Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 103. Teman Baru


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, Zahra melewati kuliahnya dengan lancar dan mendapatkan dua teman baru yang dengan tulus berteman dengannya, mereka adalah Ria dan Ulfa.


Ria berasal dari keluarga sederhana yang datang dari luar kota dan bisa kuliah di kampus tersebut karena beasiswa yang didapatkannya. Ria gadis yang tidak banyak bicara, dengan penampilannya yang simpel dan sederhana namun tidak mengurangi kecantikannya serta tetap terlihat elegan dan tidak ketinggalan jaman.


Sedangkan Ulfa berasal dari keluarga berada namun terbiasa hidup mandiri dan sederhana tanpa menghamburkan harta milik kedua orang tuanya.


“Kalian tidak ada mata kuliah tambahan, kan?” tanya Ulfa setelah dosen di depan kelas mengakhiri pertemuan kuliahnya dan meninggalkan ruang kelas yang seketika berubah ramai seperti pasar.


“Tidak,” jawab Ria sembari membereskan buku miliknya ke dalam tas.


Zahra pun menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya, Tania tentu saja hanya mengikuti apa pun yang diucapkan oleh nona mudanya.


“Bagus kalau begitu, kita jalan ke mall yuk?” ajak Ulfa.


“Ehm, gimana ya ...,” Ria terlihat ragu, ingin menolak namun tidak enak hati melihat rona bahagia yang terpancar di wajah Ulfa.


“Tenang saja, kali ini aku yang traktir,” ucap Ulfa memahami kebimbangan Ria, ia tahu bahwa Ria harus berhemat karena hidup jauh dari keluarganya.


“Tumben kamu mau traktir kita, kesambet apa kamu semalam?” gurau Ria.


“Sebenarnya hari ini aku ulang tahun.”


“Serius? Kenapa kamu tidak mengatakannya sejak awal? Aku kan tidak menyiapkan hadiah buat kamu,” Ria merasa sedih karena sebagai teman dekatnya ia tidak tahu bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Ulfa, Ulfa sendiri juga tidak pernah memberikan informasi tanggal lahirnya di sosial media miliknya.


“Sudahlah, aku tidak menginginkan hadiah apa pun. Cukup doakan untuk kebaikanku serta keluargaku sudah lebih dari cukup.”


“Selamat ulang tahun Ulfa.”


Ria, Zahra dan Tania bergantian memberikan ucapan dan doa untuk Ulfa. Lalu mereka berempat saling berpelukan layaknya film kartun jaman dulu dengan judul Teletubbies yang terkenal dengan keempat personilnya yang sering melakukan adegan berpelukan bersama.


“Satu lagi!” seru Ulfa setelah melepaskan pelukan mereka.


“Apa?” tanya mereka serempak.


“Aku mau kalian bertiga selamanya akan tetap menjadi sahabatku apa pun yang terjadi ke depannya, oke?”


“Baiklah, sahabat selamanya!” seru merea  berempat membuat beberapa mahasiswa yang masih berada di dalam ruangan.

__ADS_1


“Zahra, kamu ikut, kan?” tanya Ulfa penuh harap, ia sedari tadi menunggu Zahra yang hanya terdiam untuk mengiyakan ajakannya karena Zahra selalu menolak jika diajak jalan bareng.


“Emh-”


“Please!!” Ulfa memohon dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya sambil menghadap Zahra.


“Anggap saja ini hadiah ulang tahun kamu untukku.”


Zahra terlihat bimbang, ia ingin merayakan ulang tahun sahabatnya namun suaminya pasti tidak akan mengizinkannya.


“Please, Zahra ... hanya kali ini saja tolong kamu minta izin kepada suami kamu, ya!”


“Ehm, aku coba dulu ya. Tapi aku tidak bisa berjanji, Fa.”


“Aku tidak mau tahu, kamu harus berusaha sepenuh tenaga agar mendapat izin dari suami kamu, titik!”


Zahra berjalan sedikit menjauh dari teman-temanya lalu meraih ponselnya dan menghubungi Zain untuk meminta izin. Meski harus merayu dan membujuk suminya yang tetap tidak mengizinkannya pergi, akhirnya Zain mengizinkan Zahra setelah bernegosiasi beberapa hal yang harus dilakukan Zahra untuk suaminya.


“Kamu ikut kan, Nia?” tanya Ulfa yang kini fokusnya beralih kepada Tania.


“Emh, aku ikut gimana nantinya Zahra saja,” jawab Tania.


Ulfa dan Ria menatap tajam ke arah Ulfa menunggu jawaban atas pertanyaan yang selama ini mengusik mereka berdua, kenapa Tania selalu bersama Zahra. Ulfa dan Ria mengira Tania dan Zahra adalah tetangga karena mereka berdua berangkat dan pulang selalu bersama.


