Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 101. Pergilah dari hidupku


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Selina mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang memberikannya sapu tangan. Terlihat seorang pria berkulit hitam manis, berhitung mancung, tengah menatapnya dengan iba.


Ya, dia adalah sahabat baik Selina dari SD namanya Attar. Attariano Wiratama adalah putra dari seorang pengacara terkenal bernama Raditya Wiratama. Semua keluarga Calabria tau Selina dekat dengan Attar karena Bram juga dekat dengan ayahnya Attar dan pernah menjadi pengacaranya saat menghadap kasus Alexis di masa lalu.


Rumah Selina dan Attar juga berbeda beberapa blok saja. Namun saat masuk SMA, Selina menjauhi Attar dan mulai bergaul dengan teman-temannya yang tidak benar sampai melanggar aturan orang tuanya yang melarang pacaran. Semenjak saat itu Attar perlahan menjauh dari Selina dan mereka tidak terlihat bersama lagi.


"Lo ada masalah apa lagi sama pacar Lo?" tanya Attar pada Selina, sambil membantu Selina berdiri.


"Dia bukan pacar gue lagi," ucap Selina sambil mengusap air matanya dengan sapu tangan itu.


"Oh jadi Lo udah sadar kalau dia cuma mau main-main sama Lo?" sindir Attar dengan bibir memanyun, dia benar-benar tidak suka dengan Rivanno yang terkenal sebagai playboy dan anak nakal di sekolah. "Gue kan udah ingetin Lo berulang kali kalau dia bukan cowok bener. Lihat kan? Lo jadi nangis kayak gini!"


"Huaah....huahh...hiks...hiks..."


Selian menangis semakin kencang, padahal baru saja dia menghapus air matanya. Dia sangat takut dengan ancaman Rivanno, dia juga takut hamil dan dia takut semua keluarganya tau hal ini.


"Eh...Lo kok malah nangis sih? Udah dong, kan Lo udah putus sama dia...harusnya Lo senang dong udah keluar dari lubang buaya." kata Attar dengan mata yang memandang iba pada Selina. Dia pun membantu Selina mengusap air matanya dengan kedua tangannya. "Udah, jangan nangis oke?" Attar terlihat sangat mengkhawatirkan Selina.


Kamu salah Tar, aku udah masuk ke lubang buaya itu dan aku terjebak sekarang. Aku sudah kehilangan segalanya.


Ingin Selina menceritakan dan membagi bebannya pada seseorang. Tapi dia tidak bisa menceritakan aib ini kepada siapapun.


"Tar, Lo bawa motor gak?" tanya Selina sambil mengusap air matanya.


"Lo gak lihat motor gue di situ!" tunjuk Attar pada motor Vespa berwarna merah di pinggir jalan. Selera Attar memang unik, dia suka mengoleksi dan memakai motor jadul, Vespa, RX king dan motor jadul lainnya.


"Lo bisa anterin gue ke rumah sakit?"


Attar tercekat mendengar ucapan Selina tentang rumah sakit. Tatapannya semakin cemas pada Selina. "Apa Lo sakit Sel?"


"Bukan gue tapi kak Zahwa, dia ditusuk orang dan sekarang di rawat di rumah sakit." jelas Selina.


"Innalilahi, kok bisa gitu sih? Ya udah, gue anter Lo ke rumah sakit sekarang ya. Udah Lo jangan nangis, lupain aja si bangsat itu! Yang penting Lo udah kembali ke jalan yang bener." canda Attar seraya tersenyum pada Selina. Ia benar-benar senang karena Selina sudah putus dari pria yang bernama Rivano itu.


"Thanks Tar dan maaf juga karena gue udah jauhin Lo satu bulan ini. Gue sadar kalau Lo emang bestie terbaik gue! Lo gak akan ninggalin gue kan? Lo masih mau berteman sama gue kan? Gue udah minta maaf sama lo." ucap Selina sambil tersenyum pada Attar.


Attar tersenyum getir lalu mengusap kepala Selina dengan lembut. Sesekali ia menatap gadis itu penuh kasih. "Its okay gak usah di bahas lagi. Itu kan udah lewat Sel." ucap Attar yang tidak mempermasalahkan apa yang terjadi di antara mereka sebelumnya. "Buat gue yang terpenting lo udah kembali ke jalan yang benar."


