
“Tasya!” Tuan Harun mendorong tubuh istrinya dengan kasar agar menjauh dari tubuhnya.
“Pa!” pekik Tasya terkejut, baru kali ini ia diperlakukan kasar oleh suaminya.
Meskipun selama ini hubungan mereka tidak harmonis, tetapi tuan Harun tidak pernah berbuat kasar apalagi membentak anak istrinya.
Tuan Harun bangkit dari tidurnya, meraih bantal dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia meninggalkan istrinya yang terduduk di kasur dengan wajah merah menahan emosi.
“Apa kamu begitu membenciku! Apa kekuranganku dari wanita itu!” teriak Tasya membuat tuan Harun menghentikan langkahnya.
Tuan Harun membalikkan tubuhnya kembali menghadap ke arah istrinya. “Jangan pernah sama kan dirimu dengan Zahira! Kamu tidak ada apa-apanya dengannya, wanitaku!”
Tasya semakin emosi mendengar ucapan suaminya, ia segera bangkit dan berjalan mendekat ke arah suaminya.
“Apa tidak ada sedikit pun namaku di hatimu?” tanya Tasya dengan suara parau yang sudah berdiri di depan suaminya.
“Jangan pernah berharap, karena sampai kapan pun kamu takkan pernah pantas untuk menggantikan posisi Zahira dihatiku!” tegas tuan Harun menatap tajam ke arah istrinya.
Tasya pun memberikan tatapan nyalang kepada suaminya, tak terima dengan perlakuan yang diberikan oleh suaminya.
“Apa spesialnya wanita itu! Aku bahkan lebih lama mendampingimu! Dia sudah lama pergi meninggalkanmu, Harun! Bahkan aku yang harus merawat dan membesarkan putrinya itu!” bentak Tasya, tangannya hendak melayangkan pukulan ke tubuh suaminya, namun ditahan oleh tuan Harun.
“Jaga batasanmu, Tasya! Aku tidak menceraikanmu hanya karena putrimu itu!” tuan Harun menghempaskan tangan istrinya dengan kasar. Terlintas sosok putrinya Zahra yang selama ini banyak menderita karenanya.
“Huft!” tuan Harun menetralkan suasana hatinya, ia tidak ingin kebablasan dan bertindak gegabah sebelum semuanya terungkap.
“Tidurlah! Tenangkan dirimu ...,” perintah tuan Harun sedikit menurunkan suaranya.
Tuan Harun kembali memutar tubuhnya, pergi meninggalkan kamar tersebut. Bukan salahnya jika hatinya masih setia mencintai istri pertamanya, Zahira.
Selama ini tuan Harun sudah berusaha untuk menerima kehadiran Tasya dan mencoba untuk membuka hati untuknya. Namun kenyataan yang ia tahu di saat ulang tahun Zahra yang ke 10, membuatnya tidak bisa lagi memberikan celah bagi Tasya untuk masuk ke dalam hatinya.
Selama ini tuan Harun tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami dan ayah, namun untuk masalah hati tuan Harun memasrahkan segalanya kepada Sang Pencipta yang Maha Membolak-balikkan hati setiap makhluk-Nya.
Deg.
__ADS_1
Tuan Harun terpaku ketika netranya menangkap sosok yang selama ini ia anggap sebagai putri kandungnya sendiri, Anindya tengah berdiri mematung di dekat pintu kamarnya.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya tuan Harun dengan suara yang dibuat setenang mungkin, biar bagaimanapun gadis di depannya ini tidaklah bersalah.
“Pa-pa,” panggil Anindya tergagap. “Papa mau ke mana?” tanyanya, matanya fokus menatap bantal di tangan sang ayah.
“Tidurlah, sudah larut malam! Apa kamu mendengar sesuatu dari dalam tadi?” tanya tuan Harun pelan.
Entah mengapa tuan Harun merasak ada sedikit perasaan yang berbeda ketika berbicara dengan putrinya itu. Perasaan asing, antara sayang, kecewa dan kasihan yang bercampur menjadi satu.
Anindya menganggukkan kepalanya pelan, baru kali ini ia mendengar orang tuanya beradu mulut.
“Jangan di masukkan ke dalam hati, anggap saja kamu tidak mendengar apa pun!” tuan Harun berlalu begitu saja, ia tidak bisa berlama-lama berhadapan dengan kedua wanita itu. Bisa-bisa pertahanannya runtuh dan rencana yang telah disusun oleh menantu dan asistennya akan berantakan.
Anindya masih terpaku dengan memegang gelas di tangannya, ia memandang punggung ayahnya yang hilang di balik pintu ruang kerjanya. Karena tidak ada pelayan yang bekerja di rumah mereka membuat Anindya tidak bisa bermanja-manja dan harus melakukan semuanya sendiri termasuk hal yangbbaru dilakukannya, mengambil air untuk diletakkan di dalam kamarnya. Tidak ada lagi adik tirinya yang selalu melayaninya kapan pun ia minta.
