Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 47. Mencairnya Es Kutub


__ADS_3

“Positif ....”


“Hahaha!” Ny. Amara tertawa lepas membuat kedua pria di sebelahnya terheran melihatnya.


“Haha, tebakanku tepat sasaran!” ucap Ny. Amara antusias lalu meletakkan kembali berkas tersebut di atas meja.


Barra yang merasa penasaran mengambil berkas tersebut dan membacanya.


“This is serious?” tanya Barra dengan mata yang melebar setelah membaca tulisan yang di cetak tebal dibatas kertas tersebut.


probabilitas Harun Ahmad sebagai ayah biologis dari Anindya Harun adalah 0%. Oleh karena itu Harun Ahmad sebagai terduga dapat disingkirkan sari kemungkinan sebagai ayah biologis Anindya Harun.



“Serius, Barra! Kamu pikir aku akan main-main dengan masalah besar seperti ini!” kesal Ny. Amara.


“Eh, bukan begitu Nyonya, saya hanya sedikit terkejut saja.”


“Sejak mendengar cerita Harun waktu itu, aku merasa ada yang aneh dan mengganjal. Aku suruh orang untuk menyelidiki tempat Tasya melahirkan dulu. Dan sekarang hasilnya positif kan! Positif jika Anindya bukanlah putri kandung Harun,” jelas Ny. Amara dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


Barra memang belum mengetahui tentang tes DNA tersebut, karena baik Ny. Amara ataupun Zain tidak memberitahunya dan tidak ingin menambah pekerjaan Barra karena Zain sudah memberikan begitu banyak pekerjaan untuknya.


(yang bertanya tes DNA siapa? ada di bab 41. Rencana Ny. Amara ya ☺️).


“Terima kasih Nyonya, jika bukan karena Nyonya, sampai saat ini saya pasti masih terperangkap dalam kebohongan Tasya,” tuan Harun merasa bersyukur dan menyesal secara bersamaan.


“Tidak perlu berterima kasih, Harun. Aku melakukannya juga karena menantuku. Aku tidak akan membiarkan mereka hidup tenang setelah membuat menantuku tersiksa selama ini bahkan merenggut semua hak Zahra yang seharusnya menjadi miliknya.”


“Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Nyonya.”


“Sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai, suatu saat akan tercium juga baunya. Ditutupi serapi apa pun suatu kebusukan, pasti akan terbongkar juga. Jika bukan karena aku, pasti suatu saat akan terbongkar juga. Jadi jangan berterima kasih kepadaku lagi.”


“Baik, Nyonya.”


“Apa rencana kamu selanjutnya?” tanya Ny. Amara ingin tahu. Bukannya Ny. Amara ingin ikut campur dalam urusan pribadi besannya itu, tapi Ny. Amara ingin  berjaga-jaga untuk keselamatan menantunya ke depannya.


“Jika perlu bantuan untuk menendang mereka, Barra siap membantumu, Zain pasti dengan senang hati akan membantumu.”


...*****...


Di tempat lain, tepatnya di lantai 3 mansion tersebut Zain membawa Zahra masuk ke dalam kamar pribadinya. Kamar yang membuat Zahra mendapat hukuman karena pernah satu kali Zahra masuk ke dalamnya tanpa sengaja dan terburu-buru mencari toilet saat merasakan perutnya sakit. (Bab 11. Gara-gara Ramyeon).

__ADS_1


“Masuk!” perintah Zain karena menyadari istrinya berhenti di depan pintu.


“Kamarku ada di bawah, aku tidak mau masuk ke dalam kamar ini,” tolak Zahra.


“Kenapa?”


“Kamu menyuruhku masuk ke dalam kamar ini, padalah semua orang dilarang keras untuk memasukinya! Aku tidak mau mendapat hukuman lagi!”


“Masuklah! Jika tidak ingin mendapatkan hukuman dariku. Mulai saat ini kamar ini akan menjadi milikmu,” ucap Zain berhasil membuat Zahra melebarkan matanya.


“Kamu tidak bercanda kan? Lalu kamar kamu di mana?”


Ctak!


Zain menjitak kening istrinya karena merasa gemas membuat Zahra mengaduh kesakitan.


“Akh! Sakit.”


“Aku suami kamu, kamu istri aku. Kita sepasang suami istri, Zahra! Tentu saja ini adalah kamar kita berdua. Jangan lupakan itu!”


