Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 75. Mengutarakan Niat Baik


__ADS_3

“Keluarlah! Jangan bersembunyi, aku tidak akan mencelakai dirimu!” seru Ny. Amara.


Semua orang saling melempar pandang, menebak-nebak siapa gerangan yang dimaksud oleh Ny. Amara, apakah Yang Zi? Karena hanya dia yang tidak hadir di ruangan tersebut.


“Keluar! Aku tidak sejahat itu sampai harus melukaimu!” gertak Ny. Amara karena orang yang dimaksud masih belum menampakkan dirinya.


Beberapa menit tak ada tanggapan dari orang tersebut, ruangan itu pun sangat hening karena semua orang diam membisu menunggu kemunculan orang yang diduga adalah Yang Zi.


“Keluar!” teriak Ny. Amara membuat semua orang terlonjak kaget.


Prang!


Terdengar suara benda pecah dari balik tembok ruangan itu, tak berselang lama seseorang keluar dan menunjukkan dirinya yang sejak tadi bersembunyi di ruangan sebelah.


“Maaf,” cicit Yang Zi dengan suara bergetar karena merasa takut dengan ibu tirinya tersebut. Di dalam pikirannya, Ny. Amara adalah sosok ibu tiri yang jahat yang tidak pernah menginginkan kehadirannya dan sangat membenci dirinya.


“Bergabunglah dengan yang lain!” perintah Ny. Amara tanpa menunjukkan ekspresi di wajahnya.


Zahra bergegas menghampiri adik iparnya tersebut dan menuntun pelan tubuh Yang Zi yang sedikit bergetar menuju ke tengah kerumunan.


“Lanjutkan pestanya!” lanjut Ny. Amara dan berjalan menuju sofa di sudut ruangan.


“Kemarilah Sayang, jangan takut. Ny. Amara tidak bermaksud untuk menakuti kamu, beliau orang yang baik.” Ny. Agam menarik tangan Yang Zi agar mendekat kepadanya.


Yang Zi yang masih merasa takut hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan, ia tidak berani menatap ke arah ibu tirinya. Meskipun selama ini ia menjalankan hidupnya dengan sesuka hati dan sering membuat onar, namun Yang Zi masih memiliki rasa takut kepada kakaknya, dan ketakutan terbesarnya adalah bertemu dengan ibu dari kakaknya tersebut.


Pesta perayaan ulang tahun Zain pun berlanjut dengan lancar dan penuh kebahagiaan hingga malam hari. Zain masih bertanya-tanya dalam hati alasan apa yang bisa membuat ibunya berubah pikiran sehingga mau datang ke negara yang paling dihindarinya itu.


Malam harinya, semua sudah berkumpul di meja makan utama untuk makan malam bersama. Banyak hidangan yang sudah tersaji di atas meja, bukan hanya chinese food saja, namun ada juga beberapa menu western food dan menu masakan Indonesia sesuai dengan permintaan Zahra.


“Bagaimana keadaan kamu, Yang Zi?” tanya Dr. Agam disela menikmati makanannya.


“Sudah lebih baik, Paman.” Yang Zi masih terlihat kaku dan canggung bergabung bersama mereka karena kehadiran Ny. Amara.


“Syukurlah, paman sangat senang mendengarnya.”


Suasana meja makan pun terlihat ramai dengan berbagai topik pembicaraan santai, bahkan banyak gurauan yang dilontarkan oleh Yitian membuat suasana semakin hidup.


Namun sedari tadi Zain hanya diam menikmati makanannya dan menyimak obrolan mereka. Zain sudah terbiasa dengan peraturannya sendiri yang melarang berbicara ketika sedang makan, namun kali ini ia tidak berkomentar karena dia bukan tuan rumahnya.

__ADS_1


“Mom,” panggil Zain ketika mereka sudah berkumpul di ruang keluarga.


“Apa? Jangan bertanya alasan mommy bisa sampai di sini!” jawab Ny. Amara dengan nada sedikit tinggi, ia enggan bercerita kepada putranya tersebut


Kemarin


“Bagaimana kondisi Yang Zi, Barra?” tanya Dr. Agam ketika sedang sarapan bersama keluarga kecilnya.


“Sudah lebih baik, Pa.”


“Hmm, syukurlah. Tapi papa perhatikan kamu terlihat lebih murung setelah pulang dari Hong Kong, ada apa?” selidik Dr. Agam


“Ehm, Pa ... ada sesuatu yang ingin Barra bicarakan,” ucap Barra sedikit ragu.


“Lanjutkan!”


“Barra ingin menikahi Yang Zi!”


Uhuk! Uhuk!


“Pelan-pelan Ma, minumlah!” Dr. Agam menyodorkan segelas air kepada istrinya yang tersedak akibat perkataan putranya tersebut.


“Barra serius, Ma.”


“Lalu Hani?” Ny. Agam tahu bahwa putranya tersebut memiliki ketertarikan kepada Hani, makanya ia sampai terkejut dan tersedak mendengar pengakuan Barra.


“Jangan mengambil keputusan dengan gegabah, Barra! Jangan sampai kamu menyesalinya kemudian hari!” peringat Dr. Agam karena melihat putranya terdiam tanpa bisa menjawab pertanyaan dari ibunya.


