
Ruangan Berukuran 4 x 5 meter tersebut kini telah ramai dengan kehadiran anak-anak lainnya, mereka saling berebut membuka bingkisan yang dibawa oleh Ny. Amara. Sedangkan para orang dewasa duduk berjajar mengawasi tingkah lucu mereka.
Bingkisan yang berisi banyak mainan dan pakaian baru serta berbagai macam makanan ringan sudah berpindah ke tangan anak-anak tersebut.
“Jangan berebut anak-anak, ingat kalian harus saling berbagi dengan saudara kalian yang lainnya, mengerti!” perintah Sofia.
“Iya, Bunda.”
“Huft, maaf ya Bu, seperti inilah keseharian di rumah ini. Jauh dari kata tenang,” ucap Sofia kepada bi Nur dengan senyum di wajahnya.
“Ada berapa anak yang tinggal di sini, Bun. Eh maaf, saya bolehkan memanggil ibu dengan panggilan bunda?” tanya Hani yang merasa panik karena tanpa izin memanggil Sofia dengan sebutan bunda seperti anak-anak lainnya.
“Tidak apa-apa, Nak. Semuanya memanggil saya dengan sebutan bunda, bahkan tuan Zain dan nak Barra juga memanggil saya bunda.”
Bi Nur dan Hani semakin dibuat terkejut mendengar penuturan dari Sofia. Ada begitu banyak hal yang tersembunyi dari kehidupan majikan mereka.
“Tanyakan saja jika ada yang ingin kamu ketahui, Bi.” Ny. Amara tahu bahwa bi Nur beserta putrinya pasti merasa bingung dengan semua ini.
“Em, maaf Nyonya. Tidak sopan jika saya yang hanya seorang pelayan mencari tahu tentang kehidupan pribadi Anda.”
“Aku tidak pernah menganggapmu sebagai pelayan Bi. Bahkan tidak cukup untukku menebus pengorbanan suami kamu dengan apa pun yang aku punya di dunia ini,” ucap Ny. Amara tangannya sibuk membelai rambut gadis kecil yang duduk di pangkuannya. Sedangkan dua balita lainnya sibuk dengan anak-anak lainnya.
Ny. Amara teringat ketika itu, di saat dirinya ingin menyusul suaminya ke China dan memberi kejutan di hari ulang tahun suaminya, ia malah dibuat terkejut dengan memergoki sang suami tengah bermalam dengan seorang gadis muda di dalam apartemennya.
Cklek.
Setelah menekan pasword pintu apartemennya, seorang wanita dengan pakaian tertutup lengkap dengan mantel musim dinginnya melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah yang gelap itu, tanpa menyalakan lampu terlebih dahulu ia berjalan ke arah kamar utama dengan sebuah kue ditangannya.
Ny. Amara tersenyum melihat pintu kamar tersebut sedikit terbuka, dengan pelan ia membuka pintu kamar itu dengan bahunya.
“Happy birthday, Honey!” seru Ny. Amara tanpa menyadari keadaan sekitarnya karena terlihat remang-remang.
Bruk!
Kue di tangan Ny. Amara seketika terjatuh bersamaan dengan terbukanya selimut yang membungkus orang di dalamnya.
“Ko-koko ....” Ny. Amara tergagap karena terkejut melihat suaminya tidur bersama seorang wanita.
“Sayang!”
Ny. Amara membalikkan tubuhnya bergegas meninggalkan tempat itu dan mengabaikan panggilan suaminya. Ia mengabaikan rasa lelahnya karena penerbangan dari Jakarta ke Hongkong selama hampir 5 jam belum ditambah dengan perjalanan dari bandara menuju apartemen sekitar satu jam.
Ny. Amara masuk ke dalam lift dan segera menekan tombol lantai dasar agar tidak dapat di kejar oleh suaminya. Sesampainya di lobi, ia bergegas keluar dan mengabaikan sapaan dari petugas resepsionis di sana.
__ADS_1
Ny. Amara mencegat taxi berwarna merah di pinggir jalan dan masuk kedalamannya.
“Ke bandara, Pak!” ucapnya dalam bahasa Cantonese.
Hanya satu yang ada dikepalanya, yaitu pulang. Pulang ke rumahnya, tanah airnya, ia benci dengan negara ini. Bukan dengan negaranya, lebih tepatnya dengan kenangannya.
