
Di sebuah sudut taman rumah sakit, Zain, Barra dan Yitian duduk melingkar di meja bundar yang di atasnya terdapat tiga gelas kopi dengan logo 7CAFE tercetak di cangkir tersebut yang masih mengeluarkan uap panasnya.
“Bagaimana perkembangannya, Ko?” tanya Yitian.
“Masih stuck, Yang Zi masih bungkam, enggan mengungkapkan semuanya,” ucap Zain datar lalu menyeruput kopi miliknya.
“Jika dia terus menutupi semuanya, kita tidak akan pernah menemukan siapa pelaku yang sudah membawanya pergi ke Macau,” jawab Yitian dengan wajah kesal.
“Bukan menutupi, nona hanya belum siap untuk berbicara saja, Tuan,” timpal Barra menyuarakan pendapatnya.
“Hmm, bahkan dulu Zahra membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengatasinya,” ucap Zain berhasil membuat sepupunya tersebut terkejut.
“Kakak ipar pernah mengalaminya? Siapa dan bagaimana dengan nasib pelakunya?” tanya Yitian antusias, tidak menyadari perubahan di wajah sepupunya.
Pletak!
“Akh! Sakit tahu!” seru Yitian yang mendapat sentilan di keningnya dari Zain.
“Makanya kalau bicara itu dijaga, dasar bocah!”
Yitian mencebikkan bibirnya karena ejekan sepupunya tersebut. “Aku kan hanya ingin tahu!”
“Jika ingin hidupmu damai, maka jangan kepo dengan kehidupan orang lain.”
“Kakak ipar kan bukan orang lain, dia istri piuko jadi kakak ipar merupakan bagian dari keluarga kita,” jawab Yitian tidak mau mengalah.
Barra yang melihat perseteruan di antara dua bersaudara tersebut hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan, ia sudah terbisa menghadapi keduanya yang sering berdebat hanya karena masalah kecil. Namun selalu kompak dan dapat diandalkan ketika salah satu di antaranya membutuhkan pertolongan.
“Mau tahu siapa pelakunya?” tanya Zain jahil dan diangguki oleh Yitian.
“Aku!” ucap Zain singkat membuat Yitian tersedak kopi yang tengah diseruputnya.
“Jangan bercanda!”
“kejadiannya tidak seperti yang tuan Yitian bayangkan, nona hampir masuk ke dalam jebakan nona Clarisa, namun tuan Zain berhasil menyelamatkan nona Zahra sebelum kejadian buruk itu benar-benar menimpa nona Zahra,” jelas Barra yang merasa kasihan melihat Yitian dijahili oleh tuan mudanya tersebut.
“Dasar ular berbisa! Sejak lama aku tidak menyukai dia menjadi istri piuko!” ucap Yitian geram. “Syukur sekarang piuko sudah terbebas dari jeratannya.”
__ADS_1
“Sudah, jangan membahas dia! Kita sedang membahas tentang Yang Zi,” ucap Zain merasa jengah mendengar nama mantan istrinya tersebut, ia memilih untuk kembali ke topik awal.
“Oh ya, Piuko yakin ingin membawanya ke Indonesia? Apa tidak sebaiknya dia tinggal di sini saja?” tanya Yitian yang tidak setuju dengan keputusan sepupunya tersebut.
“Yakin, hanya dengan begitu aku bisa menjaganya. Memang kamu bisa menangani gadis nakal itu? Bahkan kamu sering mendapat masalah karena ulahnya,” ejek Zain.
“Dia nakal karena mencari perhatian darimu! Jika piuko rajin mengunjunginya mungkin dia tidak akan tumbuh menjadi gadis pembuat masalah,” balas Yitian dengan menyindir sepupunya tersebut.
Selama ini, Zain hanya akan menjenguk adiknya satu atau dua kali dalam setahun, ia hanya menyuruh Barra untuk sekalian mengunjungi Yang Zi ketika ia melakukan kunjungan rutin keluarga ibunya di Beijing setiap tiga bulan sekali.
“Yang Zi hanya takut kepadaku, bahkan papa yang bersikap keras dan tegas kepada kita berdua akan berubah menjadi lembut kepadanya, papa terlalu memanjakannya.”
“Tapi, bagaimana dengan psikisnya, Ko? Semakin besar usia kehamilannya maka perutnya juga akan membesar, pasti orang-orang akan membicarakan yang tidak-tidak tentangnya. Berbeda jika Yang Zi tinggal di sini, hal tersebut tidak akan menjadi masalah.”
“tenang saja, aku pasti akan menjaganya.”
“Apa mommy akan setuju dengan keputusan piuko?”