 “Emh, itu ...,”


“Ulfa, ayo berangkat sekarang sebelum suamiku berubah pikiran lagi,” ucap Zahra yang tanpa sengaja juga menolong Tania yang kebingungan menjawab pertanyaan dari Ulfa.


...*****...


Zahra terlihat bahagia saat pergi bersama ketiga sahabatnya dan berkeliling mall di pusat kota. Mereka memasuki toko demi toko meskipun hanya sekedar melihat-lihat saja.


Saat ingin membayar belanjaannya di salah satu toko pakaian, Zahra dibuat bingung karena pelayan toko mengatakan bahwa Zahra tidak perlu membayar belanjaannya karena sudah dibayar.


Hal tersebut berulang ketika ia belanja beberapa aksesoris dan barang lainnya di toko lain. Zahra yakin itu semua karena ulah suaminya, Ulfa dan Ria pun terlihat kebingungan dan bertanya-tanya siapa sosok suami Zahra yang tak pernah diceritakan tersebut.


“Zahra, kapan kamu akan mengajak suami kamu dan memperkenalkannya kepada kita?” tanya Ulfa tak sabar, ia sangat penasaran.

__ADS_1


“Iya Zahra, aku juga ingin melihat seperti apa suami kamu yang sangat baik itu,” imbuh Ria.


“Emh, kapan-kapan ya. Sekarang kita cari tempat makan dulu, ya. Aku sudah sangat lapar,” ucap Zahra mengalihkan perhatian kedua sahabatnya.


Ulfa dan Ria tidak memaksa Zahra untuk bercerita, mereka menghargai keputusan Zahra yang belum siap mengenalkan suaminya.


Setelah menemukan tempat makan yang tepat, mereka berempat memesan berbagai menu dan kembali saling bertukar cerita sambil menikmati pesanan mereka.


“Oh ya, kapan-kapan kalian main ke rumahku lagi ya!” ajak Ulfa.


Ria sering berkunjung ke rumah Ulfa bahkan tak jarang ibunya menyuruh Ria untuk menginap di rumah Ulfa. Sedangkan Zahra dan Tania hanya pernah berkunjung satu kali saja, itu pun hanya sebentar karena Zain terus menyuruhnya untuk pulang ke rumah.


“Nanti kalau suamiku mengizinkan ya,” jawab Zahra.


“Atau kita saja yang main ke rumah kamu, Zahra. Sekalian kita mau melihat suami kamu yang begitu pelit memberikan izin untukmu,” usul Ulfa.


“Eh, itu-” Zahra bingung untuk menolaknya, namun ia juga tidak bisa menerima usul dari Ulfa. Ia ingat peraturan dari suaminya bahwa tidak mengizinkan siapa pun masuk ke dalam mansion tanpa izin darinya.


“Pasti masalah izin dari suami kamu lagi,” tebak Ulfa yang melihat keraguan dari wajah Zahra.


“Maaf ya,” sesal Zahra.


“Tidak apa-apa kok, Zahra. Kami mengerti posisi kamu sebagai seorang istri harus menghormati dan mematuhi perintah suami selama itu dalam hal kebaikan. Jangan diambil hati perkataan Ulfa, dia memang suka ceplas-ceplos kalau bicara,” ucap Ria.


“Hehe, maaf ya ... Zahra,” ucap Ulfa merasa bersalah karena membuat Zahra bersedih.


Mereka berempat kembali menikmati menu pesanan mereka, lagi-lagi Ulfa dan Ria dibuat terbengong ketika pelayan restoran mengatakan bahwa pesanan mereka sudah dibayar.


Ria dan Ulfa semakin dibuat penasaran akan sosok suami sahabatnya itu. Seberapa kaya suami Zahra, apa pekerjaannya, dan tentunya bagaimana perawakannya.


Namun, Ulfa dan Ria begitu kagum dengan Zahra yang tidak terlihat begitu mencolok jika dia berasal dari keluarga kaya.


Zahra masih sama seperti dulu, berpakaian sederhana namun lebih berkelas dari sebelumnya. Zahra juga berangkat ke kampus dengan mobil sederhana sehingga tidak menjadi perhatian mahasiswa lainnya.


Di tempat parkir, Zahra dan Tania berpisah dengan Ulfa dan Ria yang pulang bersama karena satu arah.


Ketika hendak membuka pintu mobilnya Zahra mendengar seseorang memanggil-manggil namanya, ia pun menoleh dan terkejut ketika melihat orang yang memanggilnya berjalan ke arahnya.

__ADS_1


“Hai,” sapa orang tersebut dengan senyum di wajahnya dan langsung memeluk tubuh Zahra.


“Ka-kamu.”


__ADS_2