
Setelah Barra berhasil menenangkan istrinya, Zain mulai menceritakan kejadian malam itu kepada mereka berdua.
Bukannya semakin tenang, Yang Zi justru kembali menangis karena sudah menuduh ibu tirinya itu sebagai orang jahat.
Meskipun Zain sudah mencegah adiknya untuk tidak ikut pulang ke mansion utama, namun dengan menjadikan baby yang masih di dalam perutnya Zain tidak bisa menolak keinginan calon ibu muda tersebut untuk bertemu langsung dengan Ny. Amara.
Disinilah mereka kini berada, duduk tenang di dalam mobil milik Zain sedang dalam perjalanan pulang menuju mansion utama dengan Ali sebagai sopirnya sedangkan Zain duduk di kursi depan samping kemudi dan Barra serta istrinya duduk di kursi belakang.
“Janji nanti kamu tidak akan membuat masalah di rumah, Zi a!” peringat Zain untuk kesenian kalinya takut jika adik kesayangannya itu akan membuat masalah lagi untuknya.
“Iya Ko, sudah berapa kali Koko mengatakannya. Aku bukan anak kecil lagi!” kesal Yang Zi.
“Huft!” Zain menghela napasnya perlahan, mengumpulkan kesabarannya agar bisa menghadapi sikap adiknya yang tidak pernah terduga.
‘Bukan anak kecil tapi bertingkah seperti anak kecil,’ keluh Zain dalam hati sambil melirih kaca spion di depannya yang memantulkan sosok sang adik yang lagi-lagi tengah sibuk dengan camilannya
“Sudah habis berapa bungkus makanan sampah itu kamu makan, Zi a?” tanya Zain serius, ia tahu jika snack kemasan tidak baik untuk ibu hamil.
Yang Zi mengingat-ingat kembali snack yang sudah ia makan dan menghitungnya dengan jari. “Ehm, satu ... dua... ti-” Yang Zi tidak melanjutkan hitungannya dan suaranya semakin menghilang karena mendapatkan tatapan tajam dari sang kakak.
“Bukannya Dokter tidak mengizinkanmu memakan makanan itu, kan! Kenapa kamu masih bandel?” Zain tidak lagi bersikap lunak kepada adiknya membuat Yang Zi beringsut mencari perlindungan kepada suaminya.
“Di rumah mama dan papa selalu mengatur makanan yang harus aku makan, aku bosan Ko.”
“Bagaimana jika Dr. Agam tahu apa yang sudah kamu makan, apa reaksi ayah mertua kamu, Zi a?”
Setelah mendapat teguran dari kakaknya, Yang Zi tidak lagi menyentuh snack-snack miliknya. Bukannya Barra tidak melarangnya, tapi Barra kalah dengan Yang Zi yang merengek kepadanya. Lalu Barra menyingkirkan Snak dengan bungkus besar milik istrinya dari hadapan Yang Zi.
__ADS_1
Sisa perjalanan kini hanya diisi oleh keheningan, Zain kembali fokus dengan ponselnya dan sibuk berkirim pesan dengan sang istri.
**
“Dimana Ara, Bi?” tanya Zain setibanya ia di mansion milik keluarganya.
“Nona masih berada di gazebo bersama ustazah Khatijah, Tuan.” Bi Nur menjawab dengan sopan.
“Tolong antarkan minuman ke gazebo belakang ya, Bi!”pinta Zain lalu berjalan menuju taman belakang menyusul keberadaan istrinya diikuti oleh Yang Zi dan Barra.
“Honey,” panggil Zain setibanya di gazebo tempat Zahra belajar mengaji bersama ustazah Khatijah.
Zahra yang mendengar panggilan dari suaminya segera menoleh ke arah Zain datang. “Kenapa kamu sudah pulang, Sayang?
“Apa kamu tidak suka dengan kehadiranku?” tanya Zain tidak suka.
“Apa saya mengganggu kegiatan Anda, Ustazah?” Zain berpaling bertanya kepada sosok wanita muda berpakaian syar’i yang duduk di samping Zahra.
“Biarkan saya mengantar Anda ke depan, Ustazah.” Zahra ingin mengantar kepergian guru mengajinya namun ditolak oleh ustazah Khatijah.
