
Pagi ini suasana di meja makan cukup gaduh, Zain yang bersikeras ingin mengantarkan Zahra berangkat kuliah karena sudah tidak bisa menahan kecemburuannya.
Namun Zahra tetap menolak dengan alasan yang sama, ia tidak ingin menjadi sorotan mahasiswa lain dan pastinya semua orang akan mendekatinya demi keuntungan pribadi masing-masing. Akan sulit lagi bagi Zahra untuk mencari teman yang benar-benar tulus jika statusnya sudah terbongkar.
“Zain, jangan merengek seperti anak kecil! Percayalah menantu mommy tidak akan berpaling darimu!” sindir Ny. Amara yang merasa terganggu dengan kebisingan yang putranya lakukan.
“Mom, kenapa Mommy tidak mendukungku? Mommy mau menantu Mommy digoda sama buaya-buaya di luaran sana?” Zain merasa kesal karena ibunya bahkan tidak mendukungnya.
“Lalu, apa Zahra hanya boleh digoda oleh buaya keramat penghuni rumah ini?” ejek Ny. Amara membuat Zain semakin kesal.
“Mom!” pekik Zain.
“Apa? Mommy ada di depan kamu! Tidak perlu teriak-teriak!”
Zain meletakkan sendoknya selera makannya menghilang begitu saja, sedangkan Zahra sekuat tenaga menahan tawanya takut jika suaminya akan semakin kesal dan tentunya yang akan terkena imbasnya adalah Ali dan beberapa karyawan kantor yang berinteraksi langsung dengan Zain.
“Sudahlah Zain, apa kamu tidak percaya padaku? Baru beberapa bulan aku kuliah di sana, tolonglah jangan mempersulitku,” ucap Zahra.
“Semua orang juga tahu kalau aku sudah menikah, Sayang. Tidak akan ada yang berani mendekatiku,” lanjut Zahra sebelum suaminya balas mendebatnya.
“Jangan bohong! Buktinya buaya satu itu terus saja mengejarmu, Tania jadi saksinya!” seru Zain tidak mau mengalah.
Tania yang sedari tadi enggan menyentuh sarapannya karena perdebatan antara majikannya itu semakin merasa menciut karena namanya ikut diseret dalam perselisihan antar suami istri itu.
“Huft!” Zahra menghela napasnya pelan, jika bukan dirinya yang mengalah maka suaminya tidak akan dengan mudah untuk melepaskannya.
“Sudahlah, lihat Ali dan Tania tidak menyentuh makanan mereka karena takut melihat wajah kamu, Zain.”
Zahra melirik sekilas ke arah Ali dan Tania, ia merasa kasihan dengan mereka berdua yang selalu terseret dalam kehidupannya. Apalagi jika suasana hati suaminya sedang memburuk, Ali orang pertama yang akan mendapatkan sial.
“Cepat makan! Jangan berdebat di depan makanan lezat ini!” tegur Ny. Amara yang hampir menyelesaikan sarapannya, beliau sama sekali tidak terpengaruh dengan drama yang bahkan hampir setiap hari menjadi tontonannya.
“Buka mulut kamu, aaa ....” Zahra menyodorkan makanan ke mulut Zain, ia tahu suaminya pasti tidak mau menyentuh makanannya lagi kecuali Zahra yang menyuapinya.
Hap.
__ADS_1
Zain menerima suap demi suap nasi dari tangan istrinya, hal tersebut membuat Ny. Amara menggelengkan kepalanya merasa putranya kini sudah jauh berubah.
Ny. Amara menyelesaikan sarapannya dan sebelum pergi beliau menyempatkan diri untuk mengejek putranya. “Ck! Manja sekali kamu, Zain. Kapan mau memiliki bayi jika sikap kamu saja seperti bayi! Kasihan nanti menantu mommy repot harus mengurus dua bayi sekaligus.”
“Mom- mmm” Zain tidak melanjutkan ucapannya karena Zahra kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
“Cepat makan nanti keburu dingin tidak enak lagi rasanya,” ucap Zahra sengaja agar suaminya tidak melanjutkan dramanya.
Setelah berbagai negosiasi dan berbagai macam alasan yang Zahra janjikan, akhirnya Zain bisa diluluhkan dan tidak memaksa lagi untuk mengantar dan mendatangi kampus istrinya
Zahra dan Tania berangkat kuliah seperti biasa, Zahra kembali ceria setelah tadi dibuat pusing oleh suaminya.
