Percayalah, Aku Masih Suci

Percayalah, Aku Masih Suci
Bab 93. Bad mood


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Sungguh Zahwa benar-benar malu dengan sikap suaminya yang konyol dan menghebohkan orang-orang kompleks. Dia masuk ke dalam mobil dengan kesal, disusul oleh Rey yang lalu duduk di kursi kemudi.


Namun pria itu tak langsung menyalakan mesin mobilnya, dia malah diam dan memandang istrinya. Padahal bukti klakson sudah bersahutan di belakang sana.


"Mas! Ayo jalan, nanti kamu telah ke kantor dan aku telat ke rumah sakit!" ujarnya pada Rey yang malah diam saja.


Din...Din...Din...


"Woy! Mas, buruan nanti saya telat mas!" ujar seorang pria marah karena Rey belum melajukan mobilnya.


"Aa enggalkeun atuh, ini saya teh mau kirim barang ke pasar!" kata seorang pria yang berada di mobil pengangkut makanan.


Zahwa melirik suaminya dengan kesal. "Mas, Kenapa kamu diem aja sih? Orang-orang udah pada marah tuh, mobil kamu ngehalangin jalan!" tegur sang istri yang sedang dalam mode merajuk itu.


"Sun dulu! Baru aku mau tancap gas!"


"Mas, ini gak lucu tau gak."


"Siapa juga yang mau ngelucu? Sun dulu, kalau enggak di sun aku gak mau tancap gas, biarin aja mobil aku tetap di sini terus ditabrak orang!" kata Rey tidak peduli. "Ah atau biar semua orang kompleks pada demo sama aku, aku gak peduli." tambahnya lagi.


"Astagfirullah Mas, kamu nggak boleh bicara seperti itu mas!" Zahwa mendelik kesal pada suaminya, tingkah Rey saat ini seperti anak kecil yang memohon untuk di perhatikan dan di maafkan.


Terdesak dengan keadaan orang-orang yang sedang marah di luar sana, terpaksa Zahwa mengecup pipi suaminya. "Nah udah kan? Sekarang cepat nyalain mobilnya dan kita pergi dari sini, kalau Mas tetap keras kepala aku bakalan makin marah!" seru Zahwa mengancam suaminya.


"Iya sayang iya, jangan marah-marah ya. Rey-bin tancap gas sekarang!"


Rey langsung menurut begitu melihat raut wajah istrinya semakin semrawut. Dia juga tidak mau telat ke kantor karena pekerjaannya pasti menumpuk sehabis bulan madu. Zahwa juga kembali ke rutinitasnya untuk menangani pasien yang berkaitan dengan gigi dan mulut.


Di dalam perjalanan Zahwa masih terdiam dengan wajah marah, meski Rey selalu mengajaknya bicara dan menggodanya. Ya, Rey tetap mencoba sabar karena wajar jika Zahwa masih marah dan kecewa padanya. Seperti apa kata Nilam, pasti Zahwa akan memaafkannya. Hanya saja wanita itu perlu waktu.


"Nemo..." panggil Rey dengan mata yang menatap sang istri turun dari mobil.

__ADS_1


"Hm?" sahut Zahwa malas.


"Kamu lupa cium tangan suamimu." ucapnya mengingatkan Zahwa.


Astagfirullah, walaupun aku sedang marah pada mas Rey, aku tidak boleh melupakan kewajibanku sebagai seorang istri.


"Iya Mas,"


Tangan Zahwa meraih tangan suaminya, lalu dia mengecup punggung tangan sang suami seraya mengecup salam. "Assalamualaikum Mas,"


"Hem..tunggu dulu sayang," bukannya membalas salam, Rey malah menarik istrinya masuk kembali ke dalam mobil. Lalu dia mencium kening istrinya dengan lembut penuh kasih sayang. "Jangan lama-lama ngambeknya sayang, mas cinta kamu."


Tidak ada balasan dari Zahwa tapi sungguh hatinya terenyuh dengan kelembutan Rey. Saat hatinya mulai memaafkan Rey, dia kembali kesal ketika teringat dengan orang-orang yang dulu menghinanya karena foto itu dan semuanya ulah Rey.


Zahwa turun dari mobil dan menggendong tasnya, dia melihat mobil suaminya masih disana dan Rey tersenyum ke arahnya. Senyum yang pahit dan tatapan penuh rasa bersalah.


