Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 44. Harapan Ny. Amara


__ADS_3

Usai menyelesaikan makan malam mereka, Zain menuntun istrinya untuk masuk kembali ke dalam ruangannya dengan kedua tangan yang menutupi mata Zahra.


“Ki-kita mau ke mana?” tanya Zahra merasa waswas.


“Tenang saja, aku tidak akan mencelakaimu.”


Zahra dengan langkah sangat pelan mengikuti arahan dari suaminya, banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikirannya. Namun lagi-lagi Zahra tak bisa menyuarakannya, ia masih merasa canggung berhadapan dengan Zain.


Hingga langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu terbesar di ruangan itu. Perlahan Zain menurunkan tangannya dari wajah sang istri.


“Bukalah mata kamu, Honey. Kita sudah sampai.”


Zahra menuruti perintah suaminya, ia perlahan membuka matanya dan betapa terkejutnya Zahra. Kejutan untuknya ternyata belum selesai dengan dinner di rooftop tadi.


Matanya kembali dimanjakan dengan pemandangan di depannya, kamar mewah bernuansa romantis dengan taburan bunga dan balon, serta lilin yang menjadi penerang kamar tersebut.


Pandangan Zahra terfokus dengan beberapa foto yang dipajang di sana. Ia perlahan melangkahkan kakinya dan meraih bingkai foto di lantai.



“Dari mana kamu mendapatkan foto ini?” tanya Zahra dengan wajah bingungnya.


“Baguskan fotonya?” Zain yang sudah berdiri di samping istrinya mengambil alih bingkai foto yang di dalamnya menampilkan foto pernikahan mereka berdua.


“Kamu dapat foto itu dari mana? Kita kan tidak pernah foto bersama.”


“Aku edit,” ucap Zain tanpa ekspresi, lalu menarik tubuh istrinya untuk duduk di tepi ranjang.


“Jangankan foto prewedding, saat akan menikah dengan kamu saja aku tidak tahu ...,” ucap Zahra dengan wajah sendu. “Bahkan setelah pesta resepsi pun kamu menghilang entah ke mana.”


“Maaf, Honey. Nanti setelah kamu sembuh, kita buat foto seperti ini ya! Jika perlu aku akan mengadakan resepsi ulang untuk kita,” ucap Zain mencoba menutupi rasa bersalahnya.


“Tidak perlu,” jawab Zahra cepat.


“Maaf ....” Zain menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya, lalu ia membenamkan wajahnya diceruk leher Zahra.


“Maaf,” ulangnya dengan suara lirih, terlihat penyesalan yang dalam dari nada suaranya.


Beberapa saat mereka saling terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing hingga suara nyaring seseorang mengejutkan mereka berdua.


“Hai sayang ... happy birthday! Selamat bertambah usia menantu mommy yang paling cantik!” teriak Ny. Amara dari arah pintu utama namun terdengar jelas dari dalam kamar Zain.

__ADS_1


“Ck! Dasar asisten bodoh, kenapa malah memberi tahu mommy!” kesal Zain merasa waktunya bersama sang istri telah diganggu.


“Happy birthday, Sayang!” ucap Ny. Amara yang sudah berhasil masuk ke dalam kamar Zain dengan sebuah kue ulang tahun sederhana di tangannya. Karena Ny. Amara tidak ada persiapan, jadi ia mengambil kue yang ada di toko miliknya.



“Mommy!” seru Zahra dan berlari kecil ke arah ibu mertuanya, meninggalkan Zain yang menekuk wajahnya kesal.


“Selamat ulang tahun, Sayang. Semoga kamu diberikan kesehatan dan rezeki yang lancar. Tercapai segala keinginan dan cita-citamu,” doa Ny. Amara.


“Aamiin ... terima kasih, Mom.” Zahra merasa terharu dan matanya terlihat berkaca-kaca.


“Oh ya, satu lagi.”


“Apa Mom?”


“Semoga mommy secepatnya mendapatkan kabar bahagia dari kalian,” lanjut Ny. Amara dengan binar bahagia di matanya.


“Aamiin,” jawab Zahra dan Zain bersamaan.


“Memangnya kabar bahagia apa, Mom?” tanya Zahra dengan polosnya.


“Tapi mom ....” Zahra terlihat ragu, ia masih belum siap dan belum memikirkan masalah anak, namun disisi lain ia tidak ingin mengecewakan ibu mertuanya yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.


