Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 43. Kejutan untuk Zahra


__ADS_3

Zahra terdiam dan terpaku melihat pemandangan di depan matanya, dengan kedua tangan yang menutup mulutnya yang terbuka.


“Ayo masuk!” ajak Zain dengan menarik tangan istrinya namun Zahra sedikit pun tidak menggerakkan tubuhnya.


Zahra menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan, ia terpesona melihat kumpulan mahkota bunga yang tersusun rapi di lantai membentuk beberapa hati besar dengan lilin kecil yang mengelilingi sekitarnya. Ada juga beberapa hati yang ukurannya lebih kecil, serta bentuk bintang.


Tidak hanya itu saja, juga masih terdapat susunan mahkota bunga yang membentuk kata You Make My Heart Smile.



Zahra merasakan jantungnya berdebar begitu cepat, ia mengira semua ini hanyalah mimpi lalu ia pun memejamkan matanya.


‘A-apa ini? Apakah aku bermimpi? Aku takut untuk membuka mataku,’ batin Zahra.


“Hei, apa yang kamu lakukan? Cepat masuk!” perintah Zain membuat Zahra membuka matanya lebar-lebar.


Zahra menatap wajah suaminya. Ada banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam hatinya, namun ia tidak berani untuk menyuarakannya.


“Ayo masuk, apa kamu hanya ingin berdiri di sini? Kamu tidak ingin melihat yang lainnya?”


Tanpa menunggu jawaban istrinya, Zain menarik pelan pergelangan tangan Zahra. Zahra pun mengikuti langkah suaminya dengan sangat hati-hati takut akan merusak susunan mahkota bunga tersebut.


Zain menuntun Zahra melewati ruang keluarga yang sudah didekor sedemikian rupa, dengan beberapa balon yang melayang di atasnya. Lantai yang dipenuhi taburan bunga merah dan putih, serta buket mawar putih lengkap dengan lilin-lilin kecil berjajar membentuk sebuah jalan yang mengarahkan mereka ke suatu pintu.


Mungkin bagi semua wanita suasana tersebut dinilai sangat romantis, ruangan penuh taburan bunga dengan penerangan lilin yang indah di pandang mata. Namun tidak untuk Zahra, ia merasa sebaliknya. Hanya satu yang ada di pikirannya saat ini, yaitu horor.


Zahra mengeratkan pegangannya di tangan sang suami, hingga langkah mereka sampai di depan sebuah pintu kaca yang tertutup gorden.


Di tempat lain, Barra tengah mengemudikan mobilnya ke mansion utama. Ia terpaksa ikut mengantarkan beberapa pelayan yang membantunya di rumah sakit karena mobil untuk mereka ada masalah saat di perjalanan.


“Barra siapkan sesuatu untuk istriku di kamar atas, dua jam harus sudah beres!” perintah Zain setelah menerima pesan dari ayah mertuanya.


“Sesuatu seperti apa, Tuan?” tanya Barra bingung namun masih terlihat tenang.

__ADS_1


“Kamu pikir sendiri! Sesuatu yang disukai wanita, aku akan mengajaknya dinner malam ini, rahasiakan dari ini semua mommy!” ucap Zain datar.


“Baik Tuan.”


“Dinner pukul 19.00 di rooftop. Oh ya, hiaslah kamarku dengan banyak bunga dan lilin seindah mungkin dan terlihat suasana yang romantis. Jangan mengecewakanku!” tegas Zain sebelum menghilang di balik pintu kamar rawat Zahra.


Barra melirik arloji yang melingkar di tangan kanannya. Lalu ia berdecak kesal lalu meraih ponsel di sakunya dan menghubungi seseorang.


“Cepat laksanakan! Saya menunggu kalian semua di sini, 30 menit tidak lebih!” tegas Barra lalu ia memutuskan panggilan tersebut tanpa menunggu jawaban dari orang di seberang telepon.


Sore itu, Barra terlihat sibuk mengarahkan anak buahnya beserta beberapa pelayan mansion yang ia perintahkan untuk membantu mendekorasi kamar tuan muda mereka, karena tidak mungkin ia meminta bantuan suster di rumah sakit tersebut.


Rooftop yang semula terlihat biasa saja kini sudah berhasil disulap menjadi begitu indah dengan banyak mawar putih yang menghias di setiap sudutnya, ditambah dengan banyak lilin kecil yang tersebar di lantai semakin mendukung suasana romantis yang tercipta.


Tidak hanya rooftop, ruang keluarga, ruang tamu, serta kamar tidur pun semuanya harus di dekorasi.


Setelah selesai, Barra meminta mereka semua untuk beristirahat dan makan terlebih dahulu di kantin rumah sakit.


‘Selama ada uang maka semuanya akan aman terkendali, hahaha,’ racau Barra dalam hati, ia tersenyum miring mengingat perjuangan mereka untuk mendapatkan bunga-bunga tersebut dalam waktu cepat dan jumlah banyak.


Tanpa sengaja, Hani melihat wajah Barra dari pantulan kaca spion di depan. Dengan cepat ia menundukkan wajahnya, namun tanpa ia sadari Barra sempat menangkap pergerakannya.


...*******...


Zahra kembali dibuat terkejut setelah Zain berhasil membuka lebar pintu kaca di depan mereka.


Rooftop dengan nuansa romantis dengan pemandangan kerlap-kerlip lampu kota, cahaya indah dari lilin-lilin yang bertebaran juga semerbak bau harum bunga mawar terbawa angin masuk ke dalam penciuman Zahra.


“Happy birthday, Honey ...,” ucap Zain lirih tepat di telinga istrinya membuat Zahra terlonjak kaget.


“Hwa ....” Zahra seketika menangis membuat Zain terkejut dan panik.


“Kamu kenapa? Apa tidak suka dengan kejutannya?” tanya Zain lalu menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Masih dengan menangis, Zahra menggelengkan kepalanya di dalam pelukan sang suami.


“Kenap menangis?” panik Zain. “Kalau kamu tidak suka nanti aku akan memarahi Barra!”


“Bu-bukan itu,” jawab Zahra dengan tergagap.


“Lalu?”


“Aku sendiri tidak ingat dengan hari ulang tahunku. Sudah lama tidak ada yang rayakan bahkan mengucapkan selamat kepadaku,” jelas Zahra masih dengan sesenggukan.


“Sssst, jangan menangis. Aku janji mulai saat ini aku akan selalu merayakan ulang tahun kamu.” Zain mengusap punggung istrinya mencoba untuk membuatnya merasa lebih tenang.


Setelah beberapa saat Zahra sudah lebih tenang, ia melepaskan pelukannya dari suaminya.


“Aku tidak mau merayakannya,” ucap Zahra dengan wajah sendu.


“Kenapa?” tanya Zain yang merasa heran.


“Karena di hari yang sama seseorang yang telah mengandungku harus kehilangan nyawanya demi sebuah nyawa lainnya.”


“Sudah jangan dipikirkan lagi, kita tidak akan merayakannya lagi. Apa pun keinginanmu akan aku penuhi.”


Zain menuntun istrinya menuju pojok rooftop, terdapat meja dengan sepasang kursi serta balon di sana. Sudah terhidang beberapa menu istimewa di atas meja.


Zain menarik kursi untuk Zahra dan mempersilakan Zahra untuk duduk. Lalu ia sendiri duduk di kursi satunya.


“Makanlah yang banyak, Honey.”


Mereka pun menikmati makan malam dalam keheningan malam diiringi suara musik romantis yang diputar oleh Zain lewat ponselnya.



*****

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir, jangan lupa like, comment dan vote ya ... 🤗☺️


__ADS_2