Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 22. Alasan Salimah


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Pertama kali Salimah melihat sosok Zayn, dia sudah jatuh cinta. Itu terjadi saat Salimah duduk di bangku SMA kelas X, dia satu kelas bersama Zayn. Zayn adalah pria tampan dengan kulit putih bersih yang memiliki dua lesung manis di pipinya, dia cerdas, dia mirip dengan papanya yaitu Satria. Salimah mengangumi Zayn diam-diam dan dia sudah bertekad menjadikan Zayn sebagai imamnya kelak.


Segala cara Salimah lakukan agar bisa dekat dengan pria pujaan hatinya. Ia mengikuti ekskul yang di ikuti oleh Zayn, berada di kelas yang sama dengan Zayn, bergabung dengan osis. Namun ternyata usahanya tak mudah, Zayn sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan padanya. Apa mungkin karena Zayn orangnya cuek? Dia tak baik kepada semua orang, kecuali orang-orang terdekatnya saja.


Lalu sebuah bayangan membuyarkan impiannya bersama Zayn. Ketika seorang wanita cantik yang memiliki binar mata kejora, datang ke kelas Zayn. Dia adalah Kalimah Zahwa Jawharah, yang ternyata adalah adik kandung Zayn, saudara kembarnya. Dan Zahwa dekat dengan kakak tirinya, kak Raihan. Jujur, Salimah tidak dekat dengan Raihan karena mungkin mereka beda ibu. Tapi Salimah jadi mendekati Raihan dan Zahwa sejak tau kakaknya memiliki hubungan dengan Zahwa.


Berulang kali Salimah mencoba untuk memecah hubungan Zahwa dan Raihan. Dengan menjelek-jelekkan sosok Zahwa di mata Raihan, namun Raihan tetap teguh pada pendiriannya. Dia percaya pada Zahwa dan sangat menyukainya bahwa dia mempunyai niat menikahi Zahwa.


Akhirnya Salimah mengambil langkah yang mungkin akan membuatnya dibenci semua orang yaitu melakukan fitnah. Padahal dalam surat Al-Baqarah ayat 191, Allah dengan tegas menyebutkan bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Maka kita harus memerangi fitnah dan kebohongan, serta jangan pernah memalingkan diri kita dari kebenaran. Salimah tau itu tapi dia melakukannya pada Zahwa karena rasanya pada Zayn.


Jahat memang!


Tapi wanita memang biasanya selalu menggunakan perasaan di bandingkan logika, bukan? Karena rasa itulah yang membuat Salimah berbuat kesalahan dan fitnah keji dan tak hanya mengumbar aib. Tapi fitnah itu bukanlah fitnah biasa sebab lelaki yang ada di foto bersama Zahwa, memang benar-benar datang ke kamar Zahwa dan orang itu adalah Reyndra, orang yang diajaknya bekerja sama untuk menghancurkan pernikahan kakaknya dan Zahwa.


Tidak peduli dia mau di cap buruk atau apa, asalkan dia bisa menjadikan Zayn imamnya kelak, ia akan lakukan apa saja. Tapi apakah Salimah tau bahwa semua caranya ini salah dan malah membuatnya dibenci oleh semua keluarga Zayn?


Ya itulah alasan Salimah, kenapa dia begitu ingin menjauhkan Zahwa dari Raihan.


*****


Zahwa di bawa ke ruang UGD oleh Rey, pria itu langsung memanggil dokter dengan heboh. Seolah-olah gadis berhijab putih itu terluka parah saja, beberapa perawat disana sampau menahan tawa melihat sikap Rey yang seperti itu.


"Dokter! Tolong dok! Tolong adik saya!" katanya panik.


"Iya pak, tenang ya pak." ucap seorang dokter pria sambil tersenyum dan bersiap untuk memeriksa kondisi Zahwa.


"Kak, kakak jangan malu-maluin deh!" keluh Selina yang juga malu dengan sikap kakaknya itu.


Saat dokter pria itu akan memegang tangan Zahwa, sorot mata tajam dari Rey dan teriakan Rey sontak saja membuat dokter itu menjauhkan dirinya. "Dokter! Jangan!"


Kenapa bisa ada dokter muda seperti ini? Ganteng lagi! Tapi tetap gantengan aku sih.


"Kak, kakak kenapa sih? Tadi katanya aku harus di obati." Zahwa menatap kakaknya.


"Dokternya dokter cewek aja, bukan muhrim! Gak boleh dipegang-pegang cowok, ganti dokter aja!" titahnya tegas.

__ADS_1


"Kak--"


"Maaf dok, dokternya ganti aja sama dokter cewek ya!" kata Rey sopan pada dokter pria itu.


Mana mungkin aku biarkan lelaki lain memegang tangan kamu.


"Ya ampun posesif banget ya calon suami kamu ini Zahwa." celetuk si dokter itu yang tak tau bahwa Rey adalah kakak sepupunya. Hal itu sontak membuat Zahwa dan Selina tersedak. Tapi Rey? Dia hanya duduk manis saja dan santai, tidak membantah dan tidak bicara apapun.


"Aamiin." gumam Rey dengan suara kecilnya, diam-diam dia tersenyum. Selina terperangah melihatnya.


