
Pagi itu, setelah melihat keadaan Zahra dari depan pintu kamar rawatnya, Zain menyempatkan diri untuk datang ke dalam ruangan Dr. Agam.
Zain duduk berhadapan dengan Dr. Agam di meja kerja Dokter paruh baya tersebut. Di kursi sebelahnya, Barra ikut mendengarkan pembicaraan antara tuan mudanya dengan ayahnya.
“Jadi, apa yang kamu rencanakan untuk istrimu, Zain?” tanya Dr. Agam dengan wajah teduhnya.
Kali ini mereka berbicara sebagai seorang ayah kepada anaknya, bukan sebagai dokter pribadi dengan tuannya.
“Saya sedang mempertimbangkan untuk membawanya berobat ke luar negeri, Dok. Tapi ....” Zain menjeda kalimatnya, ia ragu dengan keputusannya mengingat kondisi istrinya masih belum stabil.
“Apa kamu sendiri tidak mengakui kehebatan rumah sakit yang telah kamu besarkan ini?” Dr. Agam bertanya dengan nada santainya.
“Bukan begitu, Dok. Saya hanya menginginkan yang terbaik untuk istri saya.”
“Tapi kondisi Zahra belum bisa untuk di ajak ke luar negeri, bahkan ke luar dari kamarnya saja dia masih tidak mau.”
Zain terdiam, membenarkan ucapan yang di katakan Dr. Agam.
“Peralatan di rumah sakit ini sangatlah lengkap, Zain. Dokter di sini juga sangat berpengalaman, jika kamu masih ingin membawa Zahra ke luar negeri, kamu harus menunggunya hingga kondisi Zahra benar-benar stabil.”
“Sebenarnya masih ada luka di punggung Zahra, Dokter.” Zain menyandarkan tubuhnya dan menghembuskan napasnya kasar.
“Seperti luka bakar atau apa itu, di pahanya juga ada bekas luka. Entah apa yang terjadi padanya dulu.” Zain memejamkan matanya, ia merasakan sakit di dadanya hanya dengan mengingat luka-luka yang memenuhi tubuh kecil istrinya yang ia lihat pada malam itu.
“Apa kamu mengetahui dari mana Zahra mendapatkan semua luka itu?” Dr. Agam melipat tangannya di atas meja.
Zain menggelengkan kepalanya. “Saya tidak mendapatkan petunjuk apa pun, bahkan saya meminta mommy untuk bertanya langsung kepada Zahra, namun gadis nakal itu hanya diam seakan ingin menutupi semuanya.”
“Apa kamu sudah menemukan pelayan yang dulu bekerja di rumah itu, Barra?” Dr. Agam mengalihkan pandangannya menatap anaknya yang sejak tadi hanya diam menyimak.
“Belum, Dokter.”
Plak!
Dr. Agam melempar bollpoin yang ada di atas meja ke arah Barra.
“Akh! Sakit, Ayah!” kesal Barra sambil mengusap kepalanya yang terasa nyeri.
“Siapa suruh bersikap begitu formal kepada ayahmu sendiri!” kesal Dr. Agam karena putranya kini sangat dingin dan irit bicara bahkan kepadanya. Apa semua karena pengaruh dari tuan mudanya itu?
“Security yang bekerja di rumah tuan Harun tidak tahu apa pun yang terjadi di dalam rumah. Mereka mengatakan bahwa Ny. Tasya tidak memperbolehkan mereka masuk ke dalam rumah. Sejak nona Zahra berusia 10 tahun, tuan Harun sering melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri dan jarang pulang ke rumah, sejak saat itu pula Ny. Tasya tidak lagi mempekerjakan pelayan di rumah itu,” terang Barra.
__ADS_1
“Kuncinya hanya ada pada Zahra dan pelayan yang dulu bekerja di rumah itu, Zain. Tidak mungkinkan Ny. Tasya dan putrinya itu akan mengakui kejahatan mereka jika benar luka-luka di tubuh istrimu adalah perbuatan mereka,” ujar Dr. Agam.
“Saya akan melakukan apa pun untuk mendapatkan semua bukti. Jika terbukti mereka yang telah menyiksa Zahra, saya tidak akan pernah melepaskan mereka!”
“Saya akan selalu mendukung kamu, Zain. Dan dia akan selalu bersamamu,” ucap Dr. Agam sambil menunjuk ke arah Barra dengan dagunya.
“Oh ya, untuk masalah penyembuhan bekas luka di tubuh istrimu, sebaiknya dilakukan di sini saja. Jika kamu masih menginginkan dokter dari luar negeri yang menangani istrimu, datangkan saja Dokter tersebut ke sini. Tapi tunggu sampai keadaan Zahra lebih stabil.”
Drrt. Drrt.
Barra merogoh ponsel di dalam kantong celananya dan mengangkat panggilan dari seseorang.
