Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 104. Teman Lama


__ADS_3

“Ka-kamu.” Zahra terkejut mendapat pelukan mendadak dari orang yang tiba-tiba mendatanginya.


“Hai, Wa. Apa kabar? Udah lama gue cari keberadaan lo, dan gak nyangka kita malah ketemu disini. Gue kangen banget sama lo,” ucap Rara setelah melepaskan pelukannya.


Zahra masih terpaku di tempatnya, ia masih mencerna apa yang terjadi kepadanya.


“Maafin gue ya, Wa. Dulu gue jahatin lo, tapi gue gak pernah bermaksud begitu kok, sumpah,” ucap Rara dengan wajah penuh penyesalan.


“Emh,” Zahra bingung ingin merespon sahabat lamanya itu.


“Gue nyesel udah dengerin hasutannya Bastian, Wa. Maafin gue ya, lo mau kan maafin gue, Zahwa?” tanya Rara, ia menangis sembari tangannya menggenggam tangan Zahra dengan erat.


“Emh, Ra ... udah jangan nangis dong, gak enak dilihat banyak orang.” Zahra menatap ke sekitar, benar saja banyak pasang mata menatap ke arah mereka.


“Gue mau lo maafin gue dulu! Kalo gak gue bakal terus nangis dan memohon sama lo, kalo perlu gue rela sujud deh di kaki lo!”


Zahra semakin terkejut ketika Rara benar-benar menjatuhkan lututnya dan bersimpuh tepat di depan kakinya, bahkan semakin banyak orang berbisik-bisik dan menatap ke arah mereka.


Tania menatap dengan waspada dan siap berjaga-jaga tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi kepada nona mudanya.


“Bangun, Ra! Semua orang pada melihat ke arah kita.” Zahra mencoba membantu Rara untuk kembali berdiri, namun Rara tidak mau berdiri sebelum Zahra memaafkannya.


“Rara! Dengerin aku, aku sudah lama memaafkan kamu, sekarang kamu berdiri ya! Jangan seperti ini lagi, tidak enak dilihat banyak orang.”


Rara mendongakkan kepalanya menatap wajah Zahwa. “Benaran lo udah maafin gue, Wa?”


“Iya, cepat berdiri!” perintah Zahra lalu membantu Rara untuk berdiri.


Rara kembali menggenggam tangan Zahra dan tersenyum bahagia. “Thanks, Wa. Gue tau lo pasti akan memaafkan gue, lo gak mungkin membenci gue kan, Wa? Kita bersahabat sejak dulu. Maafin gue, karena Bastian gue sempat berpikir buruk tentang lo.”


“Aku tidak pernah membenci kamu, Ra. Aku juga sudah melupakan kejadian itu, semuanya sudah berlalu biarkan menjadi pelajaran untuk kita semua.”


“Zahwa,” panggil Rara lirih dengan mata berkaca-kaca, ia lalu kembali menarik Zahra ke dalam pelukaannya.


“Makasih untuk semuanya, gue ingin kembali menjadi sahabat lo, Wa. Lo mau kan kembali menerima gue menjadi sahabat lo?”

__ADS_1


Zahra menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Aku selalu menganggap kamu sebagai sahabat aku, Ra.”


Sekitar 15 menit Zahra dan Rara duduk bersama di bangku taman tak jauh dari tempat parkir, Rara banyak bercerita tentang dia yang menyadari kesalahannya.


“Gue udah tahu semuanya tentang Bastian, Wa. Maafin gue ya ...,” Rara berulang kali meminta maaf kepada Zahra.


“Zahra, sudah waktunya kita pulang,” ucap Tania yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan nonanya dan teman lamanya itu.


“Oh, sampai lupa. Maaf ya Ra, aku pulang dulu,” pamit Zahra.


“Lain kali kita masih bisa ketemu kan, Wa?”


“Iya, Ra.”


Setelah berpamitan Zahra dan Tania kembali ke tempat dimana mobil mereka terparkir.


“Kita langsung pulang ke mansion Nona, tidak perlu menjemput Ny. Amara di Ziya’s House. Beliau sudah pulang terlebih dahulu,” jelas Tania.


“Baiklah.”


Semenjak Zahra kembali aktif dengan kuliahnya, Ny. Amara merasa kesepian berada di mansion dan memutuskan untuk sering berkunjung kembali ke rumah lamanya. Namun malam harinya beliau kembali pulang ke mansion utama tidak seperti dulu yang menetap di Ziya’s House.


Zahra mengucapkan salam dan berlari kecil tanpa melihat keadaan di sekitarnya dan dikejutkan keberadaan suaminya yang duduk manis di sofa ruang tamu menunggu kedatangannya.


“Sudah pulang?” tanya Zain datar.


Zahra menghentikan langkahnya dan perlahan memutar tubuhnya menghadap sang suami yang sudah berdiri di belakangnya.


“Emh, Sayang ... kamu sudah pulang?” tanya Zahra balik mengabaikan pertanyaan dari Zain yang ditujukan kepadanya tadi. “Tumben kamu pulang lebih awal.”


“Dari mana kamu?”


“Dari mall, tadi kan aku sudah memberitahu kamu, Sayang.”


“Setelah itu?” selidik Zain dan menatap tajam ke arah sang istri.

__ADS_1


“Emh,” Zahra ragu untuk menjawabnya.


“Kenapa kamu terlambat? Siapa yang kamu temui?”


“Sayang, maaf. Tadi aku bertemu dengan sahabat lamaku, jadinya ya ... gitu deh, maaf ya,” jawab Zahra menampilkan wajah memelasnya.


Zahra tahu bahwa dirinya bersalah karena terlambat pulang, meskipun hanya hitungan menit saja namun hal itu sangat tidak di sukai oleh suaminya.


Zain semakin menatap lekat ke manik mata istrinya, merasa belum puas dengan penjelasan yang di lontarkan sang istri.


“Rara, pacarnya Bastian.”


“Sayang, Rara anaknya baik kok, dia sudah meminta maaf dan menyesali perbuatannya dulu. Jadi jangan dipermasalahkan lagi ya,” bujuk Zahra merasa takut dengan sepasang mata tajam milik suaminya.


“Hmm, sudahlah. Aku ingin mandi, tolong siapkan air dan pakaian ganti.”


“Ok, siap laksanakan, Tuan!” jawab Zahra penuh semangat.


 “Ck! Dasar kamu ya.” Zain merasa gemas dan mengacak rambut Zahra hingga berantakan.


“Tunggu sebentar, aku akan segera menyiakannya.”


Zain memandang kepergian Zahra, setelah memastikan istrinya sudah naik ke lantai atas ia memanggil Tania untuk menghadapnya.


“Tuan muda memanggil saya?” tanya Tania yang sudah berdiri menghadap majikannya.


“Hmm,”


“Tadi nona Zahra bertemu dengan Rara, dan ....”


Tania menceritakan detail pertemuan antara Zahra dan Rara tanpa terlewat sedikit pun kepada Zain.


“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan terhadap wanita itu, bukan?”


“Saya tahu, Tuan. Saya akan menjaga nona Zahra dan akan mengawasi Rara saat kembali bertemu dengan nona Zahra.”

__ADS_1


“Hmm, pergilah. Tugas kamu hari ini selesai.”


“Terima kasih, Tuan. Saya permisi dulu.”


__ADS_2