Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 70. Zhang Yang Zi


__ADS_3

“Honey, aku akan pergi ke rumah sakit. Kamu mau ikut atau tinggal di rumah?” tanya Zain yang sudah siap dengan pakaian formalnya.


“Hmm, aku ikut ya ... tunggu sebentar,” jawab Zahra lalu bangun dari tidurnya.


“Maaf sudah mengganggu tidur kamu.” Zain merasa bersalah karena aktivitasnya membangunkan istrinya yang masih terlelap, meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 05.00, namun di negara tersebut jam 5 masih dianggap malam hari.


“Tidak apa-apa, Sayang. Aku memakluminya, adik kamu juga membutuhkanmu sebagai kakaknya bukan?” jawab Zahra santai.


“Terima kasih,” ucap Zain tulus dibalas dengan senyum manis dari sang istri.


Zain menatap punggung istrinya yang hilang di balik pintu kamar mandi yang tertutup, ia lalu duduk di sofa dan mengingat dirinya yang diolok-olok oleh paman dan bibinya dan menjadikan hal tersebut sebagai bahan gurauan oleh seluruh kerabat pamannya yang sedang berkunjung kemarin malam.


Atas nasihat panjang dari paman dan bibinya, Zain menceritakan tentang keluarganya kepada Zahra. Tentang hancurnya rumah tangga kedua orang tuanya, penghianatan sang ayah juga tentang keberadaan adik tirinya yang selama ini ia percayakan kepada kerabat kakeknya di Beijing untuk menjaga perasaan Ny. Amara.


Zain juga menceritakan tentang masalah papanya, tuan Harun dan Tasya. Tentang Anindya yang ternyata tidak ada hubungan darah dengan Zahra, hal tersebut sempat membuat Zahra terkejut namun juga merasa lega karena pada akhirnya kebusukan ibu tirinya telah terbongkar.


Zahra juga merasa kasihan kepada ayahnya, pasti ayahnya merasa sangat sedih dan terluka atas kejadian yang menimpanya. Disisi lain, Zahra juga merasa bangga kepada ayahnya yang tidak menaruh benci kepada Anindya, tuan Harun justru memasukkan Anindya ke dalam pesantren agar Anindya bisa memperbaiki akhlak dan kesalahannya.


Ceklek.


Zain tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara pintu dibuka, ia menatap ke arah kamar mandi dan mendapati istrinya sudah rapi dengan pakaian santainya, tentu saja pakaian tertutup serba panjang guna menyembunyikan bekas luka ditubuhnya.


“Sudah selesai, Honey?” Zain bangkit dari duduknya dan menghampiri Zahra yang tengah menyisir rambutnya di depan meja rias.


“Biar aku bantu!” Zain mengambil sisir dari tangan istrinya dan membantu Zahra menyisir rambutnya.


“Bagaimana keadaan adik kamu, Sayang?”


“Barra tadi mengabarkan bahwa Yang Zi sempat mengamuk dan hendak bunuh diri setelah tidak sengaja mendengar percakapan antara Barra dan dokter jaga mengenai kehamilannya,” jawab Zain lirih.


“Hamil?” tanya  Zahra tak percaya.


“Hmm, semua salahku! Aku gagal menjaganya ....”


Zahra menatap wajah suaminya lewat pantulan cermin di depannya, terlihat wajah tampan itu memperlihatkan raut kesedihan dan penyesalan dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


“Kamu tidak bersalah, Sayang. Berhenti menyalahkan diri sendiri,” ucap Zahra sedih, ia mengusap pelan tangan suaminya yang berada di bahunya.


...*****...


“Bagaimana keadaannya?” tanya Zain yang baru masuk ke dalam ruang rawat sang adik.


“Tuan.” Barra bangkit dari duduknya setelah menyadari kedatangan tuan mudanya beserta nonanya tersebut.


“Duduklah, Barra! Kamu pasti lelah sudah menjaganya semalaman. Terima kasih,” ucap Zain tulus.


“Saya tidak merasa keberatan untuk menjaga nona Yang Zi, Tuan. Nona sudah seperti adik saya sendiri.”


Barra menatap ke arah brankar dimana seorang gadis keturunan China terlihat damai dalam tidurnya, dengan selang infus yang menempel menghiasi tangan pucatnya.


“Maaf Tuan, tadi ketika dokter jaga sedang memeriksa kondisi nona, saya tidak menyadari jika nona sudah terjaga dan saya berbincang dengan dokter tersebut tentang kondisi nona.” Barra menjeda ucapannya, ia beralih menatap ke arah Zain untuk melihat reaksi dari tuan mudanya tersebut.


