Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 33. Masa Lalu Tuan Harun 2


__ADS_3

Zahira berdiri terpaku di tempatnya.


‘Ini tidak nyata, ini hanya mimpi! Tidak mungkin orang di depanku ini adalah suamiku!’ gejolak batin Zahira ingin menyangkal apa yang dilihatnya.


Zahira menelan ludahnya kasar, ia menahan napasnya. Tangannya terulur ingin memastikan sosok yang tengkurap di depannya.


Namun, sebelum tangannya berhasil meraih tubuh itu, sosok pria itu membalikkan tubuhnya sambil merentangkan tangannya merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


Seketika Zahira melebarkan matanya, kedua tangannya membungkam mulutnya agar tidak menjerit.


“Ma-Mas Harun!” pekik Zahira.


Pria yang berbaring di atas ranjang yang tidak lain adalah Harun perlahan membuka matanya karena mendengar suara berisik di sekitarnya.


“Sayang, kamu sudah pulang?” ucapnya tanpa merasa bersalah, Harun kemudian duduk dari tidurnya lalu menautkan alisnya bingung melihat tempat itu terasa asing dimatanya.


“Kita di mana?” tanyanya masih belum menyadari keadaan di sekitarnya.


Harun mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ia semakin terlihat bingung dan matanya berhenti ketika mendapati seorang wanita yang tengah menangis di sudut ruangan. Wanita yang tidak asing dimatanya.


“Ta-Tasya, apa yang kamu lakukan di sini?” pekik Harun, ia lalu melihat ke arah tubuhnya sendiri dan semakin terkejut melihat tubuh polosnya yang hanya tertutup oleh selimut tipis.


“Sa-sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan!” panik Harun.


“Kamu harus segera menikahinya, Mas! Lihat itu!” Zahira menunjuk ke arah seprei putih yang terdapat noda darah di atasnya.


Tuan Harun menghela napas perlahan setelah menceritakan kisah dimasa lalunya, ia menyandarkan tubuhnya ke belakang.


“Setelah kejadian itu, Zahira menyuruh saya untuk menikahi Tasya, dan hal tersebut kami sembunyikan kepada keluarga besar Zahira atas permintaannya.”


“Seiring berjalannya waktu, saya pun mulai menerima kehadiran Tasya karena Zahira yang selalu menuntun saya untuk bersikap adil kepada Tasya. Apalagi setelah kelahiran Anindya yang terlahir prematur sama seperti Zahwa. Zahira selalu mengatakan bahwa semua ini adalah takdir terbaik untuk kita semua, tidak ada yang bersalah dalam kejadian malam itu yang dianggapnya hanya sebuah kecelakaan karena ulah iseng rekan kerja saya.” Tuan Harun menarik napasnya dalam lalu mengeluarkannya perlahan, ia kembali merasakan sesak di dalam dadanya mengingat kejadian itu.


“Awalnya saya menganggap semuanya berjalan baik-baik saja, mereka berdua terlihat sangat akur dan saling memahami satu sama lain, bahkan ketika saya harus pergi ke luar negeri untuk mengurus bisnis saya.”


“Saat itu saya harus menghadiri meeting di luar kota, meninggalkan Zahira yang tengah hamil besar, saya percaya semua akan baik-baik saja karena ada Tasya dan bibi yang menjaganya di rumah. Namun ketika pulang saya terkejutkan dengan pandangan di depan mata saya sendiri, tubuh Zahira tergeletak di bawah tangga dengan berlumur darah di sekitarnya.” Tuan Harun menatap ke arah langit-langit, menghalau sesuatu di dalam matanya yang hendak menembus pertahannanya.


“Saya bahkan masih mengingat hal terakhir yang diucapkannya ketika dalam perjalanan ke rumah sakit ‘apa pun yang terjadi kepadaku, jaga anak kita, Mas. Sayangi mereka, jangan biarkan mereka tumbuh tanpa kasih sayang dari orang tuanya.’ Ck! Bahkan saya gagal menjalankan amanah terakhir darinya.” Tuan Harun merutuki kebodohannya, ia menyesal karena begitu bodoh membiarkan putrinya bersama istri mudanya.

