
“Kakak Ipar, apakah Anda tidak merasa gerah dengan berpakaian serba panjang di saat musim panas ini?” tanya Yitian yang sedari tadi merasa terusik dengan cara berpakaian kakak iparnya itu.
“Eh, i-itu ....” Zahra tergagap mendengar pertanyaan dari sepupu suaminya tersebut, ia bingung apa harus menjawabnya. Ia tidak bisa menjelaskan tentang keadaan dirinya namun jika ia mengabaikannya, itu terlihat sangat tidak sopan dan Zahra takut akan menyinggung perasaan sepupu suaminya tersebut.
Barra yang melihat kecemasan di wajah nonanya tersebut segera mengalihkan perhatian Yitian.
“Tuan muda, nona Zahra pasti lelah setelah perjalanan jauh, apalagi ini penerbangan perdana nona Zahra. Jadi biarkanlah nona Zahra untuk segera masuk ke kamarnya dan beristirahat.”
“Hmm, baiklah. Silakan masuk Kakak Ipar, ingat peraturannya! Jangan keluar dari kamar selama 3 hari ke depan, akan ada petugas yang membantu semua keperluan kalian dan jika memerlukan sesuatu panggil saja mereka.” Yitian menunjuk beberapa penjaga yang berdiri di beberapa sudut koridor tersebut.
“Makanan akan diantar oleh petugas dan pakaian kotor akan diambil setiap pagi,” lanjut Yitian.
“Baik Tuan, terima kasih atas bantuan Anda,” jawab Zahra diikuti oleh Barra dan Hani.
“Jangan merasa sungkan, kita adalah keluarga. Panggil saja nama, Kakak Ipar,” Yitian merasa tidak enak dengan panggilan Zahra kepadanya.
“Emh, boleh saya memanggil Tian?” tanya Zahra ragu, ia takut jika dianggap tidak sopan karena usianya lebih muda dari pada Yitian.
“Senyaman Kakak Ipar, saja. Tian kedengarannya juga bagus.” Yitian merekahkan senyumnya membuat Zahra merasa lega.
“Terima kasih, Tian.”
“Sama-sama, Kakak Ipar. Selamat beristirahat, sampai jumpa 3 hari ke depan,” ucap Yitian sebelum Zahra menutup pintu kamarnya.
Setelah memastikan Zahra masuk ke dalam kamarnya, mereka melanjutkan mengantarkan Hani ke kamarnya yang berada di sebelah kamar Zahra. Setelah memastikan Hani masuk ke dalam kamarnya, Yitian menatap tajam ke arah Barra, ia menatap curiga kepada asisten sepupunya tersebut dan meminta penjelasan darinya karena merasakan ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
“Apa yang tidak aku ketahui?” tanya Yitian dengan wajah tegasnya menandakan bahwa ia tengah serius.
“Maaf Tuan Muda, saya tidak berani untuk mengatakannya kepada Anda. Ada suatu insiden dimasa lalu yang membuat nona Zahra tidak bebas dalam berpakaian, dan jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut, sebaiknya Anda bertanya langsung kepada tuan Muda Yang Yang,” jelas Barra dengan sopan.
“Baiklah, aku mengerti. Beristirahatlah! Kamar kamu ada di sebelah sana!” ucap Yitian sambil menunjuk pintu yang berada di samping kamar Hani.
“Terima kasih, Tuan.”
“Hmm, peraturannya tetap berlaku untuk kamu juga! Aku tidak mengunci kalian bukan berarti kalian bebas dari pengawasanku, hanya saja tuan muda gilamu itu tidak akan menurut jika tidak menguncinya dari luar.”
...*****...
Zahra terpesona melihat isi kamarnya, kamar dengan kelas suite deluxe king yang disediakan oleh Four Seasons Hotel milik keluarga suaminya tersebut sangatlah mewah dan elegan.
Zahra melangkahkan kakinya menuju dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan laut yang begitu memanjakan mata, terlihat pemandangan indah semenanjung Kowloon hingga Victoria Harbour yang terkenal di dunia.
Setelah puas melihat lautan, Zahra memutuskan untuk berkeliling kamar hotelnya tersebut. Ada ruang rias dan juga kamar mandi mewah yang lengkap dengan segala peralatannya.
__ADS_1
Drrrt! Drrrt! Drrrt!
Zahra terlonjak kaget ketika merasakan getaran yang berasal dari ponselnya, ia meraih benda pipih tersebut dari dalam kantong celananya dan ternyata ada panggilan masuk dari suaminya.
“Hallo, ada apa Sayang?” tanya Zahra setelah menerima panggilan tersebut.
‘Kangen!’ keluh Zain dari seberang sana.
