Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 58. Hukuman untuk Zahra


__ADS_3

Brak!


Zain menutup pintu kamar dengan cara menendangnya cukup keras, karena tangannya sibuk menopang beban tubuh istrinya. Ia membawa Zahra langsung menuju ke walk in closet dan mendudukkannya di sofa.


Zahra duduk diam sambil mengamati pergerakan suaminya yang sedang mengambil sesuatu di rak pakaiannya. Ia tahu suaminya sedang marah dan memilih untuk diam adalah pilihan terbaik untuknya.


“Kamu tahu apa kesalahanmu?” tanya Zain dingin tanpa menoleh ke arah istrinya.


Dengan hati waswas, Zahra menggelengkan kepala pelan meskipun suaminya tidak melihatnya. Ia benar-benar tidak menyadari apa kesalahannya.


“Poin nomor dua! Selalu izin dan memberi kabar kepada suami ketika ada kegiatan apa pun itu! Kamu melupakan poin sepenting itu?” Zain menaikkan suaranya dan mengingatkan istrinya tentang isi peraturan yang telah dibuat olehnya.


“Baru beberapa hari lalu kamu sendiri yang menulisnya dengan jemarimu itu, Zahra!” geram Zain.


‘Hah, mati aku! Kenapa aku bisa melupakannya, bahkan dia mengingatnya dengan baik dan sangat detail,’ batin Zahra menyesali kecerobohannya.


“Di mana ponselmu?”


“Ehm, aku tidak tahu,” lirih Zahra, ia meninggalkan ponselnya di rumah dan lupa di mana ia menyimpannya.


“Kamu sengaja ingin menguji kesabaranku?” tanya Zain lalu berjalan ke arah istrinya dengan menenteng sebuah gaun yang sudah ia pilih untuk Zahra.


“A-aku tidak sengaja, Sayang.” Zahra mencoba untuk menenangkan suaminya, walau dia tahu itu tidak akan berhasil.


“Pakailah ini dan jangan membantah! Jangan merangkapnya dengan handuk kimono, aku tunggu di luar.”


Zain meninggalkan istrinya begitu saja setelah menyodorkan gaun merah pilihannya ke tangan Zahra.


Glek!


Zahra menelan ludahnya kasar. “Kenapa menyuruhku hanya memakai pakaian dalam? Dasar tuan arogan tak berperasaan!” kesal Zahra, terpaksa ia harus memakainya jika tidak ingin mendapat hukuman lebih buruk dari suaminya.


Zahra keluar dengan perasaan aneh, jantungnya kembali berdebar-debar, tiba-tiba ia merasa semakin grogi setelah tubuhnya ditarik ke dalam pelukan suaminya.


“A-aku tidak nyaman dengan pakaian ini,” keluh Zahra lirih, apalagi tangan suaminya mulai bergerak liar di tubuh bagian belakangnya.


“Sudah aku katakan nanti kamu akan terbiasa, Honey. Bahkan aku akan membelikan lebih banyak lagi baju seperti ini dengan berbagai model yang berbeda. Kamu akan memakainya setiap malam, Honey!”

__ADS_1


Zain menuntun istrinya ke sofa dengan posisi masih dalam pelukannya, lalu ia memangku Zahra dan memeluk erat tubuh mungil itu dari belakang.


“A-apa yang kamu lakukan?” gagap Zahra merasakan napas hangat suaminya yang berhembus menyentuh kulit lehernya, pasalnya pakaian yang ia pakai sangat tipis dan transparan.


“Memberikanmu hukuman!” Zain mengabsen setiap inci punggung dan leher belakang istrinya, membuat Zahra merasa tidak nyaman dan berjengit kegelian namun hal tersebut membuat Zain semakin menggencarkan aksi nakalnya.


Tak berselang lama, aksinya terhenti ketika Zain merasakan sesuatu menusuk di lengannya, ia mendapati tangan istrinya bertengger di sana dan mencengkeram kuat kedua lengannya. Zain mengalihkan pandangan menatap wajah Zahra yang terlihat pucat dengan mata yang terpejam rapat.


Merasa tidak tega, Zain menggendong tubuh Zahra ke tempat tidur dan membaringkannya di atas kasur.


Cup!


Zain mencium bibir istrinya sedikit lebih lama, membuat Zahra menegang. Bahkan ia sering sekali mendapat serangan mendadak dari suaminya itu, namun kali ini berbeda dari biasanya. Biasanya Zain hanya memberikan kecupan singkat saja, kali ini ia sedikit ******* bahkan menggigit bibir bawah istrinya.