Barusan kak Rey bilang aamiin, kan? Terus ngapain kak Rey senyum-senyum gitu?. Selina mengerutkan keningnya, dia menyadari bahwa ada yang aneh dengan kakaknya itu. Tapi Zahwa tidak menyadarinya karena dia fokus pada dokter muda yang ada didepannya.


"Astagfirullah! Bukan dok...kak Rey bukan calon suamiku, dia kakakku, kakak sepupuku." Akhirnya Zahwa yang memberikan klarifikasi hubungannya dengan Rey.


"Ya ampun! Jadi aku salah tebak? Maaf deh maaf...habisnya dia posesif banget sih sama adeknya," celetuk dokter itu sambil terkekeh kecil, kemudian dokter muda itu pergi dan memanggil dokter wanita seperti apa yang diminta oleh Rey.


Beberapa saat kemudian, dokter wanita datang dan langsung memeriksa kondisi Zahwa. Dokter tersebut mengobati luka di tangan Zahwa, tidak ada yang serius dengan lukanya kecuali luka luar sana.


"Gimana keadaannya dok? Kenapa tangan Zahwa gak diperban?"


"Beneran gak ada yang serius, dok?" tanya Rey lagi dengan wajah cemasnya.


Lagi-lagi Selina menangkap sikap aneh dari kakaknya pada Zahwa. Tidakkah sikap Rey berlebihan pada Zahwa? Seperti sikap seorang kekasih?


Selina tau dari dulu memang Rey selalu perhatian pada semua adiknya karena dia memang kakak yang penyayang, tapi kenapa sekarang sejak kakaknya kembali dari Singapore, perhatian itu berbeda tapi kepada Zahwa saja.


Ah gak mungkin! Kak Rey gak mungkin suka seperti itu sama kak Zahwa. Akunya saja terlalu berlebihan.


"Sel, kamu kenapa? Kok geleng-geleng kepala gitu?" tanya Zahwa heran melihat Selina yang menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hehe, aku gak apa-apa kak. Kita jadi makan gak sih? Aku lapar!" Selina memegang perutnya, matanya tak henti memperhatikan gerak-gerik Rey.


Akhirnya mereka bertiga keluar dari ruang UGD. Saat itulah mereka berpapasan dengan Zainab dan Salimah yang ada di sana. Zainab tersenyum, lalu dia mengucapkan salam dengan tatapan mata pada Rey.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam." jawab Selina, Rey dan Zahwa.

__ADS_1


"Mas, mas masih ingat saya tidak?" tiba-tiba Zainab bertanya pada Rey dengan senyum cerahnya.


Zahwa menangkap ada sesuatu pada raut wajah Zainab. Katanya Zainab sudah punya orang yang dia sukai, makanya dia menolak untuk dijodohkan dengan Raihan. Apakah orang itu adalah Rey? Pikirnya dalam hati.


"Apa ini? Apa kakak udah kenal sama kak Zainab?"


Rey mengerutkan kening, lagi-lagi wajahnya datar tanpa perasaan ketika menatap wanita lain selain Zahwa ataupun keluarganya. "Gak kenal."


Zainab seperti terpukul saat mendengar jawaban Rey. Sementara itu Salimah mencoba membujuk Zainab agar dia makan siang bersamanya. Zainab menolak, dia masih ingin bicara dengan Rey.


"Mas, apa mas benar-benar gak ingat saya? Saya wanita yang waktu itu--"


"Maaf, saya gak tau siapa kamu. Tapi saya gak ada waktu buat ini. Zahwa, Selina, ayo kita pergi!" ajak Rey pada kedua adiknya itu, dia cuek sekali pada Zainab dan membuat Zainab sedih.


Salimah mendesah pelan, dia menunjukkan keterkejutannya saat melihat sosok Rey saat ini di depan wanita lain selain Zahwa dan Selina.


Woah! Kayaknya dia benar-benar suka sama si Zahwa, cewek cantik kayak kak Zainab aja dia cuekin. Kuat banget imannya.


Sungguh!


Zahwa tak suka dengan sikap Rey pada Zainab. Zahwa pun berinisiatif pergi lebih dulu bersama Selina dan meninggalkan Rey bersama Zainab agar mereka bisa mengobrol.


"Zahwa! Selina! Kalian mau kemana?!" tanya Rey pada kedua adiknya itu. Kemudian dia menatap Zainab yang masih berdiri disana dengan dingin.


Sedangkan Salimah yang sadar bawa kehadirannya di sana hanya menjadi obat nyamuk, akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari sana.


"Memangnya kita pernah ketemu di mana?"


"Euhh...itu mas--" mendadak Zainab gugup dan tidak bisa menata pria tampan yang berada di hadapannya itu.


"Maaf, saya gak punya banyak waktu. Sebentar lagi saya harus ke kantor," ucap Rey sambil melihat arloji di tangan kirinya.


"Ya-ya udah Mas, a-apa saya boleh minta nomor telepon, Mas!" pintanya seraya menyerahkan ponselnya pada Rey.


Pria itu menatapnya lekat lekat dengan tatapan dingin seperti biasa. Rey menghela nafas panjang.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2