Wanita itu masuk ke dalam rumah sakit tanpa mempedulikan Rey lagi. Setelah memastikan istrinya masuk ke dalam rumah sakit, bergegaslah Rey pergi ke kantor dengan hati yang tidak tenang karena masalahnya dengan Zahwa.


"Selamat pagi pak!" sapa Niko yang sudah stay di ruang sekretaris pagi itu.


"Pak, ada nona Cleo di dalam ruangan bapak!"


Cleo.


Mendengar nama itu Rey langsung menoleh ke arah sekretarisnya dengan kening berkerut. "Cleo? Ngapain dia disini? Kenapa kamu tidak bicara dulu dengan saya sebelum mengizinkan dia masuk?" tanya Rey dengan suara datar dan ketus.


Ada apa dengan pak presdir? Kenapa pulang bulan madu wajahnya malah ditekuk begitu ya?


Niko heran kenapa bosnya terdengar ketus, bukankah normalnya setelah bulan madu wajahnya berseri-seri dan bahagia. Ini malah marah-marah seperti habis perang. Niko tidak tahu saja bahwa Rey sedang ada masalah dengan istri kecil tersayangnya itu.


"Maaf pak, tapi kan nona Cleo biasa datang kesini...jadi saya--" Niko berusaha menjelaskan namun Rey langsung memotong ucapannya dengan marah.


"Bukan kamu yang berhak mengatur siapa yang bisa masuk dan yang tidak ke kantor saya. Mulai sekarang selain istri dan keluarga saya, tidak boleh ada orang asing yang masuk ke dalam ruangan saya. Paham kamu, Niko?"

__ADS_1


Niko langsung menciut dan sekali lagi dia memohon maaf pada Rey karena sudah membuat kesalahan.


Huuu...pak Presdir sangat menyeramkan.


Rey pun langsung masuk ke dalam ruangannya, dia tidak menutup ruangan itu karena ia tau batasan tidak boleh berduaan bersama wanita yang bukan muhrim di dalam sebuah ruangan.


Mau apa Cleo kesini? Bukannya urusan kita sudah selesai?


Setibanya diruang Presdir, Rey melihat Cleo yang tengah duduk di sofa sana. "Ada apa kamu kemari?"


"Kak Rey, aku hamil!" Cleo menangis tersedu-sedu lalu mendekati Rey.


"Hah?" Rey terperangah mendengar Cleo yang mengatakan bahwa dirinya hamil. Kenapa Cleo mengatakannya pada Rey?


*****


Di dalam perjalanan menuju ke kantor, Zayn dan Aini berangkat bersama sejak mereka memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius.


"Jadi aku harus ke Padang apa ke Yogyakarta? Atau kesana dua-duanya?" tanya Zayn dengan tangan yang masih sibuk memegang setir kemudi.


Dia menanyakan harus melamar Aini ke mana , Padang atau Yogyakarta karena kedua orang tua Aini berasal dari Padang dan Yogyakarta. Namun kedua orang tua Aini telah berpisah, mamanya di Padang dan ayahnya di Yogyakarta,sang ayah sudah menikah lagi sedangkan mamanya hidup menyendiri menyibukkan dirinya dengan mendedikasikan diri sebagai seorang PNS.


Keluarga Calabria tidak keberatan sama sekali dengan latar belakang Aini, bagi mereka yang penting Aini baik dan mereka berdua bahagia. Tidak masalah dengan latar belakang keluarga.


"Ai, gimana?"


"Nanti aku telpon ibu sama ayah dulu ya Zayn," jawab Aini dengan wajah gelisah.


"Ai kamu kenapa?" Zayn melihat raut wajah Aini yang resah setiap kali membahas tentang kedua orang tuanya.


"Piktor, apa kamu yakin mau menikah sama aku? Kamu gak--"


Zayn langsung terbelalak dan memotong ucapan Aini. Dia tau wanita itu pasti mau merendah lagi dan tidak percaya diri. "Ssstt...aku kan udah bilang jangan bahas itu lagi. Aku tidak masalah dengan latar belakang kamu," ucapnya yang membuat Aini bungkam.

__ADS_1


Aini tersenyum bahagia karena Zayn mau menerima dirinya dan semua yang ada didalam dirinya.


...****...


__ADS_2