"Jadi maksud Lo gue sesat gitu?" tanya Selina dengan kedua alis yang terangkat.


"Iya, saat lo gabung sama Rivano and the geng Lo sesat!" tukas pria itu seraya tersenyum lebar ala Pepsodent yang membuat Selina tersenyum.


Mereka pun pergi ke rumah sakit dengan naik motor Vespa Rivano. Beruntung Rivano sudah berusia 17 tahun dan dia sudah memiliki SIM, sendiri. Jadi semuanya aman, jika dia mau melakukan perjalanan dengan sepeda motor kesayangannya ke ke manapun dia mau. Dia dan Selina berbeda usia 1 tahun, namun mereka sama-sama baru kelas 1 SMA. Itu karena Rivano pernah malas sekolah selama satu tahun dan membuatnya tinggal kelas dan jadi satu kelas dengan Selina.


Di sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Selina tidak banyak bicara. Dia terlihat tertekan dan sedih. Attar ingin bertanya ada apa tapi dia tidak mau membuat Selina makin sedih.


*****


Seminggu telah berlalu sejak Zahwa di rawat di rumah sakit, lukanya juga sudah membaik. Sejak saat itu Dimas sering bicara dengan Zahwa apalagi saat ia tau bahwa Dimas adalah ayah kandung suaminya, dia bersikap hormat dan sopan padanya.


Tapi tidak dengan suaminya, dia bersikap ketua dan dingin pada ayah kandungnya sendiri. Terkadang Zahwa menegur suaminya yang bersikap tidak sopan pada Dimas.


"Kamu sudah makan siang nak?" tanya Dimas sambil membawakan makanan di dalam keresek untuk Zahwa. Entah apa isi didalam kresek hitam itu.


"Belum pak, saya lagi nunggu mas Rey beli makanan." balas Zahwa seraya tersenyum pada pria itu.

__ADS_1


"Rey mau kesini juga?" tanya Dimas lalu menjatuhkan tubuhnya perlahan di kursi yang berada tepat disamping ranjang tempat Zahwa berbaring.


Baguslah kalau Rey kesini, aku harus selalu menunjukkan muka baik didepannya. Aku bisa memanfaatkan kebaikan menantuku ini agar bisa mendekati Rey dan mendapatkan uang.


"Iya Pak, mungkin sebentar lagi Mas Rey sampai." jawab Zahwa ramah. "Oh ya pak...gimana keadaan bapak? Bapak masih pusing?" tanya Zahwa perhatian.


"Alhamdulillah sudah baikan nak, hanya saja kalau bekerja suka agak lemas."


"Ya Allah....terus gimana bapak di rumah?" Zahwa mulai khawatir dengan kondisi penyelamat sekaligus ayah mertuanya itu.


"Gak gimana-gimana nak, ya bapak cuma sendirian aja di rumah." ucap Dimas dengan wajah memelas.


Mendengar Dimas yang saat ini tinggal sendirian dan tidak ada yang mengurusnya, Zahwa jadi merasa iba pada Dimas. "Pak, gimana kalau bapak tinggal di rumah saya dan mas Rey?"


"Aku gak setuju." jawab seorang pria yang kini sedang berjalan menghampiri Zahwa dengan membawa rantang di tangannya. Tatapannya begitu tajam pada Dimas.


"Mas...kasihan bapak sendirian di rumah dan tidak ada yang mengurusnya. Bapak itu kan bapak kamu, Mas."


"Sayang, sudah memutuskan untuk tinggal berdua tanpa ada siapapun yang mengganggu kita. Maaf kali ini aku tidak bisa menuruti permintaan kamu," lugas Rey tanpa mau dibantah. Melihat raut wajah suaminya saat ini, Zahwa juga tidak bisa berbuat apa-apa selain patuh pada imamnya.


"Tidak apa-apa nak, selama ini bapak memang selalu tinggal sendirian." jawab Dimas sambil menghela nafas dan menatap Zahwa dengan sendu.


