Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 115. Menolak digugurkan


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Beberapa jam sebelum Selina diculik seseorang tak dikenal...


Di rumah keluarga Rivano.


Plakk!


Buk!!


Rivano berhasil di seret oleh orang-orang papanya dan di hajar habis-habisan oleh papanya. Dia menolak untuk menikah dengan Selina. Berkata bahwa masa depannya akan hancur dengan sebuah pernikahan. Namun papanya tetap memaksa Rivano untuk menikah dengan Selina, selain untuk bertanggungjawab, dia juga akan menggunakan ini untuk membangun bisnis dengan keluarga Calabria yang terpandang.


"Pah, aku tetap tidak mau menikahi Selina! Aku masih muda dan aku tidak mau terikat dengan pernikahan! Aku masih ingin menggapai cita-citaku!" kata Rivano keras kepala.


"Cita-cita apaan? Mabuk-mabukan? Foya-foya dengan yang uang papa berikan padamu? Jangan kamu pikir papa bodoh ya, papa tau di luaran sana kamu seperti apa!" ujar Vans begitu emosi pada putranya yang selalu menghabiskan uang dan berfoya-foya, fokus sekolah juga tidak.


"Pa! Aku tidak mau menikah dengan Selina!" tolak Rivano meski wajahnya sudah babak belur oleh papanya sendiri. Beginilah Vans kalau marah, selalu main tangan.Belum lagi ia selalu melontarkan kata-kata pedasnya pada Rivano dan membuat anak remaja berusia 18 tahun itu sakit hati.


"Dia mengandung anak kamu, mau tidak mau kamu harus menikahinya. Dan papa rasa tidak ada yang salah dengan Selina, dia anak cerdas, cantik, berasal dari keluarga terpandang. Papa senang bisa berbesan dengan keluarga Calabria."


"Sekali tidak mau ya tidak, pah!" Rivano keras kepala tetap menolak papanya.


"Terserah kamu mau bilang apa! Pernikahan kamu dan Selina akan diadakan besok malam, TITIK! Tidak ada bantahan lagi Rivano!" ujar Vans seraya menunjuk kepada wajah Putranya.


Rahang Rivano mengeras, dia begitu emosi pada papanya. Bahkan Vans mengurungnya di kamar. Sumpah demi Tuhan! Rivano tak mau menikah dengan Selina. Dia masih ingin bermain-main di luar sana, dia masih muda dan tidak mau jadi ayah ataupun jadi seorang suami.


"Gak! Gue gak mau nikah sama Selina....tapi gimana caranya ngelawan Papa? Ah...kalau bayi itu gak ada, bukankah gue bisa lepas dari tanggung jawab." smirk terlihat di wajah Rivano, dia memikirkan sesuatu yang jahat.


Ya, dia menelpon temannya lalu berniat menggugurkan kandungan Selina agar ia lepas dari tanggungjawab.


****


Di depan SMA xxx.


Selina terlihat sedang berjalan untuk mencari taksi, dia tidak menelpon pak Seto karena takutnya akan lama. Sedangkan dia ingin segera beristirahat. Attar melihat Selina dari belakang, ia membawa sepeda motornya namun tak menyalakannya.


"Sel...Lo kenapa sih? Apa yang Lo sembunyiin? Kenapa Lo jadi murung gini? Padahal kalau Lo ada masalah, gue bisa jadi tempat Lo buat curhat. Tapi kenapa Lo seperti memisahkan diri..." gumam Attar sedih dengan perubahan Selina akhir-akhir ini. Bahkan saat ini Selina terlihat sakit.


Pandangan Attar tetap tertuju pada Selina, memastikan bahwa Selina pulang dengan selamat. Namun tiba-tiba saja sebuah mobil Jeep hitam berhenti tepat didepan Selina, terlihat dua orang pria pria berpakaian hitam-hitam keluar dari mobil itu. Lalu mereka membawa Selina dengan paksa, masuk ke dalam mobil. Mulut Selina di bekap hingga gadis itu tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Selina! SELINA!"


Attar menyalakan mesin motornya lalu dia tancap gas menyusul mobil Jeep hitam yang membawa Selina. Attar terlihat panik melihat Selina dibawa pergi begitu saja oleh dua orang tak dikenal itu.


Mobil Jeep itu melaju dengan kecepatan tinggi, hingga motor Vespa Attar yang berkecepatan rendah tak mampu mengejar mobilnya. Kala itu Attar berada di persimpangan jalan dan dia tidak tau mau pilih yang mana.


"Astaghfirullah! Selina jalan kemana? Aku...aku harus minta bantuan sama om Bram atau--kak Reyndra, ah...atau kak Zayn." gumam Attar. Kemudian dia memberhentikan motornya dan menepikan motor tersebut di pinggir jalan. Ia mengambil ponsel yang ada di saku jaket jeans miliknya, lalu dia memutuskan untuk menghubungi Bram lebih dulu.


###


Sementara itu mobil yang membawa Selina sampai di sebuah tempat terbengkalai di dekat hutan. Dua pria itu membawa Selina masuk ke dalam tempat terbengkalai itu dsn mengikat Selina di atas kursi.


Gadis itu masih tak sadarkan diri karena obat bius yang tadi sempat di pakaikan oleh salah satu pria tersebut pada Selina.


"Van, Lo yakin mau ngelakuin ini?


"Tenang aja Gas, gue gak bakal ngapa-ngapain dia selama dia mau kerjasama sama gue. Gue juga masih punya hati." kata Rivano sambil membuka masker wajahnya.


"Beneran kan Lo gak bakal ngapa-ngapain?" tanya Bagas, sepupu Rivano yang membantu penculikan Selina.


"Iya bro."