Sebelum Zahran kembali ke pesantren, ia sempat memperkenalkan salah satu temannya yaitu ustazah Khatijah kepada Zahra dan mempercayakan ustazah Khatijah untuk menjadi guru mengaji Zahra.
Tuan Harun juga ikut serta kembali ke pesantren dan memutuskan untuk menetap di pesantren untuk memfokuskan diri memperbaiki semua kesalahannya dimasa lalu.
Begitu bertemu dengan kakak iparnya, Yang Zi begitu bahagia dan melupakan tujuan awalnya datang ke mansion tersebut. Mereka berdua sibuk berbincang membicarakan apa pun yang terlintas di kepala mereka.
Sedangkan Zain dan Barra duduk berdekatan dengan istrinya masing-masing dan hanya menyimak obrolan kedua wanita itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian Hani datang dengan nampan yang berisi minuman dan beberapa kue di atasnya. Hani terlihat sedikit canggung ketika bertemu lagi dengan orang yang dulu pernah bersemayam di hatinya.
“Ini minumannya, Tuan ... Nona,” tawar Hani setelah selesai memindahkan beberapa gelas dan piring kue di atas meja.
“Terima kasih, Hani,” ucap Zahra.
“Sama-sama, Nona,” balas Hani tanpa berani menatap ke arah tuan dan nonanya tersebut.
“Terima kasih, Hani.” Yang Zi juga berterima kasih kepada Hani yang telah mengantarkan minuman u tuk mereka.
“Sama-sama Nona Yang Zi, kalau begitu saya pamit dulu.” Masih dengan menjaga pandangannya Hani yang hendak pergi dicegah oleh Yang Zi.
“Bergabunglah dengan kami, Hani. Kita mengobrol bersama, bukankah kamu juga akan masuk ke universitas yang sama dengan kita?”
“Eh, maaf Nona, tapi saya akan melanjutkan pendidikan di luar negeri. Tuan Zain sudah mengizinkannya.”
Mendengar perkataan Hani, Barra yang sedari tadi cuek dan tak sedikit pun melirik ke arah Hani sedikit merasa terkejut. Namun dengan sekuat tenaga ia menyembunyikannya dan kembali bersikap acuh seakan-akan Hani tidak ada di tempat itu.
Bukan karena Barra sombong atau apa, ia sadar bahwa kini dirinya bukanlah Barra yang dulu. Barra yang bebas bahkan bisa mencintai dua wanita sekaligus secara bersamaan.
Kini ada hati yang harus dijaganya, hati sang istri apa lagi dengan sifat Yang Zi saat ini yang sangat sensitif.
“Hah, kenapa tidak memberitahu aku?” tanya Yang Zi dengan perasaan kecewa, ia sudah membanyakkan jika mereka bertiga akan kuliah di tempat yang sama sesuai rencana awal.
“Sudahlah, biarkan Hani kembali. Mungkin ada banyak hal yang harus ia kerjakan. Lusa dia akan berangkat ke luar negeri.” Zahra yang melihat suasana terasa canggung mencoba membantu Hani agar bisa segera pergi.
“Kalau begitu saya permisi Tuan, Nona.” Hani segera pamit setelah mendapat celah untuk segera pergi.
__ADS_1
Zain dan Zahra menjawabnya dengan anggukan kepala, sedangkan Barra sama sekali tak menganggapinya dan Yang Zi tak bisa lagi menahan keberadaan Hani. Padahal dia ingin berbincang bersama gadis itu, Yang Zi sama sekali tidak membenci Hani karena masa lalu suaminya, justru Yang Zi sangat menyukai dan menganggap Hani sebagai sahabatnya.
‘Betapa bodohnya kamu, Hani. Jangan pernah berharap kepada sesuatu yang tal pasti, jangankan untuk menyapamu ... menoleh pun ia tak sudi lagi. Kini kamu hanyalah orang asing baginya, Hani! Lupakan dia, fokuslah dengan masa depan kamu! Doakan saja semoga mereka berdua berjodoh selamanya dan bahagia dalam pernikahan mereka,’ ucap Hani dalam hati seraya terus melangkah meninggalkan gazebo tempat majikannya berkumpul dan terdengar suara canda gurau mereka dari kejauhan.