Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 66. Melepas Rindu


__ADS_3

Tit. Tit.


Penjaga tersebut berhasil membuka pintu kamar Zain, awalnya penjaga tersebut terlihat ragu untuk membantu Zahra, ia tahu bahwa penghuni kamar tersebut sangatlah disegani oleh semua orang di tempatnya bekerja. Bahkan bosnya sendiri enggan untuk membukakan pintu itu dan memilih meninggalkan nona mudanya itu sendirian. Namun, penjaga itu harus menjalankan tugasnya untuk membantu nona mereka.


Ceklek.


Zahra dengan pelan membuka pintu kamar tersebut lalu melangkah masuk ke dalamnya


“Kenapa kalian lama sekali membukakan pintu untukku? Apa kalian ingin membunuhku?” terdengar teriakan Zain namun Zahra belum melihat keberadaan sosok suaminya tersebut.


Zahra tidak menanggapi ucapan suaminya, ia melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar Zain.


Betapa terkejutnya Zahra melihat ruangan itu berantakan seperti tak berpenghuni bertahun-tahun lamanya.


‘Astaga! Apa yang terjadi dengan suamiku? Pria super flawless tersebut ternyata begitu jorok jika dibiarkan hidup sendirian.’ Zahra menggelengkan kepalanya melihat pakaian kotor tergeletak dilantai dan sofa, banyak bungkus makanan ringan dan kaleng bekas minum bertebaran di lantai. Belum lagi di sudut ruangan bertumpuk nampan dan piring kotor yang mungkin beberapa hari tidak dicuci.


“Huft!” Zahra menghela napasnya kasar, ia bergegas memungut satu persatu pakaian kotor milik suaminya tersebut, serta membersihkan sampah yang berserakan dan membawa piring-piring kotor tersebut ke wastafel.


Belum sempat Zahra menyelesaikan beberesnya, terdengar langkah kaki seseorang keluar dari kamar mandi.


“Dasar br*ngsek kalian semua! Mau aku musnahkan dari muka bumi ini hah! Breng-” Zain menghentikan makiannya ketika mendapati sosok yang selama ini ia rindukan kehadirannya berdiri tepat dihadapannya.


“Eh, Honey ... sejak kapan kamu di sini?” tanya Zain lalu berjalan mendekat ke arah istrinya yang mematung menatap ke arahnya.


“Stop!” seru Zahra sambil mengangkat tangan kanannya.


“Honey, apa kamu tidak merindukanku?” tanya Zain masih terus melangkah mengabaikan larangan dari istrinya.


“Stop! Jangan mendekat!”


“Honey, aku begitu merindukanmu, aku begitu tersiksa berpisah darimu. Dan sekarang kita bisa bertemu kenapa kamu melarangku untuk mendekatimu? Apa kamu tidak mencintaiku?” tanya Zain berpura-pura memasang wajah sedihnya.


“Sayang, bukan begitu. Aku hany-”


Grep!


Zahra terlonjak kaget ketika tubuhnya ditarik dengan kencang oleh suaminya sehingga ia berakhir dalam dekapan sang suami.


“Hanya apa? Hmm ....” Zain semakin menarik tubuh Zahra ke dalam pelukannya dan berhasil membuat istrinya menjadi salah tingkah di depannya.


“Sa-sayang, lepaskan pelukanmu, aku tidak bisa bernafas,” ucap Zahra dengan terbata, lagi-lagi ia dibuat berdebar hanya dengan berada dalam pelukan suaminya.


“Aku tidak akan melepaskanmu, 3 hari lamanya aku hambir dibuat mati olehmu, Zahra!” ucap Zain lirih namun tegas tepat di depan telinga Zahra.

__ADS_1


“Sa-sayang, lepaskan dulu. Ka-kamu belum memakai pakaianmu ...,” cicit Zahra karena suaminya tersebut hanya melilitkan sebuah handuk yang menutup tubuh bawahnya saja.


“Kenapa? Kamu malu, hmm? Bahkan aku mengizinkanmu untuk membukanya!” Zain semakin gencar menggoda istrinya tersebut.


“Zain!” Zahra melayangkan pukulan ringan ke dada bidang suaminya, wajahnya bersemu merah karena ucapan yang dilontarkan oleh Zain.


“Honey, kenapa kamu masih malu begitu, hmm? Bahkan kita sering- Akh!” pekik Zain merasakan sakit di pinggangnya karena dicubit oleh Zahra.


“Kenapa kamu baru mandi? Aku menyuruh kamu untuk bersiap satu jam yang lalu bukan?” tanya Zahra dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari tubuh suaminya.


“Aku sibuk!” jawab Zain cepat.


Zahra menautkan kedua alisnya, ia berpikir kesibukan apa yang dimaksud oleh suaminya itu? Setahunya semua pekerjaan di Indonesia sudah dipercayakan oleh orang kepercayaan suaminya. Andaikan Zahra tahu kesibukan yang dimaksud oleh suaminya adalah memantaunya lewat kamera CCTV dari ponsel Zain.