‘Sudah mati saja masih merepotkan mamaku! Tidak anak tidak ibu sama-sama menyusahkan saja!’ maki Anindya dalam hati.
“Awas saja kamu, aku akan membuat hidupmu tidak tenang anak haram!” gerutu Anindya sepanjang perjalanan menuju ke kamarnya. Ia merasa kesal karena ayahnya terlihat semakin cuek dan dingin kepadanya dan lebih sering menghabiskan waktunya untuk adik tirinya itu.
Keesokan harinya, di kediaman tuan Harun dari luar terlihat sangat sepi begitu juga suasana di dalam ruang makan yang hanya berisi tiga orang yaitu tuan Harun, Tasya dan putrinya Anindya.
Mereka bertiga makan dalam keheningan, menu yang tersaji di atas meja merupakan makanan delivery yang biasa dipesan oleh Tasya karena dirinya tidak bisa memasak dan tidak mau merepotkan dirinya untuk berkutik di dapur.
Anindya sering mencuri pandangan ke arah dua orang yang saling perang dingin di depannya secara bergantian. Siapa lagi jika bukan sang ibu dan ayahnya, tepatnya orang yang selama ini ia tahu sebagai ayahnya.
“Setelah makan kita akan pergi ke suatu tempat. Bersiaplah!” perintah tuan Harun dengan suara datar.
“Tapi pa-”
“Jangan beralasan! Tidak ada gunanya semua kegiatan teman-teman sosialitamu itu. Bahkan Ny. Amara sudah lama meninggalkan kalian, tidak ada lagi yang akan membantu memasok pengeluaran kalian, apa kalian akan membuat suami kalian bangkrut dengan menghabiskan uang mereka? Tinggalkan semua kebiasaan burukmu itu, Tasya!”
Tasya terdiam mendengar sindiran dari suaminya itu. Yang dikatakan suaminya memang benar, selama ini kegiatan tak berfaedah yang mereka lakukan setiap hari selalu mendapat bantuan dari Ny. Amara. Namun kondisinya saat ini sudah berbeda, sekaya apa pun suami mereka, jika kebiasaan buruk mereka tetap berlanjut bisa dipastikan kehancuran dan kebangkrutan usaha suami mereka.
“Baiklah, kita akan pergi ke mana?” tanya Tasya menurut.
__ADS_1
“Kota ibumu, Bogor.”
Tasya terkejut mendengar penuturan suaminya. “Apa ada pekerjaan di sana?”
“Tidak, aku mendengar ada sebuah klinik besar dan dokter spesialis kulit di sana katanya terkenal bagus.”
“Spesialis kulit? Siapa yang sakit, Pa?” tanya Anindya memberanikan untuk bertanya.
“Papa ingin mencarikan dokter untuk mengobati luka di tubuh Zahra,” jawab tuan Harun membuat kedua wanita di depannya terkejut mendengarnya.
“Emh, me-memangnya Zahra luka karena apa, Pa?” tanya Tasya dengan suara sedikit bergetar. Namun ia mencoba sebisa mungkin untuk tidak terlihat gugup di depan suaminya.
“Kenapa kalian terlihat gugup?” tanya tuan Harun berpura-pura tidak mengetahui kelakuan mereka selama ini.
“Emh, tidak kok, Pa. Iya kan Nindy, Sayang ...,” ucap Tasya mencari pembelaan.
“Iya Pa, kami biasa saja kok. Oh ya, Zahra terluka kenapa, Pa?” tanya Anindya mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
“Katanya sewaktu kecil Zahra pernah tersiram air panas, dan yang menyiramnya adalah ....” Tuan Harun menggantungkan ucapannya, ia menatap ke arah istri dan putrinya bergantian mencoba mencari tahu ekspresi dari kedua wanita yang duduk di depannya.
Deg.
Tasya dan putrinya terlihat semakin gugup, mereka menelan ludahnya kasar.
‘Apa papa sudah mengetahui semuanya?’ batin Tasya.
‘Br*ngsek! Apa anak haram itu mengadukan semuanya kepada papa?’ maki Anindya dalam hati.
“Dirinya sendiri, katanya dia tidak sengaja menyenggol panci berisi air panas saat berada di dapur. Kalian tidak tahu tentang hal ini?” tuan Harun mencoba memancing kedua wanita tersebut.
“Tidak!” jawab Tasya dan putrinya cepat dan kompak.
Huft.
Tasya dan Anindya bernapas lega setelah kepergian tuan Harun dari ruang makan.
__ADS_1