
“Barra cukup! Kamu tidak perlu mengotori tanganmu di hari bahagiamu ini,” cegah Zain ketika Barra hendak kembali melayangkan pukulannya.
“Jaga mulut kamu! Jangan pernah menghina dan memfitnah keluarga tuan muda!” ancam Barra yang diabaikan oleh Bastian.
“Dengar baik-baik Tuan Bram! Saya tidak akan melepaskan putramu begitu saja, siapa pun yang berani menyentuh dan menyakiti istri dan keluarga saya, akan saya pastikan saya sendiri yang akan menghancurkan hidupnya bahkan keluarganya!” ancam Zain membuat suasana semakin mencekam.
“Tunggu pembalasan dari saya, Bastian Bramasta! Semua bukti kejahatanmu sudah tersimpan rapi ditangan orang-orang saya, bahkan perbuatan kejimu di dalam kamar mandi tadi, ada bukti rekamannya. Bersyukurlah bahwa saya datang tepat waktu, jika terjadi apa-apa dengan istri saya, akan saya bunuh kamu dengan tangan saya sendiri!” ucap Zain dan mengibarkan bendera perang melalui sorot mata tajamnya.
“Wanita muda yang kamu maksud itu adalah istri sah saya, dan perbuatanmu tadi sangat tercela, apalagi kamu hendak melakukan pelecehan terhadap istri pria lain!” lanjut Zain dan berlalu meninggalkan tempat acara setelah menyelesaikan kalimatnya, ia tidak berselera menemui tamu undangan yang belum sempat ia sapa. Fokusnya kini hanya tertuju kepada istrinya seorang.
“Pesta sudah berakhir, silakan agar semua tamu undangan segera meninggalkan tempat ini. Terima kasih atas kehadiran saudara sekalian, maaf atas ke tidak nyamanan yang di luar dugaan kami,” ucap Barra sopan dan penuh sesal.
“Bagaimana keadaan istriku, Mom?” tanya Zain setelah tiba di kamar pribadinya di hotel tersebut.
“Sudah lebih baik, biarkan dia beristirahat, Zain. Tadi mommy memberikan obat penenang kepadanya,” terang Ny. Amara.
Tanpa menanggapi perkataan ibunya, Zain berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di tepinya. Ia menatap sendu wajah sang istri yang masih terlihat sedikit pucat.
“Mommy tinggal dulu, Zain. Kamu beristirahatlah, biarkan malam nanti mommy yang menjaga istrimu. Kamu harus menghadiri pesta malam ini, mereka pasti akan menanyakan keberadaanmu jika kamu tidak terlihat di sana, apalagi semua keluarga besar ayahmu hadir di pesta itu,” ucap Ny. Amara sebelum meninggalkan kamar tersebut.
“Maafkan aku, Honey. Maaf karena kamu harus mengalami kejadian seperti ini lagi,” lirih Zain sambil mengusap pelan wajah istrinya lalu ia berdiri dan meraih ponsel dari kantong celananya dan menghubungi seseorang.
“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan bukan, Ali?” tanya Zain namun terdengar seperti sebuah perintah bagi orang yang mendengarkan di seberang sana.
__ADS_1
...*****...
Di sebuah rumah mewah yang besar namun terlihat sepi karena tidak seorang pun terlihat berseliweran di sekitarnya. Namun berbeda dengan suatu ruangan di dalamnya, tepatnya di ruang keluarga yang begitu luas terlihat seorang wanita paruh baya tengah bersimpuh sambil memeluk sebelah kaki suaminya yang sedang mengamuk.
“Dasar anak tidak tahu diri! Bodoh kamu ya! Apa seperti itu cara kamu membalas kebaikan orang tuamu selama ini, hah?” teriak tuan Bram sambil berkacak pinggang, ia hendak kembali menendang putranya namun sang istri selalu menghalanginya.
“Pa, sudah jangan memukulnya lagi! Lihatlah wajahnya sudah babak belur! Apa belum puas sejak tadi Papa memukulinya!” cegah istri tuan Bram dengan berlinang air mata.
