
Di dalam ruangan serba putih berukuran cukup luas dengan berbagai perlengkapan alat medis di dalamnya, Zain duduk di depan meja kerja Dr. Agam, sedangkan sang Dokter paruh baya tersebut tengah sibuk memeriksa pasiennya yang sedang berbaring di atas brankar pemeriksaan, pasien tersebut bukan lain adalah Barra.
Setelah satu bulan lebih Zain mengabaikan tugasnya sebagai CEO, Barra pun dijadikan tumbal yang harus menyelesaikan semua pekerjaan Zain seorang diri ditambah dengan tugasnya sendiri. Belum lagi ia harus memenuhi keinginan Zain yang memintanya untuk membelikan berbagai barang untuk istrinya.
“Semuanya baik-baik saja,” ucap Dr. Agam. “Saya yakin kamu tidak mudah untuk sakit, Barra.” Dr. Agam melepas stetoskopnya dan berjalan menuju meja kerjanya.
“Terima kasih, Dokter.” Barra bangkit dari tidurnya, duduk dan merapikan pakainya.
“Tapi sebaiknya kamu harus opname semalam!” tegas Dr. Agam.
Seketika Barra turun dari brankar dan menggelengkan kepalanya. “Saya baik-baik saja, Dokter!” serunya.
“Diam kamu! Tidak ada yang meminta pendapatmu!” ketus Zain.
“Tuan, saya sungguh tidak sakit, tidak perlu opname segala,” sanggah Barra.
“Siapa di sini Dokternya?” tanya Zain menatap lekat ke arah asistennya.
“Tuan-”
“Jangan membantah! Kamu ingin aku pecat?” ancam Zain.
“Setidaknya istirahatlah sampai habis satu botol infus itu!” pinta Dr. Agam.
“Tapi-”
“Apa kamu lebih patuh kepadaku dari pada ayahmu, Barra!” sindir Zain.
“Tuan ...,” lirih Barra.
“Ck! Dasar lemah, memalukan saja! Percuma memiliki tubuh tinggi besar jika takut dengan jarum suntik,” ejek Zain membuat seorang perawat di dalam ruangan itu menahan tawanya.
Sedangkan Dr. agam hanya menggelengkan kepalanya melihat anaknya diolok-olok oleh tuannya. Sebenarnya sewaktu kecil mereka berdua sanggatlah dekat dan sering sekali memperebutkan hal yang sama. Namun Zain berubah menjadi lebih pendiam setelah kejadian yang menimpa orang tuanya.
“Berikan infus kepadanya, suster!” perintah Dr. Agam kepada suster yang membantunya.
“Tidak mau, Ayah!” tolak Barra.
“Jangan merengek seperti anak kecil, Barra Agam Hamizan!” seru Zain yang tidak sabar dengan tingkah Barra.
Zain berjalan mendekat ke arah suster dan meraih jarum infus dari tangannya.
“Kamu pilih saya yang memasangkan jarum ini atau suster yang akan melakukannya?” ancam Zain.
Barra dengan terpaksa menunjuk ke arah suster di samping tuannya, ia tidak bisa membayangkan jika tuannya yang menusukkan jarum itu di tangannya.
__ADS_1
“Akh!” teriak Barra.
“Belum di suntik, Tuan,” ucap suster itu dengan tersenyum geli, ia merasa heran karena ayahnya seorang dokter tapi anaknya takut dengan jarum suntik.
Plak!
Zain memukul pundak Barra karena merasa gemas. “Jangan mempermalukan ayahmu!”
Akhirnya suster selesai memasangkan infus di tangan Barra setelah adanya sedikit drama di dalam ruangan itu. Tadi pagi Barra pingsan di kantor dan Zain menyuruh anak buahnya untuk membawa Barra ke rumah sakit.
Zain kembali duduk di depan Dr. Agam, sedangkan Barra ia suruh berbaring di atas brankar.
“Saya ingin melakukan promil, Dokter,” ucap Zain dengan serius.
Dr. Agam menatap lekat wajah pemuda di depannya. “Kamu serius?”
Zain menganggukkan kepalanya mantap.
“Alhamdulillah, saya kira kamu tidak menginginkan anak setelah permintaan gilamu waktu itu.”
“Waktu itu saya tidak sadar Dokter, saya tidak pernah mencintai wanita ular itu!” kesal Zain.
