
Sore harinya setelah selesai fitting baju di butik terkenal langganan keluarga Ibrahim, mereka berempat kembali menuju perusahaan karena ada beberapa prosedur yang harus diselesaikan sebelum Barra resmi mengambil cutinya.
Namun Zain lebih memilih untuk menunggu di dalam mobil diikuti oleh kedua wanita kesayangannya, sehingga hanya Barra yang masuk ke dalam perusahaan.
“Honey, kenapa nama kakak kamu Zahran? Aku tidak menyukainya,” gerutu Zain yang duduk di sebelah istrinya.
“Kenapa? Itu nama pemberian mendiang ibuku.”
“Kenapa harus Zahran? Kenapa tidak yang lainnya saja, aku tidak suka namanya mirip dengan namamu, Zahra-Zahran!” ucap Zain dengan nada kesal.
“Dia lahir lebih dulu dariku, Zain. Kamu sendiri yang merubah panggilanku menjadi Zahra, bukankah dulu panggilanku Zahwa?” tanya Zahra menyudutkan suaminya.
“Mana aku tahu jika kamu memiliki kakak bernama Zahran,” elak Zain tidak mau mengalah.
“Terus ... mau kamu apa?”
“Suruh kakak kamu mengganti nama panggilannya,” paksa Zain.
“Jangan kekanak-kanakan seperti itu Zain, hanya karena masalah nama saja kamu bersikap seperti ini. Bagaimana jika kamu kembali memanggilku Zahwa?”
“Sejak awal aku tidak pernah memanggilmu dengan panggilan Zahwa. Bagaimana jika mulai saat ini nama panggilan kamu menjadi Ara?”
“Emm, baiklah. Ara juga terdengar bagus, tapi ... bukannya kamu jarang memanggil namaku? Kecuali saat kamu sedang marah kepadaku!” ucap Zahra lalu mencebikkan bibirnya kesal.
“Honey, aku lebih-”
“Kamu mau ke mana, Yang Zi?” teriak Zahra yang mendapati adik iparnya tersebut sudah berada di luar mobil lalu ia beranjak membuka pintu hendak mengejarnya.
“Kamu mau ke mana, Honey?” cegah Zain dengan menahan lengan istrinya.
“Aku mau menyusul adik kamu, Zain. Dia-”
“Dia bukan anak kecil, biarkan saja dia pergi. Palingan dia mau menyusul Barra,” ucap Zain memotong perkataan istrinya.
“Sayang, dia sedang hamil! Nanti kalau terjadi sesuatu kepadanya bagaimana?”
“Tidak akan ada yang terjadi di padanya, percayalah,” kekeh Zain namun Zahra mengabaikannya karena merasa khawatir dengan keadaan adik iparnya, ia lalu keluar dari dalam mobil diikuti oleh Zain di belakangnya.
Setibanya di depan pintu lobi, mata Zahra menangkap sosok Yang Zi yang sedang berdebat dengan seorang karyawan wanita, di sana juga ada Barra yang kewalahan untuk memisah mereka berdua. Sedangkan di sekeliling mereka terlihat beberapa orang yang terdiam menyaksikan kejadian tersebut.
Zahra berlari kecil mendekati tempat kejadian, namun sebelum ia sampai di lokasi karyawan wanita itu mendorong tubuh Yang Zi dengan kasar.
“Yang Zi!” pekik Zahra dengan jantung yang berdetak tak beraturan melihatnya.
Grep!
__ADS_1
Tepat sebelum Yang Zi tersungkur ke lantai, Zain berhasil menangkap tubuh adiknya tersebut. Semua orang tercengang menyaksikan tuan muda mereka menyelamatkan seorang gadis yang baru-baru ini digosipkan sebagai calon madu untuk Zahra.
“Apa yang kamu lakukan!” bentak Zain dengan menghunuskan tatapan tajamnya ke arah karyawan wanita itu.
