Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 27. Keterkejutan Tuan Harun


__ADS_3

“Tu-tuan, dari mana Anda mengetahui tentang ibu kandung Zahwa?” tanya tuan Harun dengan wajah pucatnya.


“Jadi benar istri Anda sekarang bukanlah ibu kandung istriku?” tanya Zain dingin, sekuat tenaga ia menahan emosinya agar tidak meledak di depan pria paruh baya yang mungkin saja bukan ayah kandung dari gadis kecilnya.


“I-iya, Tuan.” Tuan Harun tidak berani menatap wajah menantunya.


“Ck! Apa Anda juga bukan ayah kandungnya?” sinis Zain, ia tidak peduli dengan sopan santun, hatinya merasa kesal mengingat kenyataan pahit tentang gadisnya.


Tuan Harun menggelengkan kepalanya pelan. “Sa-saya ayah kandung istri Anda, Tuan,” ucapnya dengan suara bergetar karena merasa terintimidasi dengan tatapan tajam dari Zain.


Brak!


Zain menggebrak meja dengan cukup keras mengagetkan kedua orang yang berada di dekatnya.


“Lalu di mana ibu kandung Zahra? Kenapa Anda membohonginya? Kenapa kalian menyiksanya? Bahkan menuduhnya sebagai seorang pembunuh!” tanya Zain bertubi-tubi, hilang sudah kesabarannya.


“Maaf, Tuan. Saya tidak pernah melakukan apa yang dikatakan oleh Anda barusan, tapi untuk masalah ibu kandung Zahwa memang saya menyembunyikannya darinya.” Tuan Harun menundukkan kepalanya, lagi-lagi nyalinya menciut menghadapi kemarahan pria di hadapannya.


“Ck! Selesaikan masalah keluarga Anda. Saya tidak ada waktu untuk mengurusi wanita-wanita ular itu!” ketus Zain lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu diikuti oleh Barra di belakangnya.


Sedangkan tuan Harun tampak berpikir dengan wajah bingungnya, mencerna setiap perkataan yang keluar dari mulut Zain. Siapa yang dimaksud wanita-wanita ular oleh menantunya itu?


“Cepat! Apa Anda tidak ingin bertemu dengan putri bungsu pembuat masalah Anda?” tanya Zain sebelum keluar dari ruangannya.


Tuan Harun tersadar dan bergegas mengejar menantu dan asistennya itu. Ia mengekor di belakang menantunya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan di dalam mobil yang dikemudikan oleh Barra, di kursi belakang ada Zain dan ayah mertuanya yang duduk di sebelahnya.


Tuan Harun menautkan alisnya ketika mendapati mobil itu berbelok arah tidak menuju ke arah mansion utama. Namun ia tidak berani untuk sekedar bertanya dan lebih memilih diam dan bertanya-hanya sendiri di dalam hati. ‘Sebenarnya ke mana tuan Zain akan membawaku pergi? Apa mereka tidak tinggal di mansion utama? Bodohnya aku yang terlalu percaya dengan kabar yang disampaikan oleh Tasya.’


Mobil mereka memasuki halaman luas rumah sakit, Barra menghentikan mobilnya tepat di depan pintu lobi lalu bergegas keluar membukakan pintu untuk tuan mudanya. Sedangkan tuan Harun semakin dibuat bingung dengan keadaan ini.


“Silakan ikuti tuan muda, Tuan Harun,” ajak Barra karena melihat ayah mertua dari tuannya hanya diam berdiri di samping mobil.

__ADS_1


“Eh, iya.”


Tuan Harun bergegas mengejar langkah menantunya dan tepat mengikuti langkahnya di belakang Zain. Sedangkan Barra menyusul setelah menyerahkan kunci mobil kepada petugas di sana.


Zain menghentikan langkah kakinya di depan kamar rawat istrinya, begitu pun dengan kedua orang yang setia mengekorinya.


“Tunggu di sini dan jangan bertanya apa pun!” tegas Zain lalu mengetuk pintu di depannya.


Tok! Tok! Tok!


Ceklek!


“Loh, kamu nggak jadi ke kantor?” tanya Ny. Amara dengan wajah herannya, belum sejam yang lalu putranya itu tergesa-gesa pamit le kantor dan sekarang sudah muncul di depannya.


“Sudah selesai, Mom.” Zain berjalan melewati ibunya yang belum mempersilakannya untuk masuk.


“Dasar anak itu!” gerutu Ny. Amara. “Kamu jangan menirunya, Barra!” Ny. Amara menoleh ke arah Barra dan terkejut melihat keberadaan tuan Harun di sana.


“Eh, Harun. Sejak kapan kamu ada di sini?”


“Oh, mau menjenguk Zahra?” tanya Ny. Amara membuat tuan Harun semakin bingung.


Tuan Harun menaikkan sebelah alisnya. “Zahra? Memangnya Zahwa sakit apa, Nyonya?”


Tuan Harun merasa malu karena bertanya tentang sakit putrinya kepada besannya. Bahkan dia tidak tahu bahwa yang dirawat di dalam adalah putrinya.


“Kamu tidak tahu kabar tentang Zahra?” selidik Ny. Amara.


“Ma-” tuan Harun ingin meminta maaf tapi terpotong oleh kedatangan Zain.


“Masuklah, tapi ingat! Hati-hati dan jangan membuat istriku takut. Jika ada apa-apa dengannya saya tidak akan memaafkan Anda!” peringat Zain kepada ayah mertuanya.


“Baik, Tuan.”

__ADS_1


“Kamu boleh kembali ke kantor!” perintahnya kepada Barra.


Zain kembali masuk ke dalam kamar istrinya diikuti oleh Ny. Amara dan tuan Harun di belakangnya.


Tuan Harun merasakan dadanya berdetak lebih cepat dari biasanya, entah mengapa ia merasa gelisah, waswas, takut, padahal ia hanya akan bertemu dengan putrinya.


Deg.


Tubuh tuan Harun mendadak membeku di tempat, matanya berkaca-kaca melihat gadis kecil yang duduk menyandarkan tubuhnya di atas brankar dengan menatap ke arahnya, tepatnya ke arah Zain yang berdiri si depannya.


Berlembar-lembar foto yang tadi dilihatnya di dalam ruangan menantunya terus menerus melintas di depan matanya. Betapa bodoh dirinya telah mengabaikan putri kecilnya selama ini. Ia merasa gagal menjalankan amanah dari ibu kandung gadis itu.


‘Apa pun yang terjadi kepadaku, jaga anak kita, Mas. Sayangi mereka, jangan biarkan mereka tumbuh tanpa kasih sayang dari orang tuanya.’


Tuan Harun teringat pesan dari istrinya sebelum masuk ke dalam ruang operasi untuk melahirkan anak kedua mereka.


“Sa-sayang,” panggil tuan Harun dengan suara tercekat.


“Zahwa ...,” lirih tuan Harun ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah brankar tempat putrinya berada.


“Stop!” cegah Zain, “ Berhenti di situ!”


Zain tidak mau mengambil risiko jika gadisnya harus kembali tantrum karena traumanya kambuh.


“Pa-pa ...,” lirih Zahra.


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2