
Keesokan paginya Ny. Amara kembali ke dalam kamar Zahra setelah semalaman menunggu Yang Zi melahirkan dan membantu menjaga bayinya.
Ceklek!
Ny. Amara tersenyum bahagia melihat pemandangan di depannya, ia melihat putra dan menantunya masih tertidur pulas di atas brankar dengan posisi saling memeluk satu sama lain.
Perlahan Ny. Amara berjalan mendekati brankar dan membangunkan Zain dengan pelan takut jika suaranya juga akan membuat menantunya ikut terbangun.
“Zain,” panggil Ny. Amara lirih tepat di telinga putranya. Namun sepertinya Zain sama sekali tidak terganggu oleh ibunya itu.
“Zain!” bisik Ny. Amara sedikit lebih keras, kali ini ia juga menepuk-nepuk pelan bahu putranya.
Pada panggilan yang ke sekian kalinya, Ny. Amara baru berhasil membangunkan Zain tanpa membangunkan menantunya.
“Eugh! Sekarang jam berapa, Mom?” tanya Zain dengan suara seraknya khas bangun tidur.
“Sudah jam 7, cepat bangun dan bergegaslah untuk mandi. Kamu pasti belum mandi sejak kemarin, kan?” tanya Ny. Amara menyelidik.
“Hmm,” jawab Zain singkat. Ia lalu dengan hati-hati memindahkan tangan istrinya yang masih melingkar di tabuhnya.
“Eugh!”
“Sssttt ... tidurlah, sstt.” Zain membelai kepala istrinya agar kembali tertidur.
“Ali sudah membawakan pakaian ganti untukmu.” Ny. Amara menunjuk paper bag yang ada di atas sofa.
Dengan malas Zain meraih paper bag tersebut dan berjalan menuju kamar mandi. Sedangkan Ny. Amara terlihat sibuk menata makanan yang di bawa oleh Ali di atas meja.
Sore harinya Zahra merengek ingin melihat bayi Yang Zi, namun Zain dan Ny. Amara melarangnya dengan alasan tubuh Zahra masih lemah.
Sebenarnya Ny. Amara dan Zain belum siap dan tidak ingin melihat Zahra merasa sedih setelah melihat bayi Yang Zi. Namun Zahra kekeh ingin melihat bayi itu sehingga Zain dan juga Ny. Amara terpaksa menuruti permintaan Zahra yang sepanjang hari terus memohon dengan wajah memelasnya.
Zain mendorong kursi roda yang digunakan oleh istrinya menuju kamar rawat Yang Zi, sedangkan Ny. Amara mengikuti di belakang mereka.
“Sayang, aku sudah tidak sabar melihat baby Yang Zi,” ucap Zahra dengan binar bahagia di wajahnya.
“Hmm, sebentar lagi kita sampai, sabar ya.”
Sesampainya di bangsal bersalin ibu dan anak, Zahra semakin tak sabar melihat keponakannya itu. Apalagi terdengar banyak suara tangisan bayi yang saling bersahutan memenuhi koridor rumah sakit.
Zain sampai di depan pintu kamar Yang Zi bertepatan dengan Barra yang hendak keluar kamar.
“Tuan muda, Nona, Nyonya,” sapa Barra kepada ketiga orang yang masih berdiri di depan pintu.
“Kami ingin melihat Yang Zi dan babynya, Barra,” ucap Zahra semangat.
“Silakan masuk, Nona. Yang Zi baru saja selesai mandi.”
__ADS_1
Barra mempersilakan keluarga istrinya masuk ke dalam kamar rawat Yang Zi, ia mengurungkan niatnya untuk pergi keluar.
“Kakak Ipar, bagaimana keadaan Kakak?” tanya Yang Zi yang melihat kedatangan Zahra.
“Sudah lebih baik, bagaimana kondisi kamu dan bayi kamu?” tanya Zahra balik, matanya menatap ke arah bok bayi di samping brankar Yang Zi.
“Seperti yang Kakak lihat, aku baik-baik saja. Mommy merawatku dengan sangat baik,” ucap Yang Zi bahagia.
“Emh, boleh aku melihat baby kamu, Zi?” tanya Zahra ragu.
“Tentu saja, Kak. Anggap saja dia adalah anak Kakak, kita rawat dia bersama-sama,” ucap Yang Zi tulus membuat Zahra merekahkan senyum bahagianya.
“Boleh?” tanya Zahra memastikan, ia takut jika dirinya hanya salah mendengarnya.
“Tentu, Kak. Dia juga anak Kakak.
Dengan pelan Zahra turun dari kursi rodanya, namun Zain dengan cepat mencegahnya dan menyuruhnya kembali duduk.
“Honey, jangan bergerak, kamu belum sembuh.”
“Aku bukannya lumpuh, Zain. Aku masih bisa berjalan!” kesal Zahra.
“Bukannya begitu, kamu duduk saja biarkan bayi itu dibawa kemari,” cegah Zain namun Zahra tidak mau mendengarnya.
Zahra berjalan ke arah bok bayi dan menatap lekat sosok mungil yang tertidur di dalamnya.
