
Zahwa pulang ke rumahnya dengan keadaan resah gelisah, dia merasakan matanya yang sembab. Sungguh tidak nyaman saat dia melihat raut wajah Diana dan selalu terngiang-ngiang di kepalanya ucapan tantenya itu.
"Ya Allah...aku harus gimana? Gimana kalau yang lain juga gak setuju dengan hubunganku dan kakak?" gumam Zahwa sambil melihat cincin yang terpasang dijarinya, cincin yang diberikan oleh Rey pertama kalinya. Ditatapnya cincin itu dengan perasaan gelisah.
Sementara itu di rumah besar Calabria, Rey pergi ke kamar mamanya dan melihat mamanya duduk diatas ranjang dengan wajah berlinang air mata dan penuh kemarahan.
"Ma...Rey mau ngomong sesuatu sama mama, please mama dengarkan Rey." lirih Rey seraya memohon pada mamanya.
Diana hanya menatap Rey dengan penuh kemarahan, wajahnya merah menyala.
🍁🍁🍁
Sore itu.
Di kantor Calabria grup, Zayn baru saja selesai menyelesaikan pekerjaan kantornya. Dia sengaja pulang lebih awal karena akan merayakan lancarnya sidang saudara kembarnya. "Huh, pasti Zahwa marah karena aku tidak datang ke kampusnya tadi...tapi dia gak akan marah kan kalau aku bawa coklat, bunga sama hadiah buat dia?" gumam Zayn sambil melihat sekotak coklat, bunga dan kotak berbentuk persegi panjang berwarna ungu yang entah apa isinya.
Zayn menatap kotak itu sambil tersenyum sendiri, membayangkan reaksi Zahwa jika gadis itu membuka hadiah darinya. Kini Zayn sudah masuk ke dalam mobil dengan membawa hadiah dan juga bunga untuk Zahwa.
"Assalamualaikum Zayn!" sapa Salimah yang sudah berada di belakang Zayn.
"Waalaikumsalam Salimah." Perlahan senyum dibibir Zayn menghilang saat melihat wanita itu. Masih ada rasa kesal dihatinya pada Salimah karena dia pernah menghina saudara kembarnya. Tapi itu kan sudah masa lalu dan Zayn juga bukan pendendam. Ia tak membenci Salimah, hanya saja ia tak suka padanya.
"Zayn, aku titip ini ya buat Zahwa." ucap Salimah sambil menyerahkan kotak berukuran cukup besar berwarna merah pada Zayn.
"Oh ya makasih." jawab Zayn singkat lalu menyimpan kotak itu masuk ke dalam mobil.
Melihat Zayn yang selalu cuek padanya walau mereka bertemu hampir setiap hari, Salimah merasa harapan untuk mendapatkan Zayn tetaplah tipis karena selama itu Zayn malah lebih dekat dengan Aini.
__ADS_1
Aini baru saja dipindahkan ke kantor cabang Calabria grup, dia mengambil jurusan bisnis dan sama seperti Zahwa dia juga baru lulus. Tinggal tunggu hari wisuda saja. Aini bekerja sebagai asisten sekretaris Niko, jadi mereka berada dalam satu lingkungan kerja.
"A-aduh..." Salimah meringis kesakitan sambil memegang kakinya.
"Kamu kenapa Salimah?" tanya Zayn heran melihat Salimah tiba-tiba kesakitan.
"Zayn...kakiku sakit, tadi aku terkilir di tangga sana. Kamu bisa bantu aku gak?" tanya Salimah sambil meringis kesakitan.
"A-aku akan panggilkan taksi, biar kamu bisa diantar pul--"
Brugh!
Tiba-tiba saja Salimah menjatuhkan dirinya pada tubuh bidang Zayn. "Salimah, kamu kenapa?" tanya Zayn heran, sontak dia langsung mendorong Salimah.
"Zayn..." lirih Salimah masih dengan dramanya.
"Aku akan panggil taksi, maaf Salimah." Zayn begitu menjaga dirinya, dia tidak mau ada hubungan dengan Salimah.
Aku gak akan biarkan kamu bertemu dengan Aini.
"Ta-tapi..." Zayn terlihat gugup.
Aku ada janji ketemu sama Aini, dia pasti udah nunggu aku.
"Ya udah aku panggil taksi sekarang ya biar gak lama," tawar Zayn yang hendak pergi dari sana.
"Eh...ehm...Zayn, kayaknya kak Raihan mau jemput. Ka-kamu bisa tunggu aku bentar kan?"
__ADS_1
"Oke."
Zayn juga punya hati, dia tidak mungkin tega meninggalkan Salimah seorang diri dalam keadaan terluka. Apalagi pegawai lainnya sudah pulang, Zayn pikir menunggu Raihan hanya sebentar ternyata 1 jam lebih dia disana dan 1 jam lebih Aini menunggu Zayn di dekat kosannya. Setelah Raihan menjemput Salimah, tak lupa adik kakak itu berterimakasih pada Zayn yang sudah menunggu Salimah. Lalu Zayn pun pergi ke tempat Aini.
Mobil Zayn kini sudah terparkir tak jauh dari gang kosan Aini. Tampak gadis itu dengan wajah cemberutnya sedang duduk di kursi kayu disana. Begitu melihat Zayn keluar dari mobil, Aini menatapnya dengan tajam.
"Hulk woman, maaf aku telat..."
"Kalau udah janji tuh ditepati," tegur Aini kesal.
"Maaf tadi aku habis nunggu Salimah dulu, kakinya sakit jadi...ehm.."
Salimah lagi? Kenapa ya akhir-akhir ini si piktor deket banget sama Salimah?. Batin Aini kesal dan dia juga tidak tahu kenapa dia kesal.
"Oh gitu ya? Maaf deh kalau ganggu, tapi seharusnya kamu kasih kabar dong kalau mau telat."
"Maaf dong Hulk woman, maaf udah buat kamu nunggu. Aku akan traktir kamu makanan deh," ucap Zayn seraya memohon.
"Makanan?" Mata Aini langsung berbinar-binar begitu mendengar makanan.
"Gimana? Mau ya?" Zayn tersenyum.
"Tidak semudah itu Ferguso! Aku masih marah ya sama kamu piktor, tapi aku mengesampingkan marahku dulu...soalnya aku mau ketemu Zahwa dan kasih hadiah buat dia. Ayo kita pergi," ajak Aini buru-buru. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan Zahwa dan memberikan hadiah padanya.
Mereka berdua pun naik mobil bersama ke rumah Zahwa. Aini mengesampingkan dulu kesalnya.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah bercat biru langit itu, Zayn dan Aini keluar dari mobil. Lalu keduanya melangkah masuk ke dalam rumah, di ruang tengah rumah sudah ada Amayra dan Zahwa.
__ADS_1
*****
Makasih vote sama gift nya ya 😍 ada satu bab lagi, semoga review nya cepet 🤫