
Sesuai dengan janjinya, Yang Zi sama sekali tidak pernah mengganggu ibu tirinya dan tidak muncul di hadapan Ny. Amara.
Meski begitu, baik Yang Zi maupun Ny. Amara sudah merasa tenang tanpa ada perasaan yang mengganjal di hati masing-masing.
Hari ini, Zain sibuk mengekor kemana pun istrinya pergi. Bahkan sejak subuh tadi Zain sudah terjaga mengganggu Zahra yang tengah sibuk berkutat di dapur.
“Zain, pergilah aku tidak bisa memasak dengan baik!” usir Zahra yang sudah merasa jengah dengan sikap suaminya yang tidak seperti biasa.
“Honey, kamu harus ingat, tidak boleh melirik pria lain di kampus! Apalagi menyentuh mereka!” peringat Zain untuk ke sekian kalinya.
“Sudah berapa kali kamu mengatakan hal yang sama, Sayang? Bahkan aku sudah mengingatnya di luar kepalaku.” Zahra bersungut tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya. Tangannya sibuk mengaduk masakan yang tengah ia siapkan untuk suami tercintanya.
“Harus jaga jarak dengan siapa pun! Aku tidak suka jika ada yang mendekatimu apalagi tebar pesona kepadamu!”
Zahra yang mulai kehilangan kesabaran membalikkan tubuhnya dan saling berhadapan dengan sang suami.
“Astaga, Zain! Sampai kapan kamu akan terus mengulanginya? Apa kamu tidak percaya dengan aku?”
“Aku percaya padamu, Honey. Tapi aku tidak bisa mempercayai buaya-buaya di luaran sana!” terang Zain berhasil membuat Zahra menautkan kedua alisnya bingung.
“Buaya apa? Aku pergi kuliah ke kampus Zain, bukan pergi bertamasya di kebun binatang,” ucap Zahra dengan wajah polosnya.
“Buaya berkaki dua, Honey. Biasanya suka merayu para wanita cantik dan menyantapnya tanpa peduli status mereka.”
Zahra melebarkan bola matanya mendengar penjelasan suaminya yang semakin membuatnya pusing. “Tau ah, kamu kalau bicara tidak jelas.”
Zahra ingin membalikkan tubuhnya namun dicegah oleh Zain.
“Honey, kamu harus ingat! Kamu sudah menikah dan status kamu adalah seorang istri. Tidak peduli di luaran sana ada banyak pria yang lebih muda dariku, tapi ingat! Ada aku suamimu yang selalu menunggu kamu di sini! Ingat itu baik-baik!” ucap Zain serius, kedua tangannya memegang kuat bahu sang istri untuk memastikan bahwa dia tidak bercanda.
“Kamu pikir aku wanita apa? Sudah sana pergi mandi, aku mau menyelesaikan ma-”
“Zain! Apa yang kamu lakukan di dapur?” teriak Ny. Amara yang baru saja masuk ke dapur dengan mengedarkan pandangan mencari sesuatu.
Zahra dan Zain pun terlonjak kaget karena ibunya tiba-tiba datang sambil berteriak.
“Ck! Jangan teriak-teriak bisa kan, Mom!” kesal Zain.
__ADS_1
“Kamu sedang apa di sini? Lalu bau apa ini?” tanya Ny. Amara membuat kedua suami istri yang tengah berdrama itu menyadari sesuatu.
“Astaga! Masakanku!” pekik Zahra teringat dengan masakan yang terabaikan di belakangnya.
Zain yang menyadari kesalahannya segera melangkah mundur perlahan sebelum diserang oleh dua wanitanya.
“Zain! Gara-gara kamu ya!” seru Zahra namun sudah tidak mendapati suaminya di belakangnya.
“Zain! Mau kemana kamu?” marah Zahra.
“Pergi mandi, bukannya tadi kamu menyuruhku agar lekas mandi!” jawab Zain dari kejauhan dan langsung berlari menuju lift.
Sedangkan Ny. Amara hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putra dan menantunya itu.
“Huft! Capek-capek aku masak ... tapi malah gosong seperti ini, gara-gara Zain yang selalu menggangguku!” gerutu Zahra meratapi nasib masakannya.
“Berikan saja makanan itu untuk Zain sarapan. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab,” ucap Ny. Amara lalu pergi keluar dari dapur dengan menahan senyum di wajahnya.
...*****...
Zain memainkan terong di atas piringnya dengan sendok di tangannya. “Kenapa warnanya aneh seperti ini?”