"Bapak tidak usah sok memelas begitu pak, jangan memanfaatkan kebaikan istri saya untuk kepentingan bapak!" tegur Rey yang tidak tahan melihat sikap Dimas yang begitu memelas tidak berdaya didepan istrinya.


"Mas... kamu tidak boleh bicara seperti itu pada orang tua, apalagi meninggikan suaramu seperti itu Mas..." tegur Zahwa pada suaminya. "Pak, maafkan mas Rey ya..." lirih Zahwa seraya menatap Dimas yang sudah mulai berkaca-kaca. Sungguh Zahwa tak tega melihatnya.


Sementara Rey cuek saja dan menahan marah pada ayah kandungnya itu. Sekilas di dalam hatinya Rey ingin ayahnya pergi dari kehidupannya selamanya dan tak kembali lagi.


"Bapak tidak apa-apa nak, ini makanan untuk kamu...cepat sembuh ya nak. Bapak pergi dulu, Assalamualaikum." Dimas terisak, dia pamit pergi pada Zahwa dan Rey lalu pergi dari sana.


"Mas..."


"Aku tau kamu mau bilang apa, aku anak durhaka? Begitu?


"Aku gak bilang gitu Mas." mata Zahwa melebar menatap suaminya.


"Aku lelah berdebat sama kamu cuma karena dia."


"Orang yang kamu sebut dia itu adalah ayah kandung kamu Mas, dia ayah mertuaku...ayahku juga. Bisakah kamu memberikan kesempatan satu kali lagi?" tanya Zahwa dengan lembut pada suaminya. "Bapak sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu, izinkanlah dia tinggal sementara waktu bersama kita."


"Zahwa...kamu gak paham apa yang aku rasakan." cetus Rey dengan wajah yang kesal.


Zahwa menarik tangan suaminya hingga keduanya duduk di atas ranjang itu. Zahwa mengecup pipi suaminya. "Sayang, setiap orang memiliki kesalahan dan setiap orang juga berhak mendapatkan kesempatan kedua. Kamu selalu mengatakan itu padaku."


Rey menatap sang istri dengan wajah bersemu merah, kesalnya mereda karena kecupan di pipinya dari sang Ibunda Ratu. "Ya kamu benar, Bahkan kamu juga memberikanku kesempatan kedua dalam hubungan ini meski aku telah berbuat kesalahan besar dengan berbohong."


"Nah...itu kamu tau! Jadi bisakah kamu memberikan kesempatan kepada bapak?"


"Ya, aku akan memberikannya kesempatan tapi tidak untuk tinggal bersama kita. Rumah tangga itu milik Kita berdua dan tidak boleh dicampuri oleh siapapun juga, kita sudah sepakat kan?" Pria itu menatap istrinya dengan lembut. Dia tidak mau ada masalah sekecil apapun di dalam rumah tangganya, termasuk masalah bapaknya.


"Oke, aku paham."


"Aku akan memberikannya hidup yang layak, tempat tinggal yang layak, tapi dia tidak boleh tinggal bersama kita." jelas Rey tegas. Zahwa hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah bicara dengan istrinya, Rey menyusul Dimas yang ternyata berada di depan rumah sakit. Beberapa orang terlihat memukulinya.


Mereka berbicara soal hutang dan kapan Dimas akan membayar hutangnya. Dimas pun mengatakan bahwa dia akan segera membayar hutang kalau sudah mendapatkan uang dari anak dan menantunya. Rey tersenyum menyeringai mendengar ucapan Dimas. Jadi benar dugaannya selama ini bahwa Dimas mendekati keluarga Calabria ada maksudnya.

__ADS_1


"Berapa hutangnya?" tanya Rey dengan suara meninggi dan membuat Dimas tercengang melihatnya.


Terlihat keringat membasahi wajah Dimas. Preman-preman itu pun melihat penampilan Rey dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Siapa Lo? Lo mau bayar hutang si Dimas, hah?" tanya salah satu preman itu dengan sedikit senyum di bibirnya.


"Iya, berapa semua hutangnya pada kalian?" tanya Rey pada preman-preman itu.


"50 juta," jawab salah satu preman itu.