"Oke, gue diluar dulu...Lo silahkan ngobrol sama dia." kata Bagas lalu melenggang pergi keluar dari sana, tinggalkan Selina dan Rivano berdua saja.


Rivano dengan kasar menyiramkan air ke wajah Selina sampai membuat baju seragamnya basah. Selina pun membuka matanya, ia terkejut melihat Rivano ada didepannya.


"Jadi Lo yang nyulik gue? Ngapain kak?" tanya Selina sarkas.


"Sorry, gue sebenarnya gak ada maksud buat nyulik lo. Tapi gue mau ngomong sama Lo, kita buat kesepakatan dan Lo harus mau." ucap Rivano memaksa.


"Kesepakatan apa?"


"Lo pilih! Gugurin kandungan Lo, atau bilang sama nyokap dan bokap lo supaya batalin pernikahan kita karena gue gak mau nikah sama Lo!"


Selina berdecih kemudian meludah ke wajah Rivano. Selina tidak menyangka bahwa Rivano akan tega mengatakan tentang menggugurkan kandungan.


"Lo berani sama gue HAH!"


Plakkk!

__ADS_1


Tangan Rivano menampar Selian dengan kasar, ia sangat kesal karena Selina berani meludahinya. Pipi Selina langsung jadi memar akibat pukulan Rivano. Tamparan pria dan wanita tenaganya memang berbeda."Tega kamu kak! Apa salahku sama kamu sampai kamu pengen gugurin kandungan ini? Didalam rahimku ini ada nyawa, ada bayi kita dan kamu adalah ayahnya! Kenapa kakak tega menyuruhku untuk menggugurkan kandungan ini?"


"Hey Selina! Apa Lo bego? Lo gak bisa mikir, apa? Itu pasti masih titik kecil tak bernyawa! Dan apa Lo mau menikah muda? Kehilangan masa depan Lo karena bayi ini?Jangan bodoh!" kata Rivano tegas.


Apa yang katakan oleh Rivanno tidak sepenuhnya salah. Memang berat bila Selina harus putus sekolah, menjadi seorang istri dan menjadi seorang ibu di usia semuda ini. Tapi Selina terus memikirkan kata-kata Amayra, bahwa bayi yang ada di dalam kandungannya tidak berdosa.


"Aku tau...aku memang bego, bodoh, sebutlah aku begitu. Tapi kak... aku tidak tega untuk membunuh bayi ini, bayi ini tidak bersalah, orang tuanya lah yang berdosa."


"Halah! Kebanyakan ceramah Lo! Jadi, lo mau gugurin kandungan atau tetap jadi orang bego kayak gini?" ucapan Rivano begitu sarkas dan menusuk ke dalam hati Selina. Namun gadis itu memutuskan untuk mempertahankan bayinya apapun yang terjadi. Meski dirinya harus menanggung malu, menikah muda dan kehilangan masa depannya. Masa-masa indahnya di sekolah.


"Tidak kak! Jangan paksa aku untuk menggugurkan kandunganku, aku akan tetap mempertahankan bayi ini terlepas kamu mau bertanggung jawab atau tidak, kak. Lagipula aku juga tidak mau menikah dengan pria brengsek seperti kamu, yang mau enaknya saja tapi tidak mau susah." jelas Selina dengan tegas.


"Hah! Sok bijak banget Lo! Kenapa Lo mendadak jadi ustadzah? Sok suci!" Rivano senyum mengejek dan berdecih pada ucapan wanita itu yang tetap kekeh mempertahankan bayi yang ada di dalam kandungannya.


"Gara-gara Lo, bokap gue mukulin gue sampai kayak gini." Rivano menunjukkan wajahnya yang memar pada Selina. "Dan Lo tau kenapa? Bokap gue tetap maksa gue buat nikahin lo!"


"Kak, aku juga tidak bisa menentang keputusan orang tuaku untuk menikahkan kita. Aku tidak mau membuat mereka lebih kecewa lagi, sudah cukup aku membuat mereka menangis dengan aib ini...aku tidak bisa menolak permintaan mereka, jika mereka memang mau menikahkan kita!"


Ya, Selina telah mengambil keputusan besar dalam hidupnya untuk menikah muda sekalipun itu dengan pria brengsek. Sudah cukup dia melihat air mata yang jatuh dari kedua orang tuanya.


Sakit!


Itulah yang dirasakan Selina saat melihat Diana dan terluka karena dirinya. Dia sudah berjanji tidak akan pernah menentang keputusan orang tuanya apapun itu. Lagipula tidak ada orang tua yang ingin anaknya menderita dan mereka ingin selalu melihat anak-anaknya bahagia. Selina tau apapun yang dilakukan oleh kedua orang tuanya hanya karena ingin dia bahagia.


"Jadi, Lo mau tetap keras kepala aja kayak gini hah?!" teriak Rivano sembari mencengkeram dagu Selina.


"Kak...kakak mau ngapain?" Selina menatap Rivano dengan takut dan gugup, pasalnya tatapan pria itu kini begitu tajam kepadanya seperti memiliki niat jahat.


Rivano mengambil botol yang berisi cairan tidak berwarna, entah apa itu. Kemudian Rivano memaksa Selina untuk membuka mulutnya. "Buka! Cepetan! Gue mau mengakhiri semuanya di sini."


"Kak...apaan itu...kak...jangan kak, jangan..." di situ berusaha memberikan perlawanan dengan menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


Mulut Selina buka dengan paksa, lalu Rivano memasukkan cairan di dalam botol itu ke dalam mulut Selina. "Umpph--umphh--"


Ya Allah, cairan apa ini? Tolong aku dan bayiku ya Allah.


"Dengan semua ini, masalah beres!" Rivano tersenyum menyeringai melihat Selina telah meminum cairan itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2