Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 74. Kejutan


__ADS_3

“Honey!” panggil Zain setelah berhasil membuka pintu kamar rawat adiknya, namun ia dibuat terkejut karena tidak mendapati seorang pun keluarganya di dalam ruangan. Hanya ada dua orang perawat yang sibuk merapikan kamar itu.


“Dimana adik dan istriku?” tanya Zain kepada dua perawat itu.


“Maaf Tuan, siapa yang Anda maksud? Apakah pasien kamar ini sebelumnya?” tanya balik salah satu perawat itu.


“Hmm, dimana mereka?”


“Pasien sudah pulang bersama keluarganya, Tuan.”


Zain melebarkan matanya mendengar penuturan perawat tersebut, seharusnya jadwal kepulangan Yang Zi adalah sore hari. Tapi kenapa mereka sudah pulang tanpa memberitahu kepada dirinya.


“Kapan mereka pulang?” tanya Zain.


“Sekitar satu jam yang lalu, Tuan.”


“Kenapa kalian tidak memberitahuku?” kesal Zain.


“Maaf Tuan, kami tidak tahu soal itu. Kami hanya menjalankan tugas membereskan kamar ini karena akan ada pasien baru yang masuk hari ini,” jawab petugas tersebut sopan.


“Ck! Sial!” maki Zain dengan memukul pintu kamar tersebut untuk menyalurkan kekesalannya.


“Yang a!” panggil Mr. Hu yang melihat Zain berjalan dengan tergesa-gesa di lobi rumah sakit.


Zain menghentikan langkahnya karena mendengar seseorang memanggil namanya dan melihat pamannya berdiri tak jauh darinya, Zain melupakan keberadaan pamannya yang juga berada di rumah sakit karena terburu-buru.


“Pa, apa papa sudah tahu jika Yang Zi sudah pulang bersama yang lainnya?” tanya Zain menatap curiga ke arah pamannya.


“Pulang?” tanya Mr. Hu sambil menautkan kedua alisnya bingung.


“Bukannya sore nanti mereka baru boleh pulang?” tanya balik Mr. Hu.


“Papa benar tidak tahu? Papa sedang tidak mengelabuhi aku kan?” Zain masih menatap curiga ke arah pamannya.


“Kamu mencurigai papa kamu?” tanya Mr. Hu dengan memasang wajah mengintimidasi. “Papa tadi dari kantor dan sengaja datang kesini untuk melihat keadaan adik kamu, tapi kamu malah mencurigai papa.”


“Maaf Pa, aku tidak bermaksud begitu,” ucap Zain menyesali telah mencurigai pamannya.


“Sudahlah! Tidak perlu dipermasalahkan, ayo kita pulang!” ajak Mr. Hu.


Mereka berdua berjalan menuju tempat parkir, karena Zain tidak membawa mobil sendiri maka ia pulang bersama pamannya dengan mobil milik pamannya.

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan Zain masih merasa kesal karena tidak ada yang memberi tahu tentang kepulangan adiknya tersebut, bahkan mereka tega meninggalkan Zain seorang diri di rumah sakit. Beruntung Zain bertemu dengan pamannya dan bisa pulang bersama.


40 menit kemudian, mereka tiba di rumah, Zain turun dari mobil dan langsung berlari menuju pintu utama diikuti oleh sang paman yang berjalan santi di belakangnya.


Ting-tong! Ting-tong!


Zain dengan tidak sabar menekan bel rumah namun tidak ada jawaban dari dalam rumah tersebut membuatnya menggerutu tidak jelas.


“Anak bodoh! Kenapa kamu tidak sabaran seperti itu?” ejek Mr. Hu sambil melemparkan kunci rumah ke arah Zain.


“Terima kasih, Pa.” Dengan cepat Zain memasukkan kunci tersebut ke dalam lubangnya setelah menerima kunci dari pamannya.


Ceklek!


“Honey!” teriak Zain setelah berhasil membuka pintu tersebut.


Mr. Hu yang melihat tingkah keponakannya hanya menggelengkan kepalanya pelan, ia tidak menyangka bahwa Zain yang sangan dingin dan kaku bisa menjadi sebucin itu.


“Kamu sudah tumbuh besar, Yang a ... perasaan baru kemarin kamu dan Yitian saring merengek karena berebut mainan. Papa tidak bisa membayangkan jika Yitian nanti sudah menikah, anak itu begitu banyak teman wanitanya tapi tidak ada satu pun yang diajak serius olehnya. Bahkan mantel yang tertinggal di mobilnya digunakan Zahra untuk kabur dari pengawasanmu waktu itu,” ucap Mr. Hu lirih lalu menyusul Zain yang sudah masuk ke dalam rumah.


“Honey! Honey!” teriak Zain karena tidak mendapati seorang pun yang menyambut kehadirannya.


Zain menyapukan pandangannya ke seluruh sudut rumah tersebut, bukannya adiknya sudah dibawa pulang? Seharusnya keadaan rumah ramai oleh banyak orang, namun ini malah terlihat sangat sepi.


“Hon-.”


“Chuk lei sang yat fai lok!” (selamat ulang tahun)


“Happy Birtday, Sayang!”