“Maaf Tuan, sa-saya tidak bermaksud untuk menyakitinya,” cicit karyawan itu dengan wajah yang berubah pucat mengingat bahwa lawannya kali ini adalah calon istri atasannya.
“Enyahlah dari pandanganku!” teriak Zain dingin dan menggelegar keseluruhan ruangan membuat semua karyawannya bergidik ngeri merasakan atmosfer lobi tersebut berubah mencengkamkan dalam hitungan detik.
“Tu-tuan, ampuni kesalahan saya ... jangan pecat saya, saya mohon Tuan, kasihanilah saya, Tuan,” rengek wanita tersebut sambil berlutut di hadapan Zain yang berdiri angkuh dengan memeluk adiknya.
“Cepat pergi sebelum aku kehilangan kesabaranku dan melenyapkanmu!”
“Tuan.”
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Zain lembut kepada adiknya dan mengabaikan panggilan dari wanita yang masih bersimpuh di depannya.
“Pergi! Kemasi barang-barangmu dan dalam 5 menit segera tinggalkan tempat ini jika kamu masih menyayangi nyawamu!” ancam Barra tak kalah dinginnya dengan Zain.
Wanita itu membalikkan tubuhnya dan dengan langkah gontai berjalan menuju lift untuk ke ruangannya mengemasi barang-barangnya.
“Ck! Dasar ganjen! Hanya demi wanita penggoda itu dua orang terpenting di perusahaan ini membentak dan mempermalukanku di depan umum, bahkan memecatku begitu saja!” sungut wanita itu dan tidak menyadari keberadaan Zahra yang ada di dekatnya.
“Tunggu!” cegat Zahra dan menahan lengan wanita itu.
Plak!
“Coba kamu ulangi apa yang kamu ucapkan tadi!” perintah Zahra.
“Yang mana, Nyonya? Saya tidak mengucapkan apa pun,” elaknya merasa panik, apalagi semua orang tengah menatap ke arah mereka.
“Cepat katakan?” teriak Zahra membuat semua orang tersentak, terutama Zain dan Barra yang baru kali ini melihat Zahra semarah itu.
“Ck! Dasar ganjen! Hanya demi wanita penggoda itu dua orang terpenting di perusahaan ini membentak dan mempermalukan aku di depan umum, bahkan memecatku begitu saja!” wanita itu mengulangi perkataannya namun tidak sesinis saat pertama tadi.
“Siapa yang ganjen di sini? Siapa yang pantas di sebut wanita penggoda?” tanya Zahra dengan nada mengejek. “Dia atau kamu?”
“Jawab!”
“Emh- di- saya, Nyonya! Maafkan saya, saya salah, saya ganjen dan pantas disebut wanita penggoda. Maafkan saya Nyonya, tolong selamatkan saya,” rengek wanita itu lalu berlutut dan memeluk kaki Zahra.
Zahra yang merasa risi, ia melangkah ke belakang menjauh dari wanita tersebut. “Apa kamu siapa wanita yang kamu dorong tadi?”
“Tidak Nyonya.”
“Kamu hampir saja membahayakan janin di dalam perutnya! Jika sampai terjadi sesuatu kepadanya kami tidak akan memaafkan kamu!” gertak Zahra.
__ADS_1
Ucapan yang baru saja Zahra katakan berhasil membuat orang-orang menyimpulkannya sendiri dan saling berbisik bertanya-tanya apakah janin itu adalah darah daging tuan mudanya? Apakah gosip itu benar? Bahwa bos mereka akan menikah lagi? Apa alasannya karena janin tersebut? Bahkan di antara mereka banyak yang merasa simpati kepada Zahra yang baru beberapa bulan menikah harus menerima kehadiran orang baru dalam rumah tangganya.
“Diam kalian semua! Apa kalian sudah bosan bekerja di perusahaan ini? Silakan angkat kaki jika kalian sudah tidak ingin bekerja di sini lagi!” gertak Barra yang merasa jengah mendengar bisik-bisik tersebut.
