Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 100. Selina menangis


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Di dalam ruang rawat Zahwa, terlihat Aini, Zayn, Amayra, Diana, Bram dan Nilam berada disana. Mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Zahwa, apalagi Bram dan Rey yang langsung menyuruh orang untuk mengurus di penjahat itu dan akan memastikan dia mendapatkan hukuman di penjara.


Beruntungnya Zahwa bisa selamat tepat waktu karena donor darah dari Dimas. Dan mengenai penolongnya, Zahwa ingin tau siapa pria itu dan menanyakannya pada Amayra.


"Ma, siapa sih yang sudah mendonorkan darahnya untukku? Aku ingin bertemu dengannya."


Amayra pun menjawab pertanyaan Zahwa walau dia sedikit tidak senang membahas tentang Dimas karena Diana mengatakan bahwa Dimas memiliki motif mendekati keluarga Calabria. Amayra masih ingat jelas bagaimana pria itu menusuknya dan mencoba menculik anak kembarnya. Tak hanya itu, ia pun menyiksa istri yang sedang hamil sampai meninggal dunia.


Mungkin Dimas memang sudah berubah atau dia punya motif tersembunyi mengapa dia mendekati keluarga Calabria. Yang jelas Amayra tak mau suudzan dulu, siapa tau Dimas sudah berubah setelah belasan tahun mendekam di penjara.


"Dia ada di salah satu ruangan di rumah sakit ini, tadi setelah mendonorkan darahnya buat kamu...pria itu jatuh pingsan." jawab Amayra.


"Terus sekarang gimana keadaannya? Apa dia masih belum sadar? Aku mau ketemu sama dia Ma, aku mau berterimakasih sama dia." kata Zahwa sambil berusaha duduk di atas ranjang itu. "Akhh..." Zahwa memegang bagian perutnya yang masih di perban itu. Dia merasakan ototnya tertarik saat bergerak berlebihan.


"Nemo...kamu jangan banyak bergerak!" teriak Rey dari ambang pintu. Ia menghampiri istrinya dengan wajah panik. Rey membantu istrinya kembali berbaring.


"Mas?"


"Kamu diem, jangan banyak gerak! Tiduran aja ya sayang. Kata dokter kamu gak boleh banyak gerak, kamu belum lama operasi."


"Iya Mas." sahut Zahwa kembali berbaring, dia tersenyum tipis melihat perhatian Rey kepadanya.


Saking panik dan cemas melihat istrinya, Rey sampai lupa mengucap salam saat semua orang berada disana. Mereka menatap Rey yang begitu perhatian pada Zahwa, betapa sayangnya Rey pada istrinya.


"Pik, lihat tuh...si bang bucin." bisik Aini pada Zayn yang duduk disampingnya. Melihat kelakuan Rey yang sangat protektif itu.


"Hehe...woman Hulk, itu mah biasa. Kamu gak tau sih bucinnya kak Rey dari kecil sama Zahwa, sampai kemana-mana aja kak Rey ngintilin." Zayn terkekeh pelan mengingat masa kecil mereka. "Mungkin sejak saat itu kak Rey sudah jatuh cinta pada Zahwa tapi perasaan cinta itu baru tumbuh dan belum sebesar ini." ucapnya lagi seraya tersenyum.


"Iya, pokoknya kak Rey hebat banget...dia bisa bertahan, kuat iman menyukai Zahwa seorang selama bertahun-tahun dan menahan perasaannya." kata Aini terharu dengan sikap Rey dalam memendam cintanya selama ini, namun pada akhirnya membuahkan hasil terbaik dan terindah dari Allah SWT. Cintanya dalam bersatu dalam ikatan pernikahan.


"Hey...kalian berdua! Udah mau nikah manggilnya masih piktor sama woman Hulk, apa-apaan?" bisik Nilam keheranan dengan nama panggilan itu.


"Hehe...ini panggilan kesayangan, Oma." Zayn terkekeh kecil. Lalu Nilam menyunggingkan senyum di bibirnya, ia bahagia melihat Zayn dan Aini sangat akrab.


Pa... seandainya Papa ada disini, papa pasti sangat bahagia melihat cucu-cucu kita Pa.

__ADS_1


Perlahan dan tanpa sadar bulir air mata jatuh membasahi pipi Nilam teringat dengan mendiang suaminya, Cakra yang meninggal karena penyakit kanker darah 10 tahun yang lalu.


Melihat Nilam menangis, semua orang menoleh ke arahnya dan bertanya apa yang membuat wanita tua itu menangis. "Ma...mama kenapa Ma?"


"Oma...kenapa Oma nangis?" tanya Zahwa cemas.


"Maaf ya buat kalian khawatir, Oma gak apa-apa kok. Oma menangis karena bahagia dan teringat dengan opa kalian." Nilam mengusap air matanya, ia kembali tersenyum.


Semua keluarga Calabria berkumpul di rumah sakit kecuali Selina yang masih berada dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Mobil yang ditumpanginya dan Cecep mogok ditengah jalan.


"Aduh non...kayaknya ini mesti dibawa ke bengkel dulu. Pasti lama non, mending non minta jemput aja atau naik taksi." jelas Cecep sambil memijit pelipisnya itu.


"Yah si mang...kenapa bukan bilang dari tadi? Kalau tau gini, aku kan gak usah nunggu lama-lama. Aku mau lihat keadaan kak Zahwa!" tegur Selina dengan bibir manyunnya.


"Yah maapin mang Cecep atuh neng, maaf.. Mang juga gak tau masalahnya teh bakal seserius ini." jelas Cecep dengan intonasi bahasa daerah Sunda, yang memiliki ciri khas lemah lembut.