Melihat tuannya hanya terdiam, Barra memutuskan untuk melanjutkan penjelasannya. “Nona sempat mengamuk dan hendak bunuh diri dengan melukai nadinya, namun kami bisa mencegahnya dan memberikan obat penenang kepada nona.”


“Huft!” Zain menghela napasnya pelan, ia melangkahkan kakinya lebih dekat ke arah asistennya tersebut dan menepuk pelan bahu Barra. “Kerja bagus! Terima kasih, Barra!”


“Pesankan sarapan untuk kami, kamu pulang dan beristirahatlah! Biarkan aku dan istriku yang menjaganya,” perintah Zain memotong ucapan Barra sebelum ia menyelesaikannya.


“Baik, Tuan.”


Zain berjalan pelan menuju brankar tempat adiknya berbaring, ia mengusap wajah kurus pucat itu dengan hati yang perih.


“Maafkan koko, mui-mui ...,” lirih Zain bersamaan dengan setetes air mata yang keluar tanpa ijin darinya.


Zahra yang melihat pemandangan sedih di depan matanya, ikut merasakan perih di dalam dadanya.


“Sayang.” Zahra mengusap punggung suaminya berharap dalam memberikan kekuatan untuk sang suami.


“K-ko ...,” lirih Yang Zi degan bibir yang bergetar.


“A mui! Kamu sudah bangun?” tanya Zain antusias lalu menekan tombol di samping brankar tersebut.

__ADS_1


Tak lama kemudian, seorang dokter dan suster masuk ke dalam kamar tersebut dan memeriksa keadaan Yang Zi.


“Semuanya baik-baik saja dan sudah kembali normal, Tuan. Hanya saja nona harus lebih banyak istirahat dan jangan terlalu banyak beban pikiran.”


“Terima kasih, Dokter,” ucap Zain dan Zahra bersamaan.


Setelah kejadian pagi itu yang hampir membuat Yang Zi kehilangan nyawanya, Zain memerintahkan agar setiap saat selam 24 jam harus ada seseorang yang berjaga dan menemani adiknya tersebut di dalam kamar rawatnya.


Zahra juga memutuskan untuk menginap di rumah sakit untuk menemani Yang Zi agar tidak kesepian, tentu saja Zain selalu ikut ke mana pun istrinya berada.


Hani juga sering datang ke rumah sakit untuk mengantar makanan dan keperluan lainnya, serta menemani Zahra agar tidak merasa bosan karena Yang Zi sering melakukan terapi untuk menenangkan pikirannya.


Satu minggu berlalu, Yang Zi semakin menunjukkan kemajuannya. Berkat dukungan dari Zahra, dan semua anggota keluarga, ia sudah mulai sedikit tenang dan menerima kehadiran janin di dalam perutnya. Namun ia masih tertutup tentang musibah yang menimpanya yang membuatnya terdampar jauh dari Beijing.


“Zizi, kakak kamu mengatakan akan membawa kamu tinggal di Indonesia bersama kami,” ucap Zahra dengan wajah berbinar berbanding terbalik dengan wajah lawan bicaranya.


“Aku tidak mau ikut ke Indonesia, Kak.” Yang Zi menundukkan kepalanya, ia membayangkan akan bertemu dengan ibu tirinya yang selama ini membenci kehadirannya tersebut.


“Kenapa, Zi? Bukannya kamu ingin selalu berada di dekat kakak kamu?” tanya Zahra bingung.


“Aku takut bertemu dengan mamanya koko,” lirih Yang Zi semakin menundukkan kepalanya.


“Zizi, Mommy orangnya baik kok, tidak mungkin beliau membenci kamu.” Zahra berusaha menenangkan adik iparnya tersebut.


“Tapi-”


“Percayalah, Zain hanya ingin yang terbaik untuk keluarganya. Dia akan merasa lebih tenang jika kamu berada di bawah pengawasannya langsung, di sini pergaulannya begitu bebas untuk kamu, Zi.”


Di tempat lain, Zain, Barra dan Yitian terlihat sedang membahas sesuatu yang serius. Wajah ketiganya terlihat tegang dan saling diam, sepertinya tengah terjadi perang dingin akibat ada perbedaan pendapat di antara mereka.


“Biarkan aku melakukannya, Tuan!” ucap Barra tegas tanpa merasa takut kepada tuannya tersebut.”


“Tidak, Barra!”


“Tuan, jika Anda membawanya tinggal bersama kita di Indonesia, maka banyak orang yang akan mempertanyakan tentang kehamilannya, negara kita tidak sama dengan negara ini, Tuan.”

__ADS_1


“Barra!” gertak Zain lalu berdiri dan meninggalkan Barra dan Yitian yang masih terdiam.


__ADS_2