Seketika semua orang terdiam, apalagi mendapat ancaman dari orang kedua di perusahaan tersebut.
“Dengar baik-baik dan ingat apa yang akan saya sampaikan! Kalian tahu siapa wanita itu?” tanya Barra yang tidak mendapatkan jawaban dari siapa pun.
“Dia adalah Yang Zi, istriku yang saat ini sedang mengandung buah hati kami. Dia adik satu-satunya tuan muda Zain yang selama ini tinggal di China, dan minggu depan kami akan mengadakan resepsi di sini ... silakan kalian semua hadir di hari bahagia kami,” ucap Barra tenang karena sudah berhasil menahan emosinya, ia lalu mengambil alih tubuh Yang Zi dari Zain dan memeluknya erat sambil membisikkan kata-kata untuk menenangkan Yang Zi.
“Sstt, tenanglah ... ada aku di sini, semua akan baik-baik saja, okay!” Barra mengusap lembut kepala Yang Zi penuh kasih sayang lalu berjalan meninggalkan keramaian tersebut disusul Zain dan Zahra yang saling memeluk memperlihatkan kemesraan mereka tanpa mau kalah dari Barra dan Yang Zi.
“Ali, saya serahkan semuanya kepadamu, lakukan dengan baik dan rapi!” perintah Zain sebelum meninggalkan lobi perusahaannya.
“Dalam beberapa hari ada dua orang yang dipecat karena menyinggung Ny. Zahra dan adiknya tuan Zain,” bisik seorang karyawan.
“Makanya kalau punya mulut itu di jaga, jangan asal ceplas-ceplos dan akhirnya malah membunuh diri sendiri.”
Di dalam mobil, kini bergantian Zain yang mengemudi sedangkan Zahra duduk di kursi sampingnya. Sedangkan Yang Zi sudah berubah haluan tidak mau melepaskan pelukannya kepada Barra, sehingga Zain menyuruh mereka duduk di kursi belakang.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Zain penasaran.
“Dia mencoba merayu dan mendekati Barra, aku tidak suka itu! Bahkan dia mengejekku dan menyuruhku agar kembali ke sekolah dasar untuk memperbaiki kalimatku yang sedikit tidak teratur!” ucap Yang Zi kesal mengingat kejadian tadi.
“Tapi benar perkataannya, apa sebaiknya kamu kembali masuk sekolah dasar agar ucapan bahasa Indonesiamu jauh lebih bagus,” ucap Zain menggoda adiknya.
“Koko!” Yang Zi melemparkan bantal ke arah kakaknya.
Selanjutnya, suasana di dalam mobil tersebut kembali cerah dan hidup. Mereka saling bergarau dan sesekali membahas tentang acara resepsi pernikahan Barra dan Yang Zi.
"Ko, kenapa tadi koko mengatakan jika aku adalah istri koko dan anak di janinku ini adalah buah hati kita?" tanya Yang Zi yang menyenderkan kepalanya di bahu Barra.
"Kenapa? kamu tidak menyukainya?"
"Bukan begitu, tapi-"
"Sssttt, jangan banyak bicara, tidurlah! lihat kakak ipar kamu sudah pulas tertidur sedari tadi," bisik Barra di telinga Yang Zi.
"Hmm."
"Aku melakukan semua itu karena aku mencintai kamu, Yang Zi a ... aku sudah menganggap kamu sebagai istriku dan otomatis anak di dalam perut kamu adalah anak aku juga."
"Terima kasih, Ko. Aku juga sangat mencintaimu," balas Yang Zi dan memeluk erat tubuh Barra dari samping.
"Ehkem! ingat masij ada orang di sini?" tegur Zain.
__ADS_1
...*****...
Hai semunya, jangan lupa akhir bulan Oktober akan ada giveaway untuk 3 urutan pendukung teratas novel ini, sekian terima kasih 🥰