Semua orang berteriak mengucapkan selamat ulang tahun dalam bahasa kantonis kepada Zain yang berdiri mematung karena terkejut, berbeda dengan Zahra dan Ny. Amara yang mengucapkannya dengan ucapan happy birtday.


“A-apa ini?” tanya Zain terbata masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Chuk lei sang yat fai lok, leng cai!” ucap Mr. Hu yang sudah berdiri tepat di belakang Zain.


*(Selamat ulang tahun, tampan!) leng cai bisa diartikan anak ganteng, sebagai sapaan memanggil/menyapa anak laki-laki. Leng berarti cantik/ganteng, cai berarti anak laki-laki, mau dia ganteng atau tidak cantik atau tidak, sudah biasa orang-orang memanggil dan menyapa dengan sebutan leng cai (ganteng) atau leng loi (cantik).


“Selamat ulang tahun, Sayang!” ucap Zahra yang sudah berdiri di depan suaminya, ia lalu menarik paksa tubuh suaminya yang masih terpaku mencerna keadaan tersebut menuju ruang keluarga.


Zain terpana melihat pemandangan di depannya, ruang keluarga tersebut sudah berubah menjadi ruangan yang indah bertemakan tata surya dengan dinding berwarna biru gelap sebagai langitnya.

__ADS_1


Mata Zain terfokus dengan tulisan Happy Birtday yang terukir melingkar di dinding, di dekatnya sudah tertata rapi kue tiga tingkat dengan desain yang unik dan indah beserta beberapa kue kecil dengan bentuk unik masing-masing.


Zain menatap tak percaya ke sekelilingnya, ada sang istri yang berdiri di sampingnya, Yitian yang berdiri di dekat Hani. Paman dan bibinya yang berdiri berdekatan dan di sampingnya berdiri seseorang yang sangat familier dimatanya.


“Mommy!” seru Zain yang tersadar akan kehadiran ibunya.


Ny. Amara mengulaskan senyum tulusnya ke arah sang putra dan menganggukkan kepalanya pelan seakan memberitahukan bahwa dirinya memang berada di tempat tersebut. “Happy birtday, Sayang.”


Zain berlari menuju ibunya dan memeluk tubuh wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya tersebut. “Mom-”


“Sttt! Mommy ada di sini, Zain. Kamu tidak sedang bermimpi,” ucap Ny. Amara lirih dan menangkup wajah putranya dengan kedua tangannya.


“Mom-” Zain tidak dapat meneruskan perkataannya, ia masih merasa seperti bermimpi. Ibunya yang hampir selama 18 tahun tidak mau pergi ke China, namun hari ini di hari bahagianya ibunya datang ke Hong Kong tanpa sepengetahuannya.


“Maafkan mommy, Sayang ...,” lirih Ny. Amara dengan suara bergetar dan mata yang sudah berkaca-kaca menahan air matanya agar tidak lolos menembus pertahanannya.


“Kenapa mommy minta maaf? Mommy tidak bersalah. Semuanya sudah berlalu Mom,” Zain kembali memeluk tubuh ibunya membuat orang-orang di sekitarnya ikut merasa terharu dengan pemandangan tersebut.


“Selamat ulang tahun, Tuan!” ucap Bara setelah tuan mudanya tersebut melepas pelukannya dengan sang ibu.


“Kamu ada di sini juga?” tanya Zain heran, ia tidak menyangka asistennya tersebut ikut datang ke Hong Kong untuk ikut andil dalam memberikan kejutan kepadanya.


“Dr. Agam dan Tante Wang datang juga?” tanya Zain tak percaya.


“Iya Zain, selamat ulang tahun ya!” ucap Dr. Agam dan istrinya bersamaan.


Zain merasa terharu, baru kali ini ulang tahunnya dirayakan meskipun hanya dihadiri oleh orang-orang terdekatnya saja. Selama ini Zain tidak pernah merayakan ulang tahunnya sejak kepergian ayahnya, menurutnya hal tersebut tidak berguna dan hanya akan membuang-buang waktu saja.


Namun siapa sangka, ternyata ia begitu terkesan akan kejutan yang sudah disiapkan keluarganya tersebut bahkan dia sendiri tidak mengingat akan hari ulang tahunnya sendiri..


“Terima kasih semuanya,” ucap Zain dengan tulus.


Setelah saling mengucapkan selamat kepada Zain, mereka menggiring Zain menuju tempat utama. Menyanyikan lagu ulang tahun dan diakhiri dengan potong kue.


“Dimana Yang Zi?” tanya Zain yang menyadari tidak melihat keberadaan adiknya dan berhasil menyita oerhatian semua orang.




*****

__ADS_1


Hai semuanya maaf ya bab sebelumnya sangat pendek, judul bab dan isinya juga tidak sesuai. Sebenarnya isinya belum kelar tapi semalam mata othor tidak bisa diajak kerja sama 🙏🙏 judul babnya udah diganti kok 😁


Terima kasih sudah menemai othor, dan sabar menunggu lanjutan babnya, love you all 🥰🤗


__ADS_2