
Tuan Harun duduk termenung di balkon kamarnya, dinginnya angin malam begitu terasa menusuk tubuhnya yang semakin ringkih dimakan usia. Hanya dengan kaos oblong Polo berwarna putih yang membungkus tubuh tuanya tak membuatnya merasa kedinginan.
Matanya fokus menatap langit malam yang begitu cerah, bulan sabit yang bersinar seakan tersenyum mengejek ke arahnya. Tuan Harun menarik napas dalam lalu mengeluarkannya perlahan.
‘Bahkan alam pun seakan menertawakanku, mengejek diriku yang telah dibodohi oleh seorang wanita yang berhasil masuk ke dalam kehidupanku dan menghancurkan semuanya. Aku gagal sebagai seorang suami, aku juga gagal menjadi seorang ayah! Bodoh!’ kesal tuan Harun dalam hati, lalu ia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dan memejamkan matanya. Ia teringat percakapannya dengan menantu dan asistennya tadi siang.
“Saya tidak akan ikut campur dalam masalah ini, keputusan ada ditangan Anda.” Zain menyerahkan map biru kepada ayah mertuanya.
Saat ini mereka berada di ruang kerja Zain di mansion utama. Tiga hari sejak kepulangan istrinya, Zain lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam mansion menemani istrinya agar tidak merasa bosan. Padahal Zahra merasa bosan setiap waktu harus selalu berada disisi suaminya, namun Zahra tidak berani membantah karena Zain selalu memberikan ancaman kepadanya.
Tuan Harun menerima map tersebut dan mengeluarkan isinya, meski sudah menyiapkan diri menerima hasil penyelidikan orang suruhan menantunya, tetap saja tuan Harun merasakan sesak di dadanya ketika membaca berkas-berkas tersebut.
“Huft!” tuan Harun mendesah kasar, menyalurkan perih yang dirasakannya.
“Saya akan memperbaiki semua kesalahan saya kepada Zahra dan Zahran ... apakah Tuan mau membantu saya?” tanya tuan Harun.
Tuan Harun dengan sekuat tenaga bersikap tegar namun tetap saja kedua pria di dekatnya masih menangkap kerapuhan dan kehancuran yang tersirat di wajahnya.
“Barra akan mengurus semuanya,” jawab Zain datar.
“Anda tahu apa yang harus Anda lakukan, Tuan. Bersikaplah seperti sebelumnya, seakan-akan Anda belum mengetahui masalah ini. Saya sudah mendapatkan semua bukti kejahatan mereka, secepatnya saya akan mengatur pertemuan antara Anda dengan mereka,” jelas Barra.
Map biru tersebut berisi berkas-berkas bukti kejahatan Tasya selama lebih dari 20 tahun. Cukup untuk membuat wanita itu tidak bisa mengelak lagi.
__ADS_1
“Baik. Terima kasih, Tuan. Saya tidak tahu harus bagaimana jika tidak mendapat bantuan dari Anda,” ucap tuan Harun pasrah, bukannya beliau tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, namun tuan Harun terlanjur kalut dan pikirannya kacau masalah rumah tangganya.
“Nanti saya akan mengabari Anda untuk langkah selanjutnya, Tuan. Saya harap Anda bisa berhati-hati sebelum semuanya terbongkar,” ucap Barra.
“Pa! Papa!”
Tuan Harun tersadar dari lamunannya ketika merasakan tubuhnya diguncang hebat oleh seseorang. Ia membuka matanya dan mendapati sang istri sudah berdiri di hadapannya dengan wajah masamnya.
“Pa, dari tadi mama cari ternyata ada di sini, mama panggil-panggil kenapa tidak menjawab?”
“Maaf Ma, tadi papa ketiduran,” jawab tuan Harun datar, membuat Tasya semakin cemberut kesal.
“Ya sudah ayo cepat masuk, sudah larut malam.”
“Hampir pukul 12 malam, Pa. Ayo masuk!” Tasya menyeimbangkan langkahnya dan merangkul mesra lengan suaminya.
Ingin sekali tuan Harun melepaskan pelukan istrinya tersebut, namun ia tidak ingin membuat Tasya curiga terhadapnya.
“Lepaskan pelukanmu Ma, aku ingin ke kamar mandi dulu,” ucap tuan Harun mencari alasan.
Setelah terlepas dari pelukan istrinya, dengan langkah lebar tuan Harun berjalan ke arah kamar mandi. Ia masuk ke dalamnya dan mengunci rapat pintu tersebut.
“Cukup! Aku sudah muak dengan semua ini, satu-satunya alasanku tetap mempertahankanmu sudah tidak ada! Mari kita sudahi semua ini Tasya!” lirih tuan Harun tidak ingin suaranya terdengar oleh sang istri di luar sana.
__ADS_1
Tuan Harun membasah wajahnya dengan air dingin, berharap dapat mendinginkan hati dan pikirannya yang tengah terbakar. Tanpa mengelap wajahnya, tuan Harun keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah tempat tidur.
“Pa ...,” panggil Tasya dengan suara menggoda namun tuan Harun mengabaikannya.
“Pa, apa papa tidak kangen sama mama?” Tasya menggeser posisinya mendekat ke arah suami berbaring, ia duduk dari tidurnya dan tangan nakalnya mulai menggerayangi tubuh suaminya.
“Aku lelah, Ma! Aku ingin istirahat!” tolak tuan Harun masih dengan suara halus.
“Sayang ....” Suara Tasya semakin mendayu-dayu menggoda suaminya. Tasya menanggalkan baju tidur kimononya, menyisakan lingerie transparan merah yang memperlihatkan kulit putih mulusnya.
“Biarkan aku istirahat, Tasya!” tolak tuan Harun sedikit meninggikan suaranya, mengabaikan tangan istrinya yang bergerak semakin liar di tubuh atasnya.
“Sayang, aku menginginkanmu ....” Tasya mengarahkan tangannya untuk membuka satu persatu kancing baju suaminya.
“Tasya!”
"Pa, diam saja! Aku yang akan melayanimu dan memuaskanmu malam ini, Sayang!"
*****
Hai semuanya, Author butuh dukungan dari kalain semua dengan cara like, comment dan vote ya ... 🤗☺️
Terima kasih sudah setia menemani Author sejauh ini 🥰😻
__ADS_1
Selamat Hari Raya Idul Adha 🥺