Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 32. Masa Lalu Tuan Harun


__ADS_3

Semua orang di dalam ruangan itu hanya berdiam tanpa ada yang berniat untuk berbicara. Lebih dari 30 menit mereka mendengarkan suara isak tangis yang keluar dari mulut Zahra yang bersembunyi di bawah selimut, hingga ia terlelap ke dalam tidurnya.


“Tuan Zain, Ny. Amara, maaf karena saya telah membuat suasana menjadi seperti ini,” sesal tuan Harun.


“Hmm,” jawab Zain dingin tanpa menatap ke arah ayah mertuanya.


“Aku tidak menyangka jika Zahra adalah putrimu, selama ini Tasya hanya memperkenalkan Nindy sebagai satu-satunya putri kalian,” ucap Ny. Amara yang langsung membuat tuan Harun yang duduk di depannya berjengit kaget.


“Apa maksud Anda, Nyonya?” tanya tuan Harun ingin memastikan. Karena yang ia tahu istrinya dan nyonya besar di depannya itu sudah berteman sejak mereka kuliah, namun terpisah karena Ny. Amara mengikuti suaminya tinggal di luar negeri dan mereka baru kembali bersama beberapa tahun terakhir setelah tuan Harun menjalin kerja sama dengan perusahaan milik Zain.


“Hmm, Tasya mengatakan bahwa kalian hanya memiliki seorang anak, bahkan ketika kami semua berkumpul di rumahnya, hanya ada Nindy yang terlihat di dalam rumah itu. Tapi memang benar kan kamu dan Tasya hanya memiliki seorang putri karena kenyataannya Zahra bukan putri kamu dan Tasya,” ceplos Ny. Amara.


“Iya Nyonya,” jawab tuan Harun canggung, ia bingung harus memberi tanggapan seperti apa untuk Ny. Amara.


“Setahu aku, dulu Tasya bekerja sebagai sekretarismu. Apa kamu ada main api di belakang ibunya Zahra?” Ny. Amara memicingkan matanya, entah ia begitu sensitif jika membahas masalah perselingkuhan. Mungkin karena kisah masa lalunya yang kelam bersama mendiang suami dan wanitanya itu.


“Mom!” tegur Zain, ia tahu saat ini ibunya pasti sedang terbawa emosi.


“Tidak Nyonya, kejadiannya terjadi begitu saja. Bahkan waktu itu saya juga tidak mempercayai apa yang telah saya lakukan.”


“Saya bertemu dengan Zahira sewaktu menjalankan KKN di sebuah perkampungan yang masih begitu asri, jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota. Singkat cerita, setelah lulus kuliah kami menikah. Sebuah anugerah besar bagi saya yang hanya pemuda biasa miskin ilmu agama bisa mendapat restu dan menikahi putri ulama besar pemilik sebuah pesantren. Kami pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan, saya menyelesaikan S-2, sedangkan Zahira melanjutkan kuliahnya. Selama 4 tahun kami tinggal jauh dari keluarga, jauh dari tanah air, saya juga sempat bekerja di sana sambil menunggu Zahira menyelesaikan S-1nya.” Tuan Harun mengambil napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan, mengganti pasokan udara di dalam rongga dadanya yang terasa semakin panas.


Ny. Amara terlihat fokus menyimak cerita dari besannya itu. Sedangkan Zain memilih untuk menjauh dan berjalan menuju brankar tempat istrinya berbaring, ia membuka selimut yang menutupi wajah sang istri. Zain menatap lekat wajah sembab istrinya lalu ia mendaratkan sebuah kecupan di kening Zahra. Zain lalu duduk di ujung brankar tersebut sambil mengusap kepala istrinya.

__ADS_1


“Waktu itu kami memiliki seorang putra yang berumur 2 tahun dan memilih untuk kembali ke tanah air. Saya mulai membangun dan mengembangkan bisnis kecil bersama Zahira, selama satu tahun bisnis kami berkembang begitu pesat dan kami memutuskan untuk menempatkan Zahran di pesantren agar lebih mengenal tentang agama. Sedangkan Zahira mulai bekerja di sebuah rumah sakit di kota itu. Semua berjalan dengan lancar, sehingga suatu pagi kejadian yang tak pernah kami inginkan datang merobohkan fondasi rumah tangga yang selama ini kami bangun.”


“Tepat setahun setelah Zahira mulai bekerja di rumah sakit itu dan mendapat begitu banyak penghargaan serta kemajuan kariernya, di saat itu pula ujian kami dimulai.”


