Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 101. Drama di Kantin


__ADS_3

Sesuai janjinya, tiga hari ini Zain sama sekali tidak mengganggu Zahra di kampus barunya. Zahra juga menjalani kegiatan orientasi study kampusnya dengan lancar, Tania juga harus berpura-pura menjadi mahasiswa baru untuk tetap bisa bersama Zahra.


“Nona, kita makan di sana saja,” ucap Tania menunjuk kursi kosong di dekat pintu masuk.


“Jangan panggil nona, Nia. Tidak enak nanti ada yang mendengarnya,” bisik Zahra mengingatkan Tania, usia Zahra memang jauh di bawah Tania yang seumuran dengan suaminya. Tania pun menolak ketika Zahra memanggilnya dengan embel-embel kakak.


“Maaf Zahra, saya tidak terbiasa,” jawab Tania masih merasa segan untuk melakukan apa yang diinginkan nonanya agar memperlakukan Zahra sebagai teman.


Mereka berdua berjalan menuju kursi yang dimaksud Tania, suasana kantin sangat ramai dan hanya ada beberapa kursi kosong yang tersedia.


“Jangan takut, Zain sudah mengizinkannya. Aku tidak mau ada yang curiga dengan statusku,” ucap Zahra masih dengan berbisik.


“Baik No- Zahra,” ucap Tania kaku.


“Boleh kami bergabung disini?” tanya Zahra kepada beberapa mahasiswa baru yang duduk di meja tersebut.


Zahra mengenali penampilan mereka sebagai mahasiswa baru karena rambut mereka yang dikuncir dua, kanan dan kiri sama halnya seperti dirinya sebagai penanda peserta ospek.


“Silakan duduk saja,” jawab beberapa mahasiswa yang duduk di meja tersebut ramah.



Zahra dan Tania bergabung dengan mereka dan hanya menyimak pembicaraan teman-teman barunya. Sesekali Zahra hanya menanggapi dengan senyuman ketika mereka bertanya tentang dirinya.


“Oh, berarti usia kami lebih muda dari pada kamu ya? Baiklah mulai sekarang kami harus memanggilmu dengan panggilan kakak, Kak Zahra. Bagaimana?” tanya seorang maba (mahasiswa baru) kepada teman lainnya, tentu saja Tania sudah memalsukan identitas usianya agar tidak mencurigakan.


Semua yang berada di meja itu setuju-setuju saja dan justru Zahra yang merasa tidak enak hati dan menolaknya. “Panggil saja Zahra.”


“Kamu sudah menikah Zahra?” tanya orang yang duduk tak jauh dari kursi Zahra, ia ingin memastikan status yang dikatakan Zahra tadi ketika berkenalan.


“Iya,” jawab Zahra singkat dengan senyum di wajahnya.


“Wow, bagaimana rasanya memiliki suami?”

__ADS_1


“Kapan-kapan kenalkan suami kamu dengan kita dong!”


“Sudah berapa lama kamu menikah?”


“Apa sudah berencana memiliki anak atau menunda hingga kamu lulus kuliah?”


Zahra hanya menanggapi pertanyaan dari teman barunya itu dengan senyuman, baru kali ini ia berinteraksi dengan banyak orang.


Dulu Zahra tidak memiliki banyak teman dan ia tidak terlalu suka berbaur dengan teman-temannya, bahkan orang-orang hanya berteman dengannya karena membutuhkannya saja.


Ketika asyik berbincang di sela menikmati makanan mereka, tiba-tiba ada tiga orang wanita dengan pakaian sedikit sexy masuk ke dalam kantin membuat kehebohan.


Brak!


Salah satu wanita itu tiba-tiba menggebrak ujung meja dimana Zahra berada membuat semua orang menatap ke arah mereka.


“Minggir!” seru wanita yang berdiri di belakang wanita yang paling menonjol di antara ketiganya.


Mereka adalah Alexa dan kedua temannya, Carla dan Kayla. Tiga geng wanita yang dikenal sebagai penguasa kampus dan banyak ditakuti oleh mahasiswa lainnya karena relasi yang dimiliki Alexa.