“Hai Zahra, Hai Nia,” sapa Ria yang kebetulan berpapasan dengan mereka berdua.
“Hai Ria,” balas Zahra dan Tania bersamaan.
“Dimana Ulfa, tumben kamu tidak bareng sama dia?” tanya Zahra karena tidak melihat keberadaan Ulfa.
“Ulfa hari ini tidak ada jadwal kuliah, dan kebetulan ada acara keluarga di luar kota,” jawab Ria.
Di antara mereka hanya Ulfa yang tidak satu jurusan dengan mereka, dan hanya beberapa kali bertemu dalam satu kelas yang sama.
“Pagi, Zahra,” sapa Aldebaran yang entah muncul dari mana.
“Pagi,” jawab Zahra tanpa mengalihkan matanya dari buku yang sedang dibacanya.
“Boleh gabung? Rajin benar baca bukunya,” ucap Aldebaran dan duduk di kursi depan Zahra.
Zahra hanya diam tak menanggapi perkataan kakak tingkatnya itu, namun Aldebaran tidak pantang menyerah.
“Kenapa kamu cuek banget sih? Aku hanya ingin mengenal kamu, Zahra.”
“Maaf Kak, sebaiknya Kakak jangan mengganggu aku lagi,” peringat Zahra masih dengan nada sopan.
“Kenapa? Apa karena kamu mengatakan bahwa kamu sudah menikah? Aku tidak akan percaya, itu hanya alasan kamu kan agar aku tidak mengejar kamu lagi.” Aldebaran kekeh bahwa Zahra hanya membohonginya.
__ADS_1
“Terserah apa kata Kakak, aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Permisi!”
Zahra menyudahi bacaannya dan berdiri karena merasa tidak nyaman dengan kehadiran Aldebaran.
“Aku tidak akan pernah percaya dengan ucapan kamu yang tanpa bukti itu, Zahra. Dan aku juga tidak akan berhenti untuk mengejar kamu!” tantang Aldebaran.
“Kamu lihat baik-baik ya! Ini buktinya, aku sudah menikah dan bersuami. Jadi aku mohon, tolong jangan mendatangi aku lagi.” Zahra menunjukkan cincin nikah di jari manisnya.
“Ck! Cuma cincin saja semua orang juga bisa memakainya dan mengaku bahwa dia sudah menikah,” elak Aldebaran.
“Terserah kamu saja! Apa perlu aku mengajak sumiku datang ke hadapanmu? Akan aku bawa suamiku datang ke kampus agar kamu tidak menggangguku lagi!” kesal Zahra dan berlalu meninggalkan Aldebaran yang masih menatap ke arahnya.
“Aku tunggu kedatangan suami kamu, Zahra!” teriak Aldebaran yang masih terdengar oleh Zahra bahkan semua orang yang berada di taman tersebut.
Plak!
“Akh! Sakit beg*!” maki Aldebaran kepada temannya yang memukul kepalanya.
“Gila kamu, Al! Sudah tahu cewek itu bersuami masih saja tidak kamu lepaskan.” Niko yang sedari tadi mengamati dari sudut taman ikut duduk di sebelah Aldebaran.
“Belum jelas statusnya sudah menikah atau belum, sebelum aku melihat suaminya dengan mata kepalaku sendiri, aku tidak akan mempercayai bahwa dia sudah menikah.”
“Dasar gila! Wanita masih banyak, Al. Bukan hanya dia seorang.”
“Tapi kagak ada yang seperti Zahra.”
“Terserah kamu aja, aku cabut dulu. Ingat jangan terlalu tinggi manjat pohonnya, entar kalo jatuh sakitnya tak seberapa tapi malunya itu,” ejek Niko sebelum berlalu meninggalkan Aldebaran.
*****
“Apa benar kamu akan mengajak suami kamu datang ke kampus, Zahra?” tanya Ria memastikan apa yang tadi dikatakan oleh Zahra di taman.
“Ya,” jawab Zahra singkat.
“Kapan?” Ria terlihat antusias, ia menunggu cukup lama untuk bisa melihat dan berkenalan dengan suami dari temannya itu.
__ADS_1
“Nanti saat acara wisudaku.”
“Yah, masih lama dong.” Ria terlihat kecewa, berbeda dengan Zahra dan Tania yang tertawa karena berhasil mengerjai Ria.