Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 77. Rey marah


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Beberapa menit sebelum Rey membaca pesan dari Selina. Rey sedang menelpon seseorang, dia mengatakan tentang Zainab dan tentang membongkar rahasia wanita itu.


"Oh, jadi wanita itu berpura-pura hamil? Hah...lihat saja balasanku Zainab, kamu sudah menampar Zahwa dan aku akan membuatmu menyesal." gumam Rey sambil merebahkan tubuhnya diatas sofa empuk sambil menikmati pemandangan malam di Bali. Waktu di Bali 1jam lebih awal daripada di Jakarta, kini di Bali menunjukkan pukul setengah sepuluh malam sedangkan di Jakarta masih pukul setengah 9.


Tadinya Rey mau menelpon Zahwa sebelum tidur atau menunggu kekasihnya melanjutkan obrolan mereka, namun ia merasa mungkin Zahwa sudah tidur jam segini dan dia tak mau mengganggunya.


Namun beberapa saat kemudian saat dia akan menyimpan ponselnya, ponsel itu malah bergetar dan membuat Rey mau tak mau jadi melihat ponselnya.


"Astagfirullahaladzim! Apa ini?!" Rey langsung terlonjak dari sofa itu saat melihat foto dan video yang dikirimkan Selina padanya. "Heh! Cowok itu lagi!" decih Rey sambil mengusap rambut di kepalanya dengan gusar.


Hatinya berkecamuk tidak karuan, apalagi saat melihat Video Deva yang mengatakan bahwa dia mengatakan cinta pada Zahwa. Hati Rey menjadi tidak tenang, pasalnya dia pernah melihat beberapa kali Deva mendekati Zahwa terutama saat di rumah sakit.


"Anak ini.... ternyata dia gak nyerah. Oke fine, dia berasal dari keluarga mana, sepertinya aku harus tau," ucap Rey lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Menenangkan sesuatu yang mendidih didalam hatinya,namun itu sulit.


Rey langsung menelepon seseorang dengan wajah marah. "Kenapa Nemo gak angkat telponku? Apa dia lagi berduaan sama cowok itu? Sial! Aku jadi mengumpat!" gerutu Rey gusar. Apalagi tiba-tiba ada bayangan yang tidak-tidak, Zahwa bersama Deva terlintas di kepalanya.


Dan diseberang sana Zahwa tidak mengangkat telponnya karena dia telah menyimpan ponselnya ke kamar untuk di charge.


Setelah keluarga Andara pulang, Selina terlihat resah gelisah dan membuat Zahwa bertanya-tanya. "Sel, ayo! Katanya mau nonton film horor dulu." ajak Zahwa pada Selina yang sebelumnya sudah janjian mau nonton film horor lebih dulu.


"Ehm...iya." Selina terlihat gugup.


"Kamu kenapa Sel? Kamu sakit?"


"Gak apa-apa kak! Ayo kita ke kamarku, kita nonton disana." Selina tersenyum seolah tak terjadi apapun.


Zahwa mengangguk, dia dan adik sepupunya itu berjalan ke kamar Selina yang ada di lantai dua. Sesampainya disana mereka mendengar suara telpon yang berdering diatas nakas. Ya, itu ponsel Selina yang berdering.


"Sel, ponsel kamu bunyi tuh!"


"Oh iya kak....tolong kakak putarkan filmnya dulu." ucap Selina sambil meninggalkan laptopnya yang ada diatas kasur.


"Oke."


Selagi Zahwa memutarkan film, Selina melihat siapa yang menelpon dirinya malam-malam. "Omigod! Kak Rey! Aduh gimana ini?"


Dengan perasaan takut dan was-was, Selina menerima panggilan itu. "Ha-halo kak, assalamualaikum." jawab Selina gugup.


"Waalaikumsalam, mana Zahwa?" tanya Rey to the poin.

__ADS_1


"Eungh--ada kok."


Ihh.. serem banget suara kak Rey. Batin Selina yang merasa ngeri mendengar suara kakaknya itu.


"Dia udah tidur belum?" tanya Rey dengan suara meninggi.


"Kak Zahwa mau nonton film sama aku kak, kak Zahwa lagi milih filmnya." bisik Selina pada kakaknya.


"Kasih teleponnya ke dia! Kakak mau ngomong!" ujar Rey tegas.


"Tapi kakak jangan marah sama kak Zahwa ya, aku yang salah kak. Sebenernya video dan foto itu gak seperti yang--"


"KASIH teleponnya ke Zahwa!" Rey langsung memangkas ucapan adiknya dengan kesal.


"I-iya kak!"


Selina pun menghampiri Zahwa yang berada di atas ranjang, lalu dia memberikan ponselnya kepada Zahwa. Awalnya Zahwa tak paham apa maksud Selina, namun saat melihat nama yang tertera di ponselnya, Zahwa paham bahwa Rey ingin bicara dengannya.


