Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 26. Kedatangan Tuan Harun


__ADS_3

“Ayo sekali lagi, Zahra!” desak Zain.


“Nggak mau, sudah cukup,” tolak Zahra dengan memasang wajah memelasnya.


“Sekali saja ya, sebelum aku pergi,” rayu Zain.


“Tidak Tuan, tolong jangan paksa aku lagi.”


“Cepat buka, kalau tidak aku akan menciummu!” ancam Zain.


Seketika Zahra menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Kebiasaan suaminya yang selalu memaksa dirinya untuk menghabiskan makanan dengan porsi berlebih.


“Cepat aku harus segera pergi, ada meeting di perusahaan.” Zain tetap menyodorkan sendok berisi makanan terakhir tepat di depan mulut Zahra.


Zahra tetap menggeleng, namun lama-kelamaan ia pun mengalah, percuma menolak karena Zahra pasti akan kalah melawan suaminya itu.


“Good girl, istirahatlah! Nanti malam aku akan menginap di sini.” Zain mengacak rambut Zahra lalu meletakkan piring kosong di atas meja.


“Tidak perlu, Tuan.” Zahra dengan cepat menolak perkataan suaminya.


“Kasihan mommy hampir 2 bulan menemanimu di sini. Biarkan mommy istirahat dengan nyaman di rumah, dia sudah berumur, Zahra.”


“Zain!” teriak Ny. Amara dengan mata melebar, lalu ia melemparkan sendok ditangannya dan tepat mengenai kepala Zain.


“Akh!” pekik Zain sambil mengusap kepalanya yang sedikit benjol.


“Dasar anak kurang ajar! Cepat pergi dari sini! Tidak ada waktu untukmu nanti malam bersama menantu mommy!”


Zain terpaksa keluar dari kamar rawat istrinya karena ibunya menyeret paksa tubuhnya. Rencana Zain ingin menghabiskan waktu semalam bersama Zahra harus terkubur hanya karena ibunya yang merasa kesal dengan ucapannya. Padahal menurutnya apa yang diucapkannya tidak ada yang salah.


...*****...


Keesokan harinya, setelah melihat keadaan istrinya, Zain bergegas menuju perusahaan karena Barra mengabarkan bahwa tuan Harun yang tidak lain adalah mertuanya sudah berada di kantornya.


Setelah kemarin mendapat perintah dari menantunya yang disampaikan oleh Barra sang asisten, tuan Harun bergegas pulang ke tanah air, tuan Harun tidak ingin membuat masalah dengan membuat marah menantunya.


Ceklek!


Suara pintu ruangan mewah tersebut terbuka, seorang pria dengan penampilan rapi dengan wajah dingin serta tampannya masuk ke dalamnya.

__ADS_1


Sedangkan dua orang yang berada di dalam segera bangkit dari duduknya lalu menundukkan kepala mereka tanda hormat kepada tuan muda berkuasa itu, siapa lagi kalau bukan Zain Malik Ibrahim.


Zain berjalan dengan angkuhnya menuju kursi kebesarannya, tanpa menyapa kedua orang yang masih berdiri di tempatnya.


“Duduklah!” ucap Zain dingin setelah dia duduk di kursinya.


“Terima kasih, Tuan.”


Tuan Harun duduk di depan Zain, sedangkan Barra duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut.


“Apa Anda tahu kenapa saya memanggil Anda ke sini?”


Tuan Harun menggelengkan kepalanya pelan, ia merasa waswas dan bertanya-tanya apa kesalahan yang telah diperbuatnya, atau mungkin putrinya yang membuat kesalahan.


“Maaf, saya tidak tahu, Tuan. Apakah putri saya membuat kesalahan?” tanya tuan Harun pelan.


Zain menatap tajam ke arah ayah mertuanya. “Benar, putri Anda sudah membuat masalah besar terhadapku!”


“Tu-Tuan, maafkan putriku. Dia memang sering membuat masalah,” tuan Harun merasa gugup dan takut berhadapan langsung dengan Zain. Meskipun sekarang posisinya adalah ayah mertua dari pria dingin di depannya, namun tetap saja tuan Harun merasa segan dan gelisah berhadapan langsung dengannya.


“Sering membuat masalah?” tanya Zain dengan sinis.


“I-iya, Tuan. Sejak kecil putri bungsu saya sering membuat ibu dan kakaknya kesal juga sering membuat masalah,” jelas tuan Harun dengan suara tercekat.


“Apa yang dilakukan Zahwa, Tuan?”


“Apa Tuan tahu keadaan putri bungsu Anda yang kalian sebut sebagai pembuat masalah itu?” tanya balik Zain, mengabaikan pertanyaan dari ayah mertuanya.


