
...🍀🍀🍀...
Keesokan harinya,subuh itu Zahwa terbangun dengan kondisi tubuh yang berat. Seperti ada sesuatu yang menindih di perutnya. Zahwa pun membuka matanya dan melihat suaminya di sampingnya masih tertidur pulas.
"Kenapa mas Rey ada disini? Pintunya kan sudah aku kunci? Ah...pasti Mas Rey pakai kunci cadangan."
Zahwa menyingkirkan tangan Rey yang melingkar di tubuhnya, dia hendak pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Akan tetapi tangan Rey menarik tubuh Zahwa hingga wanita itu kembali berbaring di tempat tidur.
"Kamu udah bangun sayang?" tanya Rey dengan suara serak khas orang yang bangun tidur. Rey membuka matanya dan melihat Zahwa di sampingnya sedang ia peluk
Zahwa tak menjawab, dia masih kesal dan menepis tangan suaminya yang malah memeluknya semakin erat. "Aku mau ambil air wudhu, mau shalat subuh!"
"Iya ayo kita shalat bareng sayang, ke kamar mandi juga bareng ya." kata Rey dengan suara manja pada sang istri.
"Terserah!" ketus wanita itu pada suaminya.
Yah...Zahwa masih marah. Ayo berpikir Rey.
Usai membersihkan tubuh masing-masing dan mengambil air wudhu, Rey dan Zahwa shalat subuh bersama seperti biasanya. Walaupun dalam mode ngambek, Zahwa tetap bersikap sopan pada suaminya. Jangan salah ngambeknya Zahwa ini memang diam, tapi menyeramkan.
Berbagai cara di lakukan Rey untuk mendapatkan maaf dari istrinya, tapi usahanya masih nihil dan dia terpaksa meninggalkan istrinya di rumah karena ia harus pergi ke kantor.
Sedangkan Zahwa, hari ini tidak pergi bekerja karena Sabtu Minggu jadwal dokter gigi libur. Kebetulan hari ini hari Sabtu.
"Sayang, Mas udah telat nih." Rey menyodorkan pipinya pada Zahwa. Wanita itu sudah tau maksudnya apa, tapi cuek saja.
"Ya udah kalau udah telat berangkat aja!" ucapnya dengan begitu santai dan membuat Rey sedih.
"Aku belum bisa pergi sebelum istriku yang cantik kasih asupan tenaga cinta," ucap Rey manja, memelas, minta di cium dan di peluk istrinya.
"Gak ada peluk peluk sama cium Mas, dede gak mau deket sama kamu. Kamu masih bau wanita itu," ucapnya ketus dan menohok hati Rey.
"Sayang..." lirih Rey sambil memegang tangan Zahwa dan menatap istrinya dengan sedih.
"Kepalaku masih panas Mas, lebih baik kamu cepat bekerja...nanti pulang kita bicara."
"Jadi kamu masih mau bicara denganku?" Rey menatap Zahwa dengan mata yang berbinar-binar.
"Iya. Tapi mas pergi dulu bekerja sana, udah telat!"
__ADS_1
"Makasih sayang, nanti siang kita ketemuan ya makan siang bareng."
"Maaf Mas, aku ada janji sama Selina."
"Selina?"
"Ya, dia ajak aku makan siang bersama terus biasa lah...mau nemenin aku di rumah. Jadi mas jangan berani ganggu aku, kalau ganggu...aku makin marah sama Mas." ancam Zahwa tegas.
"Iya sayang. Ya udah mas berangkat dulu ya," kata Rey sambil tersenyum. Kemudian Zahwa mengecup punggung tangan suaminya. "Assalamualaikum sayang,"
"Waalaikumsalam Mas, hati-hati."
Zahwa melihat kepergian suaminya sambil tersenyum tipis. Dari pagi sampai siang, Zahwa menghabiskan waktunya dengan membersihkan rumah. Tak lama kemudian, Selina yang masih memakai seragam putih abunya mendatangi Zahwa di rumah.
"Assalamu'alaikum kakak!"
"Waalaikumsalam, ayo masuk Sel!" ajak Zahwa pada saudara iparnya itu. Dia melihat Selina yang terlihat begitu pucat dan gelisah.
Selina masuk ke dalam rumah, ia langsung memeluk Zahwa sambil menangis. Gadis itu menangis tersedu-sedu, Zahwa bingung kenapa Selina menangis. "Kakak...tolong aku kak...hiks...aku harus gimana kak? Tolong aku..."
Zahwa menggiring Selina untuk duduk tenang di sofa terlebih dahulu. Gadis itu terlihat stress dan syok.
"Minum dulu ya Sel," kata Zahwa prihatin.
Selina mengambil gelas berisi air minum itu, dia meneguknya sedikit. Nafasnya ngos-ngosan, ia masih terisak dengan air mata deras membasahi wajahnya. "Kak...aku takut, tolong aku kak..."
