Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 35. Tidur Seranjang


__ADS_3

Sebuah mobil mewah berwarna hitam terlihat melaju dengan kecepatam sedang membelah keramain jalanan kota, pemandangan di sekitarnya menampakkan gedung-gedung tinggi yang dihiasi oleh cahaya lampu malam hari. Di pinggiran jalan juga berjajar tiang-tiang lampu yang menerangi jalanan kota.


“Zain!” panggil Ny. Amara yang duduk seorang diri di kursi belakang. Sedangkan putranya duduk di samping Barra yang tengah mengemudikan mobil mewah milik Zain.


“Hmm,” jawab Zain acuh karena masih kesal kepada ibunya.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Ny. Amara, namun matanya tetap fokus dengan ponsel ditangannya.


Zain dan Barra saling melempar pandang dan beberapa detik saling menatap, seakan sedang berbicara lewat sorot mata masing-masing. Barra kembali fokus dengan jalanan di depannya, sedangkan Zain melirik ibunya dari pantulan spion di depannya. Bukannya mereka berdua tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Ny. Amara, namun Zain hanya ingin mendengar siapa yang dimaksud oleh ibunya langsung darinya.


“Keadaan siapa, Mom? Bukankah Mommy sendiri yang merawat Zahra selama ini?”


“Ck! Jangan pura-pura tidak tahu, kamu tahu siapa yang mommy maksud.” Ny. Amara merasa kesal sekaligus gengsi untuk berkata jujur.


“Aku benar tidak tahu, Mom.”


Plak!


“Akh!” pekik Zain lalu mengusap kepalanya yang terasa sakit karena merasakan benda keras yang mendarat di kepalanya.


“Makanya jawab pertanyaan mommy!” kesal Ny. Amara dan ternya ia memukul kepala putranya dengan ponselnya.


“Siapa yang mommy maksud? Bukannya baru saja kita bertemu dengan Zahra, kalau bukan Zahra aku dan Barra baik-baik saja dan sekarang berada di depan mommy,” ucap Zain panjang lebar.


Barra melirik ke arah tuan mudanya dengan wajah herannya lalu melirik ke arah Ny. Amara lewat spion depan.


‘Hah, beginilah kalau es kutub telah mencair. Kenapa aku jadi merindukan tuan muda yang dulu dari pada yang berada di sebelahku sekarang.’ Gerutu Barra dalam hati.


Bukannya ia tidak suka jika tuan mudanya itu telah berubah, tetapi Barra merasa semakin pusing dengan perubahan tuan mudanya itu. Pasalnya Zain akan berubah menjadi ibu-ibu yang sangat cerewet bila menyangkut hal yang berhubungan dengan istrinya.

__ADS_1


“Di mana dia, Barra!” Ny. Amara memutuskan untuk bertanya kepada Barra dari pada dibuat kesal oleh putranya.


“Hah, siapa Nyonya?” tanya Barra yang terkejut Ny. Amara bertanya kepadanya secara tiba-tiba.


Plak!


“Akh!”


Ny. Amara kembali melayangkan ponselnya memukul kepala Barra.


“Maaf Nyonya, tadi saya tidak fokus, Anda bertanya tentang apa?”


“Huft! Di mana anak itu?”


“China,” jawab Zain cepat.


“Oh.” Ny. Amara kembali fokus dengan ponselnya tanpa menatap ke arah dua pemuda yang telah dianiayanya.


“Nanti setelah keadaan sudah memungkinkan kita akan mengunjungi mereka,”


“Kamu saja yang pergi, sampai kapan pun mommy nggak mau ke tempat itu lagi!”


‘Sampai kapan mommy akan terus begini? Kejadian itu sudah berlalu 17 tahun lalu, mom.’


...*****...


Setelah mengantar ibunya pulang, Zain langsung kembali ke rumah sakit untuk menemani istrinya. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia langsung membuka pintu kamar rawat Zahra.