“Baik. Tetap kamu awasi dia!” perintah Barra kepada seseorang di seberang telepon lalu mengakhiri panggilan tersebut.
Barra mendapati kedua orang di depannya menatap tajam ke arahnya.
“Tuan, nona Anindya menerobos masuk ke dalam kamar rawat nona Zahra,” terang Barra yang sukses membuat Zain naik pitam.
“Sial! Dasar wanita ular!” marah Zain lalu bergegas keluar dari dalam ruangan Dr. Agam tanpa sempat di cegah oleh Dr. Agam maupun Barra.
“Zain!” seru Dr. Agam ikut berdiri dan mengejar Zain.
Barra berlari mengejar tuan mudanya, namun terlambat karena Zain sudah membuka pintu kamar Zahra dengan kasar.
Brak!
Zain masuk ke kamar Zahra, dan mendapati istrinya berada dalam pelukan kakak tirinya dengan posisi membelakanginya.
Zahra refleks melepas pelukannya dan membalikkan tubuhnya karena mendengar suara pintu yang terbuka.
Seketika tubuh Zahra membeku dengan wajahnya yang memucat. Zahra merasakan dadanya semakin sesak, napasnya tercekat di saat ia melihat sosok pria yang berdiri di ambang pintu.
“Berhenti! Menjauh! Jangan mendekat!” teriak Zahra histeris kilasan kejadian malam itu terlintas di depan matanya.
“Zahra! Tenang!” perintah Zain dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah istrinya, namun terhenti ketika mendengar suara Zahra yang semakin histeris.
“Pergi! Pergi dari sini! Jangan ganggu aku!”
“Tenang, tenang, tenang,” lirih Zain menenangkan Zahra dengan langkah cepat meraih tubuh istrinya dan memeluknya erat.
“Pergi! Aku mohon pergi! Jangan ganggu aku!” teriak Zahra, tangannya memukul-mukul tubuh Zain dan mencoba melepaskan tubuhnya dari pelukan suaminya.
__ADS_1
“Tenang, Sayang. Aku suamimu, aku di sini bersamamu. Jangan takut, aku akan melindungimu.” Zain mengeratkan pelukannya berharap dapat memberikan ketenangan kepada istrinya.
“To-long jangan mendekat!”
Zain membenamkan kepala istrinya di dadanya.
“Seret j*lang itu keluar!” perintahnya tanpa ingin menatap Anindya yang berdiri di belakang Zahra dengan senyum mengejek di wajahnya.
Barra menyeret paksa tubuh Anindya keluar kamar, namun Anindya memberontak dan memakinya.
“Jangan sentuh aku asisten bodoh! Kamu berani kepadaku ya?”
“Zain, kamu lihat sendiri kan gadis itu gila! Aku yang lebih pantas untuk menjadi istrimu, bukan gadis gila itu!” teriak Anindya sebelum benar-benar keluar dari kamar Zahra.
Plak!
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi mulus Anindya.
Anindya memegang pipinya yang terasa perih. “Nyonya, kenapa Anda menampar saya?”
“Jaga mulutmu itu! Berani sekali kamu menghina menantuku!” seru Ny. Amara yang baru saja datang bersama seorang perawat yang mendorong troli berisi makanan di atasnya.
“Kenapa Anda membela gadis gila itu? Lebih baik saya yang menjadi menantu Anda,” ujar Anindya tanpa malu.
Plak!
“Nyonya!” pekik Anindya karena dua kali mendapat tamparan dari wanita di depannya.
“Saya tidak sudi memiliki menantu busuk sepertimu, beruntung waktu itu kamu dan ibu j*lang kamu mengirimkan Zahra kepadaku.”
Anindya mengangkat tangannya hendak menampar Ny. Amara, namun dengan cepat tangannya dicengkeram kuat oleh Barra.
“Jaga sopan santu Anda, Nona!” tegas Barra lalu menyeret paksa tubuh Anindya.
“Bawa pergi wanita ular itu! Jika perlu buang saja ke sungai Amazon sekalian biar di makan oleh ikan piranha!” sungut Ny. Amara.
Barra menganggukkan kepalanya hormat kepada Ny. Amara diikuti oleh beberapa anak buahnya yang bertugas untuk berjaga di tempat itu. Namun tidak ada yang diperbolehkan masuk ke dalam kamar rawat Zahra, mengingat trauma yang masih melekat dalam diri nyonya muda mereka.
Ny. Amara membuka pintu dan masuk ke dalam kamar rawat menantunya, ia dibuat terenyak ketika melihat pemandangan di depannya. Zain, putranya tengah memeluk erat tubuh istrinya dengan air mata yang membasahi pipinya.
Betapa menyedihkan putranya itu, disaat baru saja Zain membuka hatinya dan merasakan yang namanya jatuh cinta. Namun, disaat itu juga cintanya harus diuji.
__ADS_1