Tuan Harun hanya terdiam, ia terlalu sibuk dengan bisnisnya dan mempercayakan semua masalah rumah tangga serta kedua putrinya kepada istrinya. Istrinya mengatakan bahwa kabar kedua putrinya baik-baik saja. Terakhir dia berkomunikasi dengan Zahra disaat malam pernikahannya itu.


“Kenapa Anda diam?” Zain menyandarkan tubuhnya serta menyilangkan kakinya.


“Apa Anda yakin putri yang selama ini kalian sebut sebagai pembuat masalah benar-benar membuat masalah? Atau malah gadis malang itu yang selalu mendapat masalah?”


Deg.


“Apa maksud Anda, Tuan?” tanya tuan Harun dengan wajah terkejut.


Barra berjalan menghampiri meja kerja tuan mudanya, lalu meletakkan amplop berwarna coklat di atas meja.

__ADS_1


“Silakan Anda buka dan lihat sendiri isi di dalam amplop ini, Tuan.” Barra mundur selangkah dan tetap berdiri di tempatnya.


Perlahan tangan tuan Harun mengambil amplop coklat di depannya, dengan hati waswas ia mengeluarkan isi di dalamnya.


Tuan Harun menautkan alisnya, terlihat wajah bingungnya mengamati berlembar-lembar foto di depannya. “A-apa maksud semua ini, Tuan?”


“Foto siapa ini? Kenapa banyak luka di tubuhnya?” Tuan Harun merasa kasihan dan miris melihat foto beberapa bagian tubuh seorang wanita dengan bekas luka di atasnya.


“Apa yang Anda pikirkan dengan foto-foto itu?” tanya Zain, untuk ke sekian kalinya ia mengabaikan pertanyaan dari ayah mertuanya.


“Kasihan sekali gadis ini. Pasti dia merasa kesakitan dan tertekan, mungkin-” tuan Harun tidak menyelesaikan kalimatnya, ia merasa bingung untuk menjelaskannya.


“Anda benar. Kasihan sekali gadis di dalam foto itu, apa Anda percaya jika luka-luka itu disebabkan oleh dirinya sendiri?”


“Itu sangat mustahil, Tuan. Jika luka di tangan dan pahanya,  mungkin saja dia sendiri bisa melakukannya. Tapi untuk luka di betis dan punggungnya, saya yakin pelakunya adalah orang lain,” jelas tuan Harun panjang lebar.


“Tepat sekali! Saya pun mempunyai pikiran yang sama dengan Anda, Tuan.”


“Maaf, Tuan. Tapi apa hubungannya foto-foto ini dengan pembicaraan kita?” tanya tuan Harun yang masih belum memahami arah pembicaraan menantunya.


“Tentu saja ini sangat berhubungan dengan topik awal pembicaraan kita, Tuan Harun!” Zain mengeluarkan sebuah map berwarna biru dari dalam laci mejanya.


“Apa Anda penasaran siapa gadis di dalam foto tersebut?”


Tuan Harun menganggukkan kepalanya, ia semakin penasaran dan juga bingung karena Zain yang terus mengajaknya bermain teka-teki.


Zain menyodorkan map tersebut tepat di depan ayah mertuanya.


Tuan Harun menatap map itu dan wajah Zain secara bergantian,  seakan bertanya apa ini, dan meminta izin untuk membukanya.


Dengan tangan sedikit gemetar, tuan Harun meraih map tersebut dan membukanya. Entah mengapa tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat, ia merasa gelisah. Seketika tubuhnya membeku, matanya melebar membaca kertas yang kini sudah berpindah ke tangannya.


“Tu-Tuan.”


Kertas ditangan tuan Harun jatuh di atas meja, ia tidak bisa berkata apa pun seakan sesuatu mencekik lehernya. Dadanya terasa sesak dan mata berkaca-kaca setelah membaca satu nama yang begitu ia kenal tertulis jelas di atas kertas hasil visum dari rumah sakit milik Zain.


Zahwa Zahratunnisa, putri bungsunya, putri yang selama ini dianggapnya sebagai pembuat masalah karena istrinya sering mengadu akan kenakalan Zahra.


“Putri bungsu yang dianggap sebagai pembuat masalah! Gadis malang yang bahkan telah dibohongi oleh orang tuanya sendiri! Gadis malang yang dipaksa menggantikan kakaknya yang kabur dari perjodohan! Gadis malang yang dituduh sebagai seorang pembunuh! Gadis malang yang bahkan tidak tahu siapa ibu kandungnya!”

__ADS_1


Deg.


Tuan Harun mengangkat wajahnya, belum selesai ia terkejut dengan kenyataan yang baru saja didapatkannya, kini menantunya mengetahui hal yang selama ini ia sembunyikan dari siapa pun bahwa Zahra bukanlah putri kandung dari istrinya, Tasya.


__ADS_2