“Hukuman karena bibir ini sangat nakal. Kamu mau menjadi seorang janda dengan menyumpahi suamimu ini mati?” kesal Zain setelah melepas pungutannya di bibir sang istri, ia teringat ucapan istrinya di mobil tadi.


Tuk!


“Bernafas, Honey!” Zain menjitak kening Zahra.


“Eh, emh-” Zahra terlihat salah tingkah dan wajahnya memerah membuat Zain gemas melihatnya.


“Tidurlah!” ucap Zain sebelum pergi ke kamar mandi untuk mendinginkan suhu tubuhnya.


Hampir selama satu jam Zain melakukan aktivitasnya di dalam kamar mandi, entah apa yang sedang ia kerjakan di dalam sana.


Zain terlihat lebih segar saat keluar dari kamar mandi. Dengan hanya memakai handuk yang melilit tubuh bawahnya, ia berjalan ke arah tempat tidur berniat untuk meminta Zahra membantu mengeringkan rambutnya. Namun Zain harus mengurungkan niatnya karena melihat istrinya sudah terlelap ke dalam tidurnya.


 “Huft! Sabar Zain, sabar!” peringat Zain untuk dirinya sendiri.


Setelah berpakaian dan mengeringkan rambutnya, Zain membaringkan tubuhnya di sebelah istrinya. Ia menarik tubuh Zahra ke dalam pelukannya dan ikut memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa amat lelah.


Baru saja 10 menit berlalu, Zain merasa semakin tidak tenang dengan dirinya sendiri, ia melepaskan pelukan istrinya dan berpindah posisi membelakangi Zahra.


Zain semakin bergerak gelisah dalam tidurnya, ia bangkit duduk dan meraih gelas berisi air di atas nakas samping ranjangnya lalu meminum air itu dengan rakus hingga habis tak bersisa.


Merasa tak membaik, Zain pergi ke kamar mandi membasuh wajahnya dengan air dingin, namun hal tersebut hanya bertahan sebentar saja.

__ADS_1


“Honey ...,” Zain mencoba membangunkan istrinya, ia dengan sengaja mengecup kening Zahra, lalu berpindah ke mata istrinya yang masih terpejam secara bergantian.


Belum cukup mengusik tidur wanita itu, Zain mengabsen setiap inci wajah istrinya dengan kecupan-kecupan singkat yang diberikannya. Tangannya mengusap lembut wajah Zahra lalu turun ke leher dan lengan atas istrinya membuat Zahra merasa tidak nyaman dan berjengit dalam tidurnya.


Zahra mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Baru sebentar ia tertidur dan harus terbangun karena ulah jahil suaminya, meski terasa berat ia memaksa kelopak matanya agar terbuka lebar.


“Honey ....”


Hal pertama yang dilihat oleh Zahra adalah wajah tampan suaminya yang sedang memamerkan senyuman manisnya.


“Kenapa membangunkanku?” tanya Zahra dengan suara serak khas bangun tidur, namun terdengar sangat menggoda di telinga Zain.


“Aku mau itu,” ucap Zain ambigu membuat Zahra mengerutkan dahinya bingung.


“Apa?”


“Itu, duren!”


“Hah, malam-malam mana ada durian, Sayang!”


“Ck! Maksudku aku mau kamu, Honey!” ucap Zain agak kesal.


Zahra mengerti arah pembicaraan suaminya, disisi lain ia tahu bahwa dirinya salah, sampai kapan ia akan menghindar dan menyiksa suaminya, namun ia sendiri juga masih merasa takut.


Melihat istrinya yang terdiam, Zain mulai merayu dan menenangkan istrinya. Memberikan pemahaman untuk Zahra agar melawan ketakutannya.


“Aku janji akan pelan-pelan, Honey. Aku tidak akan menyakitimu,” bujuk Zain.


Zahra dengan ragu menganggukkan kepalanya, ia mulai terhipnotis dengan ucapan suaminya yang terdengar sangat menenangkan hatinya.


Melihat kode dari istrinya, dengan wajah bahagia Zain langsung menjalankan aksinya, ia menarik selimut menutup tubuh keduanya hingga hilang di balik selimut tersebut.


Dan yang terjadi selanjutnya...


Hanya mereka yang tahu... othor gak mau ngintip, dosa 🙈


*****

__ADS_1



__ADS_2