21 tahun lalu.


Seorang wanita berjalan terburu-buru menyusuri lorong rumah sakit, ia mendapatkan jadwal shift malam. Waktu menunjukkan pukul 05.00 pikirannya tidak fokus karena sebuah pesan misterius yang menghantuinya sepanjang malam. Setelah jam kerjanya berakhir ia bergegas menuju alamat yang tertulis di dalam pesan misterius tersebut.


Masih dengan pakaian kerja serta jas putih kebesarannya, wanita itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata karena merasa gelisah. Untung saja jalanan masih sepi karena masih terlalu pagi untuk orang-orang menjalankan aktivitas mereka di luar rumah.


Sesampainya di halaman sebuah gedung tinggi, ia bergegas turun dari mobil tanpa memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Pikirannya kacau, banyak pertanyaan yang bermunculan di dalam benaknya.


‘Semoga semua ini tidak benar-benar terjadi, aku yakin kamu tidak akan melakukan hal kotor seperti ini, Mas.’ Wanita itu berjalan sambil berharap di dalam hatinya, ia juga selalu berdoa dan berzikir agar sesuatu yang buruk tidak menimpanya serta keluarganya.


“Di lantai 11, Bu. Apa ibu sudah mempunyai janji dengan pemilik kamar tersebut?” tanya petugas resepsionis itu bingung. Pasalnya ini masih terlalu pagi untuk seseorang mengunjungi tempat itu atau ingin bertemu dengan penyewa kamar tersebut.


Petugas itu menamati penampilan wanita di depannya, wanita muda dengan wajah kearaban dengan seragam dokter yang melekat di tubuhnya. Terdapat name tag yang bertuliskan dr. Zahira yang menempel di bajunya.


“Terima kasih,” ucap Zahira lalu bergegas meninggalkan petugas yang masih menatapnya bingung.


“Mungkin dokter itu dipanggil oleh penyewa kamar untuk memeriksanya,” ucap petugas itu lalu mengangkat bahunya.


Zahira masuk ke dalam lift dan menekan tombol 11 yang terdapat didinding lift tersebut. Ia terlihat semakin cemas, Zahira menggigit bibir bawahnya berharap bisa mengurangi kegundahan dalam hatinya.

__ADS_1


Ting!


Terdengar suara lift terbuka dan Zahira bergegas keluar dari lift tersebut, ia mengedarkan pandangannya mencari kamar nomor 3005.


Dengan langkah cepat, Zahria menyusuri lorong di depannya sambil matanya menatap ke sekitar mencari pintu bertuliskan angka 3005 yang sudah ia hafal di luar kepala karena terus terlintas di kepalanya semalaman.


Deg.


Zahira terpaku di depan sebuah pintu dengan angka yang sama dengan apa yang ia cari. Dengan tangan bergetar, ia menekan password yang telah tercantum dalam pesan misterius yang diterimanya.


Tiit.


Untuk ke sekian kali tubuh Zahira menegang, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Napasnya tercekat, wajahnya semakin memucat setelah ia berhasil menekan password pintu kamar di depannya.


Ceklek.


Samar-samar terdengar suara isakan wanita di telinga Zahira, perlahan ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar yang gelap tanpa pencahayaan itu. Kakinya melangkah mendekat ke arah sumber suara, samar-samar matanya menangkap sosok wanita tengah menangis dengan rambut acak-acakan duduk di sudut ruangan dengan selimut yang menutupi tubuhnya.


Zahira melihat keadaan kamar tersebut yang terlihat seperti kapal pecah, barang-barang berserakan di mana-mana, di sofa terlihat ada tas wanita dan sebuah jas hitam laki-laki. Di lantai terlihat sepatu wanita dan laki-laki yang berserakan, bantal dan pakaian yang tergeletak begitu saja bahkan sepasang pakaian dalam yang terlihat begitu menjijikkan di matanya.


Zahira mengalihkan perhatiannya ke arah ranjang yang terkena sinar matahari dari jendela yang kordennya sedikit terbuka. Keadaan tempat tidur itu tak jauh berbeda dengan sekitarnya, berantakan.


Zahira berjalan pelan ke arah tempat tidur, matanya menangkap punggung polos seorang pria yang terlihat begitu familier di matanya, bagian tubuh bawahnya terbungkus oleh selimut.

__ADS_1


Deg.


__ADS_2