“Makan saja, tidak baik mengomentari makanan yang tersaji di depanmu!” tegur Ny. Amara cuek, padahal di dalam hatinya Ny. Amara ingin menertawakan putranya itu.
Tadi Ny. Amara hanya asal bicara saja, namun Zahra menanggapinya dengan serius dan benar-benar menyajikan telur balado yang sedikit gosong itu, bahkan warnanya sudah berubah sedikit coklat kehitaman.
“Siapa suruh kamu terus menggagu aku saat memasak tadi,” ucap Zahra lalu menyendokkan nasi dan beberapa lauk ke dalam piringnya, tentu saja ia tidak mengambil terong balado yang khusus disajikan tepat di depan suaminya itu.
“Makan saja hasil keisengan kamu, mubazir jika harus dibuang.” Zahra mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.
Zain pun menyendokkan sedikit terong itu dan mencicipinya, namun rasanya aneh ada sedikit pahit-pahitnya.
“Tapi rasanya an-”
“Makan atau aku ngambek!” ancam Zahra sebelum suaminya menyelesaikan kalimatnya.
Zain menatap tak percaya ke arah istrinya yang tega membiarkannya sarapan dengan lauk gosong itu. Dengan wajah terpaksa Zain mulai menyuapkan makanannya dalam diam.
__ADS_1
‘Haha, ternyata si raja singa rumah ini telah tunduk dan menemukan pawangnya,’ ejek Ny. Amara dalam hati.
Sedangkan dua orang yang ikut serta makan di meja makan hanya diam merasa bingung dan canggung melihat interaksi tuan mereka.
Selanjutnya mereka pun mulai makan dengan saling diam, namun ketika nasi dipiring Zain tinggal setengahnya Zahra mengganti piring baru dengan lauk lainnya tanpa terong balado gosong lagi.
“Kenapa baru sek-” Zain tidak melanjutkan perkataannya karena mendapat tatapan maut dari sang istri.
“Makan saja!” perintah Zahra.
“Hmm.” Zain dengan patuhnya menuruti perkataan Zahra dan hal itu tak luput dari pengawasan Ny. Amara yang semakin menahan tawanya.
‘Astaga, beruntungnya aku memiliki menantu seperti Zahra. Tidak akan aku ulangi kesalahan yang dulu lagi, bahkan jika Zain tidak memberikan cucu untukku tak menjadi masalah lagi. Aku tidak akan menyuruh Zain mencari wanita lain, cukup biarkan Zahra yang akan menemaninya selamanya.’
Setelah sarapan selesai, Zahra pamit untuk berangkat kuliah tentu saja ada Tania yang beberapa hari lalu diperkenalkan oleh Ali untuk menjadi bodyguard Zahra atas perintah dari Zain.
“Ingat jaga mata jaga hati kamu! Statusmu adalah sebagai seorang istri!” ulang Zan memperingati istrinya.
“Astaga Sayang, aku ingat semuanya jangan kamu ulangi lagi. Aku tidak mungkin akan berpaling darimu, dan pastinya todak akan pernah bisa karena sebelum aku melangkahkan kakiku mungkin aku akan kehilangan nyawaku terlebih dahulu,” ucap Zahra bermaksud menyindir suaminya.
“Honey!” panggil Zain tidak rela melepaskan istrinya pergi sendiri jauh dari pengawasannya.
“Apa?” tanya Zahra mencoba tetap bersabar, ternyata menjadi istri dari tuan muda Zain Malik sangat terbatas. Hanya sekedar untuk bernafas saja harus di bawah pengawasannya, apalagi sekarang ia akan dilepas ke alam bebas.
Begitu posesifnya Zain terhadap Zahra, namun Zahra tidak keberatan dengan hal tersebut dan menikmatinya.
“Ingat janji kamu Zain! Jangan pernah datang ke kampus sebagai suamiku, aku tidak mau orang lain mendekatiku dan menghormatiku karena status Ny. Zain Malik yang aku miliki sebagai istri kamu. Aku ingin orang lain melihatku dan berteman denganku sebagai diriku sendiri, Zahra.”
“Iya, aku akan mengingatnya,” ucap Zain. “Tapi aku tidak janji ya,” lanjutnya.
Plak!
“Akh! Sakit, Mom!” pekik Zain merasakan sakit di kepala belakangnya karena mendapat pukulan dari sang ibu.
“Jangan ganggu menantu mommy, Zain! Biarkan dia pergi, tidak akan ada orang yang berani menculiknya jika pemiliknya adalah seekor singa ganas dan super posesif sepertimu.”
Zahra tertawa mendengar ucapan ibu mertuanya, berbeda dengannya Zain yang terlihat kesal.
__ADS_1