Rey merogoh sesuatu di saku celananya, ada kertas dan juga bolpoin sudah ia pegang. "Pak, apa bapak mau saya bayar hutang bapak?" kali ini Rey menatap bapaknya dengan tajam. Begitu dinginnya Rey pada ayah kandungnya ini.


"I-iya Rey tolong bapak...kalau kamu tidak menolong bapak, bapak akan mati!" Dimas ketakutan dengan ancaman preman itu yang ingin membunuhnya dan memang ancaman itu tidak main-main.


"Saya akan bantu bapak bayar hutang, tapi bapak harus berjanji untuk pergi selamanya dari kehidupan saya." kata Rey tegas pada ayahnya, kejam memang. Tapi biarlah dia kejam pada ayah yang seperti ini. Tidak selamanya seorang anak salah dan ayah yang benar.


Dimas pun menganggukkan kepalanya, kemudian Rey membayar semua hutang Dimas. Tak hanya itu, Rey juga memberikan uang 15 juta untuk Dimas memulai hidup barunya dan jauh darinya.


Setelah itu Rey menceritakan pada Zahwa bahwa Dimas pergi keluar kota untuk memulai hidup barunya. Zahwa percaya pada suaminya.


...****...


Tepat setelah Zahwa sudah benar-benar pulih, dia dan Rey pulang ke rumah baru mereka. Rumah yang sudah selesai di bangun dan di renovasi, rumah itu memiliki akuarium besar dengan cat tembok dominan berwarna putih dan oranye.


"Gimana sayang? Kamu suka rumahnya?" tanya Rey pada istrinya yang sedang melihat-lihat rumah itu.


"Iya Mas, aku suka banget. Mana ada akuarium gede, rumah ini kelihatan jadi lebih hidup." Zahwa tersenyum senang melihat pemandangan itu.


"Alhamdulillah kalau kamu suka," Rey memeluk istrinya dari belakang.


"Tapi...apa kamu tau apa yang paling membuatku sangat menyukai rumah ini?" tanya Zahwa seraya melirik suaminya yang berada di belakang tubuhnya.


"Apa?"


"Karena ada foto kita terpajang disana," jawab Zahwa sambil melihat ke arah foto pernikahannya dan Rey yang terpajang di dinding.


Perkataan Zahwa sungguh membuat Rey mabuk kebayang dan si Alfonso terbangun karenanya. Dia membalikkan tubuh sang istri lalu mencium bibir ranum Zahwa dengan lembut.


"Eungh--Mas..."


"Kata dokter udah boleh kan? Jadi...kita terusin di kamar ya sayang?" bisik Rey seraya membelai lembut wajah istrinya. Dia menatap istrinya dengan tatapan nanar dan lapar, sudah hampir Minggu ini si Alfonso tak dapat jatahnya.


"Iya Mas."


Mereka pun pindah ke kamar baru di rumah itu dan melakukan ritual suami-istri. Setelah 1 jam bergulat diatas ranjang, Zahwa pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sedangkan suaminya masih tidur pulas dengan kondisi telanjang dada. Di dalam lemari kamar mandi, tak sengaja dia melihat pembalutnya disana masih utuh dan belum tersentuh.


"Kapan ya terakhir kali aku datang bulan? Pembalutku masih utuh saja...hem...kapan terakhir kali aku beli pembalut ya?" gumam Zahwa sambil berpikir.


*****


Sementara itu di rumah keluarga Calabria, kamar Selina.


Gadis itu sedang muntah-muntah di dalam kamar mandinya. Memuntahkan semua yang di makannya. "Kenapa aku begini? Aku mual-mual terus seperti orang yang sedang--"


Selina tiba-tiba terdiam dan menggantung ucapannya disana. "Gak...gak mungkin..." gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya, air mata pun luruh membasahi wajahnya. Berusaha menepis semua kemungkinan yang terjadi padanya.


...****...


Hai Readers, makasih banyak yang udah stay baca sampai saat ini ❤️😍 doakan novel author yang satu ini ada rezeki lebih ya, biar bisa kasih Give away lagi seperti novel-novel sebelumnya 😍

__ADS_1


__ADS_2