"Assalamualaikum kak, kakak belum tidur?" tanya Zahwa perhatian.


"Kenapa si anak band itu bisa ke rumah? Mau ngapain dia?"


"Ya siapa lagi, cowok yang pegang-pegang tangan kamu itu." kata Rey dengan suara kesal.


Zahwa tercekat mendengar ucapan Rey, kenapa dia bisa tau kalau Deva datang kesana dan memegang tangannya. Selina terlihat merasa bersalah dan mengatupkan kedua tangannya seraya memohon maaf pada Zahwa. "Maaf kak." bisik Selina.


Gadis berhijab itu hanya menghela nafas, ternyata ini ulah Selina.


"Kak, kita video call bentar yuk. Aku akan jelaskan semuanya, sama Selina juga." ucap Zahwa sabar seraya membujuk tunangannya itu.


"Huh...gak mau." cetus Rey masih dengan suara kesalnya.


"Oh jadi gitu? Kakak gak rindu sama aku jadi kakak gak mau lihat wajah aku?" goda Zahwa pada Rey.


"Hem...ya udah deh kalau kamu maksa. Aku video call."


Tut...


Setelah semua panggilan dimatikan, kini tombol panggilan video call yang menyala. Terlihat Rey dan Zahwa saling bertemu dalam video call. Saat Zahwa memandangnya, seketika Rey langsung memalingkan wajah.


"Kak...mau dengerin penjelasanku gak?"

__ADS_1


"Iya." sahut Rey singkat.


Tanpa banyak basa-basi, Zahwa menceritakan semua yang terjadi antara dia, Deva dan juga keluarga Andara. Tanpa ada yang ditutup-tutupi dan dia mengatakannya dengan jujur.


"Jadi dia mau lamar kamu? Sialan!"


"Kak, kakak ngumpat?" celetuk Selina sambil menahan tawa mendengar kakaknya mengumpat untuk pertama kali.


"Istighfar kak!" Zahwa juga terkekeh mendengar Rey yang alim mengumpat seperti itu.


"Astagfirullah, maaf...habisnya aku kesal. Masa ada pria lain yang lamar tunangan aku? Gila aja! Cari mati dia." cetus Rey tidak dapat menahan rasa kesalnya.


"Hehe...kakak tenang aja, aku kan udah bilang kalau hati aku udah buat kakak. Kakak pelabuhan terakhirku. Dan bukankah yang terpenting aku sudah jujur? Selina juga sudah menjelaskan semuanya, jadi kakak jangan marah lagi ya?"


"Sayang, aku gak marah... tapi aku cemburu. Kamu udah mau nikah aja masih ada yang lirik."


"Tapi dimataku cuma ada kulkas 15 pintu."


"Panggilannya yang romantis dikit dong, tuh lihat Selina sampai ketawa kayak gitu " Rey melihat Selina yang duduk disamping Rey tengah tertawa.


"Hehe...maaf kak. Oh ya udah, hari sudah malam, kakak cepat bobok ya. Bukankah besok Kakak ada meeting sama klien?"


"Oke," ucap Rey sambil menghela nafas, dia sebenarnya masih rindu dengan Zahwa tapi dia terpaksa harus mengakhiri panggilannya. "Ehm...Zahwa,tunggu."


"Ya kak?"


"Besok kakak mau langsung pulang aja."


"APA? Bukannya acaranya sampai lusa? Kak...jangan bilang kalau kakak mau pulang karena__" Zahwa tercekat mendengar Rey yang baru sampai disana malah ingin pulang.


"Ya, aku takut dan aku cemas kalau tunanganku akan direbut orang." cetus pria itu jujur.


Disisi lain Selina hanya senyum-senyum sendiri mendengar percakapan mereka berdua.


"Astagfirullah kakak, kalau kakak pulang besok...aku marah loh! Kakak inget, kakak harus nafkahin aku nanti...jadi kerja yang benar!" kata Zahwa memperingatkan.


"Haha...baiklah calon makmumku, pokoknya kalau masalah calon imammu sudah beres. Kakak segera pulang." Jujur, hati Rei sangat berbunga-bunga ketika Zahwa mengatakan tentang nafkah. Dia merasa seolah-olah dirinya telah menjadi seorang suami.


Mereka pun mengakhiri perbincangan mereka dengan salam, setelah itu Rey langsung menelpon kliennya dengan menggunakan bahasa Inggris dan meminta pertemuan yang dipercepat dan pekerjaannya cepat diselesaikan. Agar dia bisa cepat pulang ke Jakarta, rencananya setelah dia pulang ke Jakarta, dia ingin langsung menikahi Zahwa, tak mau menunggu sampai tiga minggu lagi.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2