“Jadi sekarang kamu mencintai istrimu?”
“Beruntung dulu saya berhasil menjinakkan singa yang mengamuk di ruangan ini.” Dr. Agam menyindir Zain karena dulu mengamuk ketika Dr. Agam mencegahnya untuk melakukan vasektomi.
“Itu dulu,” ucap Zain dingin.
Dulu Zain berencana untuk tidak memiliki anak dan ingin melakukan vasektomi, namun di cegah oleh Dr. Agam, walaupun harus membuat ruangannya berantakan karena ulah Zain.
Setelah berhasil menenangkan Zain yang emosi, Dr. Agam menyarankan kepada Zain untuk melakukan suntik hormon yang dilakukan rutin setiap 8 minggu sekali dan tidak boleh terlewatkan sekalipun dari pada harus melakukan vasektomi. Meskipun harus mengeluarkan cukup banyak uang, namun hal itu tidak masalah bagi Zain.
“Apa kamu masih rutin melakukan itu?” tanya Dr. Agam.
“Ya. Terakhir seminggu sebelum kejadian itu.” Zain enggan menyebutkan kejadian naas yang menimpa istrinya malam itu, namun kejadian itu justru menguntungkan untuk dirinya.
Setelah berkonsultasi mengenai KB yang dijalaninya lebih dari 2 tahun terakhir, Dr. Agam menyarankan agar Zain mengonsumsi makanan ataupun suplemen penyubur untuknya. Juga menyarankan untuk memberikan suplemen tersebut kepada Zahra.
...*****...
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Zain datang ke rumah sakit dengan membawa buket bunga berisi mawar putih kesukaan istrinya. Di belakangnya ada seorang pelayan yang membawakan masakan dari mansion utama.
Zain menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar rawat Zahra, ia mengembangkan senyumnya dan sesekali mencium harum bunga ditangannya.
Zain menghentikan langkahnya ketika tepat berada di depan pintu kamar Zahra.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
Setelah sekian detik Zain mengetuk pintu itu, Ny. Amara keluar dari kamar Zahra dan tersenyum ke arah putranya.
“Kamu sudah datang, Sayang.”
“Hmm, bagaimana keadaan istriku, Mom?” tanya Zain sambil mengarahkan kepalanya mencoba melihat ke dalam kamar itu.
“Masih sama, Zain. Kamu yang sabar ya! Perlahan istrimu akan menerimamu kembali.”
Ny. Amara meraih buket bunga itu dari tangan putranya lalu menyuruh pelayan tadi masuk ke dalam dan meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja.
“Istrimu sedang mandi, mommy akan selalu menjaganya, Zain.” Ny. Amara mencoba untuk menguatkan putranya.
“Untuk apa bunga itu, Mom?” tanya Zain bingung.
Plak!
“Dasar kamu ya! Ini bunga mawar putih kesukaan istri kamu, Zain!” kesal Ny. Amara.
Zain menguap lengannya yang terasa sedikit sakit karena mendapat pukulan dari ibunya.
“Ya sudah, Zain berangkat ke kantor dulu, Mom. Kasihan Barra sedang sakit.”
Ny. Amara menarik tangan Zain dan mencium pipinya membuat Zain melebarkan matanya.
“Mom!” pekik Zain lalu menoleh ke sekelilingnya memastikan tidak ada orang yang melihat hal memalukan yang terjadi barusan.
Zain berlalu begitu saja meninggalkan ibunya yang tersenyum melihat kepergiannya.
Ny. Amara kembali masuk ke dalam kamar Zahra dan mendapati menantunya itu sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian baru tentunya serba panjang dan tertutup.
“Mommy membawa apa?” tanya Zahra melihat kedatangan ibu mertuanya.
“Mawar putih kesukaan kamu, Sayang. Zain yang membawakannya,” terang Ny. Amara lalu meletakkan buket bunga itu di atas meja.
“Wah, indah sekali, Mom.” Zahra mendekat ke arah meja dan mengambil buket tersebut dan mencium harumnya.
“Kamu suka, Sayang?”
“Iya, Mom.”
Ny. Amara tersenyum melihat menantunya, ia juga merasa bahagia dengan melihat senyum Zahra. Tanpa terasa setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
‘Di manakah kamu tinggal selama ini? Dan bagaimana kabar kamu? Pasti sekarang usiamu sama seperti Zahra.’
__ADS_1