“Sudah jangan terlalu dipikirkan, Zahra. Sebaiknya tiup lilinya terlebih dahulu dan ucapkan doa dan harapan kamu.” Zain mengalihkan pembicaraan di antara dua wanita kesayangannya, ia juga merasa bingung berada diposisi ini.


Setelah acara tiup lilin dan potong kue, seperti biasa Zain dibuat kesal karena acaranya diganggu oleh ibunya, bahkan ibunya telah menguasai istrinya dan membujuk Zahra malam ini untuk tidur berdua dengan sang ibu.


Zain keluar dari kamarnya dan keluar dari ruangan pribadinya dengan wajah kusutnya.


“Bodoh! Apa kamu sudah tidak ingin bekerja denganku lagi?” kesal Zain kepada Barra yang berdiri di depan pintu.


“Maaf Tuan, Ny. Amara memaksa.”


“Kamu kan bisa menahannya, beri alasan apa saja kepada mommy.”


“Maaf Tuan,” ulang Barra, hanya kata tersebut yang saat ini mampu ia ucapkan demi menghindari emosi tuan mudanya yang sedang dalam mode on.


“Gaji kamu bulan depan di potong 30 persen!” tegas Zain tanpa ingin dibantah lalu berjalan menuju lift.


“Baik Tuan,” jawab Barra pasrah.

__ADS_1


‘Hah, 30 persen itu tidaklah sedikit tuan. Kalau begini terus bisa-bisa aku jatuh miskin!’ racau Barra dalam hati dan melangkahkan kakinya mengikuti sang majikan.


Hei Barra, kamu tidak akan jatuh miskin hanya karena gaji kamu dipotong sebesar 30 persen, ingat tuan muda kamu bukanlah orang kaya biasa! Dia seorang miliarder Barra! Ingat itu, hitung jumlah rupiah bonus yang kamu dapat di rekening kamu. Pasti sudah menutup 30 persen itu. Bahkan sisanya berlipat ganda. (suara hati author)


Sedangkan di dalam kamar, Zahra terlihat bahagia bercerita dengan ibu mertuanya itu sambil menonton film yang diputar di TV besar dalam kamar tersebut.


“Setelah kamu sembuh, kamu pulang ke mansion ya! Mansion terlihat seram seperti kuburan karena tidak ada kamu,” canda Ny. Amara.


“Emh, sebenarnya Zahra ingin pulang ke rumah papa Zahra Mom.”


“Sayang, ingat bahwa kamu sudah bersuami. Ke mana pun suami kamu pergi, kamu harus ikut dengannya. Jadilah istri yang baik untuk suami kamu.”


“Zahra takut, Mom”


“Takut kenapa, Sayang?” tanya Ny. Amara pelan.


“Emh, itu. Di mansion kan ada mbak Clarisa, Mom ...,” jawab Zahra lirih, ia masih merasa takut bertemu dengan Clarisa.


“Sayang, Clarisa sudah pergi dari jauh dari rumah kita.” Ny. Amara menatap wajah menantunya yang terlihat terkejut.


Zahra memang belum tahu tentang kepergian Clarisa dan perceraian antara suaminya dengan istri pertamanya itu. Karena selama ini tidak ada seorang pun yang memberi tahu dirinya tentang masalah tersebut.


“Kenapa, Mom?” tanya Zahra dengan wajah bingungnya.


“Zain sudah menceraikan Clarisa,” jelas Ny. Amara semakin membuat Zahra merasa terkejut.


“Tapi kan, mbak Clarisa sedang mengandung cucu Mommy.”


“Ck! Anak dalam kandungannya bukanlah cucu mommy, anak itu bukanlah anak Zain.”


Ny. Amara lalu menceritakan semuanya kepada Zahra, walaupun merasa kasihan dengan Clarisa, Zahra juga merasa lega karena tidak akan bertemu lagi dengan Clarisa.


“Sudahlah, jangan membicarakan wanita j*lang itu lagi. Merusak suasana bahagia saja.”


Mereka berdua kembali bertukar cerita, Zahra mengutarakan keinginannya untuk bisa melanjutkan studinya dengan jurusan yang disukainya. Hingga Zahra pun terlelap dalam tidurnya di samping ibu mertuanya.


“Semoga kebahagiaan selalu mengelilingi kehidupanmu ke depannya, Sayang. Mommy sayang kamu, Zahra.” Ny. Amara mengusap pelan kepala menantunya sebelum ikut terlelap ke dalam tidurnya.


*****


Terima kasih sudah mampir, jangan lupa like, comment dan vote ya ... 🤗☺️

__ADS_1


__ADS_2