“Berani membantah kamu ya!” teriak Carla yang berdiri di samping Alexa yang hanya diam dengan wajah angkuhnya.


“Tapi Kak-”


“Diam, Kamu! Dasar maba, kalian tidak tahu jika meja ini milik kami? Berani-beraninya kalian duduk tanpa izin dari Alexa!” gertak Carla.


“Cepat pergi!” usir Kayla tidak sabar.


Zahra menggelengkan kepalanya ketika Tania menatap ke arahnya seakan meminta izin untuk menangani ketiga wanita pembuat onar itu.


“Kenapa masih diam disini, hah? Apa kalian tuli?” tanya Kayla merendahkan.


“Kalian tidak tahu siapa kami?” tanya Carla geram.

__ADS_1


Zahra dan teman-teman barunya hanya menggelengkan kepala mereka karena benar-benar tidak kenal dengan ketiga wanita tersebut.


“Ingat baik-baik apa yang akan aku ucapkan, asal kalian tahu ya! Wanita cantik yang berdiri di depan kalian ini adalah Alexa, adik kesayangan donatur utama kampus ini!” ucap Kayla sombong.


Semua maba di meja itu saling bertukar pandang, mereka cukup tahu siapa donatur yang terkenal di kampus tersebut. Seorang pengusaha muda yang sukses dan terkenal serta diidamkan banyak kaum hawa, siapa lagi jika bukan Zain Malik Ibrahim.


“Mengerti kan, sekarang! Cepat pergi sebelum kalian akan menerima akibatnya!” ancam Carla.


Satu persatu teman Zahra berdiri dan membawa makanan mereka pergi menghindar dari masalah menyisakan Zahra dan Tania yang tetap duduk karena berpikir ada kursi kosong yang cukup untuk mereka bertiga.


“Kamu!” tunjuk Kayla ke arah Zahra. “Cepat pergi, ngapain masih disini? Apa telingamu tuli?”


Zahra segera mencegah Tania yang hendak melawan mereka, ia tidak mau menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung kantin yang ada status yang ia sembunyikan akan terbongkar.


Tanpa sepatah kata pun Zahra mengajak Tania segera meninggalkan meja itu namun dicegah oleh seseorang yang sedari tadi mengawasi mereka dari ujung meja lainnya.


“Kembalilah duduk, tidak perlu kamu mendengarkan mereka,” ucap pria yang mencegah Zahra.


“Al, apa yang kamu lakukan?” Alexa mengeluarkan suaranya karena tidak terima dengan perkataan pria tersebut.


“Kamu boleh mengganggu dan menindas siapa pun, tapi tidak dengan dia!” Pria tersebut menarik tangan Zahra agar kembali duduk di tempat semula.


“Maaf, saya pergi saja.” Zahra menolak dengan halus.


“Duduklah, kamu tidak perlu merasa takut dengan Alexa. Aku akan selalu menjagamu.” Pria itu memaksa Zahra untuk duduk, sedangkan Tania mengawasi dengan penuh kewaspadaan.


“Aldebaran,” ucap pria itu memperkenalkan dirinya.


“Al, apa-apaan kamu! Jangan mengganggu-”


“Sstt! Jangan membuatku marah, Lex. Apa kamu ingin aku mengatakan kepada semua orang bahwa kamu hanyalah wanita simpanan?” Aldebaran mengancam Alexa dengan sedikit berbisik, namun Zahra masih bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Aldebaran dengan jelas.


Zahra segera bangkit dari duduknya dan berlari keluar dari kantin membuat Alexa dan juga Aldebaran menatap heran kepergian Zahra.

__ADS_1


Tania segera menyusul nona mudanya tidak tahu apa yang terjadi dengan Zahra, sekilas tadi dia sempat melihat perubahan raut wajah Zahra.


“Hei, mau kemana? Kamu belum menyebutkan namamu, siapa nama kamu?” teriak Aldebaran merasa kesal diabaikan oleh Zahra.


__ADS_2