“Bodoh! Seharusnya aku tidak datang ke negara ini, seharusnya aku tidur saja di rumah! Dasar pria brengs*k!” racaunya yang duduk di kursi belakang, untung saja ia berbicara menggunakan bahasa Indonesia, jadi sang sopir tidak mengerti apa yang diucapkannya.
“Tapi tidak apa, dengan begini aku mengetahui kelakuan bejatnya di belakangku!”
Ny. Amara memesan tiket untuk pulang saat itu juga, ia tidak peduli dengan harga tiket yang berlipat ganda karena membelinya dadakan. Untung saja ada bangku yang tersisa walau hanya mendapatkan kelas ekonomi tak masalah bagi Ny. Amara asal bisa cepat-cepat meninggalkan negara itu.
Waktu menunjukkan pukul 23.30, satu jam lagi pesawat akan berangkat. Ny. Amara bergegas melakukan chek in penerbangan.
Tepat sebelum Ny. Amara menghilang di balik kerumunan orang-orang yang juga ingin chek in, suaminya alias Malik Ibrahim (nama Indonesianya) datang bersama wanita yang tadi bersamanya.
Pukul 05.20 pesawat yang ditumpangi Ny. Amara berhasil mendarat dengan selamat, sebelumnya Ny. Amara sudah mengabari sopirnya untuk menjemputnya.
Di sepanjang perjalanan Ny. Amara hanya terdiam dengan wajah pucatnya. Tiba-tiba ia meminta sopirnya untuk menepikan mobilnya dan bergegas turun dari mobil.
Melihat nyonyanya berjalan sempoyongan di pinggir jalan tak tentu arah, sang sopir mengikutinya dari belakang.
“Nyonya awas!” pekik sopir tersebut dan mendorong tubuh Ny. Amara ke tepi jalan.
Brak!
Tiiinn!
Dentuman dari dua buah benda mati yang beradu mengejutkan seluruh manusia yang beraktivitas di jalan pagi itu. Suara ramai susul-menyusul dengan decitan rem kendaraan, klakson, serta riuh teriakan orang-orang.
“Astaghfirullah!”
“Allahu Akbar!”
“Innanilah!”
Mobil box berwarna kuning banting setir sehingga menabrak batang pohon di pinggir jalan. Mobil Avanza hitam dari arah berlawanan terguling di tengah jalan. Empat sampai lima mobil dan motor juga saling berbenturan di belakangnya, tabrakan beruntun terjadi hanya dalam waktu beberapa detik saja.
Warga sekitar bergegas menolong korban yang masih selamat, beberapa ada yang memanggil polisi dan ambulans.
Kecelakaan yang merenggut nyawa sopir Ny. Amara yang tidak lain adalah suami dari pelayannya, bi Nur. Sedangkan Ny. Amara yang tengah mengandung harus kehilangan bayi yang belum sempat terlahir di dunia ini yang ia beri nama Ziya Qamara yang artinya cahaya bulan, tanpa embel-embel nama sang ayah.
“Enda, Enda, mau itu!” Balita yang di pangkuan Ny. Amara menggoyangkan lengan Ny. Amara karena menginginkan sesuatu dan menyadarkan Ny. Amara dari lamunannya.
__ADS_1
“Mau apa, Sayang?” tanya Ny. Amara dan meraih barang yang diinginkan sang balita.
“Nyonya, semua yang terjadi sudah kehendak dari Allah. Saya ikhlas menerima semua ini, berdamailah dengan masa lalu Anda Nyonya. Anda berhak untuk hidup bahagia,” ucap bi Nur panjang lebar.
Ny. Amara mengalihkan pandangannya menatap ke arah bi Nur membuat wanita itu merasa gelisah, takut jika ia salah berucap karena baru kali ini ia berani berbicara panjang bahkan sampai memberi saran kepada nyonyanya.
“Ma-maaf Nyonya,” lirih bi Nur lalu menundukkan wajahnya enggan menatap wajah Ny. Amara.
“Kenapa kamu meminta maaf Bi, justru aku yang harus berterima kasih kepada Bibi karena tidak membenciku dan Zain, malahan Bibi merawat Zain kecil ketika aku sendiri sebagai ibunya selalu menghindar darinya.”