“Barra yakin dengan keputusan ini Pa, Barra juga sudah memikirkannya. Dia hanya korban dalam masalah ini.”


“Ck! dasar kepala batu! Percuma berdebat dengan kamu, susah! Cuma tuan mudamu itu yang bisa merubah setiap keputusanmu?” gerutu Dr. Agam karena putranya lebih patuh kepada tuannya dibandingkan dirinya yang berstatus sebagai ayahnya, namun beliau tidak benar-benar marah akan hal tersebut.


“Jangan hanya merasa kasihan kamu ingin menikahinya, Sayang. Tidak akan baik untuk masa depan kalian,” ucap Ny. Agam.


“Barra menyayanginya, Ma. Jika disuruh memilih antara dia dan Hani, Barra tidak tahu jawabannya,” ucap Barra lirih dan melanjutkan makannya.


Siang harinya, setelah berdiskusi dengan suaminya mengenai keputusan sang putra. Ny. Agam berkunjung ke rumah Ny. Amara.


Ny. Amara dan Ny. Agam terlihat berbincang santai duduk di gazebo belakang rumah sambil ditemani berbagai camilan dan minuman di atas meja. Mereka saling bertukar kabar dan cerita melepas rindu karena tidak bertemu hampir selama 4 tahun.

__ADS_1


“Bukankah besok ulang tahun Zain, Kakak Ipar?” tanya Ny. Agam sengaja mengingatkan Ny. Amara tentang ulang tahun putranya.


“Hmm, aku tidak melupakannya,” ucap Ny. Amara sedih. Ia begitu merindukan momen perayaan ulang tahun putranya tersebut.


“Bagaimana jika kita memberikan kejutan kepada Zain, Kakak Ipar?” usul Ny. Agam dengan antusias.


Ayah Ny. Agam dan Ayah mertua Ny. Amara adalah saudara sepupu, sehingga Ny. Agam memanggil kakak ipar terhadap Ny. Amara. Zain, Yitian dan Barra juga masih memiliki ikatan saudara. (ada dibahas di bab awal)


Awalnya Ny. Amara menolak mentah-mentah rencana Ny. Agam mengingat putranya saat ini sedang berada di negara yang sangat dihindarinya, namun Ny. Agam tidak menyerah begitu saja.


Ny. Agam dengan semangat membara berhasil membujuk agar Ny. Amara bersedia ikut bersamanya dan Ny. Agam tidak lupa menceritakan tentang permintaan Barra.


Ny. Amara teringat akan ucapan besannya yaitu tuan Harun ketika ia bertanya mengapa masih mau merawat Anindya bahkan memasukkannya ke pondok pesantren? Jawaban tuan Harun mampu menggetarkan hatinya, tuan Harun mengatakan bahwa ia tidak pernah membenci Anindya walaupun gadis itu bukanlah putri kandungnya, karena gadis itu tidak bersalah dan tidak mengetahui apa pun. Yang bersalah adalah perbuatan kedua orang tuanya.


Malam harinya, mereka langsung berangkat ke Hong kong tanpa sepengetahuan Zain dan Zahra. Barra hanya memberi kabar kepada Yitian dan menyerahkan semua persiapan kepada Yitian.


Ny. Amara mengajak serta Hani untuk menemaninya, dan hal baik juga berpihak kepada mereka, negara tersebut sudah tidak mewajibkan karantina bagi siapa pun yang datang dari luar negeri sehingga tidak akan memperlambat rencana kejutan mereka.


...*****...


“Ada yang ingin saya sampaikan kepada kalian semua,” ucap Barra penuh percaya diri.


Zain menatap tajam ke arah asistennya tersebut, ia sudah bisa menebak apa yang akan diucapkan pria itu. Namun Barra mengabaikannya dan melanjutkan kalimatnya.


“Saya berniat untuk meminang Yang Zi!” ucap Barra tegas tanpa sedikit pun keraguan dalam ucapannya.


“A-apa maksud, Koko?” tanya Yang Zi dengan terbata karena terkejut dengan ucapan Barra.


Tak hanya Yang Zi yang merasa terkejut akan hal tersebut, Zahra juga sama terkejutnya dengan adik iparnya itu. Sepertinya di dalam ruangan tersebut hanya mereka berdua yang belum mengetahui akan niat baik Barra itu.


Seorang gadis berdiri terpaku di balik tembok dengan sebuah nampan berisi beberapa kue di tangannya yang bergetar, matanya memerah dan sebutir air mata berhasil lolos membasahi pipinya.


‘Sadar Hani! Kamu hanyalah anak pembantu, tidak pantas mengharapkan cinta dari tuan Barra! Ingat posisimu, kamu berbeda kasta dengan mereka, Hani! Kamu bagaikan awan mendung yang merindukan matahari! Aku mengira Anda adalah mimpi yang dapat kukejar, tuan. Tapi nyatanya Anda adalah matahari yang bahkan sulit hanya untuk sekedar aku pandang,’ gejolak batin Hani yang tanpa sengaja mendengar ucapan Barra ketika akan mengantarkan kue dari dapur menujruang keluarga.


Yang Zi



Hai semuanya... terima kasih sudah mampir🤗

__ADS_1


Jangan lupa Like, koment dan vote karya Othor ya 🥰


__ADS_2