Zain mendorong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar mereka.


‘Apakah aku harus berbagi kamar bersamanya? Sanggupkah aku? Dia suami kamu, Zahra! Jangan mengecewakannya, ingat pesan mommy agar selalu menuruti perintah suami selama masih dalam kebaikan.’ Zahra merasakan kebimbangan dalam hatinya.


“Semua barang milikmu sudah dipindahkan ke kamar ini, jadi tidak ada lagi alasan bagimu untuk menolaknya.”


Zahra mengamati setiap sudut kamar barunya itu, ternyata suaminya sudah mengaturnya sedemikian rupa, ada meja rias dan meja belajarnya berjejer di dekat dinding. Di sebelahnya terdapat rak buku besar penuh dengan berbagai macam buku yang melengkapinya.


Mata Zahra terfokus dengan foto yang terpajang di atas tempat tidur, foto yang beberapa waktu lalu dilihatnya. Foto yang suaminya katakan adalah foto hasil editannya, namun terlihat sangat nyata dan indah tidak memperlihatkan bahwa foto tersebut hanyalah sebuah editan.


“Minggu depan kita pergi untuk pemotretan,” ucap Zain yang menyadari arah pandangan istrinya, lalu mendudukkan Zahra di tepi tempat tidur.


“Pemotretan apa?” tanya Zahra bingung.


“Kita belum mempunyai foto pernikahan kan?”


“Iya. Lalu kapan kita akan pergi ke makam umma?”


“Secepatnya, minggu depan juga boleh. Sekalian kita pemotretan didaerah sekitarnya, kita cari tempat yang cocok di sana.” Zain mengusap pelan kepala istrinya.


“Janji?”

__ADS_1


“Hmm, akan aku usahakan. Aku ada pekerjaan sebentar, kamu lihat-lihat dulu kamar ini, jika ada yang kamu inginkan katakan saja!” ucap Zain lalu mengecup kening istrinya sebelum meninggalkan kamar tersebut.


Zahra mengantar kepergian suaminya lalu menutup pintu kamarnya. Namun pintu tersebut kembali terbuka dan memperlihatkan tubuh Zain di baliknya.


“Apa ada yang tertinggal?” tanya Zahra pelan.


“Ya.”


Zahra mengedarkan pandangannya mencoba mencari benda yang mungkin ditinggalkan oleh suaminya, seperti ponsel atau berkas lainnya namun tak ada apa pun yang ia temukan di atas meja ataupun di atas tempat tidur.


“Apa yang tertinggal?” tanya Zahra dengan wajah bingung.


Cup!


Zain mengecup bibir istrinya, padahal hanya sebuah kecupan singkat namun mampu membuat tubuh Zahra seketika menegang.


“A-apa yang kamu lakukan?” tanya Zahra dengan wajah yang memerah.


“Kenapa wajahmu memerah seperti itu?” tanya Zain menggoda.


“Apa yang tertinggal?” tanya Zahra balik mengabaikan pertanyaan dari suaminya.


“Ini, rasannya ingin aku bawa ke mana pun aku pergi,” ucap Zain lalu menyentuh pelan bibir istrinya.


Cup!


Zain kembali mencium bibir Zahra yang selalu menggodanya. Zain bergegas keluar dari kamar dan menutup pintunya sebelum istrinya tersadar dari keterkejutannya.


“Zain!” teriak Zahra dali dalam kamar.


“Hahaha!” Zain tertawa lepas mendengar teriakan istrinya, dapat ia bayangkan wajah kesal istrinya yang disertai semburat merah karena malu.


“Biasakan dirimu, Zahra. Aku akan sering melakukannya untukmu!” seru Zain berharap suaranya dapat didengar oleh istrinya di balik pintu.


Sedangkan ketiga orang di ujung tangga  yang baru saja sampai di lantai tersebut terbengong melihat pria sedingin kutub  bisa tertawa dengan ringannya.


‘Apakah mataku salah melihat?’ batin Barra dengan mulutnya yang sedikit terbuka.


‘Apakah pria itu benar menantuku? Tuan Zain yang terkenal dingin dan kejam itu?’ batin tuan Harun.


‘Apakah dia putraku? Hantu apa yang sedang merasukinya?’ batin Ny. Amara merasa syok.

__ADS_1


__ADS_2