“Kami tidak pernah membenci Nyonya ataupun tuan Zain, jika bukan karena kebaikan Nyonya, mungkin kehidupan kami tidak seberuntung sekarang,” ujar Bi Nur.
‘Saya tahu betapa berat ujian yang Anda alami saat itu nyonya, bahkan putra Anda bagaikan kopian orang yang telah melukai Anda,’ lanjutnya dalam hati.
“Tadi kamu tanya apa, Han?” tanya Ny. Amara beralih menatap ke arah Hani.
“Eh, i-itu Nyonya, berapa orang yang tinggal di sini?”
“Berapa Sof?” tanya Ny. Amara melempar pertanyaan kepada Sofia.
“Mungkin 20an anak jika tidak dengan mereka yang tinggal di luar karena jauh dari kampus mereka,” lanjut Ny. Amara.
“5 anak yang masih SD, 4 anak yang masih SMP, 4 anak yang masih SMA. Dan 3 balita tadi, jumlahnya 16 anak yang masih di bawah umur. 6 orang dewasa yang membantu saya di sini, jika pagi mereka sibuk, 2 orang mengajar TK di dekat sini dan 4 lainnya masih aktif kuliah, sedangkan belasan lainnya mengekos di luar karena jauh dari tempat mereka kuliah,” jelas Sofia membuat bi Nur dan Hani menganggungkan kepala mereka.
“Selama ini aku tinggal di rumah ini, Bi. Kamu tahu sendirikan alasan aku tidak ingin berlama-lama tinggal di mansion,” jelas Ny. Amara.
“Ny. Amara dulu membangun rumah di sekitar sini, beliau melihat panti ini yang kurang layak huni. Lalu Ny. Amara mengambil alih atas kepemilikan panti dan membangun ulang tempat ini, dan memberikan nama Ziya’s House,” jelas Sofia yang melihat raut wajah bi Nur dan Hani masih kebingungan namun enggan untuk bertanya.
“Jika mau, kalian boleh melihat-lihat tempat ini,” tawar Ny. Amara. “Ajak mereka berkeliling Sof, aku ingin bersama cucu-cucuku.”
Mendengar perkataan dari Ny. Amara mereka bertiga berjalan meninggalkan Ny. Amara yang kembali sibuk dengan anak-anak itu.
Sofia mengajak mereka untuk ke belakang, melewati lorong yang terlihat begitu indah dengan berbagai lukisan dan karya seni lainnya yang menghiasi dinding. Mungkin semua ini adalah hasil karya anak-anak panti.
Setelah melewati lorong tersebut, mereka tiba di luar ruangan. Bi Nur dan Hani dibuat tercengang dengan pemandangan di depan mereka, terdapat sebuah rumah mewah 2 lantai dengan halaman yang luas dan juga terdapat taman bermain di sana.
“Itu adalah rumah Ny. Amara, dan tempat tadi adalah panti kecil yang kini hanya di jadikan ruang tamu dan di sebelah kiri kanan lorong yang kita lewati tadi dijadikan perpustakaan dan kantor” jelas Sofia.
“Setelah Ny. Amara resmi tinggal di rumah ini, kami semua juga diajak tinggal di sana, tuan Zain mendesain sedemikian rupa, mengelilingi tempat ini dengan tembok tinggi sehingga rumah ini tidak terlihat dari luar. Akses satu-satunya untuk ke sini adalah ruang tamu tadi.”
Bi Nur semakin dibuat kagum akan kemurahan hati nyonyanya, ia masih ingat ketika Ny. Amara memutuskan untuk meninggalkan mansion utama setelah kejadian itu, di mana mendapati suaminya berkhianat dan juga harus kehilangan putrinya. Di saat bersamaan ada kabar bahwa sang suami mengalami kecelakaan pesawat bersama wanita simpanannya ketika hendak mengejar Ny. Amara ke Indonesia, namun Ny. Amara tidak ingin mengabaikan mansion tersebut karena peninggalan dari mendiang orang tuanya.
Setelah mereka berkeliling Ny. Amara segera mengajak mereka untuk mengunjungi tempat selanjutnya, meskipun Sofia dan anak-anak membujuk Ny. Amara untuk makan siang bersama, namun Ny. Amara dengan halus menolaknya.
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir, jangan lupa like, comment dan vote ya ....
Maaf untuk bab sebelumnya terlalu singkat ya, ini othor sambung deh, 🤭