“Jangan berbohong! Bahkan kamar kamu ini sangat berantakan dan tak terurus,” omel Zahra.


Zain menyapukan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, ruangan yang awalnya berantakan kini sudah bersih rapi tanpa meninggalkan sedikit noda apa pun.


“Honey, kamu membersihkan ruanganku?” tanya Zain dengan menatap tajam ke arah istrinya.


“Ya! Bagaimana kamu bisa bertahan dengan ruangan sekotor itu?”


“Honey! Kenapa kamu membereskan semuanya, itu bukan tugas kamu! Apa gunanya kita membayar kamar ini dan pelayannya tidak melaksanakan tugasnya!”


“Cih! Mereka saja memperlakukanku seperti binatang!” kesal Zain.


“Sayang!” hardik Zahra.


“Lihat itu!” ucap Zain sambil menunjuk ke arah pintu.


“Apa? Pintu?” tanya Zahra bingung.


“Bukan, sebelahnya.”


Zahra melihat ada jendela kecil di samping pintu masuk bahkan hampir mirip seperti pintu keluar masuk hewan peliharaan.


“Apa itu?” tanya Zahra penasaran.


“Ck! Mereka mengantarkan makananku lewat pintu binatang itu dan meletakkannya di meja itu! Jadi aku biarkan saja piring kotornya menumpuk agar mereka ada pekerjaan setelah aku keluar dari sini, tapi kamu malah mengacaukannya,”


“Maaf, tapi seharusnya kamu tidak boleh seperti- Akh!” teriak Zahra sebelum ia menyelesaikan kalimatnya karena merasakan tubuhnya yang melayang ke udara.


“Karena kamu sudah mengacaukan rencanaku, maka terimalah hukumanmu!” Zain mengangkat tubuh Zahra dan melangkahkan kakinya menuju ke arah tempat tidur.

__ADS_1


“Zain turunkan aku!” ucap Zahra dan berusaha untuk turun dari gendongan suaminya namun sia-sia karena tenaganya kalah besar dari suaminya.


“Sst! Jangan banyak bergerak Honey, jika kamu tidak ingin membangunkan sesuatu di bawah sana!”


“Sayang, kita harus turun! Barra dan Tian sudah menunggu kita, aku juga sudah lapar.” Zahra mencoba mengecoh suaminya.


“Biarkan saja mereka menunggu, aku juga sudah lapar karena berpuasa berhari-hari. Dan saat ini makananku sudah ada di depan mata, jadi mana mungkin aku menyia-nyiakannya.”


"Izinkan aku melepaskan rindu yang begitu menyiksa ini, Honey!"


...*****...


Zahra mengerjapkan matanya perlahan, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya. Ia merasakan cacing-cacing di dalam perutnya mulai berdemo meminta jatah mereka.


Samar-samar telinganya mendengar suara yang familier tengah berbincang degan serius melalui telepon. Zahra mengedarkan pandangannya menyapu ke seluruh sudut ruangan, ia mendapati sosok suaminya sedang sibuk menerima panggilan dan berdiri membelakanginya menghadap ke arah luar jendela sudah rapi dengan setelan formalnya.


“Sekarang juga aku akan turun, kita langsung berangkat menuju lokasi!”


‘ .... ’


“Hmm, 10 menit lagi. Tunggu istriku untuk bangun terlebih dahulu.”


Zain mengakhiri panggilannya lalu memutar tubuhnya dan mendapati istrinya tengah menatap ke arahnya.


“Honey, kamu sudah bangun?” tanya Zain dan berjalan mendekat ke arah tempat tidur.


“Kamu mau pergi dan meninggalkan aku sendiri?” tanya Zahra dengan wajah sedihnya.


“Honey, dengarkan aku! Ada sesuatu yang harus aku selesaikan, kamu pulang ke rumah kakek dulunya! Nanti akan ada orang yang mengantar kamu dan Hani,” ucap Zain dengan pelan.


“Aku ikut ya ...,” ucap Zahra dengan memasang wajah imutnya.


“Honey ....”


“Ya sudah, sana pergi jangan pedulikan aku!” ucap Zahra dengan nada tinggi, ia menarik selimut dan melilitkannya ke tubuh polosnya lalu berjalan ke arah kamar mandi dengan mengentak-entakkan kakinya.


“Pergi saja sana! Memang aku tidak pernah berarti apa pun dalam hidup kamu!” seru Zahra sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Brak!


Zahra menutup pintu dengan kasar lalu menguncinya, ia mengabaikan panggilan dari suaminya yang terus memanggil namanya dan menggedor-gedor pintu kamar mandi.


“Apa bedanya aku dengan wanita bayaran di luaran sana yang ditinggal pergi oleh sang pria setelah puas menidurinya!” lirih Zahra lalu ia merendam tubuhnya di dalam bathub berisikan air hangat yang telah diberi sabun essential oil di dalamnya.

__ADS_1



__ADS_2