
Satu minggu berlalu, pagi ini kamar rawat Zahra dipenuhi oleh banyak orang.
Ny. Amara duduk di sofa dengan senyum yang selalu mengembang di wajahnya. Begitu pun dengan dr. Fatima dan dr. Ana yang hadir di sana untuk melepas kepulangan Zahra, karena keadaan Zahra sudah semakin membaik berkat usaha Zain yang setiap hari tidak mau terlepas dari istrinya itu.
Ya, Selama satu minggu, Zain yang tidak pernah sedetik pun meninggalkan istrinya, kecuali pergi ke kamar mandi. Zain selalu mengajak Zahra untuk keluar dari kamar rawatnya, tentu saja dengan sedikit drama dan ancaman yang keluar dari mulut pria itu.
Meskipun awalnya hanya menuju ke ruangan Zain di lantai atas, namun seiring berjalannya waktu Zahra sudah bisa bertemu dengan pria lain, meskipun itu hanya orang-orang bawahan suaminya.
“Apa papa tidak datang ke sini?” tanya Zahra yang duduk di sebelah suaminya yang selalu memeluknya dari samping.
“Papa kamu ada di ruangan Dr. Agam,” jawab Zain.
“Dr. Agam?” tanya Zahra bingung. “Apa papa sakit?”
“Tidak, Honey. Jangan pikirkan hal lain selagi aku bersamamu!” tegas Zain memperingatkan.
Zain semakin posesif terhadap istrinya tersebut. Ia tidak suka jika Zahra mengabaikannya walau hanya sebentar.
“Ingat janji kamu untuk membiarkan aku melanjutkan kuliahku dengan jurusan sesuai keinginanku,” tagih Zahra.
“Hmm.”
“Janji!” desak Zahra tidak puas dengan jawaban dari suaminya.
“Iya aku janji, tapi ingat dengan janjimu!”
“Iya,”
“Coba sebutkan!” perintah Zain.
“Intinya ucapan kamu adalah perintah dan selalu benar!” cebik Zahra merasa kesal dengan suaminya.
“Good girl,” puji Zain dengan mengacak pelan rambut Zahra.
Zahra semakin cemberut mengingat peraturan baru yang dibuat oleh suaminya tempo hari.
“Honey, kamu tahun depan mau melanjutkan pendidikan di Indonesia atau luar negeri?” tanya Zain yang duduk di sofa memangku istrinya dan menonton drama Korea bersama.
“Di sini saja, Sayang. Tidak perlu jauh-jauh,” jawab Zahra cuek dengan mata yang fokus menatap lurus ke layar TV di depannya.
“Melanjutkan jurusan yang sebelumnya, kan?”
“Memangnya boleh memilih?”
__ADS_1
“Karena aku baik hati sama kamu, aku izinkan kamu untuk memilih jurusan yang kamu inginkan.”
“Okay, aku mau mengambil jurusan Fashion Design.”
Klik.
Zahra memutar tubuhnya menghadap ke arah sang suami dengan wajah kesalnya. “Kenapa dimatikan? Aku sedang menonton oppa-oppa,” protes Zahra.
Zain memindahkan istrinya agar duduk di sebelahnya, lalu ia berdiri mencari kertas dan bolpoin lalu menyerahkannya kepada Zahra.
Zahra menautkan alisnya bingung. “Untuk apa ini?”
“Tulis apa yang aku ucapkan!”
‘Apa lagi ini?’ tanya Zahra dalam hati, namun ia menuruti perintah suaminya tanpa ada sedikit pun perlawanan. Tidak ingin menambah hukuman dari suaminya.
“Poin Satu! Tidak boleh membangkang dan selalu menurut kepada suami apa pun kondisinya.”
Dengan malas jemari Zahra menari di atas kertas pemberian suaminya itu.
“Dua! Selalu izin dan memberi kabar kepada suami ketika ada kegiatan apa pun itu!”
“Tiga! Tidak boleh dekat dan berteman dengan pria lain! Jika melanggar tidak akan ada kuliah lagi untukmu!” ucap Zain dengan sedikit ancaman untuk Zahra.