Zain terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan dari sepupunya tersebut karena ia sendiri masih belum mempunyai solusi tentang hal tersebut. Jika Zain mengajak adiknya untuk tinggal di mansion utama, pasti ibunya tidak akan setuju dan ia takut kembali melukai perasaan ibunya. Namun jika ia membiarkan adiknya tinggal di apartemen dan terpisah darinya, sama saja bohong. Ia tidak bisa mengawasi secara langsung kehidupan adiknya.
“Tuan, saya ingin mengatakan sesuatu,” ucap Barra yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan kedua tuan mudanya itu.
“Saya ingin menikahi nona Yang Zi.”
“Apa?” Yitian terkejut mendengar pernyataan Barra.
“Tidak!” Sedangkan Zain dengan tegas langsung menolak permintaan asistennya tersebut.
“Saya serius, Tuan.”
“Tidak, Barra! Jangan karena merasa kasihan kamu ingin menikahinya!” seru Zain masih dengan menahan emosinya.
“Tuan, saya tulus ingin menikahi nona Yang Zi. Bukan hanya karena rasa iba dan kasihan saja, namun saya sayang kepadanya,” jawab Barra masih kekeh dengan keputusannya.
“Barra!” Zain mengusap wajahnya kasar, ia semakin merasa frustrasi menghadapi masalah adiknya tersebut.
“Tuan,” panggil Barra dan menatap ke arah tuan mudanya, berharap keinginannya dapat disetujui oleh tuannya.
__ADS_1
“Aku tahu niat kamu baik, Barra. Tapi aku tidak bisa mengorbankan perasaan dan masa depan kamu! Ada nama orang lain di dalam hati kamu, aku tidak ingin kamu menikah dengan orang yang tidak kamu cintai. Mengertilah, aku sudah menganggap kamu sebagai adik aku sendiri, Barra!”
“Tuan, bahkan Anda dulu menikahi nona Zahra tapa adanya perasaan cinta di antara kalian. Namun seiring berjalannya waktu, cinta itu hadir dan tumbuh bersemi mengelilingi kehidupan Anda dan nona,” ucap Barra mengingatkan perjalanan cinta tuannya tersebut bermaksut menjadikannya sebagai senjata untuknya.
“Barra! Kamu tahu sendiri kan, keadaannya berbeda dengan aku dan Zahra waktu itu.” Zain berusaha untuk menjelaskannya kepada Barra, bukannya ia tidak senang jika Barra menjadi adik iparnya, namun ia tidak mau menjadikan orang lain untuk bertanggung jawab atas apa yang tidak diperbuat olehnya.
“Biarkan saya melakukannya, Tuan!” ucap Barra tegas tanpa merasa takut kepada tuannya tersebut.”
“Tidak, Barra!”
“Tuan, jika Anda membawanya tinggal bersama kita di Indonesia, maka banyak orang yang akan mempertanyakan tentang kehamilannya, negara kita tidak sama dengan negara ini, Tuan.
“Barra!” gertak Zain lalu berdiri dan meninggalkan Barra dan Yitian yang masih terdiam.
...*****...
Brak!
Zain membuka kasar pintu kamar rawat adiknya, membuat semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut terlonjak kaget karena ulahnya tersebut.
“Sayang, pelan-pelan kalau membuka pintu!” tegur Zahra yang sedang menata makanan di atas meja bersama Hani.
Zain mengabaikan ucapan istrinya dan justru memeluknya dari belakang.
“Sayang!” pekik Zahra yang merasa malu karena di dalam ruangan tersebut ada Yang Zi, Hani serta bibinya.
“Biarkan seperti ini sebentar saja,” renggek Zain manja.
“Ck! Dasar anak muda jaman sekarang, main nyosor saja tidak malu ada orang tua di sini?” ejek Mrs. Hu.
Tak lama kemudian pintu kamar tersebut kembali dibuka dari liar dan masuklah Barra dan Yitian yang memasang wajah datar masing-masing.
“Kalian sudah datang? Sini duduk, kita makan siang bersama, mama sudah masak banyak makanan untuk kalian semua.”
Barra dan Yitian duduk di meja makan bersama Hani, sedangkan Zain memilih duduk di sofa sambil menarik sang istri untuk duduk bersamanya.
Yang Zi makan di atas brankarnya, ditemani oleh Mrs. Hu yang duduk di ujung brankar sambil menyuapi keponakannya tersebut.
__ADS_1
Suasana di dalam ruangan tersebut tiba-tiba berubah menjadi dingin, bukan Hanya Zahra yang merasakan perubahan tersebut. Namun Hani, Yang Zi dan Mrs. Hu juga merasakan hal yang sama.
“Apa kalian sedang bermain perang dingin?” tanya Mrs. Hu yang tidak tahan dengan keadaan tersebut, namun tidak ada jawaban dari tiga makhluk tampan penghuni ruangan tersebut.