__ADS_1


“Dasar lelaki! Semua sama saja!” kesal Ny. Amara ikut terbawa emosi mendengar cerita dari besannya.


“Mom!” seru Zain merasa dirinya juga seorang laki-laki. Tangannya masih sibuk membelai kepala istrinya, namun terhenti ketika matanya tidak sengaja melihat sebutir air mata keluar dari mata istrinya yang terpejam.


‘Apa kamu mendengar semuanya?’ tanya Zain dalam hati, namun ia membiarkan istrinya tetap memejamkan matanya, berpura-pura tidak mengetahui bahwa Zahra sudah terbangun dari tidurnya.


“Lalu kenapa kamu meninggalkan Zahra bersama ibu tirinya? Bahkan kamu terlihat sangat mengacuhkannya.” Ny. Amara kembali melontarkan pertanyaan kepada tuan Harun, seolah ia sendiri melupakan dengan perbuatannya yang selama ini terlihat acuh kepada putranya.


“Huft! Saya takut menatap wajah Zahwa,” lirih tuan Harun membuat Ny. Amara melebarkan matanya.


“Semakin dia bertambah usia, wajahnya begitu sangat mirip dengan ibunya. Bahkan sekarang saya seperti melihat Zahira sewaktu masih remaja dulu, di saat dia tamat SMA. Bedanya Zahira selalu berjilbab yang menjuntai ke bawah menutup tubuh atasnya.”


Ny. Amara menatap ke arah putranya, di saat bersamaan Zain juga menatap ke arah ibunya. Pandangan mereka bertemu dan terkunci selama beberapa detik.


Ny. Amara bergegas memalingkan wajahnya. ‘Bahkan aku sering menghindarinya karena alasan yang sama denganmu Harun. Wajah Zain begitu mirip dengan wajah pria brengs*k itu,’ kesalnya dalam hati.


‘Aku tahu kenapa mommy selama ini selalu menghindar dariku. Tapi aku tahu mommy sangat menyayangiku, maafkan Zain jika wajah ini begitu mirip dengan wajah daddy.’ Zain menggenggam tangan istrinya, berharap ia bisa mendapatkan kekuatan dari istri kecilnya.


“Dan tepat di saat ulang tahun Zahwa yang ke 10, juga tahun ke 10 Zahira meninggalkan kami untuk selamanya, di saat itu pula bibi yang bekerja bersama kami mengatakan bahwa saat itu Zahira terjatuh dari tangga karena bertengkar dengan Tasya, bibi juga mengatakan mereka berdua bertengkar hebat dan menyebut-nyebut nama Anindya di dalamnya. Entah apa yang mereka debatkan, sampai saat ini saya belum menemukan jawabannya. Sedangkan keesokan harinya, bibi pamit meninggalkan rumah itu. Beberapa kali saya mencari pengganti bibi, namun selalu saja mereka tidak ada yang bertahan lebih dari satu bulan, Tasya mengatakan mereka tidak tahan dengan sikap Zahwa yang terlalu nakal.” Tuan Harun menatap ke arah putrinya, lalu tak sengaja pandangannya menatap ke arah menantunya yang sedang menatap tajam ke arahnya.


“Hmm, salah satunya itu. Tapi sebenarnya saya lebih merasa bersalah kepada Zahira dan setiap kali melihat Zahwa saya selalu teringat kejadian itu,” lirih tuan Harun, terlihat wajahnya begitu menyesali keputusan yang selama ini ia anggap sebagai keputusan terbaik tapi kenyataannya ia hanya berlari dari rasa bersalahnya kepada Zahira dan melupakan tentang perasaan Zahwa, putrinya.


Zain merasakan tangan istrinya yang awalnya hanya diam menerima genggamannya, kini berbalik ia merasakan tangannya digenggam erat oleh sang istri. Zian menatap wajah istrinya, tubuh Zahra sedikit bergetar dengan air mata yang terus keluar dari matanya yang terpejam, namun tak ada suara yang keluar dari bibir mungilnya.