“Kami belum memberikannya nama, Kak. Kakak boleh memberikan nama untuk dia,” ucap Yang Zi membuat Zahra terkejut tak percaya.
Zahra menatap ke arah Yang Zi dan suaminya secara bergantian, melihat keduanya menganggukkan kepalanya pelan membuat Zahra terharu dan berkaca-kaca.
“Benar sayang, kamu boleh memberikan nama untuk cucu mommy.” Ny. Amara meyakinkan menantunya yang masih belum percaya bahwa dirinya diberikan kesempatan untuk memberikan nama pada putra pertama adik iparnya tersebut.
Hal yang seharusnya menjadi momen paling penting bagi orang tua sang bayi, namun pada kesempatan kali ini Yang Zi sebagai ibu dari bayi tersebut justru memberikan kesempatan emas itu kepada Zahra dengan cuma-cuma.
“Ehm ....” Zahra berpikir keras memikirkan satu nama yang akan ia berikan kepada keponakannya tersebut, nama yang indah yang memiliki arti baik karena nama merupakan doa dan harapan untuk kehidupan bayi tersebut selama hidupnya nanti.
“Rayyan,” ucap Zahra. “Rayyanza! Yang memiliki arti cahaya ketampanan. Semoga kelak dia akan menjadi lelaki yang gagah tampan dengan pesonanya- ”
“Seperti aku!” sela Zain membuat Zahra kesal karena ucapannya dipotong.
“Ih, kamu terlalu pede, Zain.”
“Bagus, Rayyan juga merupakan nama salah satu pintu surga,” ucap Ny. Amara menyela mencegah perdebatan antara putranya dan menantu kesayangannya itu.
“Semoga dia kelak bisa menjadi cahaya yang akan menuntun orang-orang terdekatnya menuju surga-Nya,” lanjut Ny. Amara.
“Aamiin,” jawab semua orang di dalam ruangan tersebut mengaminkan doa yang di ucapkan Ny. Amara.
__ADS_1
“Siapa nama lengkapnya?” tanya Zain.
“Rayyanza Barra Ibrahim,” jawab Barra dan Yang Zi bersamaan.
Ny. Amara dan Zain menatap kedua orang itu penuh tanya, sedangkan Zahra tidak menanggapinya, ia terlalu fokus menamati bayi di depannya itu.
“Emh, itu- bolehkan jika aku memakai nama keluarga Mommy Amara sebagai nama belakang bayiku?” tanya Yang Zi takut, sebelumnya ia belum meminta izin kepada ibu tirinya itu untuk menggunakan nama Ibrahim untuk nama belakang anaknya.
Ny. Amara menatap tajam ke arah Yang Zi dan Barra bergantian membuat keduanya berharap cemas takut jika Ny. Amara menolak memberikan nama ayah Ny. Amara untuk anak mereka karena tidak ada hubungan darah di antara mereka.
“Tentu saja boleh,” ucap Ny. Amara.
“Huft!” Yang Zi dan Barra menghela napas lega mendengarnya.
“Terima kasih, Mom.” Yang Zi terharu dan tidak dapat membendung air matanya karena mendapati bahwa ibu tirinya itu perlahan mulai menerima kehadirannya.
Barra menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya dan mengusap pelan kepala Yang Zi penuh kasih sayang dan menenangkannya.
“Jangan cengeng!” tegur Ny. Amara.
Zain berjalan mendekat ke arah istrinya yang berdiri mematung menatap bayi mungil itu tanpa berkedip.
“Honey, apa kamu ingin menggendongnya?” tanya Zain pelan, ia takut akan melukai perasaan istrinya. Biar bagaimanapun Mereka baru saja kehilangan calon buah hati mereka.
“Apa boleh?”
“Hmm, pelan-pelan ya. Kamu duduk dulu di sofa.” Zain menuntun istrinya agar duduk di sofa.
Dengan dibantu oleh Ny. Amara, untuk pertama kalinya Zahra mengendong bayi sekecil itu.
“Ih, lucunya ... gemas deh.”
Semua orang tersenyum melihat Zahra yang terlihat sangat bahagia ketika menggendong baby Rayyanza, entah bagaimana dengan perasannya yang sebenarnya. Tidak ada yang tahun akan hal tersebut, karena perasaan dan hati manusia tidak seperti kulit yang akan terlihat memar atau berdarah ketika terluka.
“Rayyanza....” Zahra memanggil bayi yang ada dalam pangkuannya itu.
“Kenapa kamu bisa berpikir memberinya nama Rayyanza, Honey?” tanya Zain yang duduk di samping zahra.
“Terpikir begitu saja, Rayyanza. Ra dari kata 'Barra', Ya dari nama ibunya 'Yang Zi' n Za dari nama aku, Zahra.” Zahra tersenyum menjelaskan asal usul pemikirannya.
“Kenapa tidak ada nama aku?” protes Zain.
“Ada kok!”
“Mana?”
“Kan nama babynya ada huruf Z-nya, Sayang. Itu sudah mewakili nama kamu juga, Z dari nama Zain,” jelas Zahra asal membuat membuat semua orang tertawa melihat wajah Zain yang tertekuk kesal.
__ADS_1