan buburnya selagi masih panas, Sayang.” Zahra mengalihkan perhatian suaminya agar demi menyelamatkan jantungnya yang semakin tak terkendali.
“Aku mau makan kalau kamu yang menyuapiku, Honey!” ujar Zain manja.
“Jangan manja.”
“Kalau kamu tidak menyuapiku, aku tidak mau makan!” Zain memalingkan wajahnya, terlihat lucu seperti anak kecil tengah merajuk ketika tidak dituruti kemauannya.
“Baiklah, aku akan menyuapi kamu bayi besarku,” canda Zahra dan berhasil membuat Zain memasang wajah
“Apa kamu takut kepada mommy?” tanya Zain yang teringat kejadian semalam, ia mengira bahwa istrinya takut setelah melihat ibunya histeris dan kehilangan kendali bahkan sampai melukai putranya sendiri.
“Tidak,” jawab Zahra cepat, ia memang tidak takut dengan mommynya, hal yang ia takutkan bahkan lebih besar dari itu.
__ADS_1