"Ya udah, aku maafin deh...aku tunggu taksi didepan aja!" Selina berjalan pergi meninggalkan Cecep di tengah jalan, dia mencari taksi di jalan yang ramai. Wajahnya tampak kesal dan tangannya sedari tadi menyilang di dada.


Tak lama kemudian, saat Selina sedang menunggu taksi. Tiba-tiba saja dua orang pengendara motor berhenti didepannya. Selina tercekat melihat dua orang itu dan beberapa detik terlihat ketakutan.


Penampilan Selina memang selalu menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah, kulitnya yang putih dan pahanya yang mulus, bahkan saat ini ia memakai rok di atas lutut, dengan pakaian kemeja tipis.


Selina melangkah pergi dari sana begitu mendapati tatapan tidak nyaman dari kedua anak remaja yang mungkin usianya seumuran dengannya itu.


"Eh...mau kemana Lo? Kita belum selesai ngomong Sel," ucap Rivanno sambil mencekal pergelangan tangan Selina dengan kuat.


"Lepasin gue Rivanno!" teriak Selina berusaha melepaskan dirinya.


"Lo lupa ya sama siang panas bareng gue sama Irfan?" tanya Rivano seraya melirik ke arah temannya yang berwajah genit dan mesum juga.


"A-apaan sih! Gue gak--"


"Sel, apa perlu gue ingetin lagi kalau Lo udah gak perawan lagi?" sindir Rivano dengan mata yang melirik ke arah dada Selina yang ditutupi oleh kemeja.


"Lo...jangan berani-beraninya giniin gue--" kata Selina takut. "Gue...gue masih perawan!" sanggah Selina dengan mata yang memicing ketakutan.


"Lo sendiri yang tau tentang diri Lo sendiri, apa yang kita lakuin siang itu, Lo lakuin dalam keadaan sadar!" tegas Rivanno pada Selina, dia menatap tajam pada gadis itu.

__ADS_1


"Kalian berdua jahat...kalian berdua yang udah jebak gue," ucap Selina dengan suara gemetar. Air matanya tidak dapat dia bendung lagi.


"Hey jangan sembarangan ngomong Lo! Lo sendiri yang obral tubuh Lo buat kita." serka Irfan dengan tawanya yang mengejek pada Selina.


"Aku gak pernah...kalian yang udah kasih sesuatu di minuman itu...dan aku...aku..."


"Tapi Lo nikmatin kan?" kata Rivanno sambil tersenyum menyeringai.


Sungguh Selina menyesali kejadian dua Minggu yang lalu, siang itu, dimana ia diajak oleh pacarnya Rivanno yang adalah mantan pacarnya sekarang. Dia yang sudah dilarang pacaran oleh semua orang di dalam keluarganya, malah melanggar hal itu dan diam-diam pacaran dengan Rivanno kakak kelasnya di sekolah.


Akhirnya Rivanno dan Irfan berhasil mengambil keperawanan Selina pada siang itu, dia menipu Selina dengan mencampurkan obat di dalam minuman yang ia beli. Selina dalam keadaan tidak sadar, dia tidak menolak, lalu dia melakukan hubungan intim dengan Rivanno dan Irfan, tapi Rivanno yang menanamkan benih pada Selina saat itu. Setelah itu Selina menyesal karena sudah melanggar ucapan semua keluarganya, dia pun membeli pil KB untuk mencegah kehamilan untuk berjaga-jaga tanpa sepengetahuan semua orang.


Sampai saat ini Selina berhasil menyembunyikan semuanya dibalik keceriaannya, walau sebenarnya hatinya sangat terluka, resah, takut.


"Aku pikir kamu cowok baik, Vano...tapi ternyata kamu brengsek!"


"Wah...jadi Lo nyalahin gue? Hey.. Sweetie, gue cuma kasih kenikmatan yang gak pernah Lo rasain seumur hidup. Bukannya Lo yang minta disentuh?"


"Itu karena kalian menaruh sesuatu ke dalam minumanku...itu...aku akan laporkan kalian ke polisi!"


"Lapor? Haha..." Irfan dan Rivanno tertawa-tawa mengejek ucapan Selina yang mengancam mereka.


"Oke, silahkan Lo laporin aja...tapi video ini bakal gue sebar!" seru Rivanno sambil menunjukkan video Selina di ponselnya. Ya video itu berisi adegan Selina dan dirinya yang melakukan hubungan intim layaknya suami istri.


Sungguh! Rasanya Selina ingin bunuh diri melihat video itu. Rasa takut, malu, gelisah. Membayangkan bagaimana jika semua keluarganya tau tentang hal ini.


"Ka-kamu gila ya Van? Kenapa kamu merekamnya?!" bentak Selina sambil berusaha merebut ponsel dari tangan Rivanno.


"Kalau Lo berani bicara sama orang-orang tentang siang panas gue sama Irfan sama Lo juga... kita bakal sebarin ini!" ancam Rivanno yang akhirnya membuat Selina bungkam.


Rivanno dan Irfan pun pergi dari sana meninggalkan Selina yang jatuh terduduk sambil menangis. Kakinya lemas dan sulit berdiri. Dia meremass tangannya dengan erat.


"Hiks...hiks....maafin aku Ma, pa, Oma...kak Rey, kak Zahwa, semuanya...maafin aku...hiks..."


Ketika dia terbawa suasana hatinya yang sedih dan menangis, seseorang mengulurkan sapu tangan padanya.


...****...

__ADS_1


__ADS_2