Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 80. Mengulang Pesta


__ADS_3

Suasana siang berganti malam terlihat begitu indah memanjakan mata, ditambah dengan hamparan laut lepas di sepanjang mata memandang membuat suasana semakin syahdu. Terlihat dua sejoli tengah duduk di atas bebatuan mengabaikan suara ombak yang saling bersahutan menerjang bebatuan tepat di bawah kaki mereka.


Zain mengajak istrinya sejenak untuk menjauh dari hiruk pikuk keramaian kota, menikmati suasana tenang di tepi pantai sambil melihat keindahan langit senja. Menebus waktu dua minggu yang begitu padat dan melelahkan harus keluar masuk rumah sakit untuk pengobatan Zahra.


“Apa kamu menyukainya, Honey?” tanya Zain pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah sang istri.


“Hmm, aku menyukainya, Sayang. Terima kasih telah mengajakku ke sini, ini sungguh terlihat sngat indah dan cantik” jawab Zahra dengan wajah berbinar cerah.


“Cantik,” ulang Zain masih fokus dengan wajah sang istri.


“Kapan kita akan menjemput Yang Zi?”


“Lusa,” jawab Zain singkat.


“Hmm, aku tidak menyangka jika Barra akan menjadi adik ipar kamu, Sayang. Tapi ... selama ini aku merasa jika Barra ada rasa tertarik kepada Hani, aku takut jika Yang Zi tidak akan-”


“Jangan suka menerka-nerka Honey, tidak baik! Mungkin itu hanya perasaan kamu saja, biarkan saja jangan ikut campur dalam permasalahan mereka, cukup kita mengawasi dari jauh saja, okay!” tegur Zain.


“Percayalah kepada Barra, dia tidak akan melakukan sesuatu yang dapat melukai perasaan Yang Zi. Dia berbeda denganku, Barra pasti akan menjaganya dengan baik.” Zain mencoba menepis kegundahan hati istrinya.


Hingga matahari benar-benar menghilang dan digantikan dengan purnama yang bersinar menerangi sekitarnya, mereka berdua tetap tidak beranjak dari duduknya.


...*****...

__ADS_1


Keesokan harinya, Zain mengajak Zahra untuk melakukan pemotretan dengan berbagai gaun pengantin berbeda model dan warna yang telah disiapkan untuk Zahra.


Meskipun  awalnya sempat menolak karena menurutnya semua itu tidak perlu, namun pada akhirnya Zahra tetap harus melakukan pemotretan tersebut karena Zain kekeh ingin mengabadikan gambar pernikahan mereka yang dulu sempat ia abaikan dan sekarang baru ia menyesalinya.


Sepanjang hari Zain begitu bersemangat melakukan pemotretan tersebut, ia tak membiarkan Zahra untuk sedetik pun beristirahat. Zain selalu menyuruh Zahra berganti berbagai macam gaun dan berpose dengan berbagai macam gaya.


“Zain, sudah cukup! Aku sudah tidak sanggup lagi!” keluh Zahra lalu mendudukkan tubuhnya sembarang di lantai, ia tidak peduli apakah gaun tersebut akan kotor karenanya.


“Sedikit lagi Honey, masih ada beberapa gaun yang beluk kamu coba. Aku yakin kamu akan semakin terlihat cantik dengan gaun-gaun tersebut,” ucap Zain masih dengan semangatnya.


“Kamu saja yang mencoba gaun-gaun itu!” seru Zahra dengan kesal.


Setelah beberapa kali berganti pakaian, kini hanya tersisa satu gaun yang beluk Zahra coba. Zain kembali menarik tubuh istrinya yang terlihat kelelahan.



Zain duduk di sofa sibuk memainkan ponsel ditangannya, ia menunggu Zahra berganti gaun terakhir.


“Sayang,” panggil Zahra setelah keluar dari ruang ganti.


Zain yang mendengar suara istrinya dengan cepat mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya dan ia terpaku melihat Zahra dengan gaun tersebut, terlihat begitu indah, cantik, dan sempurna.


“Wow, hou leng a,” ucap Zain tanpa berkedip memandang wajah sang istri.

__ADS_1


*(Wow, sangat cantik)


Zain berdiri dan menghampiri istrinya, lalu ia mengulurkan tangannya ke depan untuk Zahra menerimanya. Zain menuntun Zahra menuju gedung sebelah tempat mereka mengambil pemotretan, sedangkan Zahra terlihat bingung dan menebak-nebak tempat apa yang akan mereka datangi.


Ceklek!


Zain membuka pintu gedung tersebut, ruangan di dalamnya sangatlah gelap tidak ada sedikit pun cahaya hang masuk ke dalam ruangan tersebut.


Zahra semakin mengeratkan genggamannya di tangan sang suami ketika Zain membawa mereka melangkah semakin masuk ke dalam ruangan tersebut.


“Kejutan!!!” ucap semua orang yang berada di dalam ruangan bersamaan dengan menyalanya sorot lampu dalam gedung.


Zahra yang belum menguasai keadaan sepenuhnya masih terlihat sedikit bingung dengan keadaan sekitar, ruangan itu terlihat sangat indah dan mewah. Terlihat seluruh keluarga besar kakak dari suaminya hadir di tempat itu, bahkan Yang Zi dan Yitian dan kedua orang tuanya juga sudah berada di sana.


“Za-zain,” ucap Zahra dengan suara yang bergetar menahan tangis, ia merasa terharu, antara percaya dan tidak.


“Mereka ingin merayakan pernikahan kita, Honey. Karena dulu mereka semua tidak sempat menghadiri acara pernikahan kita di Indonesia,” jelas Zain.


“Aku-”


“Sudahlah, ayo Nak Zahra kita rayakan pernikahan kalian!” ajak kakek Zain.


Selanjutnya mereka semua terlihat sangat senang dan bahagia menikmati perayaan pesta pernikahan Zain dan Zahra

__ADS_1



...*****...


__ADS_2