"Kenapa Sel? Cerita sama kakak...hmm? Akhir-akhir ini kamu kelihatan galau dan banyak masalah. Ada apa Sel?"
Gadis itu menatap Zahwa dengan tatapan sendu, ia masih berusaha menenangkan dirinya. "Kak...janji ya kakak gak akan cerita dulu sama semuanya? Terutama Papa dan Mama? Janji ya kak?"
Zahwa menganggukkan kepalanya, tampaknya apa yang akan dibicarakan oleh Selina ini adalah hal serius. "Ya Sel, kakak janji."
"Kak... sebenarnya...aku...hik hik...aku..."
Zahwa masih menantikan apa yang akan dikatakan Selina kepadanya, apa yang selama ini membuat Selina resah. "A-aku...aku hamil kak."
Deg!
Wanita yang berprofesi sebagai dokter gigi itu terkejut bukan main saat mendengar ucapan Selina. "Haha..Sel, kamu jangan bercanda kayak gini...gak lucu Sel!" Zahwa tidak percaya dengan ucapan Selina. Siapa juga yang akan percaya jika Selina anak baik-baik, ya walau suka berpenampilan baju kurang bahan akan hamil di luar nikah?
__ADS_1
"Aku...aku gak bercanda kak..." suara Selina gemetar, tubuhnya juga. Ia pun menunjukkan pada Zahwa surat tes kehamilan juga testpack di dalam tasnya. Zahwa menangis melihatnya, usia kandungan di dalam hasil USG itu sekitar satu bulan.
"Astagfirullah sel...kamu...haaahh....jadi siapa pria itu Selina? Siapa yang sudah menghamili kamu? Kakak akan hajar dia! Dia harus bertanggung jawab!" seru Zahwa sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Zahwa tak menyangka ini semua terjadi pada adiknya.
Sementara itu Selina terisak didalam pelukan kakaknya. "Mereka gak mau tanggung jawab kak, mereka...mereka...hiks..."
"Mereka? Apa maksud kamu mereka?" tanya Zahwa heran dengan kata mereka yang disebutkan oleh
"Kak Rivano dan kak Irfan...mereka memperkosa aku, mereka...ber...dua..." Selina semakin terisak manakala ia menyebutkan nama dua pria bajingan yang sudah merenggut kesuciannya.
Zahwa terlihat marah, dia menggertakan giginya. "Sel, udah jangan nangis... sekarang kamu tunjukkin sama kakak! Dimana rumah mereka!" kata Zahwa tegas.
"Kak..."
"Kita harus meminta pertanggungjawaban mereka Sel. Cepat atau lambat, pasti semua keluarga akan tau. Tapi kakak akan berusaha melindungi kamu Sel...kamu tenang saja ya. Kamu gak sendirian, jangan mikirin yang macam-macam tentang bayi kamu!" ucap Zahwa seraya memegang kedua bahu Selina dan menguatkannya. Zahwa takut Selina akan labil dan memikirkan hal yang tidak-tidak.
Bagaimana bisa kamu menanggung ini semuanya seorang diri Sel?
"Ayo sekarang kita pergi ke tempat si bajingan itu... astagfirullahaladzim...aku jadi mengumpat!" Zahwa menarik tangan Selina.
Mereka pun pergi menaiki taksi ke salah satu tempat tongkrongan Rivano, Irfan dan teman-temannya yang lain. "Ini tempatnya?" tanya Zahwa dengan wajah marahnya yang siap meledak. Wanita hamil itu menunjuk pada sebuah tempat seperti pos satpam di pinggiran kota.
"I-iya kak..." jawab Selina terbata.
Zahwa menarik tangan Selina, lalu mereka berdua masuk ke dalam pos satpam yang menjadi tempat tongkrongan Rivano cs. Zahwa mencium bau alkohol dan rokok disana, belum lagi suara tertawa dan ocehan ocehan para remaja.
"Lo tau gak? Si Selina minta pertanggungjawaban gue lagi, gila ya tuh orang...udah obralan, murahan aja masih minta tanggung jawab sama gue." celetuk Rivano sambil menyesap rokoknya.
"Iya bener Van, dianya aja yang murahan." sahut Irfan sambil terkekeh mengejek Selina.
"Tapi...kalau bukan karena Lo yang campur obat perangsang ke minumannya, dia gak bakalan kayak gitu bro!" kata salah satu temannya membela Selina.
"Ah...emang murahan ya murahan aja, Lo jangan belain dia terus deh Gam. Apa jangan-jangan Lo marah karena gak sempet nyicip tubuhnya?" tanya Rivano dengan gaya brengseknya.
Tiba-tiba saja Zahwa datang ke hadapan mereka, lalu dia menampar Rivano dengan cukup keras.
Plakk!
"Anak kurang ajar! Laki-laki brengsek kalian!"
__ADS_1
...****...