“Tidak! Jangan sembarangan berteman! Aku akan selalu memantau kamu. Ingat itu, jadi kamu jangan berani macam-macam.”
‘Apa-apaan dia! Aku bukan tahanannya, kenapa peraturannya tidak ada yang menguntungkan aku?’ kesal Zahra dalam hati.
“Apa yang ingin kamu katakan? Aku ada di sini, jangan mengumpatku di dalam hati!”
“Hah, ti-tidak ada.” Zahra terkejut dan tergagap mendapat tuduhan dari suaminya.
“Poin 4!”
“Hah, masih ada lagi?” tanya Zahra spontan dan tidak percaya.
“Dilarang keras menonton drama Korea atau drama lainnya!”
“Kenapa?” protes Zahra merasa suaminya terlalu berlebihan.
“Kenapa? Aku tidak suka melihatmu menatap pria lain!” ucap Zain berhasil membuat Zahra melebarkan matanya tidak percaya.
‘Dasar pria gila! hanya gambar pria di balik layar saja dipermasalahkan!’
__ADS_1
“Jangan biasakan memaki seseorang di dalam hati,” ucap Zain santai.
*****
“Nyonya, semuanya sudah beres. Pakaian dan buku-buku nona Zahra semuanya sudah selesai dikemas,” ucap seorang pelayan yang didatangkan dari mansion utama.
“Bawa keluar, biar para pengawal membawanya ke mobil. Kalian boleh pulang terlebih dahulu bersama mereka,” jelas Ny. Amara kepada tiga orang pelayannya.
Tak berselang lama setelah pelayan tersebut pamit, pintu kamar Zahra kembali diketuk dari luar. Tuan Harun masuk ke dalam diikuti oleh Dr. Agam dan Barra di belakangnya.
“Semuanya sudah diatur, Tuan. Anda bisa keluar dari rumah sakit sekarang,” jelas Barra.
“Baiklah.”
“Papa boleh ikut ke mansion kan, Sayang?” tanya Zahra kepada suaminya membuat semua mata menatap ke arah mereka berdua.
“Tentu saja boleh, kenapa kamu bertanya seperti itu, Sayang?” tanya Ny. Amara menyelidik.
“Emh, itu Mom ....”
“Tidak apa-apa, Mom.” Zain dengan cepat memotong perkataan istrinya sebelum Zahra membocorkan tentang perjanjian mereka dulu.
“Apa ada yang kalian sembunyikan dari mommy?” selidik Ny. Amara, ia menatap tajam ke arah putranya dan sang asisten secara bergantian.
“Tidak ada, Mom. Ayo cepat kita pergi, jangan terlalu lama mengosongkan jalan untuk kita,” ucap Zain mengalihkan perhatian ibunya.
Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada dr. Ana dan dr. Fatima, mereka segera meninggalkan rumah sakit tersebut.
Tentu saja tidak seorang pun yang mereka jumpai di sepanjang perjalanan, karena tempat tersebut sudah dikosongkan oleh Barra untuk mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi kepada istri tuan mudanya.
Bahkan untuk masalah tempat duduk saja harus ada drama di antara ibu dan anak tersebut, mereka saling berebut untuk duduk bersama Zahra di kursi belakang.
Dan akhirnya mereka pun duduk di kursi belakang bertiga, dengan Zahra berada di antara suami dan ibu mertuanya. Sedangkan tuan Harun berada di mobil terpisah.
“Ibunya kakak ada di mana? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?” tanya Zahra kepada Barra yang duduk di belakang kemudi.
“Siapa yang kamu panggil kakak?” tanya Zain dengan nada tinggi membuat semua orang terkejut.
“Ka-kak Barra,” jawab Zahra takut karena melihat ekspresi suaminya yang tidak bersahabat.
“Sipa yang mengizinkanmu memanggilnya kakak?”
‘Ck! Bakal kena masalah lagi aku, nasib! Semenjak tuan muda menikah dengan nona Zahra, hidupku bagaikan roller coaster naik turun tidak beraturan,’ keluh Barra dalam hati.
__ADS_1