“Belum juga satu jam kita berpisah, Sayang.”
‘Satu jam bagaikan satu abat bagiku, Zahra! Kamu tidak tahu betapa tersiksanya aku tanpa kamu, Honey ...,’ ucap Zain dengan suara yang terdengar sedih.
“Astaga, Sayang! Jangan seperti anak kecil dong, kamar kita bersebelahan hanya terpisah oleh tembok saja, kamu jangan lebay deh,” ejek Zahra dengan menahan tawanya.
‘Honey!’ panggil Zain dengan suara keras membuat Zahra sedikit terkejut.
“Iya, ada apa?”
‘Nanti jika aku sakit bagaimana? Siapa yang akan merawatku?’
“Sakit kenapa? memangnya kamu bisa sakit?” tanya Zahra dengan polosnya.
‘Honey, aku manusia biasa bukan robot. Aku takut akan jatuh sakit setelah berpisah darimu.’
“Kamu ada-ada saja, Sayang.” Zahra tertawa mendengar ucapan suaminya.
“Iya-iya, tenang saja Sayang, tidak akan ada penyakit yang berani mendekati kamu. Wajah kamu kan seram kalo lagi marah.”
‘Zahra!’
“Eh, maaf Sayang ...,” lirih Zahra menyadari kesalahannya.
“Hanya 3 hari saja Sayang, setelah itu kita akan bersama lagi, nanti aku masakin sesuatu yang spesial buat kamu ya ...,” bujuk Zahra.
‘3 hari bagaikan 3 milenium bagiku, aku tidak yakin bisa menahan rasa ini selama itu.’
“Memangnya kamu mau hidup selama 3 milenium lamanya?”
‘Selama itu bersama kamu, selama apa pun itu aku siap, Honey!’ jawab Zain menggoda.
“Sayang, jangan ngaco! Istirahat dulu sana, sepertinya pikiran kamu lelah dan butuh istirahat.” Zahra memilih untuk mengalihkan perhatian suaminya, tubuhnya memang terasa sangat lelah.
‘Kamu tidak merindukanku?’
“Tidak Sayang, aku lelah sekali ingin istirahat.”
__ADS_1
‘Kamu jahat sekali Zahra, aku di sini tersiksa karena merindukanmu, tapi kamu malah cuek dan mengabaikanku!’ ucap Zain dengan kesal.
“Bukannya begitu ... aku juga merindukan kamu, tapi tubuhku juga sangat lelah dan butuh istirahat ... mengertilah, Sayang.” Zahra merasa tidak enak hati karena membuat suaminya itu marah.
‘Hmm, baiklah. Tapi dengan satu syarat,’ ucap Zain.
“Apa?”
‘Katakan jika kamu mencintaiku!’
“Aku mencintaimu,” ucap Zahra datar.
‘Ck! Bukan begitu,’ kesal Zain.
“Lalu bagaimana? Kamu menyuruhku untuk mengatakan kamu mencintaiku, dan aku sudah mengatakannya, kan?”
‘Jangan dengan nada datar begitu, Zahra! Tidak pas terdengar di telingaku.’
“Aku mencintaimu Zain Malik Ibrahim,” ucap Zahra dengan suara yang dibuat semanis mungkin.
‘Apa aku tidak mendengar-’
Zahra mengakhiri panggilan tersebut, ia tidak tahan lagi menerima rayuan dari suaminya itu. Jantungnya sedari tadi sudah berdetak tidak beraturan.
“Maaf sayang, aku mematikan panggilan sepihak, salah sendiri terus menerus menggodaku!” omel Zahra kepada ponselnya yang tidak bersalah.
Di dalam kamarnya, Zain tersenyum menatap layar ponselnya. Ia begitu bahagia melihat wajah istrinya yang bersemu merah karena ulahnya.
Zain mengalihkan pandangannya ke arah layar laptop di depannya yang menampilkan sosok sang istri dari kamera CCTV di kamar Zahra.
“Kamu semakin terlihat manis saat tersipu malu, Honey ...,” ucap Zain dengan senyum merelah di wajahnya.
Zain kembali fokus pada ponselnya dan menghubungi seseorang, setelah menunggu beberapa detik panggilannya tersambung dengan orang di seberang sana.
“Bagaimana perkembangannya?”
‘ .... ’
“Bodoh! Mencari satu orang saja kalian tidak becus!”
‘ .... ’
“Jangan meminta maaf kepadaku, kerjakan saja tugasmu dan sebelum aku menyelesaikan karantinaku aku ingin mendengar kabar baik dari anak buahmu, Yitian!”
*****
__ADS_1
Foto Imam Uthman Yang Xing Ben, imam di Ammar Mosque and Osman Ramju Sadick Islamic Centre (bab 62)