Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 54. Drama Keluarga


__ADS_3

Seorang wanita dengan pakaian elegannya berjalan keluar dari dalam ruang pribadi dr. Damayanti. Dengan langkah mantap ia menghampiri meja kerja dr. Damayanti dengan sebuah map di tangannya, dengan penuh tenaga ia melemparkan map tersebut dan tepat mengenai wajah dr. Wira.


Plak!


Karena semua orang tengah bersitegang dengan emosi masing-masing, membuat tidak ada yang menyadari kedatangan wanita tersebut.


Plak!


Satu tamparan berhasil mendarat di pipi dr. Wira. Pelakunya tidak lain adalah istri dr. Wira.


“Dasar buaya! Kamu tega bermain wanita di belakangku? Kamu anggap apa aku ini?” ucap istri dr. Wira dengan penuh emosi.


“Sayang, kamu salah paham. Aku tidak ada hubungan apa pun dengan Tasya!” dr. Wira berusaha mengelak tuduhan perselingkuhan itu.


“Apa yang harus dijelaskan! Jelas-jelas semuanya sudah terbukti, kamu tidak bisa mengelak lagi, Wira!” bentak istri dr. Wira yang hanya memanggil nama kepada suaminya.


Istri dr. Wira mengambil map yang tadi dilemparnya, lalu membuka isinya dan menyodorkan kepada suaminya. “Kurang bukti apa lagi, hah! Bahkan ada hasil tes DNA milikmu dan anak harammu itu!”


“Sa-sayang. Dengarkan aku, aku bisa menjelaskan semuanya!” dr. Wira masih berusaha meyakinkan istrinya.


“Siapa yang kamu maksud anak haram, hah?” teriak seorang wanita yang keluar dari ruangan yang sama dengan istri dr. Wira.


“Ck! Siapa lagi jika bukan dirimu, dasar anak dan ibu sama-sama tidak punya etika,” ejek istri dr. Wira.


“Ni-nindy ...,” lirih Tasya dan dr. Wira hampir bersamaan, mereka terkejut melihat Anindya keluar dari ruang pribadi dr. Damayanti.

__ADS_1


“Apa katamu! Dasar nenek tua!” Anindya berjalan ke arah istri dr. Wira dan menjambak rambutnya.


Istri dr. Wira yang semula bersikap tenang, mulai terbawa emosi karena kelakuan Anindya. Kedua wanita berbeda generasi tersebut saling menjambak rambut lawannya, banyak umpatan kasar yang keluar dari mulut Anindya, tidak ada yang berniat untuk mengalah. Bahkan dr. Wira dan Tasya kewalahan mencoba melerai keduanya.


dr. Damayanti terlihat bingung untuk berbuat apa, lalu ia memutuskan untuk diam dan menikmati tontonan gratis di depannya. Sedangkan Barra dan tuan Harun hanya diam menikmati pertunjukan itu.


“Sudah cukup!” teriak dr. Wira merasa kesal dengan keduanya.


Tasya memeluk erat tubuh putrinya agar tidak berulah lagi, sedangkan dr. Wira mendekap erat tubuh istrinya. Sudah cukup kegaduhan yang telah mereka buat.


“Dia yang memulai dulu dengan mengatakan jika aku adalah anak haram!” tuding Anindya kepada istri dr. Wira.


“Memang benar kamu anak haram! Anak dari suami bejatku dan ibu j*lang kamu itu!” istri dr. Wira masih meladeni ucapan Anindya.


Tasya yang mendengar dirinya dan putrinya direndahkan, amarahnya mulai menguap di ubun-ubunnya.


“Aku bukan anak haram! Mamaku juga bukan j*lang! Bukan aku anak haram itu, tapi Zahwa! Dia dan ibunya yang telah merusak rumah tangga mamaku! J*lang itu yang telah merebut papa dari mama, bahkan sekarang anaknya mengikuti jejak ibunya menjadi pelakor dengan merebut suami orang!” teriak Anindya dengan emosi yang meledak-ledak.


Plak!


Satu tamparan berhasil mendarat di pipi mulus Anindya, seketika membuat ruangan tersebut hening tanpa suara.


“Jaga mulut kamu Nindy! Aku tidak pernah mengajarkanmu untuk berbicara kotor seperti itu! Jangan pernah menghina putriku, Zahra dan ibunya!” ucap tuan Harun tegas setelah mendaratkan telapak tangannya di wajah Anindya.


Dengan rahang yang mengeras, tuan Harun berusaha mengontrol emosinya. “Tidak ada yang namanya anak haram di dunia ini, yang haram adalah hubungan dan perbuatan orang tuanya! Dan jangan pernah kamu sebut istriku, Zahira dengan ucapan kotormu itu!”

__ADS_1


“Dia bukan istri papa, dia sudah mati! Dia merebut kebahagiaan mama! Mama satu-satunya istri Papa!” teriak Anindya kekeh dengan keyakinan yang selama ini sudah mengakar di dalam otaknya.


Tuan Harun menatap tajam ke arah Tasya membuat wanita itu meringkuk mundur berlindung di belakang tubuh putrinya.


“Apa yang telah kamu tanamkan dikepala putrimu itu, Tasya!” geram tuan Harun.


“Kenapa Papa memarahi mama? Semua gara-gara Zahra! Gara-gara dia dan ibunya itu, aku harus kehilangan kasih sayang dan semuanya yang papa bagi untuknya!” teriak Anindya.


“Jaga mulut kamu Nindy! Kamu ya!” tuan Harun mengangkat kembali tangannya, ia sudah tidak bisa menahan emosinya.


 “Jauhkan tangan Anda, Tuan!” teriak dr. Wira yang sudah menangkap tangan tuan Harun sebelum mengenai wajah Anindya.


“Jangan pernah menyentuh putriku!”


Prok! Prok! Prok!


Seorang pria bertubuh tegap keluar dari dalam ruang pribadi dr. Damayanti dengan bertepuk tangan dan senyum menyeringai di wajah tampannya.


“Bravo! Pertunjukan yang menarik, akhirnya Anda mengakui putri Anda dr. Wira! Tapi sepertinya putri Anda tidak mengakui Anda sebagai ayah biologisnya, Hahaha!” ejek Zain dengan sinis.


Kemunculan Zain membuat kedua orang di ruangan tersebut semakin terkejut, karena hanya mereka berdua yang belum mengetahui tentang keberadaannya.


“Tu-tuan Zain ....” Tasya terpaku, tidak menyangka jika tuan muda tersebut akan turun tangan sendiri. Jika sudah seperti ini maka tidak akan ada jalan baginya untuk mengelak dari masalah ini.


Di sebelahnya dr. Wira tak kalah terkejutnya, tidak ada lagi harapan baginya untuk mengelak dari semua kesalahan yang telah diperbuatnya. Nasib klinik dan karirnya pun diambang kehancuran.

__ADS_1


‘Tuan Zain kenapa ada di sini? Tamat sudah riwayatku! Br*ngsek! Berani-beraninya kalian semua menjebakku!’ maki dr. Wira dalam hati.


‘Sialan! Aku kecolongan dan pria bodoh itu berhasil mengelabuiku!’ maki Tasya dalam hati yang ditujukan untuk tuan Harun.


__ADS_2