“Terus saja kamu membelanya, memanjakannya, sehingga dia tumbuh dengan sifat buruknya itu! Mau ditaruh dimana wajah papa, Bas! Semua rekan kerja papa ada di sana dan melihat kelakuan bejat kamu! Hancur sudah hidupku!” teriak tuan Bram dan menatap nyalang ke arah putranya yang terduduk di lantai dengan wajah tak bersalahnya tak jauh dari tempat tuan Bram berdiri.
Sedangkan Bastian hanya memutar bola matanya malas mendengar ocehan ayahnya yang sejak tadi tak berhenti-berhenti memarahinya.
“Kenapa Papa marah kepadaku? Aku tidak melakukan sesuatu yang keterlaluan, pria brengsek itu saja yang melebih-lebihkan ucapannya,” elak Bastian dengan wajah tenang tanpa dosanya.
“Bastian!”
Tuan Bram melayangkan tamparan tepat di pipi kanan putranya yang belum juga sadar dari kesalahannya.
“Bodoh! Apa kamu tidak mengenali tuan Zain? Apa yang kamu perbuat terhadap tuan Zain sampai membuatnya begitu marah terhadapmu?” tanya tuan Bram merasa tak percaya.
“Tuan Zain? Maksud Papa Zain Malik Ibrahim?” tanya Bastian memastikan pendengarannya tidak bermasalah.
“Kamu pikir sendiri!”
__ADS_1
“Jadi ... pria itu Zain malik? Dan ... apa tadi yang dikatakannya? Bahwa Zahwa istrinya? Tidak mungkin!” elak Bastian dan menggelengkan kepalanya berulang kali menolak untuk mempercayainya.
“Jika benar kamu mengusik istri tuan Zain, tamat sudah riwayat kita! Semua orang tahu apa yang akan terjadi kepada orang-orang yang berani menyentuh keluarganya!” marah tuan Bram, belum juga ia meredamkan amarahnya, ponsel miliknya berdering nyaring sehingga mencegahnya untuk kembali memarahi sang putra.
“Halo, ada apa Budi?” tanya tuan Bram kepada Budi yang bekerja sebagai asistennya.
“A-apa!”
Brak!
Tuan Bram terjatuh tak sadarkan diri setelah mendengar berita yang disampaikan oleh Budi, melihat kejadian tersebut sang istri dengan panik mencoba membangunkannya dengan mengguncang-guncang tubuh tuan Bram. Sedangkan Bastian segera meraih ponsel ayahnya untuk bertanya kepada Budi.
“Apa yang kamu katakan kepada papa, Budi?” bentak Bastian.
‘Tuan muda, ZM Corporation membatalkan dan menarik semua kerja sama mereka terhadap perusahaan tuan Bram. Hal tersebut membuat semua perusahaan membatalkan kerja sama mereka dengan perusahaan tuan Bram serta beberapa investor telah menarik saham mereka di perusahaan tuan Bram,’ jelas Budi mengulangi apa yang ia sampaikan tadi kepada tuan Bram.
“Brengsek! Apa kamu tidak bisa menangani masalah ini? siapa pemilik ZM Corporation sialan itu?” tanya Bastian marah.
‘Perusahaan milik keluarga Ibrahim, yang saat ini dijalankan oleh sang cucu yang bernama Zain Malik Ibra-’
Tut. Tut. Tut.
Bastian menutup panggilan tersebut tanpa mendengarkan Budi menyelesaikan penjelasannya, ia lalu membanting ponsel milik ayahnya ke sembarang arah hingga terbelah menjadi beberapa bagian berserakan dilantai.
__ADS_1
“Brengsek! B*jingan! Lagi-lagi Zain Malik! Apa hebatnya pria tua itu!” gerutu Bastian masih merasa kesal karena gadis incarannya waktu itu ternyata lebih memilih menikahi pria tua dibandingkan dengan dirinya.
“Bastian! Cepat tolong papa kamu! Cepat panggil ambulans!” seru istri tuan Bram yang tidak berhasil membangunkan suaminya.