Terlihat Zahra sudah terlelap di atas brankarnya, sedangkan tuan Harun duduk di sebelahnya sambil menggenggam tangan Zahra dan tangan satunya membelai lembut kepala putrinya. Zain perlahan berjalan mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


Menyadari bahwa menantunya sudah kembali, tuan Harun berdiri dan mempersilahkan untuk Zain menemani Zahra, ia pamit untuk pulang kerumanya namun dicegah oleh Zain.


“Menginaplah, jangan sampai Zahra menyalahkanku karena di saat ia terbangun tidak menemukan keberadaan papanya,” ucap Zain datar, entah sulit sekali melihat ekspresi di wajahnya.


“Baik Tuan, terima kasih sudah menjaga dan menyayangi putri saya.”


“Hmm, tidurlah di sana!” tegas Zain tanpa ingin mendengar penolakan. Ia menunjuk tempat tidur di sebelah brankar istrinya lalu berjalan menuju kamar mandi.


Setelah membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian yang lebih santai, Zain naik ke atas brankar istrinya dan merebahkan dirinya di samping sang istri.


Zain menatap wajah istrinya yang kini terlihat lebih berisi, begitu juga dengan tubuh Zahra yang dulu begitu kurus sekarang sudah lebih berisi karena ulahnya yang sengaja memaksa gadis itu untuk makan dengan porsi banyak, di tambah dengan suplemen yang selalu ibunya berikan untuk Zahra atas permintaan darinya. Suplemen yang sama dengan yang ia konsumsi setiap hari.


Cup.


Zain mengecup kening istrinya, tidak perduli dengan keberadaan ayah mertuanya yang mungkin saja melihatnya mencium Zahra. Toh dia adalah suaminya, jadi sah-sah saja melakukan hal tersebut.


‘Akhirnya aku berhasil kembali tidur satu ranjang denganmu dan memelukmu setelah kejadian waktu itu. Maaf Sayang, aku tidak akan pernah melepaskanmu sampai kapan pun.’ Zain menarik selimut menutupi tubuh mereka, lalu ia menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya dan ikut memejamkan matanya.


Di ranjang sebelah, tuan Harun merasa terharu melihat betapa beruntung putrinya mendapatkan pria seperti Zain. Ia mengusap air mata yang keluar tanpa permisi dari matanya.


‘Semoga kalian selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan. Maafkan keegoisan papa yang ternyata selama ini membuatmu terluka.’ Tuan Harun tersenyum lalu ikut memejamkan matanya untuk beristirahat, tubuhnya begitu terasa lelah karena belum beristirahat sejak kemarin malam melakukan penerbangan kembali ke Indonesia.


‘Terima kasih sudah menyayangi putri saya, tuan. Putri yang selama ini saya abaikan kebahagiaannya. Terima kasih sudah memberi kebahagiaan dalam hidupnya dengan menjadikannya ratu dalam istana yang Anda bangun.’


Tuan Harun merasa bahagia, apalagi melihat begitu banyak bunga mawar putih serta berbagai macam buku yang tertata di atas rak di sudut ruangan.


“Semua ini pemberian dari tuan Zain, Pa. Katanya untuk menemani Zahwa di sini agar tidak merasa bosan, tuan Zain juga bilang jika buku ini kurang, ia akan membelikan lebih banyak buku jika perlu beserta toko-tokonya.” Zahra terlihat bahagia dan tersenyum manis kepada ayahnya.


"Tuan Zain bilang semua ini tidak bisa menggantikan buku-buku Zahwa yang sudah hilang.”

__ADS_1


Tuan harun mengingat wajah bahagia putrinya sebelum ia benar-benar terlelap ke dalam alam bawah sadarnya.


Hai, salam dari author! Terima kasih sudah mampir, jangan lupa like dan sarannya ya .... Sehat selalu untuk kita semua 🤗😻


__ADS_2