Zain naik ke atas brankar dan berbaring di samping istrinya, menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.


“Sudahi pembicaraan ini, kalian pergilah untuk makan siang terlebih dahulu, biarkan Zahra istirahat bersamaku di sini!” tegas Zain tanpa mengalihkan pandangannya yang menatap puncak kepala sang istri.


“Ck! Bilang saja kamu ingin berduaan dengan menantu mommy, pakai alasan mengusir kami untuk makan siang segala!” kesal Ny. Amara ketika melihat putranya sudah memosisikan dirinya di atas brankar dengan memeluk sang istri. “Mencuri kesempatan di atas kesempitan!” imbuh Ny. Amara.


“Kalau begitu saya permisi, Tuan,” pamit tuan Harun.


“Jangan pulang dulu. Setidaknya tunggulah sampai Zahra terbangun sore nanti!” ucap Zain tanpa ingin dibantah.


“Awas jangan macam-macam dengan menantu mommy! Kali ini mommy mengalah dan akan biarkan kamu berdua dengan Zahra,” ucap Ny. Amara sebelum meninggalkan kamar Zahra, terlihat sebuah senyum kecil di bibirnya.


Setelah memastikan ibunya beserta ayah mertuanya keluar dari kamar itu, Zain mengeratkan pelukannya pada tubuh Zahra. Ia mengusap pelan punggung Zahra, sungguh tak ada sedikit pun rasa ingin melepas Zahra dari dalam dekapannya.

__ADS_1


“Menangislah,” ucap Zain pelan.


Seketika tubuh Zahra bergetar hebat dalam pelukan suaminya, ia juga memeluk erat tubuh kekar sang suami, berharap dengan cara itu dapat mengurangi rasa sesak di dadanya.


Setelah merasa sedikit lebih tenang dan mengontrol air matanya, Zahra melepas pelukannya pada tubuh suaminya. “Ma-maaf Tuan,” cicitnya.


Namun Zain tidak membiarkan pelukan itu terlepas dengan mudahnya, kapan lagi Zain mendapatkan kesempatan seperti ini.


“Berapa kali aku harus mengingatkanmu? Jangan pernah memanggilku dengan panggilan itu!” ucap Zain dengan suara dinginnya.


“Ma-maaf,” lirih Zahra masih dalam pelukan suaminya.


“Sayang! Mulai sekarang kamu harus memanggilku dengan panggilan ‘sayang’ mengerti?”


“Emm, i-ya Tu-”


“Sayang!” sela Zain dengan cepat. “Ulangi.”


“Sa-sayang,” ucap Zahra lirih bahkan lebih tepatnya disebut sebagai bisikan.


“Apa? Aku tidak mendengarnya?” tanya Zain pura-pura tidak mendengar, padahal dia dengan jelas mendengarnya mengingat posisi mereka yang masih berpelukan.


“Sa-sayang.”


“Aku tidak mendengarnya,” ucap Zain dengan pura-pura marah.


“Sayang.” Zahra dengan cepat menyembunyikan wajahnya ke dada bidang suaminya. Mungkin jika Zain melihat wajahnya yang memerah, pria itu akan terus menerus menggodanya tanpa henti.


“Aku tidak mendengarnya, ulangi sekali lagi!” pinta Zain namun Zahra hanya membalas dengan menggelengkan kepalanya.


“Ya sudah, kali ini akun memaafkanmu karena tidak menuruti perkataanku,” ucap Zain terdengar seperti orang yang sedang marah, namun setelah itu sebuah senyum mengembang di wajah dinginnya tentunya tidak diketahui oleh Zahra.


“Cepatlah sembuh, aku berjanji akan mengantarmu ke makam ibu kandung kamu setelah kamu sembuh.” Zain menempelkan dagunya di atas kepala istrinya.


‘Aku tidak akan membiarkan hidup kamu menderita lagi, Sayang.’


Hai, salam dari author! Terima kasih sudah mampir, jangan lupa like dan sarannya ya .... Sehat selalu untuk kita semua 🤗😻

__ADS_1


__ADS_2